Rabu, 23 April 2014   |   Khamis, 22 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 847
Hari ini : 10.656
Kemarin : 20.000
Minggu kemarin : 147.823
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.628.330
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



17 februari 2009 00:07

Kegemilangan Aceh pada Zaman Sultan Iskandar Muda

Kegemilangan Aceh pada Zaman Sultan Iskandar Muda

Judul Buku
:
Kerajaan Aceh; Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)
Judul Asli: Le Sultanat d’Atjéh au temps d‘Iskandar Muda (1607-1636)
Penulis
:
Denys Lombard
Penerjemah:Winarsih Arifin
Penerbit:
Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) & Forum Jakarta - Paris
Cetakan
:
Pertama, Oktober 2007
Tebal
:
408 halaman
 

Setiap kali membaca buku sejarah suatu kerajaan, setiap kali pula kita dihadapkan dengan pemaparan tentang kegemilangan sekaligus keruntuhannya dari masa ke masa. Yang ditemui di dalam buku sejarah itu bukan melulu lembaran peta ruang dengan bidang, jarak, nama-nama tokoh, dan tempat tertentu. Tapi di dalamnya lebih merupakan peta waktu yang kadang dipenuhi mitos dan interpretasi subyektif sang penulis.

Begitu pula dengan buku-buku tentang sejarah Kerajaan Aceh. Filolog asal Belanda, C. Snouck Hurgronje, misalnya, selama sekitar enam bulan keberadaannya di Aceh, berhasil melakukan penelitian tentang berbagai aspek masyarakat Aceh dan sejarah kerajaannya. Hasil penelitian sebanyak empat jilid itu pada 23 Mei 1892 diserahkan dalam bentuk laporan kepada Gubernur Jenderal Pijnacker Hordijk. Dua jilid pertama dari laporan berjudul Verslag omtrent de religieus-politieke toestanden in Atjeh itu kemudian dibukukan dengan judul De Atjehers (1893/1894). Terjemahannya dalam bahasa Inggris muncul pada tahun 1906 dengan judul The Achehnese. Dalam buku itu, Hurgronje menyatakan bahwa kisah tentang Sultan Iskandar Muda di Aceh hanya dongeng belaka. Sayangnya, pendekatan Hurgronje dalam penelitiannya itu hanya mendasari pada karya-karya klasik Melayu yang memang sarat akan mitos, seperti Bustan al-Salatin, Hikayat Aceh, dan Adat Aceh. Ya, sejarah Aceh, demi kepentingan memperkukuh kolonialisme Belanda, rupanya dipahami secara keliru dalam penelitian Hurgronje.

Tapi, pendekatan yang berbeda dilakukan oleh Denys Lombard, sejarawan Prancis abad 20, melalui buku Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) ini. Kita mengenal Lombard melalui karya magnum opus, “Nusa Jawa: Silang Budaya”, sebuah buku komprehensif mengenai peranan Pulau Jawa dalam percaturan sejarah Nusantara semenjak zaman Hindu, masa Islam, hingga era kolonial. Dalam buku Kerajaan Aceh ini, Lombard, selain menggunakan sumber-sumber Melayu setempat (Bustan al-Salatin, Hikayat aceh, dan Adat Aceh) juga menggunakan sumber-sumber laporan autentik Eropa dan Tionghoa. Di samping itu, Lombard juga menggunakan kesaksian para musafir Eropa yang sempat tinggal di Aceh pada saat itu, seperti Frederik de Houtman, John Davis, dan terutama Augustin de Beaulieu. Beulieu sendiri pernah bermukim di Bandar Aceh pada 1620-1621. Bagi Lombard, dokumen tersebut berharga sekali karena merupakan suatu korpus linguistik yang amat langka sebagai sebuah tonggak dalam perkembangan bahasa Melayu.

