Jumat, 1 Agustus 2014   |   Sabtu, 4 Syawal 1435 H
Pengunjung Online : 849
Hari ini : 4.385
Kemarin : 17.924
Minggu kemarin : 139.911
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 96.968.013
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



25 oktober 2010 07:07

Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya di Daerah Jambi

Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya di Daerah Jambi

Judul Buku
:
Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya di Daerah Jambi
Penulis
:
Ibrahim Budjang dkk
Penerbit:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Daerah Istimewa Yogyakarta
Cetakan
:
1990
Tebal
:
xi + 144 halaman
Ukuran
:
0,7 x 23 cm
 

Buku yang ada dihadapan Anda ini adalah salah satu buku yang memiliki semangat melestarikan alat-alat produksi persawahan agar tidak punah ditelan oleh alat-alat produksi modern. Meskipun ditulis dengan sederhana, dalam konteks di atas, khususnya bagi orang Jambi, buku ini sangat penting untuk dibaca. Mengingat hingga sekarang tanah pertanian Jambi masih luas dan perlu perbaikan dari polusi yang disebabkan oleh penggunaan alat-alat produksi modern.

Secara umum, para petani perlu dipahamkan bahwa alat-alat produksi tradisional masih dapat digunakan untuk bercocok tanam dan mereka tidak perlu merasa rendah diri di hadapan alat-alat produksi modern. Alat-alat produksi tradisional seperti kincir sawah, dalam sistem persawahan Indonesia masih dapat mengaliri sawah dengan baik meskipun tidak secepat memakai mesin diesel.

Memahami Zaman

Isu tentang efek rumah kaca yang berdampak pada kemarau panjang membuat petani sulit mendapatkan air untuk mengairi sawahnya. Penggunaan mesin diesel air yang berbiaya cukup mahal (pembelian mesin dan solar) dan dampak yang buruk terhadap manusia dan lingkungan (penyakit dan udara yang kotor akibat asap), memunculkan semangat untuk memperkenalkan kembali alat-alat pertanian tradisional kepada seluruh petani di Indonesia.

Logika di atas bukanlah berlebihan, akan tetapi merupakan sebuah upaya untuk memahami zaman. Menurut anggapan banyak orang, zaman sekarang disebut dengan zaman globalisasi. Sebuah zaman yang diartikan sebagai zaman yang tiada lagi batas dalam segala hal, zaman “kebebasan”. Hal ini ditandai dengan adanya masyarakat di negara tertentu yang dapat mengakses segala sesuatu yang ada di negara lain. Baik dari sisi ekonomi (pasar bebas), budaya, teknologi, agama, maupun pengetahuan. Semua ini secara otomatis berimbas pada perubahan pola hidup dan kehidupan masyarakat. 

Dalam konteks kehidupan pertanian Indonesia, zaman globalisasi ditandai dengan membanjirnya alat-alat produksi dan pengetahuan tentang cara mengolah pertanian ke seluruh pelosok Indonesia. Alat-alat seperti traktor, diesel air, obat-obatan padi (pestisida), benih-benih padi, dan pupuk modern, perlahan-lahan telah menggantikan alat-alat tradisional serta pola pertanian khas Indonesia seperti bajak, kincir sawah, pupuk kandang, bibit padi lokal, serta obat padi dari getah daun.

Kenyataan ini menjadikan petani Indonesia mulai beralih ke alat-alat modern, karena dianggap lebih cepat dioperasikan dan (katanya) dapat menghasilkan biji padi dan beras yang lebih baik (baca: enak). Hal ini diperkuat dengan pengetahuan tentang pertanian dari barat yang dikhotbahkan oleh ilmuwan Indonesia yang belajar di barat. Mereka menjadi penyambung lidah kepentingan barat untuk meyakinkan petani Indonesia agar beralih ke alat-alat produksi modern.

Pada perkembangan selanjutnya, para ilmuwan itu tidak menjelaskan efek negatif dari penggunaan alat-alat pertanian modern itu. Akibatnya, beragam penyakit dan polusi lingkungan merebak yang berefek buruk pada tanaman petani. Petani seakan makan buah simalakama, untuk meninggalkan alat-alat produksi modern tidak mungkin, karena sudah terlanjur membuang alat-alat produksi tradisional.

Kembali ke Budaya Sendiri

Ketika dicermati kelebihan dan kekurangan kincir air tradisional dibandingkan dengan kincir air modern misalnya, serta nilai-nilai kincir air tradisional, maka penggunaan alat pengairan modern tidak harus mengesampingkan sikap peduli terhadap lingkungan itu sendiri. Namun terlepas dari kelebihan dan kekurangan masing-masing, pemerintah memang masih mempunyai tugas yang belum selesai, yaitu terus meningkatkan derajat ekonomi dan pendidikan para petani. Hal ini bertujuan agar petani dapat hidup layak dan cerdas dalam memanfaatkan teknologi.

Secara geografis Provinsi Jambi berupa tanah hutan dan tanah persawahan. Dengan demikian mayoritas masyarakat Jambi bermata pencaharian sebagai petani. Tidak heran jika kehidupan petani Jambi meninggalkan jejak-jejak budaya berupa alat-alat pertanian tradisional yang cukup unik. Berbekal latar belakang sejarah ini, maka semangat kembali ke budaya sendiri haruslah dimulai dari sekarang. Tentunya tidak hanya oleh petani Jambi, tetapi seluruh petani di negeri ini, karena mereka juga memiliki alat-alat pertanian tradisional peninggalan leluhur.

Semangat ini perlu terus digelorakan agar pertanian Indonesia diolah dengan sistem pertanian sendiri. Kemudian apakah lantas kita tidak boleh menggunakan alat-alat produksi modern? Tentu saja boleh, akan tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah mendahulukan kebudayaan sendiri dan secara cerdas memilih teknologi modern yang baik dan tepat sesuai dengan kebudayaan bangsa. Tanpa itu, pertanian Indonesia selamanya akan terus bergantung pada pengetahuan barat dan tanpa disadari kita telah diatur orang lain.

Satu pertanyaan yang memprihatinkan adalah, kenapa ketika petani Indonesia sudah banyak menggunakan alat-alat produksi modern namun justru malah kita mengimpor beras dari negara lain? Begitu juga dengan buah dan sayur-sayuran? Sekali lagi, masalah ini menjadi tanggung jawab “penguasa” untuk menjadikan petani Indonesia cerdas dan pertanian Indonesia mandiri.

Yusuf Efendi (res/32/10-10)

Dibaca : 5.856 kali.
07 maret 2012 00:07

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

02 november 2011 00:07

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat