Close
 
Jumat, 1 Agustus 2014   |   Sabtu, 4 Syawal 1435 H
Pengunjung Online : 845
Hari ini : 4.381
Kemarin : 17.924
Minggu kemarin : 139.911
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 96.968.012
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

07 oktober 2008 08:09

Khasanah Sastra Melayu Klasik yang Mendapat Pengaruh Persia

Khasanah Sastra Melayu Klasik yang Mendapat Pengaruh Persia

Oleh: Kun Zachrun Istanti

1. Pendahuluan

Pengaruh Persia datang ke kebudayaan Melayu bersamaan dengan masuknya agama Islam ke kawasan Nusantara. Para sejarawan menyatakan bahwa agama Islam datang ke Nusantara melalui Persia dan Gujarat. Sekitar abad XIV dan akhir abad XV, para pedagang dari Gujarat mengadakan pelayaran dan perdagangan ke daerah Semenanjung Melayu. Jadi, pada waktu itu pengaruh Gujarat besar sekali di Semenanjung Melayu. Pengaruh itu umumnya terdapat dalam dunia perdagangan. Oleh karena ramainya para pedagang, banyak orang India Barat datang ke Melayu. Di antara mereka ada pelancong, pengembara, ahli agama, sastrawan, dan cerdik pandai. Dengan demikian, turut juga orang-orang Persia bersama kebudayaannya masuk ke kebudayaan Melayu. Pada mulanya pengaruh Persia itu terbatas pada bidang perdagangan, tetapi lama-kelamaan masuk juga dari bidang-bidang yang lain. Sampai sekarang pengaruh Persia itu masih kita dapati, misalnya pada tanggal 10 Muharam (hari peringatan kaum Syi`ah atas mati syahidnya Husain) masih banyak keluarga yang memasak hidangan khas yang disebut bubur sura. Kata sura berasal dari kata asyura (dalam bahasa Persia berarti tanggal 10 Muharam). Bulan Muharam itu di dalam bahasa Jawa disebut bulan Sura dan di Aceh dikenal dengan bulan Hasan- Husain (Djajadiningrat, 1981: 6). Meluasnya pengaruh Persia bukan karena politik, tetapi secara tidak langsung melalui dunia perdagangan yang pada waktu itu unsur Persia terbawa bersama-sama kebudayaan Islam. Pengaruh Persia masuk ke Nusantara lewat dua jalan, yakni: (a) lewat India yang sudah mendapat pengaruh Persia, dan (b) langsung dari Persia.

Dipandang dari segi sejarah, Persia adalah tempat tumbuh suburnya aliran Syiah. Syiah merupakan aliran resmi yang diakui negara Persia sejak abad XVI sampai sekarang (Djamaris, 1984: 107). Aliran Syiah adalah aliran yang menaruh kepercayaan kepada Nabi Muhammad Saw. dan sesudah itu kepada Ali dan keturunannya. Sekte Syiah ialah golongan orang Islam yang mengakui Ali pemimpin Islam dan para penganutnya mengikuti Ali dan menaruh kepercayaan kepadanya. Aliran Syiah ini tersebar ke India, bahkan sampai juga ke Melayu. Aliran Syiah di Melayu berbeda dengan aliran Syiah di Persia, karena di Melayu aliran Syiah tidak pernah menjadi kepercayaan yang resmi. Para ahli sejarah bahkan menolak adanya pengaruh Syiah di Nusantara. Hal itu terjadi karena sejak lama sebelum pengaruh Persia datang, di Nusantara telah mendapat pengaruh aliran Suni. Aliran Suni yaitu aliran yang berpegang kepada Alquran dan Sunnah Nabi.

Pada waktu Persia di bawah Turki dan Mongol (tahun 1000-1500), aliran Suni berkembang luas di bawah Mazhab Syafi`i. Perluasan Islam Suni sudah memola dan melembaga serta meluas ke Melayu. Pada permulaan abad XVI timbul kebangkitan nasional di Persia, aliran Syiah mulai berkembang. Sejak saat itu, Persia yang merupakan sumber Suni bagi negara-negara lain terhenti. Hal inilah barangkali yang menyebabkan para sayid dari Hadramaut (Arab Selatan) mendapat kedudukan di daerah Melayu menggantikan kedudukan Islam Persia setelah Malaka jatuh dari tangan Portugis.

