Close
 
Selasa, 21 Oktober 2014   |   Arbia', 26 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.991
Hari ini : 14.577
Kemarin : 20.089
Minggu kemarin : 174.811
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.252.826
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Artikel

26 sepember 2009 04:55

Jejak-Jejak Budaya di Kepulauan Riau: Selayang Pandang tentang Keemasan Melayu di Nusantara

Jejak-Jejak Budaya di Kepulauan Riau: Selayang Pandang tentang Keemasan Melayu di Nusantara

Oleh Richadiana Kadarisman Kartakusuma

Pendahuluan

Malayu atau Melayu hingga kini terkadang diidentikkan dengan Riau dan sekitarnya. Mengapa demikian? Di masa lalu, Riau –sekarang menjadi Provinsi Riau dan Provinsi Kepulauan Riau– telah ditandai beberapa gelombang migrasi nenek moyang bangsa Indonesia. Gelombang migrasi pertama konon menunjukkan ciri ras Weddoid yang datang sesudah zaman es terakhir. Ras ini disebut-sebut sebagai ras pertama yang menghuni Nusantara. Sisa-sisa nenek moyang ras gelombang pertama ini masih ada sampai sekarang, yang merupakan golongan tersendiri di Riau dan disebut sebagai Orang Sakai, Orang Hutan, dan Orang Kubu. Orang-orang asli ini memiliki populasi yang tidak banyak. Orang Sakai mendiami Kecamatan Kuno-Darussalam, Kabupaten Kampar, dan Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Jumlahnya terbatas, kira-kira 2160 jiwa. Orang Hutan mendiami Pulau Penyalai di Kecamatan Kuala Kampar di Kabupaten Kampar, dengan jumlah sekitar 1494 jiwa.

Gelombang migrasi pertama terjadi pada periode 2500-1500 SM dengan berciri ras Proto Melayu yang merupakan pendukung kebudayaan zaman batu baru. Mereka menyebar ke Pulau Sumatra melalui Semenanjung Melayu. Sisa mereka terdapat di Riau, yang dikenal sebagai Orang Talang Mamak dan Orang Laut. Orang Talang Mamak menetap di Kecamatan Pasir Penyu dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, dengan populasi sebanyak 3276 jiwa (1980). Orang Laut menghuni Kecamatan Reteh dan Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, serta di Kecamatan Tambelan, Kepulauan Riau, sebanyak 2849 jiwa. Selain itu, ada golongan orang-orang asli lainnya yaitu Orang Akit yang mendiami Kecamatan Rupat, Bengkalis, Mandau, Tebing Tinggi di Kabupaten Bengkalis, sebanyak 11625 jiwa.

Gelombang migrasi ras Melayu kedua datang sesudah tahun 1500 SM yang disebut Deutro Melayu. Golongan ini menyebabkan Proto Melayu menyingkir ke pedalaman, sisanya bercampur dengan pendatang baru. Proses selanjutnya, orang-orang Deutro Melayu bercampur lagi dengan pendatang-pendatang dan berbagai golongan berasal dari berbagai penjuru Nusantara. Percampuran itu menghadirkan suku-suku bangsa Melayu. Mereka inilah penduduk mayoritas yang mendiami kawasan Riau. Suku-suku bangsa Melayu Riau menghadirkan sub-sub suku bangsa Melayu Siak, Melayu Bintan, Melayu Rokan, Melayu Kampar, Melayu Kuantan, dan Melayu Indragiri, dengan alat komunikasi utama (lingua franca) bahasa Melayu tersebar ke seluruh pelosok Nusantara. Bahasa Melayu Riau dibedakan sebagai dialek bahasa Melayu Riau kepulauan dan pesisir serta dialek Melayu Riau daratan. Dialek pertama adalah sub-dialek Tambelan, Tarempa, Bunguran, Singkep, Penyengat, dan lain-lain. Sementara dialek kedua adalah sub-dialek Kampar, Rokan, Kuantan, Batu Rijai, Peranap, dan lain-lain. Di samping itu masih terdapat bahasa-bahasa orang asli seperti bahasa Sakai, bahasa Orang Laut, bahasa Akit, dan bahasa Talang Mamak.

Melayu mencakup dasar pengertian Melayu sebagai ras serta Melayu sebagai etnis (suku bangsa) dengan adat-istiadatnya. Perubahan politik menyebabkannya terberai menjadi negara-negara dengan bentuk pemerintahan dan kebudayaan yang berbeda, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina. Melayu sebagai suku atau bagian dari suku itu sendiri. Dalam kekinian, Melayu berkehidupan dengan adat-istiadat dan bahasa Melayu, terutama di sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatra hingga Kalimantan Barat, dengan berpusat di Riau (kepulauan dan daratan) hingga ke Semenanjung Malaka. Melayu dapat dipilah berdasarkan kategori sebagai berikut:

  1. Melayu yang tidak totok (tidak murni), merupakan kelompok orang–orang Laut/orang Sampan yang semula hidup di laut kemudian menetap di daratan di pulau-pulau kecil sekitar Riau sebagai komunitas-komunitas kecil dengan adat-istiadat Melayu dan berbicara dengan dialek khas, seperti orang Galang di Pulau Karas dan Pulau Galang, orang Barok di Pulau Penuba, orang Kuala di Pulau Kundur dan Pulau Rempang, orang Tambus. Mantang dan Posek adalah komunitas tetap di laut terdiri dari 7-8 sampan yang berukuran 3-4 meter hidup berkeluarga dan beranak cucu sambil ber-kelana dari satu tempat ke tempat lain sesuai keadaan musim.
  2. Melayu murni atau Melayu totok, merupakan orang-orang Melayu yang lahir berasal dari Melayu itu sendiri berbahasa dan adat-istiadat Melayu. Artinya, semula Melayu tidak totok tetapi memiliki jabatan dan kedudukan, tinggal di lingkungan Riau yang dahulu menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Melayu Riau-Lingga di Daik, dan Pulau Penyengat.

