Close
 
Rabu, 16 April 2014   |   Khamis, 15 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 2.528
Hari ini : 20.554
Kemarin : 16.688
Minggu kemarin : 148.067
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.599.188
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

15 sepember 2008 03:57

Bentuk Gambar Telapak Tangan pada Gua-gua Prasejarah Di Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan

Bentuk Gambar Telapak Tangan pada Gua-gua Prasejarah Di Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan

Oleh: R. Cecep Eka Permana

Abstract

Cave pictures are one form of human culture found in old sites of dwelling caves of the pre-historical time. Cave pictures can be said to be universal in nature because they are found almost every where in the world, including Indonesia. One form or object of picture frequently found is hand stencils. In Indonesia, beside Kalimantan, the Moluccas, and Irian, it is also found in South Sulawesi, especially in the District of Pangkajene Islands (Pangkep). Twelve caves in Pangkep are studied where 326 hand stencils are found. The hand part, orientation, hand side, number of fingers, size, color, and context are analyzed. The analysis reveals a pattern of hand palms of adults with upward orientation. The analysis also reveals a pattern of hand palms that are brown in color, randomly arranged, within the context of pictures of other hands.


1. Pendahuluan

Gambar gua merupakan hasil kebudayaan manusia masa lalu yang berasal dari masa prasejarah. Gambar gua ini merupakan gambar yang dibuat pada dinding-dinding gua (cave) atau ceruk (rockshelter) yang berasal dari masa paleolitik (masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana) sampai masa mesolitik (masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut). Pada beberapa wilayah di dunia, kehidupan di gua ada yang berlangsung hingga masa neolitik (masa bercocok tanam), bahkan ada pula yang hingga memasuki masa sejarah.

Gambar pada gua prasejarah merupakan salah satu data arkeologis yang sampai sekarang dapat dijumpai pada sejumlah situs gua di dunia, terutama di wilayah yang dahulu pernah dihuni oleh manusia purba. Penghunian gua dianggap sebagai pola pemukiman yang pertama sejak manusia meninggalkan cara hidup mengembara. Adanya gambar gua memberikan bukti tentang adanya kegiatan hidup manusia di dalam gua yang telah berlangsung dalam jangka waktu lama. Oleh karena itu, gambar gua ini banyak memberikan gambaran tentang berbagai aspek kehidupan manusia masa lalu.

Gambar gua dapat dikatakan bersifat universal, karena terdapat hampir di seluruh dunia, seperti Eropa, Afrika, Asia, dan Australia. Salah satu jenis manusia purba yang mengawali kehidupan di gua adalah manusia Neanderthal yang lahir di Eropa sekitar 100.000 tahun yang lalu. Gambar gua ini kemudian lebih berkembang pada kira-kira 40.000 tahun yang lalu dengan munculnya manusia Cro-magnon, juga di Eropa, khususnya di Prancis (Gua Lascaux) dan Spanyol (Gua Altamira). Jenis manusia ini dianggap sebagai manusia seniman yang pertama di dunia, sebab memiliki kemampuan untuk mencurahkan rasa seninya melalui bentuk gambar, goresan, dan pahatan yang diterakan pada dinding gua (Grand 1967; Cox 1978; Howel 1982).

Di Kawasan Asia, peninggalan berupa gambar-gambar gua dijumpai di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Gambar gua di Asia Selatan (India) tidak ditemukan di dalam gua-gua, melainkan hanya pada ceruk. Secara umum gambar ceruk di India ini mulai berkembang sejak mesolitik dan berlanjut hingga masa-masa sejarah. Motif yang dominan adalah manusia dengan berbagai bentuk dan motif hewan. Sementara itu, gambar gua di Asia Tenggara ditemukan di Thailand, Malaysia, Filipina dan Indonesia. Gambar gua di Thailand berasal dari masa paleolitik, namun mulai berkembang pesat sejak lahirnya budaya alat batu Hoa-binhian pada masa mesolitik (sekitar 11.000 SM) hingga 6.000 SM. Gambar gua di sana ditemukan di Thailand Timurlaut (106 situs), dan Thailand Selatan (64 situs). Motif gambar terdiri atas bentuk manusia, hewan, tumbuhan, dan motif geometrik. Di Malaysia, gambar gua ditemukan di Ipoh dan gua Niah (Serawak). Motif gambar di Ipoh berupa manusia jongkok dan binatang seperti ikan lele, tapir, dan rusa, sedangkan di Niah berupa motif manusia dan perahu. Gambar gua dari Filipina berupa gambar gores dan hitam. Gambar gores yang terkenal ditemukan di situs Angono, Provinsi Rizal (Filipina Tengah) dengan motif manusia berbentuk dasar huruf Y atau U. Adapun gambar warna hitam terdapat di Taut Batu, propinsi Quezon City dan Penablanca, Provinsi Cagayan, dengan motif daun, dan geometris (Kosasih 1989: 32-43).