Pengaruh Persia di Melayu tampak pada tradisi kerajaan Melayu, perkembangan bahasa dan sastra, serta dalam bidang agama. Dalam tulisan ini dibicarakan pengaruh Persia dalam bidang sastra, khususnya sastra Melayu Klasik.

2. Pengaruh Persia dalam Karya Sastra Melayu Klasik

Pengaruh Persia pada bidang kesusastraan terdapat pada beberapa karya sastra. Naskah Melayu yang paling tua tidak lebih dari tahun 1600. Naskah Melayu kebanyakan ditulis dengan huruf Jawi (Arab-Melayu). Jadi, naskah yang tertua itu tertulis setelah Islam datang. Sebelum Islam datang di daerah kebudayaan Melayu, sudah ada sastra dan budaya India yang sampai ke wilayah Nusantara. Sampainya hasil sastra yang mendapat pengaruh India kepada kita lewat tulisan Jawi (Arab-Melayu) dan menggunakan kata-kata Arab. Islam mula-mula menapakkan kakinya di Melayu sekitar tahun 1280 (di Pasai). Kelihatannya, pada waktu itu di Pasai sudah ada kegiatan tulis-menulis yang bersifat Islam. Pada zaman kerajaan Malaka, kegiatan tulis-menulis sudah makin ramai. Data-data tentang Melayu itu dapat dijumpai pada Sejarah Melayu yang batas paling akhir, sudah ada kira-kira tahun 1511. Hal itu berarti Sejarah Melayu sebelum tahun 1511 sudah ada. Dan diketahui bahwa Sejarah Melayu ditulis berdasarkan teks yang lebih awal (teks yang menjadi dasar penyalinan teks yang kemudian). Teks dasar yang awal itu biasanya berasal dari Persia. Teks-teks asli (yang ditulis pada abad XVI) tidak sampai kepada kita, teks yang sampai kepada kita hanya teks salinannya. Di antara teks-teks sastra yang mendapat pengaruh Persia ada kurang lebih berjumlah 20 buah (yang berasal dan tahun 1400 - 1600).

Dari segi isi, pengaruh Persia yang terdapat di dalam karya-karya sastra Melayu klasik dapat dikelompokkan menjadi 5 golongan, yakni: (1) roman Indo-Persia; (2) roman Islam-Persia; (3) buku-buku yang berisi peraturan atau cara memerintah raja; (4) karya sastra yang berisi sejarah; dan (5) karya sastra berisi keagamaan.

2.1 Roman Indo-Persia

Roman Indo-Persia artinya karya sastra yang berbentuk hikayat dan mendapat pengaruh dari India dan Persia secara bersama-sama. Contoh: Hikayat Berma Syahdan, Hikayat Nakhoda Muda, Hikayat Bayan Budiman.

Hikayat Berma Syahdan menceritakan raja Indra Dewa dengan istrinya yang bernama Nurul `Ain. Isi cerita tidak mengenai agama Islam, tetapi kata-kata dan istilah-istilah dari Islam banyak dijumpai dalam cerita, misalnya: Khidir (tokoh misterius) dan Nabi Nuh. Satu hal yang spesifik mengenai hikayat ini, yang berbeda dengan hikayat-hikayat lain yang sezaman, adalah bahwa dalam hikayat ini sudah disebutkan nama pengarangnya. Disebutkan bahwa pengarangnya bernama Syekh Abubakar Ibn Umar, dan syekh ini berumur 128 tahun dan sudah ada pada zaman Nabi Nuh. Ada juga naskah lain yang menyebutkan pengarangnya bernama Maulana Syekh Ibn Abubakar (Yock Fang, 1982: 112). Winstedt (1945: 49-50) menyatakan bahwa Hikayat Berma Syahdan berasal dari abad XV. Kata `syekh` menunjukkan nama-nama yang diberikan oleh pengarang Muslim India.

Hikayat Nakhoda Muda atau Hikayat Siti Sara. Cerita ini menunjukkan adanya pengaruh Persia lewat India, contohnya: nama Sultan Mansur Syah. Inti ceritanya ada persamaan dengan cerita India yang berjudul Kathasarit Sagara. Boccacio dari Italia pernah menyusun cerita yang diilhami Hikayat Nakhoda Muda. Shakespeare pernah mengolah cerita itu menjadi drama yang berjudul All`s Well That Ends Well (Yock Fang, 1982:119).