Eksistensi Melayu di Riau (Masa Kerajaan)

Tahun 400 M merupakan batas antara periode protosejarah dan periode klasik, periode yang ditandai oleh hadirnya pertukaran budaya (akulturasi) terjadi pada dan di hampir seluruh Asia Tenggara (Daratan dan Kepulauan). Akulturasi kebudayaan itu adalah dari Cina dan India, terutama dari India yang kala itu menduduki pamor internasional di kawasan Asia. Peristiwa pertukaran antar budaya tersebut menyebabkan perpaduan dengan menghasilkan corak-corak khas kebudayaan dengan ditengarai bentuk-bentuk kekuatan politik kerajaan lama dengan berbusana baru yakni Hindu-Budha.

Penelitian Obdeyn yang didukung dan dibuktikan penelitian paleogeografi oleh Prof. Dr. S. Sartono berhasil merekonstruksi bahwa dahulu pantai timur Sumatra pernah ada teluk yang sangat besar dan menjorok sangat jauh ke daerah pedalaman yakni Teluk Wen. Teluk ini memanjang dari DAS Batanghari hingga ke Pantai Timur Sumatra, membelah bagian Sumatra bagian tengah dan Sumatra bagian utara. Tentang adanya Teluk Wen ini juga disebutkan oleh Nan Chou Iwu Chih dalam kitab atau berita dari Cina, T`ai P`ing Yu Lan, bahwa Teluk Wen terbentang di sebelah selatan Ko Ying di mana terletak Chou Po dengan nama P`uLei.

Menurut Sartono, pada sekitar abad ke-3 M, di Teluk Wen berkembang Kerajaan Tchu Po, Ko Ying, dan Sanfoshih. Tetapi, Karena peristiwa alam dahsyat, yakni terjadinya pengendapan lumpur, Teluk Wen bertambah maju ke timur dan sekaligus menyebabkan kemunduran dan kejatuhan kerajaan-kerajaan purba tersebut. Setelah kerajaan KoYing lenyap, muncul kerajaan baru yakni Kant`oli pada abad ke-5 dan ke-6 M dan Moloyu (Melayu) pada abad ke-7 M.

Meskipun letak pastinya belum dapat diketahui, namun Wolters dan Sartono sama-sama berpendapat bahwa kerajaan Tchu Po terletak di Muara Tebo dan Sanfoshih di Muara Tembesi yang kemudian digantikan oleh Kerajaan Ko Ying dan Moloyu. Kerajaan-kerajaan yang tergolong Melayu Purba itu berada di sekitar Pesisir Timur Pantai Sumatra, tidak jauh dari ujung bagian utara lajur Gunung Api Sorik Marapi (kala itu masih sangat aktif), di utara khatulistiwa meluas ke selatan hingga ke Gunung Dempo (kurang lebih 4° selatan khatulistiwa). Berita Cina K`ang T`ai dalam Wu Shih Kuo Chuan menceritakan bahwa Raja Chia Ying (Ko Ying) sangat gemar kuda yang diimpor melalui laut oleh para pedagang dari Yuechih. Disebutkan Nan Chon Iwa Chih bahwa tempat pelabuhan pengekspor kuda adalah Ku-nu (Kanadvipa, barat laut India) berjarak sekitar 8000 li dari Ko Ying. Tchu Po dan Ko Ying yang merupakan kerajaan makmur dan sangat kaya, berlimpah perak, emas, kapur barus, dan lada.

Selain itu, berita dari Cina juga menyebut pusat-pusat kekuatan politik di Melayu Kuno purba tersebut mengalami pasang-surut hingga muncul kekuatan politik paling berpengaruh, yakni Kerajaan Melayu dan Kerajaan Sri Vijaya (Sriwijaya). Keduanya silih-berganti mengisi sejarah peradaban Sumatra masa lalu. Kejayaannya melegenda di kawasan Asia. Seiring perjalanan zaman, Melayu dan Sri Vijaya adalah pokok cikal-bakal peradaban Melayu Nusantara (Indonesia).

Sejak pujangga Prapanca di dalam Kakawin Nagarakretagama menggunakan istilah Bhumi Melayu maka istilah inilah seterusnya hidup dipakai untuk menyebut kerajaan-kerajaan di Sumatra dan pulau-pulau (kepulauan) sekitarnya. Melayu identik dengan julukan Sumatra-Andalas-BhumiMelayu-Suwarnadwipa merupakan ciri yang sulit dilerai dengan ras, etnis dan peradaban wilayah Nusantara khusus-nya bagi belahan barat Indonesia.

