Thursday, 27 November 2014   |   Thursday, 4 Shafar 1436 H
Online Visitors : 1.323
Today : 5.209
Yesterday : 20.967
Last week : 160.999
Last month : 718.966
You are visitor number 97.387.429
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • No data available

 

Book Review



20 april 2011 00:07

Orang Banjar dan Kebudayaannya

Orang Banjar dan Kebudayaannya
Judul Buku
:
Orang Banjar dan Kebudayaannya
Penulis
:
Suriansyah Ideham, dkk.
Penerbit:
Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah, Kalimantan Selatan
Cetakan
:
Pertama, 2005
Tebal:
xxi + 374 halaman
Ukuran:15 x 21 cm
          

Masyarakat Melayu Banjar di Kalimantan Selatan (Kalsel) memang kaya akan tradisi dan kebudayaan. Urang Banua, sebutan untuk orang Banjar, dikaruniai banyak hasil cipta, rasa, dan karsa yang hingga sekarang masih banyak yang dilestarikan. Sebutlah misalnya adat perkawinan, sistem pengetahuan, kesenian, alat-alat bercocok tanam, bahkan bahasa lokal masih lestari dalam keseharian mereka. Hal ini menunjukkan bahwa orang Banjar masih menjaga tradisi leluhur.

Sebuah buku menarik dan cukup lengkap tentang kebudayaan urang Banua telah dihadir di hadapan Anda. Buku karya Suriansyah Ideham dan kawan-kawan ini menghadirkan beragam data etnografi tentang kebudayaan orang Banjar. Bagi Anda yang bergelut dalam bidang antropologi, sejarah, atau sastra, penting untuk membaca buku ini.  Begitu juga bagi Anda peminat kajian agama dan filsafat.

Dalam buku ini, Anda akan menemukan banyak pembahasan tentang sistem organisasi sosial orang Banjar, sejak zaman prasejarah hingga masa koloial Hindia Belanda (h. 19-33). Anda juga akan mendapatkan uraian tentang agama dan kepercayaan orang Banjar, dari zaman kepercayaan leluhur hingga era Kesultanan Banjar yang menerapkan hukum Islam (h. 35-49).

Pada bagian lain buku ini, Anda juga akan menemukan pembahasan tentang upacara daur hidup (h. 50-80), sistem pengetahuan (h. 81-92), sistem mata pencaharian (h. 95-145), tata kelakuan pribadi dan masyarakat (h. 149-190), teknologi tradisional (h. 191-228), bahasa Banjar (h. 229-253), dan kesenian Banjar (h. 360). Seluruh pembahasan tema-tema ini semakin menarik karena penulisnya menghadirkannya dengan bahasa yang cukup sederhana.

Orang Banjar Kaya Budaya

Banyaknya tema yang dibahas dalam buku ini menunjukkan bahwa orang Banjar kaya akan budaya. Kekayaan ini sebenarnya adalah sebuah keniscayaan karena orang Banjar telah ada di bumi Kalimantan sejak ratusan tahun silam. Dengan rentang waktu yang panjang itu wajar jika mereka menghasilkan banyak kreasi budaya.

Selain itu, orang Banjar dikenal sebagai rumpun Melayu yang pandai dalam bergaul dan terbuka terhadap orang lain sehingga banyak orang-orang dari suku-suku lain yang nyaman tinggal di tanah Banjar. Tercatat, sejumlah suku bangsa lain hidup di Banjar, antara lain adalah Dayak, Arab, Eropa, Jawa, Tionghoa, dan Lombok. Suku-suku ini tentu saja memiliki kebudayaan berbeda yang dibawa dari tanah leluhurnya. Dan ketika berakulturasi dengan budaya Banjar yang asli, jadilah kebudayaan Banjar yang heterogen.

Orang Banjar juga dikenal sebagai kaum perantau yang melakukan diaspora ke tempat-tempat lain. Oleh karena itu, ketika pulang ke kampung halaman, mereka membawa budaya baru yang diperoleh dari interaksi mereka dengan kebudayaan lain. Budaya baru ini pun juga sedikit banyak memberikan warna terhadap kebudayaan Banjar.

Busana Banjar

Salah satu bukti bahwa budaya Banjar terwujud dari beragam budaya lain dapat dilihat dari busana adat (h. 304). Secara umum, busana adat pengantin Banjar terdiri dari tiga jenis, yaitu bagajah gamuling baular lulut, ba’amar galung pancaran matahari, dan babajukun galung pacinan. Namun secara khusus, terdapat empat jenis, yaitu dengan tambahan babaju kubaya panjang.

Ketiga jenis busana adat pengantin ini memiliki asal-usul perbedaan yang jauh, baik dari sisi wujud, asesoris, warna, tata cara pemakaian, maupun makna simbolnya. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan pada awal terciptanya ketiga busana tersebut. Busana adat pengantin jenis bagajah gamuling baular lulut misalnya, dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu yang tercermin dari pengantin laki-laki yang hanya bertelanjang dada. Busana jenis yang sama juga dapat dilihat dari busana adat daerah Jawa, Bali, Dayak, atau Lombok.

Berbeda dengan jenis yang pertama, busana adat pengantin jenis ba’amar galung pancaran matahari, bercorak perpaduan antara kebudayaan Hindu dan Islam. Sementara itu, busana adat pengantin jenis babajukun galung pacinan dipercaya dipengaruhi oleh budaya Arab dan Tiongkok. Hal ini terlihat dari wujud busana dan nama pacinan. Pada abad tersebut, suku Arab dan Tionghoa banyak bermukim di Banjar dan berbaur dengan masyarakat asli Banjar.

Pluralitas masyarakat dan hasil kebudayaan orang Banjar menjadi sebuah kekayaan sekaligus kekuatan orang Banjar dalam kehidupan mereka. Mereka terbuka dengan pengetahuan luar, namun identitas kebudayaan mereka tetap lestari. Dalam konsep masyarakat modern, pluralisme adalah sebuah modal utama, dan buku ini menghadirkannya sebagai bahan referensi.

(Yusuf Efendi/Res/68/04-2011)

Read : 4.030 time(s).