Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
33
Anda pengunjung ke
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA

 

RESENSI BUKU

14 Mei 2011

Tamadun Melayu

Tamadun Melayu
Judul Buku
:
Tamadun Melayu
Penulis
:
Ismail Hussein, dkk.
Penerbit:
Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia
Cetakan
:
Pertama, 1995
Tebal:
xxx + 1974 halaman
Ukuran:15 x 21 cm
            

Melayu adalah sebuah bangsa yang besar, bangsa yang telah tersebar luas ke berbagai belahan bumi, dari Asia hingga Afrika. Bangsa diaspora ini kemudian membentuk komunitas, peradaban, dan budaya yang khas. Falsafah pemikiran, pemerintahan dan politik, undang-undang, sampai bahasa dan sastra Melayu menjadi bahan kajian bangsa-bangsa lain hingga kini.

Buku yang ada di hadapan Anda ini adalah bukti bahwa kajian tentang kebudayaan Melayu masih dan akan terus berlangsung. Buku berjudul Tamadun Melayu yang ditulis oleh para pengkaji kemelayuan dari lintas bangsa, termasuk para peneliti berkebangsaan Malaysia, Indonesia, Denmark, dan Prancis, ini ingin mempersembahkan sebuah kesimpulan besar: bangsa Melayu adalah sebuah bangsa yang besar dengan segenap kekayaan budaya yang dimilikinya.

Antologi tulisan mengenai khazanah Melayu yang terhimpun dalam buku ini terdiri dari beberapa bagian. Pertama, tentang falsafah dan pemikiran Melayu (h.1387-1427). Kedua, tentang kerajaan dan politik (h. 1449-1502). Ketiga, tentang undang-undang yang pernah berlaku di beberapa wilayah Melayu, seperti di Borneo (h. 1514), di Sabah (h. 1532), dan undang-undang laut di Malaysia (h. 1577). Terakhir, bagian keempat, membahas bahasa dan sastra Melayu (h. 1600-1953).

Buku jilid ketiga ini berguna sebagai rujukan untuk memahami kebudayaan Melayu mengingat cukup banyak tulisan yang terangkum di dalamnya. Namun, Anda perlu membaca buku pertama dan kedua jika ingin memahaminya secara lebih utuh. Bagi pemerhati budaya, sejarah, filsafat, dan sastra Melayu, buku ini penting untuk dibaca.

Artikel-artikel yang ada di buku ini merupakan kajian perbandingan yang menarik untuk dicermati. Para penulis tampaknya ingin mengupas tuntas tentang kebudayaan Melayu, khususnya yang berlaku di Indonesia dan Malaysia. Bangsa Melayu di kedua negara ini cukup menarik untuk dikaji lebih dalam karena memiliki karakter kemelayuan yang unik dan khas.

Selain itu, dari sejarahnya, Indonesia dan Malaysia memiliki keterikatan erat dengan Melayu. Nama negara “Malaysia” berasal dari kata “Melayu”, suku bangsa yang kebanyakan menetap di sekitar Semenanjung Malaya. Sedangkan untuk Indonesia, bahasa nasional yang resmi digunakan di negara ini berakar kuat dari bahasa Melayu.

Kenyataan tersebut menjadi menarik untuk dikaji kembali dalam konteks kekinian, mengingat semangat identitas sebuah bangsa dianggap penting. Perdebatan politis tentang bangsa Melayu yang paling “murni”, misalnya, masih menjadi tema menarik yang belum tuntas, bahkan tidak jarang memantik konflik. Demikian pula dengan tarik ulur argumen tentang Melayu dan Islam.

Jika sejarah Melayu sekali lagi dicermati dengan lebih bijak, maka klaim bahwa Melayu harus selalu identik dengan Islam mungkin bisa saja terbantahkan. Bangsa Melayu dengan peradaban dan kebudayaannya sudah ada jauh sebelum Islam datang, bahkan sebelum Islam lahir sebagai salah satu ajaran agama. Orang-orang Dayak di Borneo, orang Nias, orang Batak, orang Manado, orang Toraja, dan masih banyak lagi suku bangsa yang terikat kuat dalam kebesaran rumpun Melayu, namun mereka tidak semuanya muslim.

Dalam perjalanannya, Melayu dan Islam sudah seperti dwitunggal yang menyatu dan tidak boleh diceraikan: Islam adalah Melayu dan Melayu haruslah Islam. Itu memang tidak salah, akan tetapi tidak pula sepenuhnya benar. Islam menjadi salah satu unsur terpenting dalam peradaban Melayu, yang tentunya bersama-sama dengan berbagai elemen lainnya yang tidak kalah penting. Unsur-unsur ini seharusnya dapat saling melengkapi dan kemudian menyatu demi membentuk jatidiri bangsa Melayu yang sejati.

Pesan penting yang ingin disampaikan melalui semua tulisan yang terhimpun dalam buku ini adalah marwah Melayu harus tetap dijaga oleh seluruh puak-puak Melayu yang tersebar di berbagai belahan bumi. Selain itu, sikap kritis terhadap kebudayaan sendiri tetap harus dimunculkan. Bagaimanapun juga, zaman terus berkembang dan gelombang globalisasi bisa saja menggerus eksistensi identitas kebudayaan Melayu.

Menjaga marwah Melayu dalam konteks sekarang ini adalah dengan terus mengedepankan kajian-kajian tentang Melayu yang seimbang dan dilakukan melalui gerakan-gerakan yang lebih arif dan bijaksana. Dengan demikian diharapkan bangsa Melayu bisa kembali berjaya sebagai sebuah bangsa besar yang menghormati keberagaman.

(Yusuf Efendi/Res/70/05-2011)

Dibaca : 2162 kali.