Close
 
Jumat, 31 Oktober 2014   |   Sabtu, 7 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 926
Hari ini : 4.512
Kemarin : 21.335
Minggu kemarin : 154.939
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.292.321
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

06 desember 2007 08:59

Lambang-Lambang dalam Pantun Melayu Riau

Lambang-Lambang dalam Pantun Melayu Riau

Oleh : Ediruslan Pe Amanriza dan O. K. Nizami Jamil

ediruslanDalam makalah ini, penulis membicarakan salah satu bentuk puisi Melayu lama, yaitu pantun. Kesimpulannya adalah sampiran pantun Melayu kebanyakan menggambarkan alam, lambang-lambang yang terkandung di dalam pantun pun berasal dari alam. Hal itu memperlihatkan dekatnya hubungan pendukung seni pantun dengan alam. Untuk menafsirkan lambang-lambang dalam pantun diperlukan kepiawaian dan kecermatan mengenali lambang-lambang dalam kebudayaan Melayu.

Pantun merupakan bentuk puisi dalam kesusastraan Melayu yang paling luas dikenal. Pada masa lalu pantun digunakan untuk melengkapi pembicaraan sehari-hari. Sekarang pun sebagian besar masyarakat Melayu di pedesaan masih menggunakannya. Pantun dipakai oleh para pemuka adat dan tokoh masyarakat dalam pidato, oleh para pedagang yang menjajakan dagangannya, oleh orang yang ditimpa kemalangan, dan oleh orang yang ingin menyatakan kebahagiaan.

Ada sebuah pantun yang melukiskan betapa pentingnya bentuk puisi lama ini dipakai dalam kehidupan masyarakat Melayu Riau. Pantun tersebut berbunyi:

Secantik seelok inilah parak
Tak berdasun barang sebuah
Secantik seelok inilah awak
Tak berpantun barang sebuah

Berbagai pendapat mengenai asal dan makna pantun dikemukakan di sini. Ada yang berpendapat bahwa makna pantun sama dengan “umpama” dalam masyarakat Batak. Sementara ada yang berpendapat bahwa kata pantun berasal dari pa-tuntun (pa-tuntun = penuntun), sebagaimana dikemukakan oleh Zuber Usman1). Sementara itu A. A. Navis (1985) dalam bukunya Alam Terkembang Jadi Guru menjelaskan bahwa perubahan bunyi pa-tuntun menjadi “pantun” adalah hal yang lazim dalam bahasa Melayu dan Minangkabau, seperti halnya kata “rumput-rumput” menjadi “rerumput” dan “laki-laki” menjadi “lelaki”. Beberapa pantun Melayu sendiri menunjukkan bahwa kata sepantun sama dengan seumpama, seperti pada ungkapan, “Kami sepantun anak itik, kasih ayam maka menjadi” atau “Tuan sepantun kilat cermin, di balik gunung tampak jua”.

Sejumlah ahli bahasa dan ahli antropologi berpendapat bahwa pantun merupakan bentuk lanjutan dan pertumbuhan dari peribahasa dan perumpamaan. Kalimat perumpamaan diberi pengantar yang bunyi dan maknanya sangat mirip. Kalimat pengantar tersebut bukan seperti sampiran dalam pantun. “Sampiran sebuah pantun adalah kiasan dari isi pantun, sementara isi pantun adalah kiasan tentang sesuatu,” kata A. A. Navis2). Chairul Harun lebih luas berpendapat bahwa sampiran sebuah pantun mengungkapkan sesuatu dari dunia makro, sementara isinya mengungkapkan sesuatu dari dunia mikro.

Sebuah ungkapan lama yang berbunyi “Kerbau tahan palu, manusia tahan kias” tampaknya memang menyimpulkan bahwa pantun adalah alat untuk membuat kias. Dalam percakapan sehari-hari masyarakat Melayu, orang mengemukakan pendapatnya dengan pantun, dan lawan bicara sudah maklum dengan maksud pembicara. Dengan demikian pantun merupakan salah satu alat komunikasi yang cukup efektif untuk mengemukakan pendapat atau melancarkan kritik. Hal ini sudah mentradisi dalam masyarakat Melayu sejak zaman dahulu. Pertanyaan yang muncul kenapa pantun dan bukan hasil kesusastraan yang lain? Oleh karena pantun adalah hasil kesusastraan yang pandai “mencubit” tanpa menimbulkan “rasa sakit”. Kias yang dibiaskan pantun langsung mencapai sasaran tanpa menjatuhkan marwah orang yang dituju. Cara mengemukakan pendapat dan melancarkan kritik seperti itu merupakan salah satu sikap orang Melayu Riau. Jadi, bukan makna atau arti pantun yang melibatkan sikap hidup si pemakai, seperti pendapat yang berkembang selama ini.