Hakekatnya, mempelajari kebudayaan Melayu tidak dapat dipisahkan dari eksistensi Sri Vijaya. Ironisnya, di kalangan masyarakat luas Melayu jauh lebih dikenal dibanding dengan Sri Vijaya. Apabila Sri Vijaya kemudian tenggelam, maka Melayu tetap dikenang sepanjang masa sejak zaman purba hingga sekarang. Dalam kaitan ini, Pieter J.M. Nas (l986) mengutarakan bahwa Sri Vijaya merupakan salah satu city state paling awal dan paling penting yang eksistensinya didasarkan kepada fungsinya sebagai emporium dan mercantilis yang selalu berusaha keras memonopoli perdagangan dengan menguasai pusat-pusat komoditi, seperti Jambi, Lampung Semenanjung Malaka, dan Semenanjung Kra.

Dengan ancang-ancang ekspansi politik Sri Vijaya senarai berita prasasti Kota Kapur (Bangka) 686 M menyiratkan bahwa sasaran Sri Vijaya selanjutnya adalah Kerajaan Melayu. Prasastis Karang Brahi 686 M (N.J.Krom, 1931) adalah bukti penaklukan Sri Vijaya atas Melayu. Kedudukan ibu kota kerajaan Sri Vijaya adalah city state yang berlandaskan maritim dan menguasai perdagangan internasional sehingga pendapatan negeri (pajak-pajak dan upeti-upeti) ditarik dari hasil perdagangan internasional dan masyarakat setempat yang mayoritas menggiati mata pencaharian kelautan.

Lokasi kerajaan legendaris Sri Vijaya dan Melayu menimbulkan polemik ketat di kalangan sarjana. Namun telah sejak awal N.J. Krom (l926) mengajukan pertanyaan: “Waar heeft dit Oude Melayu nu eigenlijk gebleven?”, tetapi Krom pun menjawabnya:

Dat de plaats van Melayu op het oogenblik zoo vast staat als in dergelijke gevallen mogelijk is, hebben in hoofdzaak te danken aan de studie van Rouffaer, die oude argementen ophalend en nieweu zeer krachtige aan toevoegend, met groote waarschijnlijkheid heeft aangetoond, dat Melayu het oude Djambi is.

Asumsi Krom itulah yang dianut kebanyakan sarjana seperti G.P. Rouffaer (1921), J.L. Moens (1924), O.W. Wolters (l970, 1979), menyebut “dat Melayu het oude Djambi is” menegaskan Sri Vijaya dan Melayu adalah Jambi Kuno. Berbagai pendapat diajukan bahwa Kerajaan Sri Vijaya pernah menaklukan Melayu antara tahun 671 dan tahun 685 M saat Melayu kehilangan kemerdekaannya. Kemudian Sri Vijaya berhenti mengirim utusan ke Cina tahun 742, tahun 853, dan 871 M, tetapi kemudian Cina memberitakan bahwa ia menerima utusan lagi dari Chan Pei (Jambi).

Tidak dipungkiri bahwa keberadaan Kerajaan Sri Vijaya dan Melayu banyak diberitakan dari berita Cina, antara lain pendeta I-T`sing di dalam Nan Chai Ch`i Kuei Nai Fa Chuan (catatan ajaran Buddha dari laut selatan), Ta Tang Hsi Yu Ku Fa Kao Seng Chuan (catatan pendeta-pendeta yang menuntut ilmu di India). Ia menyebutkan, kerajaan-kerajaan di Nusantara dari barat ke timur: P`olushin, Moloyu (menjadi bagian Shihlifoshih), Mohosin, Holing, Tantan, Penpen, Chuehlun, Foshihpolo, Oshan, dan Mochiaman. Di antara nama-nama kerajaan itu ada disebut Moloyu (Melayu) yang waktu itu berpusat di Jambi, sedangkan Shihlifoshih atau Sri Vijaya berpusat di Palembang.

Menurut de Casparis, di kawasan ini sebenarnya ada tiga kerajaan maritim yang pengaruhnya paling menonjol dan disegani di Asia Tenggara yaitu Melayu, Sri Vijaya, dan Malaka. Hubungan di antara mereka bukanlah saling memusuhi atau saling mendesak kekuasan dan kekuatan politik (seperti diasumsi para sarjana sebelumnya), melainkan terjalin berdampingan saling menunjang secara damai-sinambung dan lancar. Sri Vijaya dan Melayu adalah dua kerajaan yang sama namun di dalam tingkat perjalanan sejarah yang berbeda.

De Casparis mengkategorikan Kerajaan Melayu sebagai Kerajaan Melayu I dan Kerajaan Melayu II yang dipisahkan oleh masa beberapa abad lamanya. Kondisi keberlangsungan dua kerajaan ini di dalam khasanah sejarah dapat dibandingkan dengan keberadaan dan peristiwa continuity pada Kerajaan Mataram Islam yang juga merupakan lanjutan Bhumi Mataram (Jawa Kuno) yaitu Mataram I (Hindu) dan Mataram II (Islam). Pandangan de Casparis disetujui oleh Uka Tjandrasasmita yang menambah kan bahwa istilah “penaklukan” tidak harus diartikan dengan penguasaan penuh, melainkan sebagai overload di dalam upaya untuk saling mengisi hubungan antar kemaharajaan dan antar si pemberi upeti. Maka, keberadaan kerajaan-kerajaan di tanah Melayu (Sri Vijaya dan Melayu) bukan penguasaan melainkan kesinambungan dengan derajat dan kapasitas tertentu.