Buku ini bisa dikatakan mampu menyajikan fakta sejarah Aceh sesuai aslinya, dan itu berarti ia membalikkan tesis Hurgronje. Lombard menggambarkan situasi dan kondisi sosial masyarakat Aceh pada masa itu, seperti kenapa masa keemasan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) sedemikian bercahaya. Demikian pula intrik-intrik politik di balik dinding istana. Oleh karena itu, menurut Henri Chambert-Loir dalam pengantarnya, buku ini meluruskan sejarah yang telah dibengkokkan oleh ‘kolonialis agung’ Snouck Hurgronje (hlm. 17).

Meski buku mengenai sejarah Aceh yang terbit kemudian cukup banyak, namun buku karya Lombard ini tetap menjadi referensi yang tidak dapat diabaikan. Dalam buku Panggung Sejarah (1999), sebuah karya persembahan untuk Denys Lombard yang meninggal pada usia relatif muda pada 1998 dikemukakan, bahwa meskipun perhatian Lombard terbuka seluas-luasnya kepada seluruh Asia, namun fokus penelitiannya tetap tentang Indonesia (hlm. 24).

Pada buku Kerajaan Aceh sertebal 408 halaman ini pengaruh Mazhab Annales terasa kuat, di mana banyak diungkapkan pelbagai gejala historis lokal serta perilaku keseharian masyarakat setempat. Bahkan tinjauan terhadap aspek kejiwaan sosok Iskandar Muda pun dilakukan Lombard, termasuk perilaku kesehariannya. Sebuah tinjauan sejarah dalam “perspektif dari dalam”, yang berimplikasi terhadap kajian etnografi dan geografi, di mana banyak diungkap hal penting, yang bagi pembaca buku ini mungkin tampak sangat remeh-temeh.

Selain itu, dalam buku yang diterjemahkan Winarsih Arifin ini, Lombard membahas semua aspek kehidupan Kerajaan Aceh, baik politik, ekonomi, budaya, agama, filsafat, dan ketentaraan. Keistimewaan lain dari buku ini, dibandingkan dengan pendekatan sejarah Indonesia oleh para sarjana Belanda sebelumnya, ialah pengamatannya atas peran agama dan peradaban Islam dalam masyarakat Aceh pada masa tersebut.

Mengacu pada kitab Bustan al-Salatin, Lombard menulis bahwa Sultan Iskandar Muda merupakan raja paling berpengaruh di Kerajaan Aceh. Ia lahir di Aceh pada tahun 1593. Nama kecilnya adalah Perkasa Alam. Dari pihak ibu, Sultan Iskandar Muda merupakan keturunan dari Raja Darul-Kamal, sedangkan dari pihak ayah ia merupakan keturunan Raja Makota Alam. Ibunya bernama Putri Raja Indra Bangsa, atau nama lainnya Paduka Syah Alam, yang merupakan anak dari Sultan Alauddin Riayat Syah, Sultan Aceh ke-10. Putri Raja Indra Bangsa menikah dengan Sultan Mansyur Syah, putra dari Sultan Abdul Jalil (yang merupakan putra dari Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, Sultan Aceh ke-3). Jadi, sebenarnya ayah dan ibu Sultan Iskandar Muda sama-sama pewaris kerajaan.

Sultan Iskandar Muda menikah dengan seorang putri dari Kesultanan Pahang, yang lebih dikenal dengan Putroe Phang. Dari pernikahan ini, Sultan Iskandar Muda dikaruniai dua anak, yaitu Meurah Pupok dan Putri Safiah. Perjalanan Sultan Iskandar Muda ke Johor dan Melaka pada 1612 sempat berhenti di sebuah Tajung, tepi Sungai Asahan dan Silau, dan bertemu dengan Raja Simargolang. Sultan Iskandar Muda akhirnya menikahi salah seorang putri Raja Simargolang yang kemudian dikaruniai seorang anak bernama Abdul Jalil, yang kemudian dinobatkan sebagai Sultan Asahan I.