Beberapa tahun yang lalu ada sebuah pantun yang dimuat dalam surat kabar terkemuka di ibu kota. Pantun tersebut dinyatakan sebagai pantun yang menunjukkan sikap orang Melayu Riau yang suka berhiba-hiba dan perajuk. Pantun tersebut berbunyi:

Tudung periuk pandai(lah) menyayi
Ditarikan oleh putra mahkota
Kain yang buruk berikan kami
Untuk menyapu si air mata

Pantun di atas sebenarnya tergolong pantun orang muda yang berisi ratapan tentang patah cinta. Kias yang dibiaskan lambang-lambang dalam pantun tersebut mengandung makna positif.

Pantun-pantun Melayu sarat dengan lambang-lambang. Kekurangtahuan makna lambang-lambang antropologis yang tersurat dalam pantun akan menyesatkan penarikan hakekat yang dikandungnya, karena lambang-lambang yang tersurat selalu mengandung makna tersirat, bahkan ada kalanya tersuruk atau tersembunyi. Orang awam, orang yang ahli, dan orang yang arif bijaksana akan memaknai kiasan sebuah pantun secara berlainan.

Pada pantun Tudung Periuk di atas, kata “periuk” melambangkan kehidupan, seperti dalam nasihat orang tua-tua yang berbunyi, “Hati-hatilah, nanti tertelungkup periuk nasimu.” Maksud nasihat itu ialah agar senantiasa berhati-hati dan waspada dalam menjalani hidup ini. Jika menjadi pegawai negeri, jangan membuat kesalahan seperti korupsi, kurang rajin, dan sebagainya. Kata “menari” atau “ditarikan” sama dengan “bermain” atau “dipermainkan”. “Putra mahkota” melambangkan generasi muda atau generasi penerus. Makna keseluruhan nasihat yang dicontohkan di atas berarti bahwa bila hidup ini dipermainkan oleh generasi muda, atau generasi muda suka bermain-main dalam menjalani kehidupannya, maka hanya kain buruklah yang akan tinggal padanya. Kain buruk sebagai lambang sesuatu yang sudah terbuang, yang dalam masyarakat Melayu dipergunakan sebagai alat untuk mengelap benda yang kotor. Jadi, pantun Tudung Periuk justru mengandung pesan kepada generasi muda yang bernilai tinggi. Penafsir yang mengatakan bahwa pantun tersebut mengandung arti sebagai sikap hidup yang suka berhiba-hiba dan merajuk, salah memaknai lambang-lambang dalam pantun. Hal ini tentu akan merugikan masa depan masyarakat Melayu.

Pantun sebagai hasil kesusastraan Melayu dapat dipilah-pilah dalam lima jenis, yaitu pantun adat, pantun tua, pantun muda, pantun suka, dan pantun duka. Pantun adat menurut isinya dapat dibagi dalam pantun yang berkenaan dengan tata pemerintahan, sistem kepemimpinan, dan hukum, sedangkan pantun suka berisi ejekan dan teka-teki.

Contoh pantun adat adalah:

Adat menyuluh sarang lebah
Kalau berisi tidak bersambang
Adat penuh tidak melimpah
Kalau berisi tidaklah kurang

Padat tembaga jangan dituang
Kalau dituang melepuh jari
Adat lembaga jangan dibuang
Kalau dibuang binasa negeri 

Lebat kayu pantang ditebang

Sudah berbuah lalu berdaun
Adat Melayu pantang dibuang
Sudah pusaka turun-temurun

Contoh pantun adat yang berkenaan dengan tata pemerintahan misalnya:

Anak gadis memepat kuku

Dipepat dengan pisau seraut
Terpepat pada betung tua
Betung tua dibuat lantai

Negeri dihuni berbagai suku
Ada seinduk ada seperut
Kampung diberi bertua
Rumah diberi bertungganai

