Saturday, 23 August 2014   |   Saturday, 26 Syawal 1435 H
Online Visitors : 617
Today : 2.012
Yesterday : 21.881
Last week : 137.461
Last month : 420.919
You are visitor number 97.043.302
Since 01 Muharam 1428
( January 20, 2007 )
AGENDA
  • No data available

 

News

11 februari 2009 01:20

Desain Khas Jambi untuk Perhiasan Fadli

Desain Khas Jambi untuk Perhiasan Fadli

Jambi - Gaya hidup sebagai perajin perhiasan rupanya tidak jauh beda dengan kelelawar. Sebagian besar pekerjaan dilaksanakan pada malam hingga menjelang pagi. Selain untuk mencari ketenangan, perhiasan juga harus dijaga supaya tak disatroni maling. Apalagi, belakangan ini harga bahan baku perhiasan, seperti emas, cenderung meroket.

Itulah pola kerja yang dijalankan Fadli selama ini. Di saat orang pada umumnya lelap dalam istirahat, ia justru berkutat membuat kerajinan perhiasan.

Ketika ditemui pertengahan Januari lalu, dia tengah mengerjakan perhiasan perak bermotif aksara kerinci. Kerajinan ini menggunakan teknik filigri yang cukup rumit. Kawat logam perhiasan diurai satu per satu untuk menghasilkan desain yang diinginkan. Kawat kemudian dipatri hingga permanen.

Fadli terlihat begitu serius merangkai kawat-kawat perak yang berjarak sekitar 15 sentimeter dari matanya. ”Harus teliti benar. Kalau sedikit saja kurang rapi, pekerjaan ini harus diulang dari awal. Peraknya pun dilebur kembali,” tutur Fadli.

Motif aksara kerinci sebenarnya dijagokan Fadli untuk menang dalam Mutumanikam Nusantara yang berlangsung Desember 2008 di Jakarta. Selain aksara kerinci, Fadli juga membuat motif incung kerinci. Rupanya, motif incung kerinci lebih menarik perhatian para juri. Fadli pun memperoleh penghargaan sebagai Desain Tradisional Terbaik pada motif ini.

Motif aksara kerinci dan incung kerinci didapat Fadli dari sebuah kain batik kuno Jambi milik seorang istri pejabat di Provinsi Jambi. Motif seperti ini sebenarnya sudah jarang sekali digunakan oleh kalangan pembatik di Jambi karena bentuknya yang sangat klasik, yaitu seperti huruf Arab yang saling terjalin.

Merasa tertantang, Fadli kemudian merekonstruksinya dalam bentuk perhiasan. Kerajinan ini dibuat dari kawat-kawat emas atau perak yang dirangkai seperti anyaman. Seluruh pekerjaan dilakukan manual dengan peralatan sederhana, seperti alat patri, cetakan, dan roler. Seluruh produk ini dikerjakan di ruang kerjanya yang hanya berukuran 2 meter x 4 meter.

Tidak hanya aksara kerinci dan incung kerinci, ia juga membuat berbagai motif tradisional khas Jambi pada kerajinan perhiasan. Setidaknya 100 motif telah diciptakan Fadli. Ada anting, kalung, dan bros dengan motif angso duo, daun sirih, durian pecah, atau pinang masak. Ada juga motif antelas atau pucuk rebung, walet, dan bunga pauh. Motif-motif itu sebenarnya telah akrab dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jambi. Namun, selama ini belum ada yang menuangkannya ke dalam bentuk kerajinan perhiasan.

Dari seluruh motif yang dihasilkan Fadli, sekitar 50 di antaranya pernah dipesan orang. Order kebanyakan datang dari kalangan menengah ke atas. Jika ada pejabat dari luar daerah yang berkunjung, mereka selalu mencari pernak-pernik khas Jambi sebagai kenang-kenangan. Fadli menjadi sangat dikenal karena dari sekitar 200 perajin perhiasan di Jambi baru dialah yang mampu mengkreasikan perhiasan dengan motif tradisional daerah ini.

Peroleh pesanan

Saat mes perwakilan Jambi diresmikan tahun 2008, Ny Mufidah Jusuf Kalla—istri Wapres Jusuf Kalla—yang turut hadir sempat terhenti di stan milik Fadli. Ia langsung minta dibuatkan satu paket perhiasan perak sekaligus dengan motif antelas. Adapun motif kepak lepas dipesan oleh istri Gubernur Jambi, Ratu Munawwaroh, untuk diberikan sebagai kenang- kenangan kepada istri Presiden, Ny Ani Yudhoyono, yang berkunjung saat peringatan Hari Keluarga Nasional 2008.

Semula menjadi perajin emas bukanlah keinginan Fadli. Ia telah akrab dengan kerajinan logam ini sejak sekolah dasar kelas III karena kondisi ekonomi keluarga yang sangat sulit. Fadli setiap hari harus membantu ayahnya membuat barang-barang dari tembaga, kuningan, dan perak untuk dijual ke pasar.

Ketika Fadli lulus SMP, sang ayah menikah lagi dan meninggalkan keluarga itu. Fadli merasakan beban yang sangat berat karena menjadi satu-satunya tumpuan untuk menghidupi dan menyekolahkan empat adiknya. Ia sendiri terpaksa berhenti sekolah. ”Saya menjadi buruh toko emas di pasar. Kerjanya setiap hari menyepuh emas,” ujarnya.

Tak tahan dengan gaji yang sangat kecil, Fadli mencoba membuka usaha sendiri di emperan pasar. Namun, usaha itu pun tidak bertahan lama karena ia kerap diusir oleh pedagang lain. Setahun kemudian, Fadli membuka usaha di rumahnya sendiri di Lorong Keluarga, Wijayapura, Jambi Selatan, Kota Jambi.

Di tempat itulah usahanya mulai berkembang. Ketiga adiknya, Zuliardi, serta si kembar Elva dan Elvi ikut membantu pengerjaan kerajinan sepulang dari sekolah.

Ikut pelatihan

Tahun 2006, Fadli mengikuti pelatihan peningkatan kualitas teknik kerajinan bagi perajin perhiasan yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Provinsi Jambi. Salah seorang pengurus, Ibu Ninok Guritno, menawarinya untuk membuat satu paket perhiasan emas bermotif antelas senilai Rp 6 juta. ”Itulah untuk pertama kali saya mendapat pesanan yang begitu besar. Saya deg-degan. Seluruh pesanan saya kerjakan dengan sangat hati-hati. Jangan sampai hasilnya mengecewakan,” katanya.

Sejak itu, Fadli memilih fokus membuat perhiasan bermotif tradisional Jambi. ”Saya sadar, untuk membuat motif tradisional diperlukan teknik yang tidak sederhana. Namun, inilah yang membuat saya semakin tertantang menekuninya,” ujar ayah dari Amrizal Malik Ibrahim (5 bulan) ini.

Kendala yang masih kerap dihadapi perajin perhiasan, menurut dia, adalah soal modal. Meski banyak pesanan, ia tak dapat memenuhinya jika modal tidak cukup. Karena itu, selama ini Fadli hanya bisa mengerjakan pesanan yang dibayar di muka. ”Kalau tidak bayar di muka, kami kesulitan membeli bahan bakunya,” kata suami dari Diah Nurmaini (20).

Fadli sebenarnya ingin mengadakan promosi yang lebih agresif, misalnya, dengan memiliki ruang pamer sendiri atau setidaknya menitipkan produknya pada ruang pamer Dekranas. Namun, impian itu belum bisa diwujudkan karena akan butuh banyak bahan baku yang tentu perlu modal besar.

Fadli berharap, Pemerintah Provinsi Jambi dapat lebih berempati kepada kalangan usaha kecil menengah seperti dirinya. Salah satunya dengan cara memberi bantuan permodalan.

Sumber: http://cetak.kompas.com/sosok


Read : 2.582 time(s).

Write your comment !