Kerajaan Melayu I dan Melayu II berlangsung terus bahkan ketika inovasi Islam berkembang di Sumatra dan istilah kerajaan berbusana (berganti kulit) sebagai Kesultanan Melayu III. Kerajaan Melayu I (Dharmasraya) tercatar dalam sejarah Dinasti Liang. Tahun 430-475 M beberapa kali utusan Holotan, Kant`oli, dan Tolang-P`ohwang datang ke Cina. Kant`oli terletak pada salah satu pulau di laut selatan, adat kebiasaannya sangat serupa dengan Kamboja dan Campa. Hasil negerinya yang terutama adalah pinang, kapas, dan kain-kain berwarna. Sejarah Dinasti Ming juga mencatat bahwa Sanfosai dahulu disebut Kant`oli.

Menurut G. Ferrand Kant`oli (berita Cina) adalah Kandari (berita Arab: Ibn Majid 1462 M) yang diidentifikasi Sri Vijaya terletak di Sumatra berpusat di Palembang. Tetapi J.L. Moens mengidentifikasi Singkil-Kandari (berita Ibn Majid) sebagai Kant`oli (Berita Cina: Dinasti Liang dan Ming) sedangkan Sanfotsi adalah Melayu. Berbeda dengan J.J. Boeles yang menyebutkan bahwa Kant`oli terletak di Muangthai selatan, dibuktikan dengan masih adanya desa kuno Khantuli di Pantai Timur Muangthai selatan. Namun dengan tegas Wolters menolaknya karena tidak ada satu pun bukti yang mengarah kepada asumsi itu, menurutnya Kant`oli adalah Sanfotsi (Palembang) yang selalu dihubungkan dengan Sri Vijaya. Asumsi inilah yang kemudian diikuti oleh Obdeyn yang juga menyatakan bahwa Kant`oli adalah Sanfotsi yang berada di Palembang (Sumatra selatan).

Polemik tata letak Kant`oli itu kemudian terjawab tuntas oleh rekonstruksi palaeogeographie Prof. Dr. S. Sartono yang selanjutnya menjadi landasan pemikiran. Arkeolog senior Prof.Dr.R. Soekmono menegaskan bahwa Kant`oli adalah salah satu kerajaan purba yang dahulu pernah berada di Teluk Wen itu (di Kuala Tungkal dan Muara Tembesi) sebagai embrio Kerajaan Melayu. Ketegasan ini sesuai dengan keterangan berita Cina yang lebih tua (Dinasti Tang) bahwa datangnya Moloyeu ke Cina adalah pada tahun 644 dan 645 M.

I-T`sing yang cukup lama menetap di Sri Vijaya menceritakan, ketika tahun 671/672 berlayar dari Kanton (Cina) ke Nagapattnam (India), ia singgah belajar bahasa Sanskerta di Shelifoshih selama 6 bulan, setelah itu menuju Moloyeu selama 2 bulan lalu ke Chiehca (Kedah) sebelum melanjutkan berlayar ke India. Tahun 685 (14 tahun kemudian) di dalam perjalanan menuju pulang, ia singgah lagi selama 6 bulan di Moloyeu, tetapi di kala itu Moloyeu telah menjadi Shelifoshih. I-T`sing juga menyebutkan, berlayar dari Sri Vijaya ke Melayu dan dari Melayu ke Kedah memakan waktu 15 hari, dari Melayu ke Kedah harus berganti arah.

Kerajaan Melayu II berkembang pada akhir abad XI M sampai tahun 1400 M. Pada waktu itu kerajaan ini telah melakukan kontak dengan Jawa. Hal ini dibuktikan dengan peristiwa Ekspedisi PaMelayu (1275 M) yakni pengiriman arca Amoghapasa-Lokeswara dari Sri Krtanagara (Singhasari) ke Melayu. Arca ini ditemukan kembali oleh kontrolir Belanda bernama van den Bosch di Rambahan (Hulu Batanghari). Pada bagian lapik arca, tertera prasasti sebagai berikut:

Bahagia! Tahun Saka 1208 bulan Badrapada, hari pertama tatkala bulan naik, Wuluku Wage, Kamis, wuku Madangkungan, posisi bintang di baratdaya... saat arca Amoghapasa Lokeswara dengan empat belas pengikutnya dan tujuh ratna permata dibawa dari Bhumi Jawa ke Suwarnnabhumi untuk ditegakkan di (Melayu)-Dharmmasraya sebagai hadiah dari Sri Wiswarupa-kumara. Maka sang raja Sri Krtanagara Wikramottungga Dewa memerintah Rakryan Mahamantri Dyah Adwayabrahma, Rakryan Sirikan Dyah Sugata Brahma, Dang Payangan Hyang Dipangkarasa, Rakryan Dmung Wira menghantarkan Amoghapasa (dengan harapan) semoga hadiah ini membuat gembira segenap penduduk negri Melayu termasuk Brahmana, Ksatrya, Waisya, Sudra, dan terutama pusat dengan segenap para Aryya Sri Maharaja Srimat Tribuwanaraja Mauliwarmmadewa...

Dengan pengiriman arca tersebut (1347 M) seluruh rakyat Melayu merasa gembira terutama sang Raja Tribhuwana Mauliwarmmadewa. Disebutkannya, (Melayu) Dharmmasraya pada prasasti ini memberi kemungkinan besar bahwa pusat kerajaan Melayu berada di Muara Jambi atau di daerah pedalaman Muara Jambi (hulu DAS Batanghari) dekat Sijunjung (Sei Langsat), dibuktikan oleh adanya temuan Arca Prajnaparamita tanpa kepala di Candi Gumpung. Selain prasasti pada bagian lapik arca Amoghapasa juga dituliskan pada bagian punggung arcanya dari masa yang lebih kemudian yakni pemerintahan Raja Adityawarmman (sesudah periode Srimat Tribhuwana).