Sultan Iskandar Muda menduduki tahta Kerajaan Aceh dari tahun 1607 hingga 1636, atau hanya selama 29 tahun. Kapan ia mulai memangku jabatan raja menjadi perdebatan di kalangan ahli sejarah. Lombard mengakui bahwa tanggal penobatan Iskandar Muda yang tepat masih menimbulkan kesulitan. Akan tetapi, menurut sumber-sumber Eropa yang dikutip Lombard, serbuan Portugis yang dikomandoi Don Martin Affonso atas Aceh terjadi pada tanggal 29 Juni 1606, sedangkan menurut Bustan al-Salatin Iskandar Muda dinyatakan sebagai sultan pada 6 Zulhijah 1015 H (awal April 1607). Tanggal yang belakangan inilah yang secara tradisional diterima oleh para sejarawan dan juga digunakan Lombard dalam buku ini.

Masa kekuasaan Sultan Iskandar Muda disebut Lombard sebagai masa paling gemilang dalam sejarah Kerajaan Aceh Darussalam. Ia dikenal sangat piawai dalam membangun Kerajaan Aceh menjadi suatu kerajaan yang kuat, besar, dan tidak saja disegani oleh kerajaan-kerajaan lain di nusantara, namun juga oleh dunia luar. Pada masa kekuasaannya, menurut Lombard, Kerajaan Aceh termasuk dalam lima kerajaan terbesar di dunia.

Langkah utama yang ditempuh Sultan Iskandar Muda untuk memperkuat kerajaan adalah dengan membangun angkatan perang yang umumnya diisi tentara-tentara muda. Sultan Iskandar Muda tercatat pernah menaklukkan Deli, Johor, Bintan, Pahang, Kedah, dan Nias sejak tahun 1612 hingga 1625. Sultan Iskandar Muda juga sangat memperhatikan tatanan dan peraturan perekonomian kerajaan. Dalam wilayah kerajaan terdapat bandar transito (Kutaraja, kini lebih dikenal Banda Aceh), yang letaknya sangat strategis sehingga dapat menghubungkan roda perdagangan kerajaan dengan dunia luar, terutama negeri Barat. Dengan demikian, perekonomian kerajaan meningkat tajam.

Dalam bidang ekonomi, Sultan Iskandar Muda menerapkan sistem baitulmal. Ia juga pernah melakukan reformasi perdagangan dengan kebijakan menaikkan cukai ekspor untuk memperbaiki nasib rakyatnya. Pada masanya, sempat dibangun saluran irigasi dari sungai menuju laut yang panjangnya mencapai sebelas kilometer. Pembangunan saluran tersebut dimaksudkan untuk pengairan sawah-sawah penduduk, termasuk juga sebagai pasokan air bagi kehidupan masyarakat Aceh.

Menurut Lombard, Sultan Iskandar Muda dikenal memiliki hubungan yang sangat baik dengan Eropa. Ia pernah menjalin komunikasi yang baik dengan Inggris, Belanda, Perancis, dan Ustmaniyah Turki. Sebagai contoh, pada abad ke-16 Sultan Iskandar Muda pernah menjalin komunikasi yang harmonis dengan Kerajaan Inggris yang pada saat itu dipegang oleh Ratu Elizabeth 1 (hlm. 301).

Di samping itu, pada masa pemerintahannya, terdapat sejumlah ulama besar di antaranya adalah Syiah Kuala sebagai mufti besar di Kerajaan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda. Hubungan keduanya adalah sebagai penguasa dan ulama yang saling mengisi proses perjalanan roda pemerintahan. Hubungan tersebut, dalam banyak buku sejarah Aceh diibaratkan: Adat bak Peutu Mereuhum, Syarak bak Syiah di Kuala (adat di bawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda, kehidupan beragama di bawah keputusan Tuan Syiah Kuala). Sultan Iskandar Muda juga mempercayai ulama lain yang sangat terkenal pada saat itu, yaitu Syeikh Hamzah Fanshuri dan Syeikh Syamsuddin as-Sumatrani. Kedua ulama ini juga banyak mempengaruhi kebijakan sultan. Kedua juga dikenal sebagai sastrawan besar dalam sejarah Nusantara.

Sultan Iskandar Muda meninggal di Aceh pada tanggal 27 Desember 1636, dalam usia yang terbilang masih cukup muda, yaitu 43 tahun. Oleh karena tidak ada anak laki-lakinya yang masih hidup, maka tahta kekuasaannya kemudian dipegang oleh menantunya, Sultan Iskandar Tani (1636-1641). Setelah Sultan Iskandar Tani wafat tahta kerajaan kemudian dipegang janda Iskandar Tani, yaitu Sultanah Tajul Alam Syafiatudin Syah atau Putri Safiah (1641-1675), putri Sultan Iskandar Muda.

Pada tahun 1993, Pemerintah RI menobatkan Sultan Iskandar Muda sebagai pahlawan nasional atas jasanya dalam proses pembentukan karakter bagi Indonesia. Selama menjadi raja, Sultan Iskandar Muda menunjukkan sikap anti-kolonialismenya. Ia bahkan sangat tegas terhadap kerajaan-kerajaan yang membangun hubungan atau kerjasama dengan Portugis, sebagai salah satu penjajah pada saat itu. Selain itu, Sultan Iskandar Muda sangat tegas menghalau segala bentuk dominasi kolonialisme. Sebagai contoh, kurun waktu 1573-1627 Sultan Iskandar Muda pernah melancarkan jihad perang melawan Portugis sebanyak 16 kali, maski semuanya gagal karena kuatnya benteng pertahanan Portugis. Kekalahan tersebut menyebabkan jumlah penduduk turun drastis, sehingga Sultan Iskandar Muda mengambil kebijakan untuk menarik seluruh penduduk di daerah-daerah taklukannya, seperti di Sumatera Barat, Kedah, Pahang, Johor dan Melaka, Perak, serta Deli, untuk migrasi ke daerah Aceh inti.

Hamka, dalam buku Sejarah Islam di Sumatera (1972) melihat kepribadian Sultan Iskandar Muda sebagai pemimpin yang saleh dan berpegang teguh pada prinsip dan syariat Islam. Tentang kepemimpinannya, sejarawan Antony Reid melalui buku Perjuangan Rakyat, Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera (1987), menilai bahwa Sultan Iskandar Muda sangat berhasil menjalankan kekuasaan yang otoriter, sentralistis, dan selalu bersifat ekspansionis. Menurut Reid, “Karakter Sultan Iskandar memang banyak dipengaruhi oleh sifat kakeknya, Maharaja Sayidil Mukammil. Kejayaan dan kegemilangan Kerajaan Aceh pada saat itu memang tidak luput dari karakter kekuasaan monarkhi karena model kerajaan berbeda dengan konsep kenegaraan modern yang sudah demokratis” (1987:81).

Melampaui fakta-fakta sejarah yang ada tentang Aceh, Lombard melalui buku ini melangkah lebih jauh. Ia tidak hanya memaparkan sejarah secara deskriptif-naratif, tapi juga mencakup bentuk-bentuk generalisasi, pola kehidupan sosial dan kultural, dengan memberi makna terhadap fakta-fakta sejarah Aceh. Pendekatan seperti ini dikenal sebagai pendekatan sejarah kritis. Dan bagi kita, bangsa yang konon dilanda amnesia sejarah, buku-buku seperti ini dapat membantu untuk merumuskan kembali format keindonesiaan yang aktual.

Akhirnya, membaca buku yang dilampiri dengan 15 gambar dan empat peta Aceh ini, kita bisa menyimpulkan bahwa Kerajaan Aceh zaman Sultan Iskandar Muda memang istimewa. Bukan hanya secara geo-ekologis, tapi juga secara sosio-historis. Meskipun sejarah Kerajaan Aceh tidak mempunyai sangkut paut secara langsung dengan zaman Indonesia modern, namun sejarah Kerajaan Aceh yang ditapilkan Lombard ini masih tetap mempunyai tempat dalam kerangka sejarah nasional. Dengan pengetahuan sejarah Aceh abad ke-17 ini, diharapkan dapat memberikan dorongan untuk mengingatkan bangsa Indonesia kepada zaman gemilang yang sudah silam.

(Tasyriq Hifzhillah/res/04/02-09)

Dibaca : 5.222 kali.
07 maret 2012 00:07

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

02 november 2011 00:07

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat