Close
 
Selasa, 29 Juli 2014   |   Arbia', 1 Syawal 1435 H
Pengunjung Online : 1.499
Hari ini : 11.080
Kemarin : 19.510
Minggu kemarin : 121.346
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.958.845
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

07 sepember 2007 10:04

Orang Melayu Modern dan Budaya Maaf

Meneroka Konsep Melayu Serumpun
Orang Melayu Modern dan Budaya Maaf

Oleh: Ali Rido M.A. dan Mahyudin Al Mudra S.H., M.M


Wahai ananda kekasih ibu,
Mengaku salah janganlah malu
Memaafkan orang jangan menunggu
Hati pemurah menjauhkan seteru

(Kutipan Syair Melayu)

Beberapa hari lalu hubungan persaudaraan antara dua bangsa, Indonesia dan Malaysia, sempat memanas akibat dari insiden pemukulan wasit karate asal Indonesia, Donald Pieter Luther Kolopita, oleh empat polisi Diraja Malaysia. Insiden tersebut menyulut kemarahan rakyat Indonesia, dari rakyat biasa hingga pejabat tinggi negara. Mereka menilai tindakan empat polisi Malaysia itu sangat keterlaluan dan menginjak harga diri bangsa Indonesia. Kemarahan dan kekecewaan rakyat Indonesia semakin memuncak karena beberapa hari setelah insiden pemukulan, kerajaan Malaysia tak kunjung melontarkan kata-kata maaf dan rasa penyesalannya kepada bangsa Indonesia. Setelah hampir satu minggu berbagai unsur masyarakat Indonesia menggelar aksi protes dan serangkaian demonstrasi di berbagai daerah, kerajaan Malaysia melalui Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi bersedia secara terbuka meminta maaf pada hari Kamis (30/8/2007) pukul 20.00 Wita via telepon pribadi. Aksi protes dan demonstrasi pun reda. Kenyataan bahwa kedua bangsa berniat secara tulus menjaga hubungan persaudaraan, baik pada level politik dan budaya, penting untuk dicermati.

Setelah insiden pemukulan Donald, banyak kalangan menyarankan agar hubungan antara Indonesia dan Malaysia ditinjau kembali, bahkan mendesak Pemerintahan RI untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Malaysia. Tentu saja saran tersebut bertujuan untuk membangun sikap saling menghargai antar kedua bangsa secara komprehensif, sehingga segala bentuk tindakan kekerasan dan pelecehan dapat dicegah. Memang serangkaian kekerasan terhadap warga negara Indonesia di Malaysia kerap terjadi beberapa tahun terakhir ini. Nampaknya telah muncul rasa superior dalam diri sebagian bangsa Malaysia di hadapan bangsa Indonesia. Hal itu tampak melalui sikap, perilaku, dan cara pandang mereka terhadap orang-orang Indonesia. Di satu sisi, bangsa Indonesia melihat bangsa Malaysia sebagai saudara serumpun, namun belum tentu demikian dengan bangsa Malaysia. Orang Malaysia lebih senang menyebut orang Indonesia dengan sebutan “indon”, sebuah kata yang berkonotasi merendahkan dan menjadi penyekat identitas antara kedua bangsa. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pengertian utama dari “bangsa”, dan yang paling sering dikemukakan dalam literatur, adalah definisi politis. Bangsa meliputi seluruh rakyat yang hidup dan diakui secara legal sebagai warga oleh negara tertentu yang memiliki batas batas teritorial tertentu, sehingga secara politis mereka menjadi satu dan tidak terbagi. Secara politis anggota-anggota suatu nasionalitas berkeinginan untuk berada di bawah pemerintahan yang sama, dan pemerintahan itu dibentuk oleh mereka atau sebagian dari mereka. Dengan demikian pasca kolonialisme muncul bermacam macam bangsa, termasuk di Asia Tenggara. Ada bangsa Indonesia, Malaysia, Brunei dan bangsa-bangsa lain. Sentimen nasional secara demokratis menyatukan seluruh elemen rakyat tanpa membedakan agama, bahasa, ras dan etnisitas. Persatuan dan kesatuan bangsa, dalam pandangan demokratik-revolusioner, jauh lebih penting dari perbedaan perbedaan itu. Oleh sebab itu di Malaysia, misalnya, warga Malaysia keturunan Arab, India dan Cina menjadi satu kesatuan integral dalam kerajaan Malaysia yang menjunjung kebudayaan Melayu. Sebaliknya, orang Indonesia yang notabene juga orang Melayu adalah orang luar karena tidak memiliki ikatan politis dengan bangsa Malaysia. Pengertian bangsa yang beralaskan definisi politik semacam itu secara perlahan-lahan mendominasi paradigma pemikiran mayoritas manusia modern yang berakibat pada tergusurnya pengertian persatuan manusia dalam wadah persamaan budaya.

Konsep negara bangsa modern telah membangun self-concept setiap warga suatu negara tentang siapa dia, berasal dari lingkungan apa dan negara mana. Pemikir asal Mesir, Sayyid Yassin, dalam bukunya “As-Syakhshiyah Al-Arabiyah baina Mafhumi Az-Zaat wa Shurati Al-Akhor” mengatakan bahwa self-concept dibentuk secara sadar, terencana dan dinamis, yaitu selalu berubah dan berkembang sesuai dengan perubahan dan perkembangan kondisi internal dan eksternal. Dari perubahan dan perkembangan self-concept inilah hubungan antar individu atau kelompok, maupun hubungan antar dua bangsa dapat dijelaskan. Adanya self-concept dalam diri anggota-anggota sebuah negara menciptakan identifikasi siapa “kita” dan siapa “mereka”. Dalam kasus hubungan antara bangsa Indonesia dan Malaysia, bangsa Indonesia dipandang sebagai “mereka” oleh bangsa Malaysia, meskipun secara etnisitas dan budaya berasal dari rumpun yang satu. Sedangkan warga Malaysia keturunan Arab, India dan Cina merupakan bagian integral dari “kita” meskipun secara budaya, ras, dan bahasa mereka datang dari rumpun yang berbeda.

Pencitraan diri melalui self-concept secara politis, dengan tegas membedakan orang Malaysia dan bukan orang Malaysia. Berdasarkan beberapa kasus kekerasan dan pelecehan terhadap warga Indonesia di Malaysia, nampaknya orang Indonesia benar-benar dianggap sebagai “orang lain” yang lebih inferior. Saat ini sepertinya ada kesan bahwa orang Malaysia mencitrakan dirinya lebih maju, mapan, pintar dan lebih beradab, sementara orang-orang “indon” adalah bodoh, terbelakang, miskin dan kurang beradab.

Pembedaan secara tajam antara orang “Malay” dan orang “indon”, kekerasan dan pelecehan merupakan ekspresi dari self-concept yang superior. Cara pandang redukftif-konspiratif itu, sebagaimana disebut di atas, berkembang sesuai dengan perubahan-perubahan kondisi internal dan eksternal. Memang beberapa dekade yang lalu, Indonesia menjadi guru bagi Malaysia; guru dalam arti yang luas,maupun guru dalam pengertian pengajar (Cik Gu). Dalam tataran ini kedua negara melakukan shared values. Namun dalam perkembangannya Indonesia dinilai sebagai “jiran yang problematik”, maka yang muncul kemudian adalah conflicting values. Sejarah rencana ‘ganyang Malaysia‘ oleh Orde Lama, sejumlah pendatang gelap Indonesia di Malaysia, kabut asap (jerebu) tahunan asal Sumatera dan Kalimantan, semuanya itu ikut membentuk self-concept bangsa Malaysia dalam memandang bangsa Indonesia, yaitu sebagai trouble maker.      

Sebagai konsekuensi logis dari persepsi bahwa Indonesia sebagai trouble maker, bangsa Malaysia memilih bentuk-bentuk simbolik dari kekerasan sebagai alat negosiasi dan pembentukan sistem dan tatanan sosial. Beberapa warga Malaysia mengambil tindakan kekerasan berupa “doing violence” seperti kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia dan yang terkini adalah pemukulan wasit karate Indonesia, Donald. Selain itu juga kekerasan berupa “saying violence” seperti interogasi dengan kata-kata kasar oleh aparat keamanan Malaysia terhadap warga Indonesia, dan juga pernyataan Dubes Malaysia untuk Indonesia beberapa waktu lalu yang enggan meminta maaf atas insiden pemukulan Donald, namun justru mengatakan bahwa seharusnya Indonesia berterima kasih kepada Malaysia yang telah menampung jutaan tenaga kerja asal Indonesia.

Ketika masing-masing bangsa secara politis membangun self-concept nya sendiri-sendiri, maka persamaan-persamaan kultural dan etninisitas yang dahulu secara komunal dapat menyatukan, kini telah luntur. Meluasnya kekerasan terhadap orang Indonesia di Malaysia merupakan contoh yang menyangkal persamaan budaya dan sejarah sebagai fondasi konsep komunalitas yang menjunjung tinggi prinsip-prinsip solidaritas, persaudaraan (brotherhood) dan kohesi sosial. Konsep negara-bangsa dewasa ini lebih menyatukan daripada persamaan budaya. Sehingga, dalam banyak kasus, penegakan hukum bagi pelaku kekerasan terhadap warga Indonesia yang dianggap sebagai trouble maker terkesan tidak tegas. Kondisi yang demikian menciptakan pendangkalan pemahaman kemanusiaan yang komprehensif dan kompleks. Sebaliknya, perspektif reduktif-konspiratif bahwa orang Indonesia adalah trouble maker semakin meluas di Malaysia, sehingga sering dijadikan korban kekerasan. Intensitas penggunaan kekerasan telah menjadi alat penting sebagai mekanisme yang berkembang dalam proses pertukaran dan negosiasi sosial yang meluas.

Namun, di tengah dominasi paradigma pemikiran modern dan sikap arogan yang mengakibatkan tercabutnya nilai-nilai luhur agama, budaya dan norma-norma sosial, masih ada harapan antar kedua bangsa untuk saling menghargai dan menghormati. Persamaan budaya (budaya Melayu) tetap menjadi salah satu unsur sentral yang dapat membangun kembali keharmonisan kedua bangsa. Dalam insiden kekerasan yang menimpa Donald, Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi secara arif telah meminta maaf kepada Donald khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada saat yang sama, bangsa Indonesia membuka pintu maaf lebar-lebar atas insiden tersebut. Sikap semacam itu adalah bagian dari kehati-hatian orang Melayu untuk tidak lupa diri atau orang tua-tua Melayu menyebutnya tidak lupa pakaian. Sejauh apapun seseorang telah mencapai sebuah kemajuan, tunjuk-ajar Melayu mengarahkan supaya semua orang Melayu berpegang teguh pada nilai-nilai agama, budaya dan norma sosial.

Di dalam khazanah Melayu terdapat ungkapan sebagai berikut:

Supaya melayu tetap terbilang
Tunjuk dan ajar wajib disandang
Petuah amanah wajib dipegang
Adat lembaga wajib dikenang

Arus modernitas dan globalisasi tidak serta merta mencabut akar kebudayaan atau menyapu bersih nilai-nilai budaya Melayu dari kedua bangsa. Tenas Effendy, dalam bukunya “Tunjuk Ajar Melayu” menegaskan bahwa sifat pemaaf dan pemurah amat dimuliakan dalam kehidupan masyarakat Melayu. Sifat ini mencerminkan kesetiaan, keihlasan, tidak pendendam, tenggang rasa dan budi luhur. Sifat sifat mulia itu harus selalu dipegang teguh dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Oleh karena itu, setiap terjadi perbedaan dan perselisihan hendaknya cepat diredam dengan saling memaafkan.

Dalam sebuah syair Melayu dikatakan:

Wahai ananda intan di karang,
Ikhlaskan hati memaafkan orang
Dendam kesumat hendaklah buang
Hati pemurah hidupmu lapang

Identitas dan kepribadian Melayu yang merupakan pakaian atau jatidiri orang Melayu tercermin dalam ungkapan berikut:

Apa tanda Melayu pilihan,
Hidup mau bermaaf-maafan
Hati pemurah dalam berkawan
Dendam kesumat ia jauhkan

Tidak dapat dipungkiri bahwa kerjasama di bidang kebudayaan dan keilmuan antara kedua bangsa telah berjalan kokoh selama puluhan tahun. Hal ini menunjukkan bahwa di balik perbedaan-perbedaan politis kekinian, masih banyak kesepahaman-kesepahaman budaya dan intelektualitas yang sudah lama terbina. Unsur-unsur kesepahaman budaya terbukti dapat menjaga keharmonisan kedua bangsa. Oleh karena itu, sangatlah disayangkan jika konflik identitas-politis yang berskala “kecil” dapat mengoyak hubungan yang harmonis di bidang kebudayaan dan keilmuan.


Tan Sri Prof. Emeritus Dato’ Dr. Ismail Hussein (Ketua Gapena-Malaysia) bersama Datuk Cendekia Hikmatullah Mahyudin Al Mudra (Ketua Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu/BKPBM, Yogyakarta-Indonesia dan Pemimpin Umum www.MelayuOnline.com) saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU).

Menjaga kerjasama-kerjasama kebudayaan dan intelektualitas jauh lebih penting demi meningkatkan kualitas keilmuan anak bangsa kedua negara. Dalam bidang bahasa kita telah membangun MABBIM (Majlis Bahasa Brunei-Indonesia-Malaysia), sebuah badan kebahasaan serantau yang ditubuhkan untuk merancang, memantau dan menyerasikan perkembangan bahasa Melayu di tiga negara tersebut. Dalam bidang sastra kita sudah mendirikan MASTERA (Majlis Sastera Asia Tenggara). Dan dalam bidang pendidikan kita telah membentuk SEAMEO (Southeast Asian Ministers of Education Organization), dan banyak lagi kerjasama-kerjasama lainnya. Semua bentuk kerjasama tersebut bertujuan mendorong kemajuan seluruh bangsa Melayu dalam berbagai bidang. Dan, di saat yang sama menghilangkan batas-batas politis dan geografis yang telah menjadi sekat antar pemilik budaya Melayu di Asia Tenggara.


Kris Dayanti dan Dato’ Siti Nurhaliza

Dalam bidang kebudayaan, pentas seni dan budaya yang digelar di kedua negara juga dapat menjadi pemersatu orang-orang Melayu di Indonesia dan Malaysia. Lantunan lagu-lagu merdu Siti Nurhaliza, Sheila Madjid, Raihan, dan Ami Search  di Indonesia, atau Hetty Koes Endang, Krisdayanti, Titi Dwijayanti, Peterpan, Radja dan banyak lagi musisi Indonesia di atas pentas Malaysia, mendapatkan sambutan luar biasa meriah dari masing-masing bangsa. Kedua bangsa, dalam tataran ini, menyadari bahwa mereka berada dan hidup dalam kesamaan budaya. Sehingga tidak heran jika ada salah seorang demonstran insiden pemukulan Donald yang membawa poster bertuliskan “ganyang Malaysia, selamatkan Siti Nurhaliza”. Meskipun poster itu mengundang senyum, tetapi dari kacamata budaya, ungkapan tersebut merupakan fenomena yang menarik. Secara tidak sadar, pembawa poster itu membedakan aspek politik dan budaya. Secara politik kita boleh saja berperang melawan Malaysia, tetapi secara budaya kita tetap satu dan sama, maka Siti Nurhaliza, yang dianggap sebagai “icon” budaya Melayu, harus diselamatkan karena menjadi bagian dari produk budaya bersama.

Kearifan warisan budaya Melayu selayaknya digali secara mendalam sebagai pedoman hidup bermasyarakat dan bernegara. Dalam kasus-kasus kekerasan yang menimpa warga negara Indonesia di Malaysia, kita semua berharap agar kasus-kasus serupa tidak terulangi. Di samping itu, tradisi meminta maaf dan memaafkan harus terus dipupuk sembari masing masing negara saling introspeksi menata supremasi hukum yang tidak memihak kepada golongan tertentu, tetapi memihak kepada nilai-nilai humanitas secara keseluruhan. Dengan cara demikian hubungan persaudaraan dan hubungan diplomatik akan lebih terjamin karena semua pihak dapat saling menghormati dan saling menghargai dengan jaminan dan perlindungan hukum yang adil, dengan beralaskan kearifan dan nilai-nilai luhur dalam budaya Melayu.   

 

Ali Rido M.A. adalah Pemimpin Redaksi (Pemred) MelayuOnline.com.

Mahyudin Al Mudra S.H., MM. adalah pendiri dan pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), serta pemimpin umum (PU) MelayuOnline.com.

__________ 

Sumber:

  • www.wikipedia.com
  • Abdullah, Irwan. 2006. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.
  • Hobsbawm, E.J. 1992. Nasionalisme Menjelang Abad XXI. Yogjakarta: Tiara Wacana.
  • Yassin, Sayyid. 2002. As-Syakhshiyah Al-Arabiyah baina Mafhumi Az-Zaat wa Shurati Al-Akhor. Cairo: Maktabah Usrah.

Kredit foto :

  • www.presidenri.go.id
  • www.utusan.com.my

Dibaca : 10.915 kali.

Tuliskan komentar Anda !