Contoh pantun adat yang berkenaan dengan sistem kepemimpinan adalah:

Dahan kemuning biarlah patah

Asal mengkudu lebat berbuah
Di lahir raja disembah
Di batin rakyat memerintah

Contoh pantun adat yang berkenaan dengan hukum:

Sekali ladang berganti
Sekali tanaman berbuah
Tumbuhnya di situ jua

Sekali pembesar berganti
Sekali langgam berbuah
Adat begitu juga 

Orang Pahang membawa kapas

Orang Palembang membawa air
Yang mencencang yang memapas
Yang berhutang yang membayar

Contoh pantun tua yang berisi nasihat;

Patah lancang kita sadaikan
Supaya sampan tidak melintang
Petuah orang kita sampaikan
Supaya badan tidak berhutang

Burung punai memakan saga
Saga merah besar batangnya
Rukun dan damai di rumah tangga
Amal ibadat jadi tiangnya

Encik Mamat membelah bambu
Bambu berjalin rotan saga
Baiklah hormat kepada ibu
Supaya terjamin masuk surga

Contoh pantun muda :

Kalau ada selasih dulang
Kami menumpang ke Jawa saja
Buah hati kekasih orang
Kami menumpang ketawa saja

Hilang kemana bintang kartika?
Tidak nampak di awan lagi
Hilang kemana adik seketika
Tidak nampak berjalan lagi

Pisang serendah masaknya hijau
Ditunggu layu tak mau layu
Tinggi rendah mata meninjau
Ditunggu lalu tak mau lalu

Contoh pantun suka:

Elok-elok menunggang kuda
Tebing bertarah tanahnya licin
Elok-elok berbini muda
Nasi hangus gulainya masin

Contoh pantun suka (mengejek) misalnya,

Gunting Cina ada pasaknya
Gunting Siantan apa besinya
Bunting betina ada anaknya
Bunting jantan apa isinya

Contoh pantun suka (teka-teki) :

Pulang mengail membawa sepat
Sepat dijual orang Melaka
Makan di laut muntah di darat
Kalau tahu cobalah terka

Contoh pantun duka :

Sayang Serawak sungailah sempit
Buah rengas lambung-lambungan
Hendak dibawa perahuku sempit
Tinggal emas tinggallah junjungan

Kalau meletus Gunung Sibayak
Alamat Medan menjadi abu
Angin berhembus layarku koyak
Pulau yang mana hendak dituju

Dari beberapa pantun di atas dapat disimpulkan bahwa lambang-lambang yang digunakan di dalamnya, baik sebagai sampiran maupun isi, adalah nama-nama benda atau makhluk yang ada di sekitar masyarakat Melayu. Benda-benda yang digunakan adalah tumbuh-tumbuhan, satwa, alat transportasi, alat-alat rumah tangga, dan perkakas lainnya yang sangat berguna bagi kehidupan mereka. Kupasan secara lebih luas dan mendalam mengenai hal ini belum penulis lakukan.

Tulisan ini terwujud berkat bantuan beberapa budayawan dan sastrawan yang sudi memberikan masukan. Semoga tulisan ini dapat menggugah para ahli yang terhimpun dalam majelis ini untuk menjadikan “penafsiran lambang-lambang dalam pantun ini” sebagai kajian yang lebih luas, mendalam, dan ilmiah.

Lumba-lumba main gelombang
Riaknya sampai ke Indragiri
Coba-coba menanam mumbang
Kalau tumbuh tuah negeri


Daftar Pustaka

Anonim. “Profil Orang Melayu yang Toleran”. Kompas, Minggu, 19 Juni 1983.

Depdikbud (Dirjen Kebudayaan, Direktorat Kesenian), 1983. Hasil Pencatatan Data Kesenian Daerah Riau.

Jabbar, H. 1979. Pantun dan Tradisinya di Minangkabau. Makalah Persidangan Antarbangsa Pengkajian Melayu. Kuala Lumpur, 8–10 September 1979.

Navis, A. A. 1985. Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: Grafiti Pers.

Teeuw, A. 1970. Sastra Baru Indonesia. Diterjemahkan oleh Rustam A. Sani dan Asraf. Kuala Lumpur: University of Malaya Press.

oooOooo

__________

Ediruslan Pe Amanriza, lahir di Bagan Siapi-api, 17 Agustus 1947. Pendidikannya ditempuh di SR (1958); SMP (1961/1962); SMA Bandung (1965); FHPM Universitas Padjadjaran, Bandung (1965–1969, tidak selesai); dan SHD Medan (1982, tidak selesai). Dia aktif mengikuti seminar sastra dan budaya di dalam maupun luar negeri, serta aktif menulis puisi, cerpen, roman/novel, tulisan budaya, dan berbagai tulisan lainnya yang pernah dipublikasikan di Mimbar (1972), Mimbar Demokrasi (1967), Horison (1975), Zaman (1980–1983), Sinar Harapan (1982), Haluan (1978–1985), Solarium (1980), dan berbagai penerbit lokal (Riau).

Dia adalah sastrawan yang pernah menjadi pembantu lepas Tempo (1978–1982), Selecta, dan Fokus (1982–1984). Tahun 1985, ia menjadi Ketua Badan Pekerja Harian (BPH) BKKNI dan menjadi anggota Dewan Kesenian Riau (DKR).

Kumpulan puisinya adalah Vagabon (1975), Surat-suratku kepada GN (1981–1983) dan Bukit Kawin (1985). Roman/novel yang ditulisnya antara lain Di Bawah Matahari Kuala Lumpur (1981); Jakarta, di Manakah Sri (1982); Taman (1983); Kekasih Sampai Jauh (Jembatan) (1976); Nakhoda (1977); Kelangit (1978); Koyan (1979); Panggil Aku Sakai (1980); Umi Kalsum (trilogi); Istana Kosong; Rachman, ya Rahman; Kalau Mau Seribu Daya (Anak-anak). Beberapa tulisan budaya yang dihasilkannya yaitu Perkawinan Adat Riau (1983) yang ditulis bersama penulis-penulis lain; Pertemuan Budaya Melayu (1985) yang ditulis bersama penulis-penulis IDKD; Gastronomi Melayu Riau yang ditulis bersama beberapa penulis Riau; Alat-alat Rumah Tangga Melayu Riau yang ditulis bersama penulis-penulis lain; dan sejumlah makalah yang pernah ditulis untuk berbagai pertemuan dan seminar pada tahun 1978–1986.

__________

Makalah ini disampaikan pada Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya”, yang diselenggarakan di Tanjung Pinang, Riau, Indonesia, pada tanggal 17 – 21 Juli 1985. (Dengan penambahan hyperlink dari MelayuOnline.com)

Mengingat pentingnya makalah ini, Redaksi MelayuOnline.com memuat ulang dengan penyuntingan seperlunya.

Kumpulan makalah (prosiding) seminar ini telah dibukukan dengan judul “Masyarakat Melayu dan Budaya Melayu dalam Perubahan”, dengan editor Prof. Dr. Heddy Shri Ahmisa-Putra, setelah dilakukan penyuntingan ulang pada klasifikasi dan urutan pada daftar isi, bahasa, maupun perubahan judul. Editor juga memberikan Wacana Pembuka dan Wacana Penutup serta Kata Pengantar pada setiap bagian. Diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Edisi Eksklusif (Hard Cover), 965 halaman.

Seluruh makalah pada buku tersebut akan dimuat berdasarkan urutan bagian secara bergantian. Buku tersebut terdiri atas 36 (tiga puluh enam) makalah pilihan yang terbagi dalam 8 (delapan) bagian yakni, 1) Sejarah dan Keragaman Kesulatanan Melayu; 2) Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia; 3) Sastra Melayu dan Sastrawan Melayu; 4) Naskah Melayu dan Penelitiannya; 5) Seni Pertunjukan Melayu; 6) Kepribadian, Adat Istiadat dan Organisasi Sosial Melayu; 7) Teknologi Melayu; dan 8) Melayu dan Non-Melayu.

Kredit foto : Sebagian koleksi Buku-buku yang diterbitkan oleh Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu



1)  Dalam Seminar Sejarah Minangkabau di Batusangkar pada tahun 1970.

2)  Dikutip Hamid Jabbar dalam makalahnya “Pantun dan Tradisinya di Minangkabau” dalam Persidangan Antarbangsa Pengkajian Melayu di Kuala Lumpur pada September 1979.


Dibaca : 10.620 kali.

Tuliskan komentar Anda !