Di Indonesia, hasil budaya berupa gambar gua ini dijumpai di Irian (Papua), Maluku, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, dan Kalimantan. Keberadaan gambar gua di Indonesia pertama kali dilaporkan pertama kali oleh J. van Oldenborgh pada tahun 1882 tentang gambar gua di Teluk Berau, Irian. Penelitian ini kemudian diikuti laporan dari D.F. van Braam Moris tahun 1884 dan E. Metzger tahun 1885. Namun, laporan yang lebih terinci tentang temuan gambar-gambar gua di daerah ini baru ditulis oleh J. RÖder yang mengikuti ekspedisi Frobenius tahun 1937 —1938 dan diterbitkan pada tahun 1959 (Tanudirdjo 1996: 1).

Khusus penelitian gambar gua di Sulawesi pertama kalinya dilakukan oleh dua bersaudara Paul dan Fritz Sarasin tahun 1902-1903 di Sulawesi Selatan, kemudian diikuti oleh P.V. van Stein Callenfels tahun 1933, C.H.M.Heern-Palm dan H.R. van Heekeren tahun 1950, C.J.H. Franssen tahun 1958, Mulvaney dan R.P. Soejono tahun 1970 dan 1977. Sementara itu, penelitian gambar gua lain di Sulawesi dilakukan di Sulawesi Tenggara oleh E.A. Kosasih sejak tahun 1978. Penelitian mengenai gua dan lukisannya di kedua daerah ini kemudian dilanjutkan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional tahun 1991, 1994, 1995, dan 1996.

Berdasarkan penelitian yang ada, gambar gua di Indonesia masih tergolong muda. Gambar gua tertua di Indonesia ditemukan di Sulawesi Selatan yang berdasarkan pertanggalan C-14 berasal dari 10.500--5.000 tahun yang lalu (Heekeren 1972; Soejono 1993; Kosasih 1995).

Salah satu bentuk atau objek gambar yang paling banyak dijumpai adalah telapak tangan. Yang dimaksud dengan gambar telapak tangan adalah gambar yang umumnya dibuat dengan cara merentangkan jari-jari tangan di dinding gua, kemudian jari tangan ditaburi atau di-"semprot" dengan "cat". Bahan taburan atau semprotan cat akan mewarnai sekitar telapak tangan, sementara bagian yang tertutup telapak tangan tidak terwarna, dan membentuk cetakan telapak tangan. Teknik membuat gambar telapak tangan tersebut biasanya disebut sebagai gambar telapak tangan bersifat negatif (negative hand stencil). Selain itu, terdapat pula gambar telapak tangan yang bersifat positif (possitive hand stencil), yakni gambar telapak tangan yang dibuat dengan teknik membubuhkan cat pada telapak tangan yang kemudian "dicapkan" di dinding gua.

Gambar telapak tangan di Asia, khususnya Asia Tenggara ditemukan di Thailand dan Filipina. Di Thailand gambar telapak tangan ditemukan di Pha Taem, Provinsi Ubon Ratchathani. Gambar itu terdapat pada satu panel lukisan sepanjang 50 meter. Gambar telapak tangan digambarkan secara negatif dan positif. Gambar telapak tangan di Filipina ditemukan di Tanjung Lamanok, Kepulauan Anda, Provinsi Bohol. Gambar yang tertera pada ceruk itu berupa cap telapak tangan negatif (Kosasih 1989: 36-43).

Gambar telapak tangan di Indonesia ditemukan di Maluku, Irian, dan Sulawesi Selatan. Di Maluku, pada dinding karang dan gua di Pulau Seram, J. Röder menemukan gambar telapak tangan warna merah bersama dengan gambar burung dan perahu berwarna putih. Gambar telapak tangan ini ditemukan juga di Kepulauan Kei pada dinding karang yang berada 2,5- 4 .meter di atas permukaan laut. Sementara itu, W.J Cator menemukan banyak sekali cap telapak tangan (juga terdapat cap kaki) yang ditaburi cat merah di daerah Kokas (Teluk Berau-Irian) (Soejono 1993).

Di Sulawesi Selatan, C.H.M Heern-Palm pada tahun 1950 menjumpai gambar telapak tangan dengan latar belakang cat merah di liang (gua) PattaE. Gambar ini diduga berasal dari tangan kiri wanita. Van Heekeren di gua Burung menemukan gambar telapak tangan yang terletak kira-kira 8 meter di atas permukaan tanah. Anehnya, semua gambar telapak tangan itu merupakan gambar telapak tangan kiri. Di gua JariE, van Heekeren dan Frassen menemukan banyak gambar telapak tangan warna merah; dengan lima jari dan empat jari (satu di antaranya tanpa ibu jari). Di liang PattaE Kere ditemukan gambar-gambar babi-rusa distilir dengan gambar telapak tangan (Soejono 1993; Kosasih 1995).

Hasil penelitian terdahulu dan hasil survei yang telah dilaksanakan menunjukkan bahwa terdapat keragaman dalam aspek bentuk gambar telapak tangan pada setiap gua di wilayah Pangkep, Sulawesi Selatan. Berdasarkan kenyataan itu, permasalahan yang dikaji pada makalah ini adalah bagaimanakah pola bentuk gambar telapak tangan pada gua prasejarah di Pangkajene Kepulauan—untuk selanjutnya disebut Pangkep, sebagai singkatannya yang lazim, Sulawesi Selatan.


2. Gua-gua Prasejarah Di Pangkep

Informasi tentang gua yang dikumpulkan di wilayah Kabupaten Pangkep mengabarkan adanya gua yang di dalamnya--menurut laporan resmi instansi arkeologi terkait--terdapat peninggalan aktivitas manusia masa lalu, berupa alat-alat batu, kerang, tulang hewan, gerabah, dan gambar-gambar gua. Berdasarkan hal itu, data acuan pertama adalah: (1) Peta Pemintakatan Situs Gua Prasejarah Kabupaten Maros dan Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan, yang dikeluarkan oleh Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Pusat tahun 1997; dan (2) Daftar Gua Prasejarah Kabupaten Maros dan Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan, yang dikeluarkan oleh Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) atau sekarang bernama Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar tahun 2003.

Berdasarkan peta dan daftar tersebut diketahui bahwa gua-gua di daerah Kabupaten Pangkep seluruhnya berjumlah 35 gua. Sebagian besar gua, yakni sebanyak 24 gua, terdapat di wilayah Desa Minasa Te‘ne, Kecamatan Pangkajene. Adapun gua-gua yang terdapat di wilayah ini dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.


Gua lainnya di Pangkep, yang berjumlah 11 gua, terdapat menyebar di beberapa desa dan kecamatan seperti terlihat pada Tabel 2 berikut.


Dari ke-35 situs gua yang ada di Kabupaten Pangkep, berdasarkan laporan yang ada diketahui bahwa gua yang memiliki gambar-gambar di dalamnya berjumlah 33 gua. Namun, setelah dilakukan survei (September 2004), situs gua yang akan dibicarakan lebih lanjut hanya 12 gua, karena terdapat gambar telapak tangan dan masih dapat diamati dengan jelas. Situs gua yang dimaksud disajikan dalam Tabel 3 berikut.



3. Bentuk Gambar Telapak Tangan

Seperti yang telah dijelaskan pada subbagian sebelumnya, situs gua di Kabupaten Pangkep yang dianalisis berjumlah 12 gua. Dari ke-12 gua tersebut sebenarnya ditemukan banyak sekali gambar telapak tangan. Namun, sebagian dari gambar-gambar telapak tangan tersebut telah rusak, sehingga tidak dapat dikenali bentuknya. Oleh karena itu, gambar telapak tangan yang berhasil didata berjumlah 326 gambar. Dari ke-326 gambar telapak tangan yang didata, 45 gambar di antaranya, yang tersebar pada ke-12 gua yang diteliti, sudah rusak. Walaupun demikian, sebagian besar unit analisis masih bisa dilakukan. Unit analisis yang tidak dapat dilakukan hanyalah "sisi tangan" dan "jumlah jari". Unit analisis "sisi tangan" tidak dapat dilakukan karena jari kelingking dan jari jempol (ibu jari) tidak jelas, sedangkan "jumlah jari" tidak diketahui karena rusak hingga tidak dapat ditentukan jumlah jarinya.

Sementara itu, tiap-tiap gua memiliki jumlah gambar telapak tangan yang berbeda-beda. Dari ke-12 gua yang dianalisis, gambar telapak tangan terbanyak terdapat pada gua Sumpang Bita (81 gambar), kemudian gua Garunggung (48 gambar), gua Cumi Lantang (47 gambar), dan gua Camingkana (36 gambar). Jumlah gambar telapak tangan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.


Bentuk-bentuk gambar telapak tangan yang dianalisis di sini meliputi bagian tangan, orientasi, sisi tangan, jumlah jari, ukuran, warna, dan konteks. Bagian tangan di sini meliputi gambar telapak tangan (jari-jari dan bagian telapak), telapak tangan beserta bagian pergelangan tangannya, dan telapak tangan beserta bagian lengannya. Orientasi gambar telapak tangan terbagi atas orientasi ke arah atas, orientasi ke arah bawah, orientasi ke arah kiri, dan orientasi ke arah kanan. Sisi tangan dari gambar telapak tangan yang diketahui terdiri atas tangan kiri dan tangan kanan. Sisi tangan yang tidak diketahui tangan kiri atau tangan kanan, karena kondisi gambar yang tidak jelas, dimasukkan dalam kategori "tidak jelas".

Selain itu, jumlah jari yang ditemukan pada gambar telapak tangan yang dianalisis ada yang memiliki 5 jari; ada pula yang terdiri atas 4 jari; bahkan ada yang hanya memiliki 3 jari. Gambar telapak tangan yang tidak diketahui jumlah jarinya, karena rusak atau aus gambarnya, dimasukkan dalam kategori "tidak jelas". Ukuran gambar telapak tangan terdiri atas ukuran telapak tangan besar dan kecil. Telapak tangan besar berukuran panjang 17-21 cm dan lebar 10-12 cm, sedangkan telapak tangan yang kecil berukuran panjang 11-15 dan lebar 6-8 cm. Warna gambar telapak tangan yang dijumpai adalah coklat, merah, dan hitam. Ditemukan pula konteks, yaitu gambar lain yang berhubungan dengan gambar telapak tangan, yang berupa gambar sesama telapak tangan, gambar hewan, dan gambar lain. Umumnya, bagian tangan yang digambarkan adalah telapak tangan, yaitu sebanyak 290 gambar, telapak tangan beserta bagian pergelangan tangan (23 gambar), dan telapak tangan beserta bagian lengannya (13 gambar).

Situs gua yang di dalamnya terdapat gambar telapak tangan dengan ketiga variasi gambar tersebut adalah gua Sumpang Bita dan gua Saluka. Pada gua Sumpang Bita, gambar telapak tangan berjumlah 64 gambar, gambar telapak tangan beserta pergelangan tangan berjumlah 10 gambar, dan gambar telapak tangan beserta pergelangan tangannya berjumlah 7 gambar. Pada situs gua Saluka, gambar telapak tangan berjumlah 25 gambar, gambar telapak tangan beserta pergelangan tangan berjumlah 7 gambar, dan gambar telapak tangan beserta lengannya berjumlah 1 gambar.

Situs gua yang di dalamnya terdapat dua variasi gambar tangan saja adalah gua Bulu Sumi, gua Cumi Lantang, gua Sakapao, dan gua Sassang. Situs gua yang di dalamnya hanya terdapat satu variasi gambar tangan adalah gua Batang Lamara, gua Camingkana, gua Garunggung, gua Kassi, gua Lompoa, dan gua Pattenungan. Adapun jumlah selengkapnya variasi gambar bagian tangan dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.



4. Orientasi

Dari semua situs gua yang dianalisis, orientasi gambar telapak tangan yang terbanyak dijumpai adalah orientasi ke-arah-atas berjumlah 223 gambar, kemudian orientasi ke-arah-kanan (64 gambar), orientasi ke-arah-kiri (26 gambar), dan orientasi ke-arah-bawah (13 gambar).

Situs gua yang memiliki keempat variasi orientasi gambar telapak tangan tersebut adalah gua Cumi Lantang, gua Garunggung, gua Saluka, dan gua Sumpang Bita. Situs gua yang mempunyai tiga variasi orientasi gambar telapak tangan adalah gua Batang Lamara, gua Sakapao, dan gua Sassang. Situs gua yang mempunyai hanya dua variasi orientasi gambar telapak tangan adalah gua Bulu Sumi, gua Kassi, gua Lompoa. Jumlah tiap-tiap orientasi gambar telapak tangan tersebut dapat dilihat pada Tabel 6 berikut.



5. Sisi Tangan

Jumlah gambar telapak tangan kiri dan kanan nyaris sama, yakni 140 gambar tangan kiri dan 139 gambar tangan kanan. Sementara itu, sisi tangan yang "tidak jelas" diketahui berjumlah 47 gambar. Variasi sisi tangan ini selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7 berikut.



6. Jumlah Jari

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa gambar telapak tangan terbanyak memiliki jumlah 5 jari (normal) sebanyak 269 gambar dan dijumpai pada semua situs gua, kecuali gua Lompoa. Sementara itu, gambar telapak tangan dengan 4 jari dijumpai pada gua Garunggung (3 gambar), dan gua Lompoa (1 gambar), serta gambar telapak tangan dengan 3 jari saja dijumpai hanya di gua Garunggung (7 gambar). Variasi jumlah jari pada gambar telapak tangan selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 8 berikut.



7. Ukuran

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diketahui bahwa umumnya gambar telapak tangan yang dijumpai berukuran besar berjumlah 314 gambar, sedangkan yang berukuran kecil hanya 12 gambar. Situs gua yang di dalamnya terdapat dua kategori ukuran gambar telapak tangan tersebut (besar dan kecil) adalah gua Garunggung, gua Lompoa, gua Saluka, gua Sassang, dan gua Sumpang Bita. Sementara itu, situs gua yang di dalamnya hanya terdapat satu kategori saja (besar) adalah gua Batang Lamara, gua Bulu Sumi, gua Camingkana, gua Cumi Lantang, gua Kassi, gua Pattenungan, dan gua Sakapao (lihat Tabel 9).



8. Warna

Dari ketiga warna gambar, yaitu cokelat, hitam, dan merah, warna yang paling dominan adalah cokelat pada 297 gambar, disusul hitam pada 22 gambar dan merah pada 7 gambar. Situs gua yang di dalamnya terdapat gambar telapak tangan dengan ketiga warna (cokelat, merah, dan hitam) adalah gua Cumi Lantang, gua Garunggung, dan gua Sumpang Bita. Situs gua yang di dalamnya terdapat gambar telapak tangan dengan dua warna, cokelat dan merah, adalah gua Lompoa dan gua Sakapao; sementara cokelat dan hitam adalah gua Bulu Sumi, gua Saluka, dan gua Sassang. Situs gua yang di dalamnya terdapat gambar telapak tangan dengan satu warna saja (cokelat) adalah gua Camingkana dan gua Pattenungan. Variasi jumlah warna gambar telapak tangan tersebut selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 10 berikut.



9. Konteks

Gambar telapak tangan memiliki konteks yang berupa gambar lain, seperti telapak tangan, telapak kaki, hewan (babi dan anoa), perahu, dan "tally" (bentuk garis-garis sejajar). Sementara itu, gambar telapak tangan yang tunggal masuk dalam kategori "tidak ada" konteks.

Konteks gambar telapak tangan terbanyak adalah gambar telapak tangan lainnya, yaitu ditemukan dalam 272 gambar; kemudian konteks gambar babi pada 28 gambar; dan konteks gambar anoa pada 11 gambar. Situs gua yang di dalamnya ditemukan gambar telapak tangan dengan variasi konteks yang benyak adalah gua Sumpang Bita (memiliki konteks gambar telapak tangan, babi, anoa, dan perahu), gua Sakapao (memiliki konteks gambar telapak tangan, babi, dan anoa), gua Garunggung (memiliki konteks gambar telapak tangan dan "tally"), dan gua Pattenungan (memiliki konteks gambar telapak tangan dan telapak kaki) (lihat Tabel 11).