Hikayat Bayan Budiman yang bentuk cerita aslinya dapat dikembalikan kepada cerita India yang berjudul Sukasaptati (Yock Fang, 1982:178-179). Cerita yang terdapat dalam versi Melayu merupakan terjemahan dan versi Persia. Disebutkan bahwa kerangka ceritanya terjadi di negeri Ajam (dari bahasa Persia yang berarti `asing`). Jadi, kerangka cerita terjadi di negeri Persia.

2.2 Roman Islam-Persia

Roman Islam-Persia adalah karya sastra Melayu yang berbentuk hikayat dan isinya mendapat pengaruh Islam-Persia, misalnya: Hikayat Iskandar Zulkarnain, Hikayat Amir Hamzah, dan Hikayat Muhammad Hanafiah.

Hikayat Iskandar Zulkarnain ini modelnya meniru Syahnama karya Firdausi (Braginsky, 1994: 103-104). Tokoh utama dalam hikayat ini adalah Iskandar Zulkarnain (tokoh penyebar agama Islam pertama dari Nabi Ibrahim). Cerita ini sangat terkenal karena terdapat di dalam beberapa bahasa, baik di Barat maupun di Timur. Oleh karena kepopulerannya tokoh Alexander, maka dalam penjelmaannya, nama tokoh pahlawan itu di beberapa bahasa menjadi Iskandar. Salah satu contohnya yakni di Persia, Iskandar dianggap sebagai pahlawan Persia. Jadi, masing-masing bangsa menimba kebesaran Iskandar untuk mengagungkan nama raja dan bangsanya. Diceritakan bahwa Khidir adalah tangan kanan Iskandar yang membantu keberhasilan perjalanan Iskandar.

Hikayat Amir Hamzah pernah disebut-sebut di dalam Sejarah Melayu. Dengan demikian, hikayat ini harus sudah ada sebelum Sejarah Melayu (yang disusun paling awal abad XV).

Keberanian dan kepahlawanan Hamzah (paman Nabi Muhammad Saw.) mengilhami seorang penulis epos dari Persia, maka lalu digubahnyalah sebuah wira cerita dalam bahasa Persia yang berjudul Qissa`i Emir Hamza dengan mengambil Amir Hamzah sebagai tokoh utamanya. Cerita Persia ini kemudian disadur dalam bahasa Arab berjudul Sirat Hamza (Ronkel dalam Baroroh, 1996: 225-226).

Hikayat Amir Hamzah dalam bahasa Melayu dipandang sebagai cerita Amir Hamzah yang tertua. Winstedt (1945: 58 dan 65) menyatakan bahwa Hikayat Amir Hamzah diterjemahkan langsung dari Persia, tidak lewat India. Hikayat Amir Hamzah ini merupakan salah satu karya sastra yang mampu membakar semangat juang yang tinggi bagi bala tentara Malaka. Pada malam hari menjelang perang menghadapi pasukan Portugis tahun 1511, raja Malaka menyuruh bala tentaranya untuk membaca Hikayat Amir Hamzah untuk membangkitkan keberanian sebelum mulai bertempur agar keberanian dan kebesaran yang dimiliki Amir Hamzah dapat diteladani sehingga dapat berjuang dengan lebih perkasa (Sejarah Melayu, 297-298).

Hikayat Muhammad Hanafiyah berisi riwayat hidup Nabi Muhammad Saw. serta para khalifahnya sampai penaklukan kota Madinah oleh Muhammad Hanafiah, salah seorang putra `Ali. Hikayat ini berisi sebuah cerita tentang perbuatan perang yang gagah berani yang dilakukan oleh pahlawan tersebut, dan oleh orang Melayu biasanya dibaca sebelum bertempur untuk membangkitkan keberaniannya (sama halnya dengan Hikayat Amir Hamzah).

2.3 Roman yang Berisi Peraturan-peraturan dalam Pemerintahan

Hikayat atau cerita yang berisi peraturan-peraturan dalam pemerintahan yang ditujukan kepada para penguasa/raja ada dua, yakni Tajussalatin dan Bustanussalatin.

