Rabu, 1 Oktober 2014   |   Khamis, 6 Dzulhijah 1435 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

25 Juni 2010

Asas Kebudayaan dan Kesenian Melayu

Asas Kebudayaan dan Kesenian Melayu

Judul Buku
:
Asas Kebudayaan dan Kesenian Melayu
Penulis
:
Anwar Din et al.
Penerbit:
Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi
Cetakan
:
Pertama, 2007
Tebal
:
289 Halaman
Ukuran
:
15, 3 x 22, 3 cm
 

Buku ini membahas tentang konsep dan teori kebudayaan Melayu seperti kesenian, ritual, dan pembangunan manusia yang menjadi asas kebudayaan Melayu hingga kini. Melayu sebagai salah satu etnis terbesar di dunia ternyata memiliki problematika kebudayaan yang tak kunjung usai diperdebatkan. Salah satu buktinya adalah perbedaan antara nama Melayu dan Orang Melayu. Kedua hal ini oleh puak Melayu sendiri maupun orang di luar puak Melayu sering disalahartikan, seperti orang Jawa yang dianggap Melayu, padahal di Indonesia sendiri Jawa merupakan etnis yang berbeda. Hal yang sama juga dialamatkan pada orang Mandailing (h.17-18).

Buku ini cukup lengkap pembahasannya. Namun, karena buku ini dicetak dalam bahasa  Malaysia, pembaca yang tidak mengerti bahasa Malaysia tentu akan kebingungan dalam memahaminya. Meskipun sedikit banyak memiliki kemiripan dengan bahasa Indonesia, namun bahasa Malaysia memiliki pemaknaan yang berbeda terhadap kata-kata tertentu, seperti kata teras yang di Malaysia berarti dalam sedangkan di Indonesia berarti bagian depan rumah. Begitu juga dengan cara menulisnya, seperti kata berbeda ditulis berbeza.

Semua penulis dalam buku ini adalah para pemerhati budaya Melayu dari Malaysia, yakni para pensyarah (staf pengajar) dalam program kebudayaan di Pusat Pengajian Bahasa, Kesusasteraan, dan Kebudayaan Melayu (PPBKKM), Universiti Kebangsaan Malaysia. Seperti diketahui, Malaysia selama ini dianggap sebagai Negara yang mengklaim berbudaya Melayu. Dengan demikian, penerbitan buku ini menjadi menarik karena pembaca akan dapat membandingkan konsep budaya Melayu dalam persepsi orang Malaysia dengan persepsi dari luar Malaysia sehingga perbincangan seputar kebudayaan Melayu ke depan akan semakin seimbang.

Dekonstruksi Pandangan tentang Melayu

Para pengkaji Melayu, seperti Hendrik Kern dan Robert Van Heine Geldern, selama ini salah besar karena memahami Melayu semata-mata dari kacamata Barat. Menurut para penulis dalam buku ini, setidaknya ada 4 (empat) kelemahan dalam pandangan yang populer tentang Melayu selama ini karena tidak didasarkan pada kajian yang saintifik.

Pertama, penemuan gendang dongson di Cina dianggap sebagai bukti keberadaan orang Melayu sangat salah karena gendang dongson tidaklah mungkin dapat menceritakan secara menyeluruh perkembangan manusia pada zamannya yang begitu luas dari Cina hingga Indonesia. Gendang dongson hanyalah salah satu benda yang dibawa pedagang Cina ketika singgah di Indonesia.

Kedua, pernyataan Hendrik Kern dan Van Heine bahwa manusia Melayu telah ada sekitar 2500 tahun SM (sebelum masehi) adalah tidak masuk akal (proto dan deutro Melayu). Kedua pengelana ini hanya membayangkan bahwa nusantara tidak ada orang sama sekali kala itu, padahal nusantara sudah berpenghuni.

Ketiga, penemuan tengkorak yang diperkirakan berasal dari masa jauh sebelum 2500 SM di nusantara, yaitu di Gua Niah 40.000 SM dan di Jawa sekitar 1,5 juta SM. Tentu saja penemuan ini membantah pernyataan kedua pengelana Barat di atas.

Keempat, realitas bangsa Melayu saat ini terdiri dari berbagai macam bangsa, seperti India, Arab, Cina, dan Eropa. Dengan demikian, tidaklah tepat jika orang Melayu hanya dipahami berasal dari satu suku saja, yaitu suku dari Yunnan, Cina.

Pandangan-pandangan di atas tentu saja mendekonstruksi pandangan umum tentang Melayu selama ini. Dalam konteks ini, para penulis dalam buku ini sangat berani dalam mengambil kesimpulan. Keberanian ini mengindikasikan bahwa Melayu sebagai bangsa besar tidak ingin dipahami salah karena kesalahan itu akan membuat Melayu inferior di mata Barat. Padahal, Melayu adalah bangsa yang sejajar dengan bangsa manapun.

Terlepas dari pro dan kontra yang ada, kajian tentang Melayu harus terus dilakukan namun tidak boleh terjebak hanya pada identitas Melayu belaka karena hal itu justru akan semakin mengaburkan identitas Melayu itu sendiri. Kajian tentang Melayu perlu dilebarkan hingga mencapai unsur-unsur kemelayuan karena tidak dapat dipungkiri bahwa kebudayaan Melayu banyak diserap dan berpengaruh pada kebudayaan bangsa lain, seperti silat, Makyong, tenun songket, atau teater mamanda.

Dengan melebarkan kajian Melayu pada unsur kemelayuan, tamadun kebudayaan Melayu justru akan semakin terlihat. Selain itu, pelebaran kajian ini juga dimaksudkan agar bangsa Melayu tidak ketinggalan dari bangsa lain karena hanya meributkan satu hal sementara bangsa lain sudah jauh berkembang.

(Yusuf Efendi/res/34/06-10)

Dibaca : 4871 kali.