Prasasti pada punggung arca itu berangka tahun 1347 M, dan menerangkan bahwa ia adalah raja yang telah berusaha sekuat tenaga memperbaiki bangunan Jinalaya yang hampir runtuh. Bangunan tersebut sampai kini masih terdapat situs Padangroco-Sei Langsat (Sawahlunto Sijunjung) berupa pagar keliling dari bata berbentuk U ujung alirannya bermuara ke sungai Batanghari, di dalam pagar keliling terdapat bangunan induk dan dua candi perwara.

Dalam Pertemuan Tamadun-Melayu Kedua (1989) Kuala Lumpur-Malaysia, De Casparis mengemukakan bahwa masa pemerintahan Adityawarman mewakili puncak kejayaan Melayu sekaligus masa yang sangat sulit dan penuh tantangan kompleks. Karena masa pemerintahannya seiring dengan gencarnya inovasi Islam menyebarkan pengaruh di bagian barat Sumatra serta mendapat dukungan dari raja-raja daerah yang berada di bawah kekuasaan Melayu II.

Kerajaan Melayu yang berpedoman agama Budha yang selalu bersifat damai dan sabar itu berubah menjadi agresif. Berbagai temuan arkeologi dari masanya (perwujudan arca-arcanya) tampil bersikap berang seakan hendak memusnahkan lawan. Prasasti-prasasti dari masanya juga menerangkan bahwa pendahulu Adityawarman adalah Akarendrawarman, Adityawarman putra Adwayawarman. Sesuai adat Melayu yang berprinsip kepada konsep matrilineal, hak atas waris (Yang dipertuan Basa) turun kepada keponakan, yakni Adityawarman. Maka Adityawarman bertahta di Kerajaan Melayu adalah menggantikan ninikmamaknya yakni  Raja Akarendrawarman (1316 M). Peristiwa serupa terjadi tatkala pendahulunya, Raja Akarendrawarman, memperoleh tahta dari bibinya, Srimat Tribhuwana (Kerajaan Melayu I, 1286 M).

Dari keterangan prasasti Surawasa, Akarendrawarman inilah sebenarnya yang memindahkan ibukota Kerajaan Melayu ke pedalaman di Surawasa (Suroaso-Batusangkar). Alasan pemindahan pusat kerajaan didasari beberapa hal. Pertama, meskipun ia masih berkerabat dekat dengan keluarga kerajaan Jawa (Singhasari-Majapahit) ia tetap waspada mencurigai siasat “Sumpah Palapa” cita-cita dari Patih “pongah dan congkak” Gajah Mada yang berkehendak menyatukan negeri-negeri di Nusantara ke dalam satu panji kedaulatan adikuasa Kerajaan Majapahit.

Alasan kedua adalah menjaga hubungan dengan negeri Cina. Ketiga, menyadari inovasi Islam yang mencapai puncaknya dan pusatnya tidak jauh dari Melayu. Karena inovasi Islam bersifat keagamaan, maka penguasa Melayu pun menyadarinya dan menjawabnya dengan cara beragama juga sesuai landasan keyakinannya. Itulah sebabnya, dari sejumlah besar prasasti yang dikeluarkan pada masanya berubah total, sikap yang semula penuh damai, namun karena kondisi dan situasi politik waktu itu telah menuntut sikap pemimpin lebih tegas dan lebih preventif.

Salah satu sikap tegas tersebut antara lain ditunjukan melalui perwujudan Bhairawa-Demonis, arca terbesar di Indonesia setinggi 4.41 meter. Arca itu berdiri di atas setumpuk mayat-mayat. Pada bagian dasar, arca dihiasi oleh tengkorak-tengkorak, sedangkan pada tangan kanannya memegang pisau dengan posisi yang siap menikam para pengganggu. Menurut De Casparis, arca Bhairawa maha besar dan megah dahulu tegak didirikan pada pintu gerbang pusat Kerajaan Melayu di Melayupuram sebagai tonggak pertahanan secara frontal guna mengatasi dan mencegah segala ancaman yang datang dari Pantai Timur Sumatra menuju ke pusat Kerajaan Melayu yang telah berpindah ke pedalaman. Kekhawatiran penguasa Melayu sangat beralasan karena pada masa akhir pemerintahan Adityawarman, abad ke 17 M, kekuasaan Kerajaan Melayu mulai surut.

Bagi suatu kerajaan seperti Melayu dengan berlandaskan Agraris Maritim yang mengandalkan perairan (sungai dan pantai) adalah hal mutlak untuk tetap menjalin hubungan dan kerjasama serasi dengan wilayah yang berorientasi ke laut. Kepindahan ibu kota ke pedalaman tidaklah berdampak lebih baik karena kontrol terhadap wilayah pesisir menjadi kian longgar, seiring gencarnya arus inovasi Islam atas kerajaan-kerajaan atau negeri-negeri bawahan Kerajaan Melayu. Sejak saat itu kerajaan-kerajaan kecil dikelilingnya yang semula berada dibawah penuasaan kerajaan Melayu berganti busana Kesultanan yang bercorak Islam dan memerdekakan diri dengan sistem pemerintahan yang berlandaskan Islam.