Tajussalatin (Mahkota Segala Raja) disusun atau diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu kira-kira tahun 1603 oleh Bukhari Al Jauhari (tukang emas dari Bukhara) atau Bukhari Al Johori (Bukhara dari Johor). Banyak ciri khas gaya dan kandungan karangan itu jelas-jelas membuktikan asal usulnya dari Persia (Braginsky, 1994: 204). Sayang sekali naskah aslinya sudah tidak dapat ditemukan lagi. Di dalam Tajussalatin terdapat bentuk-bentuk sajak Persia (masnawi, ruba`i, gazal) dan kata-kata yang mengingatkan bentuk Persia, misalnya: Umar I Abdul Azis. Tajussalatin juga menyebut cerita-cerita Persia, misalnya: cerita Mahmud dan cerita Yusuf dan Zulaikha. Memang, ada kekurangjelasan apakah Tajussalatin teriebih dahulu dihasilkan di dalam bahasa Persia yang kemudian sampai ke Aceh lewat India Utara, ataukah karya itu disusun di Aceh atau Johor oleh seorang anak Bukhara yang telah mahir dalam bahasa Melayu (Van Ronkel dalam Braginsky, 1994: 204). Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa Tajussalatin sebagai karya sastra Melayu yang mendapat pengaruh Persia.

Bustanussalatin (Taman Raja-Raja) ditulis oleh Nuruddin Arraniri. Nuruddin Arraniri adalah seorang penulis Aceh yang berasal dari Ranir, Gujarat (India). Di dalam banyak tulisannya, Nuruddin Arraniri banyak menggunakan ciri-ciri Islam. Ia menulis Bustanussalatin ini memakai bustannya pengarang Persia yang bernama Sa`di yang berbentuk puisi dan di dalamnya berisi 20 bab. Inti bustan Persia adalah tentang: bagaimana memerintah yang baik, bagaimana raja yang murah hati, dan bagaimana rakyat yang taat. Bustanussalatin karya Nuruddin Arraniri berbentuk prosa terdiri atas 7 bab, berisi tentang: penciptaan dunia, menteri dan raja yang adil dan bijaksana, raja yang adil, rakyat yang setia kepada rajanya, dan para cerdik pandai.

2.4 Roman yang Berisi Sejarah Bangsa Melayu

Di antara karya sastra Melayu yang berisi sejarah bangsa Melayu yang mendapat pengaruh Persia adalah Hikayat Raja-Raja Pasai dan Sejarah Melayu.

Hikayat Raja-Raja Pasai membicarakan raja-raja Melayu yang pertama kali memeluk agama Islam dan keturunannya. Salah satu versi dari Hikayat Raja-Raja Pasai menjadi sumber Sejarah Melayu. Latar belakang Hikayat Raja-Raja Pasai bercorak India Selatan, tetapi ada data yang menyatakan mendapat pengaruh Persia. Di dalam hikayat itu sendiri diceritakan bahwa beberapa waktu setelah Nabi Muhammad Saw. wafat, ada seorang Syarif mendengar kabar tentang kerajaan Samudra. Oleh karena itu, Syarif Mekah tadi menyuruh Syeikh Ismail pergi ke Samudra. Dalam perjalanannya ke Samudra, Syeikh Ismail singgah di Mengiri. Syaikh Ismail bersama dengan Sultan Muhammad dari Mengiri pergi bersama-sama ke Samudra hendak mengislamkan Merah Silu (Raja Samudra). Ternyata Merah Silu sudah dapat mengucapkan kalimat Syahadat dan membaca Alquran (Hikayat Raja-Raja Pasai: 13). Hikayat ini mengisahkan kejadian-kejadian yang berlaku antara tahun 1250 - 1350. Merah Silu (Malikul Saleh) adalah tokoh sejarah. Baginda merupakan raja Pasai yang mula-mula memeluk Islam yang batu nisannya diimpor dari Cambay, India Selatan (York Fang, 1982: 206-207).

Bentuk Sejarah Melayu mengingatkan pada bentuk karya dari Persia. Genealogi raja-rajanya mengambil contoh dari Persia. Sejarah Melayu memuat cerita tentang Iskandar Zulkarnain. Ada dua kejadian yang menunjuk kepada raja Chula yang terdapat pada cerita Iskandar Zulkarnain. Adanya hubungan antara bendahara Malaka dengan Perdana Menteri Persia (Nizam al Mulk) pada waktu pemerintahan Raja Aslam. Cerita Badang yang mempunyai persamaan dengan yang terdapat pada versi Persia. Cerita penyebaran agama Islam di Melayu.

2.5 Sastra yang Bercorak Keagamaan

Di Persia perkembangan aliran tasawuf itu ada pertentangan paham antara kaum Suni (kaum ortodoks) dengan kaum Sufi. Pertentangan kaum Suni dengan kaum Sufi makin lama makin menjadi-jadi. Beberapa cendekiawan telah mencoba mendamaikan perselisihan antara mereka, tetapi tanpa hasil (Subardi et al., 1970: 111-112).

Tasawuf merupakan salah satu saluran Islamisasi yang penting di Nusantara. Tasawuf termasuk kategori yang berfungsi membentuk kehidupan sosial suatu bangsa. Kemungkinan besar yang pertama kali mengenal paham tasawuf adalah daerah Sumatra Utara yaitu tempat datangnya agama Islam yang pertama (Hikayat Raja-Raja Pasai).

Kedatangan ahli-ahli tasawuf ke Melayu diperkirakan terutama sejak abad XIII, yaitu pada masa perkembangan dan penyebaran ahli-ahli tasawuf dari Persia dan India (Kartodirdjo et al., 1975: 138). Dengan demikian, ajaran tasawuf yang tersebar ke Melayu telah berbau kebudayaan Persia dan India. Ada empat orang tokoh tasawuf Melayu yang terkenal, yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin Arraniri, dan Abdurrauf Assingkeli. Tasawuf di Melayu dapat dikelompokkan menjadi dua aliran, yakni aliran ortodoks dan aliran heterodoks. Aliran ortodoks diwakili oleh Nuruddin Arraniri dan Abdurrauf Assingkeli, sedangkan aliran heterodoks diwakili oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Arraniri.

Agama di Melayu sudah mengenal beberapa aliran yakni Syiah (dan Persia), Syafi`i, dan Tasawuf. Aliran yang menyebut pahlawan-pahlawan besar itu sudah disebut oleh orang Melayu. Oleh karena itu, muncullah cerita tentang pahlawan-pahlawan Islam dan mukjizat nabi.

Akhir abad XVI dan XVII, mistik pantheisme sangat penting di Sumatra Utara dan Jawa. Pantheisme ialah suatu aliran filsafat keagamaan yang beranggapan bahwa seluruh kosmos ini adalah Tuhan. Semua yang ada dalam keseluruhannya ialah Tuhan dan Tuhan ialah semua yang ada dalam keseluruhan (Nasution, 1979: 41-42). Selanjutnya dijelaskan oleh Nasution (1979: 41-42) karena Tuhan adalah kosmos ini dalam keseluruhannya dan karena benda-benda adalah bagian dan Tuhan, maka Tuhan itu dekat sekali dengan alam. Tuhan adalah immanent yaitu berada dalam alam ini dan bukan di luar alam. Bentuk pantheistik yang berhubungan dengan tarekat Syattariah pernah berkembang di India pada abad XV. Tokoh-tokoh mistik pantheisme yang sempurna (aliran heterodoks) yang terdapat di Aceh adalah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani. Karya-karya mereka itu bersifat mistik pantheisme yang membicarakan tentang wujud. Oleh karena itu, aliran mereka dikenal dengan nama Wujudiyah.

Menurut Nuruddin Arraniri, aliran Wujudiyah di Melayu dapat dibagi menjadi dua jenis yakni Wujudiyah Mulhidah (rusak) dan Wujudiyah Muwahhidah (benar) (Hujjatussidiq li Daf Azzindiq: 9). Aliran Wujudiyah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani dimasukkan ke dalam aliran Wujudiyah yang Mulhid, sedangkan aliran Wujudiyah Nuruddin Arraniri dan Abdurrauf Assingkeli dimasukkan ke dalam aliran Wujudiyah yang Muwahhid.

2.5.1 Wujudiyah Mulhidah

Hamzah Fansuri adalah tokoh tasawuf yang termasuk dalam tarekat Qadariya. Ia berada di bawah perlindungan seorang raja selama hidupnya. Syair-syair Hamzah bersifat mistik dan melambangkan perhubungan Tuhan dan manusia. Syair-syairnya penuh dengan kata-kata Arab dan menunjukkan pengaruh syair Persia (Winstedt, 1923: 313). Karya-karya Hamzah Fansuri ada yang berbentuk syair dan ada yang berbentuk prosa. Karya yang berbentuk syair di antaranya adalah Syair Perahu, Syair Dagang, dan Syair Burung Pingai (Yock Fang, 1982: 189). Karya-karya Hamzah Fansuri yang berbentuk prosa di antaranya Syarab al Asyiqin (minuman segala orang birahi), Asrar al `Arifin fi Bayan llm al Suluk wa`l Tauhid (keterangan mengenai pelajaran ilmu suluk dan kesatuan Tuhan), serta Al Muntahi (Al Attas, 1970: xiii).

Syamsuddin Sumatrani dikenal sebagai guru Sultan Iskandar Muda. Sumber yang menyebutkan dia sebagai seorang guru Sultan Iskandar Muda adalah: (1) Hikayat Aceh, Bustanussalatin, dan beberapa karya Nuruddin Arraniri. Karya-karya Syamsuddin Sumatrani di antaranya Miratul Mukminin (cermin orang-orang mukmin), Miratul Muhaqqiqin (cermin orang benar) (Yock Fang, 1975: 191). Miratul Mukminin ditulis kira-kira pada tahun 1601, isinya tentang ajaran ahlussunah dan tentang ilmu-ilmu agama. Miratul Muhaqqiqin di dalamnya dibicarakan tentang makrifat, hakikat Tuhan, zikir dalam mencari Tuhan, dan ilmu rahasia. Ajaran pokok Syamsuddin adalah bahwa yang nyata ada adalah Tuhan (Khalik), sedangkan makhluk itu hanyalah bayangan Tuhan. Ada hadis yang selalu dipergunakan oleh golongan Wujudiyah ini yang berbunyi "man `arafa nafsahu fa qad `arafa robbahu" yang artinya barang siapa mengenal dirinya, dia itulah yang dapat mengetahui Tuhannya).

2.5.2 Wujudiyah Muwahhidah

Nuruddin Arraniri berasal dari Ranir (sekarang Rander), Gujarat, India (Drewes, 1955: 137). Ia pergi ke Nusantara untuk mengikuti jejak pamannya. la mengajarkan paham Wujudiyah yang Muwahhid, yakni hubungan antara Tuhan dan manusia itu sebagai Khalik dan makhluk. Manusia hanya dapat dekat kepada Tuhan dan tidak mungkin dapat bersatu. Pada waktu Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Sani, Nuruddin Arraniri datang ke Aceh dan mendapat sambutan yang baik. Di antara karya-karya Nuruddin Arraniri adalah Siratal Mustakim, Tibyan fi Ma`rifa al Adyan, Hill az Zill, Shifa al Qulub, Hujatusd Sidddiq li Daf` Al Zindiq, dan Asrar al lnsan fi Ma`rifa al Ruh wa`l Rahman.

Abdurrauf Assingkeli adalah seorang tokoh tasawuf Aceh yang berasal dari tarekat Syattariyah. Sejak tahun 1661 Abdurrauf mulai mengajar di Aceh selama tiga puluh tahun sehingga muridnya banyak sekali datang dari seluruh penjuru Nusantara. Orang-orang Jawa dan orang dari seluruh penjuru Nusantara yang pergi haji ke Mekah biasanya singgah dahulu di Aceh. Di sini, di antara para jamaah haji, ada yang belajar agama dan ilmu tasawuf. Kemungkinan para jamaah haji ini ada yang belajar pada Abdurrauf. Mungkin dari sinilah dapat diketahui apabila orang Jawa banyak yang menganut tarekat Syattariyah. Adapun di antara karya-karya Abdurrauf Assingkeli adalah (Yock Fang, 1982: 178) Daqaiq al Huruf, Mir`at al Tullab, Umdat al Muhtajin ila Suluk Maslak al Mufradin.

Ada pula cerita yang berhubungan dengan Nabi Muhammad, yakni Hikayat Nur Muhammad, Hikayat Nabi Wafat, dan Hikayat Bulan Berbelah. Dalam cerita-cerita itu dikisahkan Nabi Muhammad dan keluarganya dan dengan jelas Ali (menantu Nabi Muhammad) sangat ditonjolkan keunggulannya, kepahlawanannya, serta kesaktiannya.

Sebagai contoh diuraikan di sini yaitu isi Hikayat Nur Muhammad menunjukkan adanya kecenderungan pada Syiah. Salah satu naskahnya berangka tahun 1668. Di dalam naskah v.d.W. 76 (MI.543), bagian permulaan disebutkan bahwa hikayat ini berasal dan bahasa Persia. Dalam Hikayat Nur Muhammad, tokoh Ali jelas sekali lebih ditonjolkan daripada khalifah atau sahabat Nabi Muhammad Saw. yang lain. Diceritakan dalam hikayat ini bahwa Allah menciptakan Nur Muhammad seumpama burung, kepala burung itu Ali (menantu Nabi Muhammad Saw.), matanya Hasan dan Husain (anak Ali), lehernya Fatimah (istri Ali), ekornya Usman, dan seterusnya (Djamaris, 1984: 107).

lsi Hikayat Bulan Berbelah berdasarkan Alquran surat 54, yaitu kisah Nabi Muhammad Saw. sewaktu diberi Allah suatu mukjizat dapat membelah bulan. Hikayat Nabi Wafat berasal dari Wafat Nama sebuah cerita di Persia (Djamaris, 1984: 105-107).

3. Penutup

Pengaruh Persia dalam khazanah sastra Melayu Klasik ada di dalam lima kelompok, yakni roman India-Persia (misalnya: Hikayat Berma Syahdan), roman Islam-Persia (Hikayat Amir Hamzah), sastra yang berisi sejarah (misalnya: Hikayat Raja-Raja Pasai, sastra yang berisi peraturan bagi para penguasa/raja dalam menjalankan pemerintahan (misalnya: Tajussalatin), dan sastra keagamaan (misalnya: karya-karya Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Nuruddin Arraniri, dan Abdul Rauf Assingkeli).

Aspek yang belum terungkap di sini, dan seharusnya perlu mendapat perhatian adalah sejauh mana unsur Persia yang terkandung di dalam setiap karya sastra yang mewakili kelompok dan zamannya. Di samping itu, juga masih banyaknya karya sastra Melayu Klasik yang mendapat pengaruh Persia yang belum terungkap dalam tulisan ini. Apabila aspek-aspek itu dapat tergarap sebagaimana mestinya, akan terlihat dengan jelas unsur Persia dalam khazanah sastra Melayu Klasik.

_____________________

Tulisan ini diambil dari Humaniora: Jurnal Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Nomor VI Oktober-November 1997.

Kun Zachrun Istanti, adalah Staf Pengajar Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Daftar Pustaka

  • Al-Attas, Syed Muhammad Naguib. 1970. The Mysticism of Hamzah Fansuri. Kuala Lumpur University of Malaya Press.
  • Baroroh Baried. 1996. "Hikayat Amir Hamzah dan Fungsinya sebagai Pembina Umar,” dalam Simposium Serantau Sastera Islam. Brunei Darussalam: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Braginsky, VI. 1994. Erti Keindahan dan Kaindahan Erti dalam Kesusasteraan Melayu Klasik. Kuala Lumpur Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Djajadiningrat, P.A Hoesein. 1981. "Islam di Indonesia" dalam Dari Sini la  Bersemi. Banda Aceh. Panitia Penyelenggara MTQ ke-12 tahun 1981.
  • Djamaris, Edwar. 1984. Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik (Sastra Indonesia Lama). Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kabudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.
  • Drewes, G.W.J. 1955. "De Herkomst van Nuruddin Ar Raniri". BKI Jilid 111. Martinus Nijhoff: `s Gravenhage.
  • Hikayat Raja-Raja Pasai. 1987. Diusahakan oleh Russell Jones. Petaling Jaya: Fajar Bakti SDN. BHD.
  • Hujjatus Siddiq li Daf` Al Zindiq. 1981. Ditransliterasikan oleh Kun Zachrun Istanti dari naskah Maxwell 93.
  • Kartodirdjo, Sartono, et al. 1975. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Grafitas.
  • Nasution, Harun. 1979. Filsafat dan Mistisisme dalam Islam. Solo: AB Sitti Syamsiyah.
  • Sejarah Melayu menurut terbitan Abdullah. Situmorang, T.D dan A. Teeuw. 1952. Djakarta: Djambatan.
  • Subardi et al. 1970. Pengantar Sejarah dan Ajaran Islam. Jakarta: Bina Cipta.
  • Wnstedt, R.O. 1923. "Some Malay Mystics, Heretical and Ortodox" dalam JMBRAS. Vol. 1. April. Singapore.
  • -------. 1945. A History of Malay Literature. London: School of Oriental and African Studies.
  • Yock Fang, Liaw. 1982. Sejarah Kesusesteraan Melayu Klassik. Singapura: Pustaka Nasional.

Kredit foto : aadany-khan.blogspot.com


Dibaca : 2.760 kali.

Tuliskan komentar Anda !