10. Pola Bentuk Gambar

Dari analisis antarunit bentuk gambar, diketahui bahwa secara dominant, gambar telapak tangan yang ditemukan pada gua-gua prasejarah di Kabupaten Pangkep adalah:

  • Gambar telapak tangan tanpa pergelangan tangan atau lengan (88,9%).
  • Gambar telapak tangan memiliki lima jari (82,5%)
  • Gambar telapak tangan berukuran besar atau dewasa (96,3%)
  • Gambar telapak tangan berorientasi ke-atas (68,4%).
  • Gambar telapak tangan berwarna cokelat (91,1%)
  • Gambar telapak tangan tersusun dalam kelompok secara acak (94,1%)
  • Gambar telapak tangan memiliki konteks dengan telapak tangan (83,5%)

Berdasarkan hal tersebut, dapat digambarkan bahwa pola gambar telapak tangan tersebut adalah telapak tangan orang dewasa berorientasi ke-atas. Selain itu, gambar telapak tangan tersebut juga mempunyai pola telapak tangan berwarna cokelat, yang tersusun dalam kelompok secara acak, dan memiliki konteks dengan gambar telapak tangan lainnya.

Bahwa terdapat bentuk gambar telapak tangan di luar pola dominan tersebut, sesungguhnya bukanlah suatu "kesalahan" gambar. Bentuk gambar telapak tangan hingga pergelangan dan lengan, yang memiliki empat atau tiga jari, berukuran kecil/anak-anak, berorientasi ke kiri/ kanan/bawah, berwarna hitam atau merah, tersusun dalam kelompok secara tunggal, dan memiliki konteks dengan gambar hewan, tentunya memiliki latar belakang, fungsi dan makna tertentu.

Pada gambar dengan pola dominan tidak dijumpai gambar telapak tangan yang memiliki bentuk sama persis. Menurut Forge (1991: 40), bentuk gambar telapak tangan merupakan suatu perpindahan langsung secara alami dari organisme biologi (tangan manusia) ke objek budaya (gambar gua). Gambar tersebut adalah suatu kesan, yang secara mekanik dibuat dari suatu bagian alamiah dari budaya tunggal yang bersifat individu.

Lebih lanjut dikatakan bahwa gambar telapak tangan dibuat dengan sepenuh hati karena tidak satu pun gambar yang dianggap gagal. Mungkin saja proses pembuatannya telah mencapai suatu titik penghayatan tertentu. Selain itu, sebuah gambar telapak tangan dibuat hanya sekali, dan bahkan tidak pernah dibuat dengan cara melapisinya. Gambar telapak tangan juga menunjukkan kerusakan yang mirip, misalnya gambar jari yang terpotong (apa itu memang ada pemotongan jari atau jari yang dilipatkan dalam proses pembuatannya). Kekurangan jari tersebut merupakan tanda tentang individu, bukan seni (Forge 1991: 40).

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa gambar telapak tangan tersebut merepresentasikan individu penghuni gua, atau paling tidak mewakili masyarakat pendukung kebudayaan. Berdasarkan studi etnografi pada masyarakat Aborigin di wilayah Deaf Adder George (Kunwinjku, Gagadju, dan Gundjibme), gambar telapak tangan sering dibuat untuk menandai kehadiran mereka. Ketika orang yang membuat gambar telapak tangan masih hidup, gambar tersebut tetap sebagai "tanda tangan" dan tanda dalam sistem sosial mereka. Namun, jika orang yang bersangkutan meninggal dunia, gambar telapak tangan yang negatif itu dibuat menjadi gambar positif dengan menambah garis-garis tepi (outline) warna merah mengikuti bentuk jari. Sering pula pada bagian dalamnya ditambah garis "tulang" telapak atau tangan. Penambahan pada gambar telapak tangan tersebut merupakan tanda penghormatan yang dimaksudkan untuk memberikannya kehidupan. Dalam upacara keagamaan berupa inisiasi, gambar telapak tangan itu merupakan pernyataan kehadiran individu dalam upacara, bukan tentang upacara agama itu sendiri (Forge 1991: 40-41).

Dari berbagai kajian selama ini, gambar cap telapak tangan pada gua dianggap sebagai gambaran nenek moyang dan atau mengandung unsur kekuatan gaib untuk mengusir roh-roh jahat, bertalian dengan upacara minta hujan, inisiasi, dan untuk keperluan pengobatan. Gambar cap telapak tangan dengan jari-jari yang tidak lengkap dianggap sebagai tanda berkabung (Heekeren 1972; Soejono 1993). Sementara itu, Röder (1938a: 24), berdasarkan penelitiannya di Pulau Seram, berpendapat bahwa gambar telapak tangan merupakan tanda kepemilikan atau berfungsi sebagai penolak Bala—atau bahkan kedua-duanya. Dari penelitiannya di Papua Neugini, Röder (1938b: 78) mengungkapkan pula bahwa keberadaan gambar telapak tangan dianggap sebagai tanda berkabung atau tanda peresmian tempat upacara oleh para leluhur.


11. Kesimpulan

Gambar telapak tangan merupakan salah satu bentuk gambar gua prasejarah yang paling awal dan paling banyak ditemukan di seluruh dunia. Gambar telapak tangan merupakan suatu perpindahan langsung secara alami dari organisme biologi (tangan manusia) ke objek budaya (gambar gua). Gambar tersebut adalah suatu kesan, yang secara mekanik dibuat dari suatu bagian alamiah dari budaya yang bersifat individu.

Dari analisis antarunit bentuk gambar, diketahui bahwa secara dominan gambar telapak tangan yang ditemukan pada gua-gua prasejarah di Kabupaten Pangkep adalah: (a) gambar telapak tangan tanpa pergelangan tangan atau lengan; (b) gambar telapak tangan yang memiliki lima jari; (c) gambar telapak tangan yang berukuran besar atau dewasa; (d) gambar telapak tangan yang berorientasi ke-atas; (e) gambar telapak tangan yang berwarna cokelat; (f) gambar telapak tangan yang tersusun dalam kelompok secara acak; dan (g) gambar telapak tangan yang memiliki konteks telapak tangan lain. Berdasarkan hal tersebut, dapat digambarkan bahwa pola gambar telapak tangan tersebut adalah telapak tangan orang dewasa berorientasi ke-atas. Selain itu, gambar telapak tangan tersebut juga mempunyai pola telapak tangan berwarna cokelat, tersusun dalam kelompok secara acak, dan memiliki konteks gambar telapak tangan lain.

Dari berbagai kajian terdahulu tentang gambar telapak tangan, belum ada yang membicarakan secara rinci gambar telapak tangan dari berbagai aspek bentuknya. Secara umum dikatakan bahwa gambar cap telapak tangan pada gua dianggap sebagai gambaran nenek moyang dan atau mengandung unsur kekuatan gaib untuk mengusir roh-roh jahat, bertalian dengan upacara minta hujan, inisiasi, tanda berkabung, dan untuk keperluan pengobatan. Dengan demikian, paling tidak hasil penelitian ini memberikan tambahan data dan informasi tentang bentuk-bentuk lebih terperinci dari gambar telapak tangan pada gua prasejarah, khususnya yang terdapat di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Sementara itu, bagaimana hubungan antara bentuk-bentuk gambar telapak tangan itu dengan fungsi atau maknanya akan dibicarakan pada kesempatan lain.

_______________________

Artikel ini telah disajikan dalam Seminar Internasional Naskah, Tradisi Lisan, dan Sejarah, yang diselenggarakan atas kerja sama Akademi Jakarta, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI), pada tanggal 28 Juli 2005 di FIB-UI Depok, dan telah dimuat dalam Wacana: Jurnal Ilmu Pengetahuan, Vol. 7 No. 2, Oktober 2005.

R. Cecep Eka Permana, adalah staf pengajar pada Program Studi Arkeologi, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Daftar Pustaka

  • Almeida, Antonio de., (1967). "A Contribution to the Study of Rock Art in Portuguese Timor", dalam Archaeology at the 11th Pacific Science Congress, hlm. 69 — 72.
  • Arifin, Karina, (1997). "Penelitian Rock Art di Indonesia dari Deskripsi sampai Pencarian Makna,” Makalah Seminar Hasil Penelitian. Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.
  • Ballard, C., (1988). "Dudumahan: a Rock Art Site on Kay Kecil, Southeast Molluccas", BIPPA, 8: 139 — 161.
  • Berger-Kirchner, L. (1970). "The Rock Art of West New Guinea", dalam H.G. Bandi (ed.), The Art of the Stone Age. London: Methuen, hlm. 231 — 239.
  • Cox, Barry, (1978). Prehistoric Life. The MacMillan Colour Library.
  • Dayton L. dan M. McDonald, (1993). "The Atomic Age of Cave Art", New Scientist 27 February Grand, M.P. (1967). Prehistoric Art: Palaeolithic Painting and Sculpture. New York Graphic Society, Greenwich-Connecticut.
  • Heekeren, H.R. van, (1958). "Rock-Paintings and Other Prehistoric Discoveries Near Maros (South West Celebes)", dalam Laporan Tahunan 1950 Dinas Purbakala Republik Indonesia: Archaeological Service of Indonesia. Djakarta, hlm. 22 — 35.
  • -------. (1972). "The Stone Age of Indonesia", dalam Verhandelingen van Het Koninklijk voor Taal Land en Volkenkunde: 61. The Hague-Martinus Nijhoff.
  • Holt, Claire, (1967). Art in Indonesia Continuities and Change. Ithaca, New York: Cornell University Press.
  • Howell, F. Clark et al., (1982). Manusia Purba. (Pustaka Alam Life). Jakarta: Tira Pustaka.
  • Kosasih, E. A., (1986). Penelitian Situs-Situs Gua dan Ceruk di Pulau Muna (Sulawesi Tenggara) tahun 1977, 1984, dan 1986. In press.
  • -------, (1987). "Lukisan Gua Prasejarah: Bentangan Tema dan Wilayahnya", DIA II. Jakarta: 16 —33.
  • -------, (1989). "Sumbangan Data Seni Lukis bagi Perkembangan Arkeologi di Kawasan Asia Tenggara (Suatu Studi Analisis Persebaran)", PIA V. Jakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, hlm. 29 — 53.
  • -------, (1995). Lukisan Gua di Sulawesi Bagian Selatan: Refleksi Kehidupan Masyarakat Pendukungnya. Tesis Program Studi Arkeologi Program Pascasarjana Universitas Indonesia.
  • Maynard, L., (1977). "Classification and Terminology in Australian Rock Art", dalam P.J. Ucko (ed.) Form in lndigeneous Art: Schematisation in the art of Aboriginal Australia and Prehistoric Europe. Canberra: Australian Institute of Aboriginal Studies.
  • Renfrew, Colin dan Bahn, Paul, (1991). Archaeology: Theories, Methods, and Practices. London. Thames and Hudson Ltd.
  • Röder, Josef, (1938a). "Felsbider auf Ceram", dalam Paideuma 1:19— 28.
  • -------, (1938b). "Felsbildforschuung auf west Neuguinea", dalam Paideuma 1:75 —88.
  • -------, (1956). "The Rock-Paintings of the Mao Cluer Bay, Western New Guinea", dalam The Antiquity and Survival, I (5), hlm. 387-400.
  • Soejono, R.P, (1984). "Prehistoric Indonesia", dalam Prehistoric Indonesia: A Reader. Foris Publication, hlm. 55-59.
  • -------, (1993). Sejarah Nasional Indonesia, Jilid I. Jakarta: Balai Pustaka.
  • Souza, C.R.and W.G. Solheim II, (1976). "A new area of rock paintings in Irian Jaya, Indonesia New Guinea", dalam K.K. Chakravarty (ed.), Rock Art of India. New Delhi: Arnold-Heinemann, hlm. 182 —195.
  • Tanudirdjo, Daud A., (1996). “Problem dan Prospek Kajian Seni Cadas Prasejarah di Indonesia”. Makalah pada Seminar Prasejarah Indonesia 1. Yogyakarta: 1 —3 Agutus 1997.

Kredit foto : www.eljohn.net


Dibaca : 15.567 kali.

Tuliskan komentar Anda !