Kebudayaan orang Melayu adalah kebudayaan pantai bercorak perkotaan, pusat kegiatannya pada perdagangan kelautan. Kebudayaan Melayu yang terdapat pada hampir seluruh wilayah kepulauan (Nusantara) sebenarnya lebih merupakan hasil dari perpaduan kebudayaan setempat (Melayu), Islam, Hindu, Makasar, Bugis, Jawa, dan unsur-unsur lokal yang secara keseluruhan diselimuti dan dipedomani oleh agama Islam. Karena dalam tradisi terwujudnya kebudayaan Melayu telah sangat terbiasa dengan kontak-kontak hubungan luar, dengan proses pembauran dan akulturasi kebudayaan, maka corak kebudayaan Melayu memiliki struktur-struktur bersifat longgar dan terbuka (open mind).

Keterbukaan struktur-struktur kebudayaan Melayu ini yang memungkinkan mampu mengakomodasi perubahan-perubahan dan penyerapan unsur-unsur kebudayaan berbeda-beda, sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip adat dan sopan-santun Melayu. Runtuhnya Kerajaan Melayu Kuno sebagai pusat kekuasaan dan sekaligus pusat kebudayaan, tampaknya orang-orang Melayu yang terbiasa hidup di dalam kelompok-kelompok setempat dipersatukan peranan-peranan kerajaan kemudian seolah-olah kehilangan keterkaitan satu sama lain sebagai pendukung kebudayaan Melayu yang pernah jaya di masa lampau.

Penutup: Peradaban Melayu dalam Kekinian Perannya di Nusantara

Kroeber dan Kluckhohn (1963) di dalam bukunya yang berjudul Culture telah mengumpulkan 164 definisi tentang kebudayaan yang berbeda menurut cara merumuskannya. Namun jelas dari keseluruhan aspek-aspek kebudayaan berada di dalam lingkaran konsentris mencakupi tiga komponen utama yang antara satu dan yang lainnya memiliki hubungan timbal balik di alam lingkungan pengalamannya. Lingkungan pengalaman tersebut meliputi individu, masyarakat, dan alam atau alam pemikiran dan perasaan hubungan antar manusia dan hubungan manusia degan biofisika.

Lingkaran konsentris merupakan model yang memperlihatkan bahwa dalam lingkungan kebudayaan terdapat aspek bahasa yang menghubungkan erat dengan proses pemikiran, perasan dan yang terpenting adalah fungsinya sebagai wahana komunikasi antar manusia. Di antara semua cercah eksistensinya, jasa terbesar peradaban Melayu di Nusantara adalah sangat nyata di dalam aspek alat komunikasi yakni bahasa Melayu termasuk kerabat besar dari berbagai bahasa di dunia, terutama dalam hubungannya dengan bahasa-bahasa di Madagaskar. Dibuktikan pertama kali oleh F. de Houtman (1603) tatkala ia menerbitkan buku yang isinya menampilkan bahasa Melayu Nusantara dan bahasa Madagaskar dan hubungannya dengan bahasa-bahasa Polinesia. Terry Crowley (l987) telah mencontohkan adanya hubungan erat kosa kata bahasa Melayu dengan tiga kerabat bahasa Polinesia. Bernd Nothofer (1966) menguraikan bahwa bagian barat Kalimantan merupakan asal bahasa Melayu yang bergerak dengan sangat cepat menjangkau jarak luas dan menetapkan pusat-pusat penutur bahasa Melayu di Nusantara di masa lampau. Persebaran teknologis sebanding dengan sepupunya “pengarung samudra Polinesia” yang awalnya menguasai perairan maha luas Samudra Pasifik.

Bahasa Melayu Purba yang kini telah berkembang dengan berbagai varian tersebut telah berkembang pada sekitar dua juta tahun yang lalu oleh para pemangku budaya, khususnya menghuni dan memilih lahan tanah basah seperti rawa-rawa, delta, dan pantai dengan sistem sungai (contoh Kalimantan barat). Jenis lahan yang memberi peluang mempertahankan hidup berlandaskan sistem budaya dengan pola persebaran perairan alam yang sekaligus memiliki potensi melangsungkan hidup, maka hunian pun dilandasi sistem hunian perairan.

Pertanyaan yang kerap menggelitik sehubungan dengan berbagai asumsi atas asal usul atau puak-puak Melayu di Nusantara (kepulauan) adalah bukan tidak mungkin mereka inilah asal mula Orang Laut yang menyebar ke seluruh Nusantara “Orang Laut Asli” dan Pasifik. Mungkinkah Sri Vijaya dengan sejumlah prasasti-prasastinya yang hampir selalu mengumandangkan “mangalap siddhayatra subhiksa” Sri Vijaya (mencari kesejahteraan dan kejayaan kehidupan) semula adalah hasil persebaran “Orang Laut” ini? Termasuk sisa-sisa suku yang menyebut dirinya Bajau (Bajo) tersebar di perairan Kalimantan utara, Sangir Talaud, dan ada juga tinggal menetap di pedalaman Sulawesi (sebagian kecil).

Lebih menarik lagi abad pertama Masehi seiring puncak dan maraknya perdagangan di Asia Tenggara, masyarakat Nusantara mengenal Lingua Franca yang disebut dengan istilah bahasa K`wun-Lun atau Kun-Lun. Menurut Boechari (SNI II: Jaman Kuna, l984), bahasa tersebut merupakan jenis bahasa Melayu pasar yakni bahasa Melayu yang telah bercampur (interferensi) dengan bahasa Cina dan bahasa Sanskerta. Mungkin ada istilah yang lebih baik lagi yaitu Melayu pergaulan atau bahasa pergaulan, tentu saja berkembang sebagai alat komunikasi antar bangsa di dunia perdagangan laut internasional yang memang paling berperan di kepulauan. K`wun-Lun atau Kun-Lun itu sendiri jelas istilah bahasa salah satu suku di daratan Cina yang bermigrasi ke Nusantara mencari kehidupan ke negeri bawah angin.

Masuk akal jikalau kosa kata bahasa Cina (di samping India) banyak ditemui dalam perbendaharaan kosa kata Melayu sebagai proses “interferensiasi” dan berkembang menjadi difusi budaya setempat. Secara literasi, ciri-ciri masyarakat penutur Melayu “kuno” berlangsung hingga batas abad ke-15 Masehi, secara luas abad ke-16 Masehi seiring kian memuncaknya pelabuhan-pelabuhan dan dunia perdagangan di sepanjang pantai di Nusantara dan Asia daratan, meliputi pulau-pulau di samudra Pasifik seperti Ternate, pulau Bacan sampai perairan Samudera Hindia dan Sumatra utara.

Bahasa Melayu yang merupakan kerabat terpenting dari bahasa Austronesia dan memiliki tataran sangat luas itu sebenarnya diluncurkan oleh peradaban Asia Timur sejak 10.000 yang lalu. Bahasa “paling purba” yang diperkirakan terbentuk di pulau asalnya, Taiwan. Disebarkan oleh pengarung samudera ketika bermigrasi ke selatan (negara-negara bawah angin) menuju dan melalui Filipina, beberapa di antaranya ke timur dan membangun kebudayaan di pulau-pulau di Kepulauan Pasifik. Sebagian ke arah selatan dan ke arah barat bertemu dengan manusia purba lainnya yang mendiami sepuluh ribu pulau di Asia Tenggara.

Di Asia Tenggara, kondisi geografis kepulauan dan letak huniannya yang sebagian besar di perairan telah memberi peluang pendukung budaya dan penutur Melayu mayoritas hidup dari perdagangan, banyak di antaranya yang membentuk masyarakat minoritas tersendiri (Thailand, Burma, dan Vietnam), sebagian lagi berlayar ke utara (Manila, Taiwan, dan Ryukyu) menuju ke timur dari Tidore hingga ke Papua Nugini.

Barangkali inilah dampak mencolok keluwesan dan keleluasaan peradaban Melayu Nusantara khususnya dalam khasanah struktur bahasa. Bahasa yang pada dasarnya tumbuh-berkembang dari kegunaannya dalam pasar komuniti itu telah menyebabkan bahasa Melayu digolongkan sebagai lingua franca. Tidak ketatnya struktur bahasa Melayu menyebabkan bahasa ini secara luas telah digunakan hampir di seluruh wilayah Nusantara sebagai bahasa perantara di dalam segala kegiatan, terutama dalam upaya mengakomodasi hambatan-hambatan komunikasi karena perbedaan sistem makna dan bahasa sejak masa lampau. Nyata bahwa kehadiran berbagai macam dialek Melayu berkembang dan tumbuh sebagaimana adanya di wilayah Nusantara adalah semata perpaduan dari unsur-unsur bahasa lokal dan fungsionalisasi kegunaannya dalam kegiatan-kegiatan lokal. Implikasi nya dikenal agam bahasa Melayu: bahasa Melayu Riau, bahasa Melayu Banjar, bahasa Melayu Menado, dll.

Perkembangan lokal bahasa Melayu tidak sekadar terwujud sebagai bentuk kegunaannya dalam pergaulan setempat, lebih dari itu bahasa Melayu merupakan bahasa yang berlaku di dalam kehidupan resmi kerajaan-kerajaan setempat pada masa lalu. Bahasa resmi kerajaan merupakan bahasa budaya berstruktur, penuh retorik dan ungkapan-ungkapan bermakna sangat dalam dan majemuk. Jenis bahasa yang biasa digunakan oleh para satrawan istana dan ditemukan untuk menuliskan hikayat-hikayat atau babad-babad kerajaan. Juga tersebar di dalam naskah-naskah kuno di seluruh Nusantara di mana bahasa Melayu tampil dengan aksara Arab ataupun Arab- Melayu.

Perkembangan bahasa Melayu dengan aksara Arab-Melayu sebenarnya terjadi setelah runtuhnya Kerajaan Melayu Riau-Lingga seiring hadirnya tokoh-tokoh pemikir, budayawan, dan pionir sastrawan Melayu pada zaman itu terutama tokoh Raja Ali Haji secara nyata menghasilkan berbagai karya tulis terutama pembakuan tata bahasa Melayu dan standardisasi bahasa dan aksara Melayu yang kemudian berkembang dan dipergunakan oleh berbagai kepentingan di dunia pendidikan sebagai bahasa pengajaran dan bahasa utama sekolah-sekolah resmi negara di Nusantara (Indonesia) dan Semenanjung Melayu. Bahasa baku (standar) digolongkan sebagai bahasa Melayu Tinggi tersebut tentu dibedakan dari bahasa Melayu setempat di dalam pergaulan sosial sehari-hari.

Persebaran bahasa Melayu standar sebagai bahasa ilmu pengetahuan telah memungkinkan adanya percetakan karya-karya tulis di Kerajaan Melayu-Riau di Penyengat. Penggunaan aksara Latin bagi bahasa Melayu baku diteruskan hingga awal abad ke-20 di Jakarta oleh para penulis dan pengarang pribumi serta penulis-penulis keturunan (Cina-Indo). Terbitnya tulisan dengan bahasa Melayu baku dalam karya sastra dan esai di surat-surat kabar waktu itu telah mempopulerkan penggunaan bahasa Melayu baku. Semula sebagai bahasa ilmu pengetahuan Riau kemudian tersebar luas di antara para cerdik-cendekiawan Nusantara pada masa lampau telah memperkuat terpilihnya fungsi-peran dan kedudukan bahasa Melayu menjadi bahasa landasan pengembangan bahasa nasional Indonesia. Apa yang tertinggal adalah warisan kebudayaan Melayu yang terwujud sebagai tradisi-tradisi dan sistem-sistem makna yang ada dalam berbagai istiadat dan upacara yang sekarang masih hidup dalam kehidupan bermasyarakat orang Melayu dalam berbagai naskah kuno yang berisi berbagai ajaran pedoman hidup sebagai orang Melayu dalam menghadapi lingkungan hidup yang beragam dalam usaha menghadapi perubahan zaman.

Daftar Pustaka

  • Annabel The-Gallop and Bernard Arpe. 1991. Golden Letters Writing Tradition of Indonesia (Surat Emas Budaya Tulis di Indonesia). London-Jakarta: The British Library–Yayasan Lontar.
  • Bernd Nothofer. 1966. “Migrasi Orang Melayu Purba: Kajian Awal”. Makalah disajikan dalam Fourth Biennial Conference of Borneo Research Council. Bandar Sri Begawan-Brunei Darussalam, 10-15 Juni 1966.
  • BH. Bhurhanuddin. 1975. Sejarah Sriwijaya Bermula di Sulawesi. Kendari: Yayasan Karya Teknika.
  • J.G. de Casparis. l985.  “Srivijaya and Melayu”. Spafa Workshop Of Srivijaya. 1985: 252.
  • Chavannes. 1894. Memoire Compose a l`epoque de la Grande Dynastie T`ang sure les Religieux Eminents qui Allerent Chercher la loi dans le Pays d`Occident.
  • David S. Moyer. 1988. South Sumatra in the Indonesian-Field of Anthropological Study. Commented by C.W.Watson. Edited by P.E.de Josselin de Jong. Unity in Diversity: Indonesian as a Field of Anthropological Study, Second Impression. Dordrecht -Holland/Providence-USA: Foris Publication. Chapter V: 88-100.
  • James Legge M.A.L.L.D. l971. A Record of Buddhist Kingdoms (being an Account by The Chinese Monk Fa-Hien of his Travels in India and Ceylon A.D.339- in search of the Buddhist Books of Discipline). Translated and Annotated Edition with a Corean Recension of the Chinese Text (by James Legge M.A.LL.D: the Professor of the Languge and Literature. Delhi-6: Oriental Publishes.
  • James T. Collins. l996. Malay, Word Language: A Short History. Published by Dewan Bahasa dan Pustaka. Kuala Lumpur-Malaysia.
  • N.J. Krom. l931. Hindoe-Javaansche Geschiedenis. 2e druk, The Hague Martinus Nijhoff s`Gravenhage.
  • J.L. Moens. l924. “Het Boedhisme op Java en Sumatra in Zijn Laaste Bloeiperiode”. Tijdschrift Bataviasch Genootschaap. 64.
  • Dr. Mochtar Naim. 1984. Merantau: Pola Migrasi Suku Minangkabau. Gadjah Mada University Press, Cetakan Kedua.
  • Nur Zubir Husin, et.al. l985. Struktur Bahasa Melayu Jambi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
  • Othman Mohd. Yatim & Abdul Halim Nasir. 1990. Epigrafi Islam Terawal di Nusantara. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • J.J. Ras. l990. Hikayat Banjar. Terjemahan Melayu oleh Siti Hawa Salleh. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
  • Peter Bellwood. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
  • Pieter J.M. Nas. l986. “The Early Indonesia Town, Rise and Decline of the City-State and Its Capital”, dalam Pieter J.M. Nas (Editor), The Indonesin City Studies in Urban Developtment and Planning, Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-Land en Volkenkunde. Foris Publications Doodrecht-Holland/ Onnansen USA.
  • Robert Blust. 1988. “Indonesia as a Field of Lingustic Study”, dalam P.E. De Josselin de Jong (Editor), Unity in Diversity (Indonesia as a Field of an Anthropological Study, Verhandelingen van Het Koninklijk Instituut Voortaal-Land-En Volk en kunde. 103. Dordrecht-Holland/Providence-U.S.A: Foris Publication. University Press. Ithaca-New York.
  • Saidat Dahlan et.al. l985. Pemetaan Bahasa Daerah Riau dan Jambi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
  • Terry Crowley. l987. An Introduction to Historical Linguistics. Port Moresby: University of Papua New Guinea Press; Suava University of The South Pasific.
  • Takakusu. l986. Record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago.
  • O.W. Wolters. l967. Early Indonesian Commerce: A Study of Srivijaya. Cornell (1970 ); The Fall of Srivijaya in Malay History, London; (1979), “Studying Srivijaya”, JMBRAS. 52 (2)

__________

Richadiana Kadarisman Kartakusuma, Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Jakarta, Indonesia.

Email: richadianakartakusuma@yahoo.com

Sumber: http://www.wacanaNusantara.org
Kredit Foto: http://wisatamelayu.com


Dibaca : 67.366 kali.

Tuliskan komentar Anda !