Senin, 15 September 2014   |   Tsulasa', 20 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 639
Hari ini : 29.737
Kemarin : 34.487
Minggu kemarin : 226.263
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.120.191
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



02 november 2011 00:07

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat
Judul Buku
:
Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat
Penulis
:
J.U. Lontaan
Penerbit:

Pemda Tingkat I, Kalimantan Barat

Cetakan
:
Pertama, 1975
Tebal
:

600 halaman

Ukuran
:
14,2 x 21 cm

Membaca Kalimantan Barat (Kalbar) masa lampau, khususnya Suku Dayak, adalah sebuah romantisme tersendiri. Meskipun Anda bukan orang Kalimantan Barat asli, melalui buku-buku, artikel, majalah, atau ensiklopedia yang ada, informasi tentang orang Dayak di pulau ini membuat Anda dapat membayangkan banyak hal. Dari mulai eksotisme alamnya, keragaman penduduk, toleransi, sakralitas, atau sekedar keindahan pakaian mereka. Dan hingga kini, pesona itu masih ada. 

Sebagai buku klasik tentang kebudayaan Kalbar, karya J.U. Lontaan di hadapan Anda ini penting dan layak dibaca. Lontaan adalah seorang antropolog Belanda yang lama meneliti kebudayaan Dayak. Buku ini sangat detil mengulas secara etnografis setiap sisi kehidupan orang Dayak yang tinggal di Kalbar. Dari mulai sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di Kalbar hingga tradisi sabung ayam yang sakral di kalangan orang Dayak. Buku yang ditulis berdasarkan penelitian etnografis penulis dalam rentang waktu yang panjang ini mampu menghadirkan gambaran tentang Dayak yang apa adanya. Bagi Anda yang berlatar belakang antropologi atau sejarah, Anda akan senang membacanya, karena pembahasannya cukup rinci, periodik, dan diklasifikasikan sesuai adat sub-sub Suku Dayak yang ada.  

Buku setebal 600 halaman ini tidak dibagi dalam bab-bab tertentu, melainkan diurutkan sesuai dengan keinginan penulis sendiri sesuai tema-tema yang diteliti. Halaman awal buku ini dimulai dengan ucapan syukur tim pengumpul tulisan dan kata pengantar dari Gubernur KDH Tingkat I Kalbar (h. 1-20). Halaman selanjutnya berupa pendahuluan yang berisi tentang informasi perjalanan penelitian dan ulasan tentang Suku Dayak dan penduduk Kalimantan secara umum (h.21-67). Halaman berikutnya adalah pembahasan tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Kalbar, seperti Kerajaan Tanjung Pura (Matan), Sukadana, Sintang, Kubu, atau Pontianak. Bagian pembahasan ini ditutup dengan kesimpulan dan ulasan tentang perkembangan orang Cina dan status pemerintah di Kalbar (h. 68-264).  

Halaman berikutnya membahas tentang hukum adat yang pernah berlaku di kehidupan orang Dayak di Kalbar (h. 265-448). Pada bagian ini, Lontaan memulai dengan menjelaskan susunan masyarakat di Kalbar, alam raja-raja dahulu, dan baru membahas tentang hukum adat yang diakhiri dengan perbandingan dengan hukum-hukum dalam kitab suci. Halaman selanjutnya menjelaskan tentang beragam adat istiadat Dayak (h. 449-597). Adat istiadat yang diulas cukup lengkap dan detil, dari mulai struktur religius, upacara adat siklus hidup, tradisi tato, mengayau, hingga sabung ayam. Pada bagian ini, sisi antropologisnya begitu kental.  

Tentang Tradisi Mengayau 

Satu hal yang menarik untuk dicermati dalam buku ini adalah pembahasan Lontaan tentang tradisi kayau atau mengayau (potong kepala), yang tampak bertolak belakang dengan anggapan umum di luar Dayak. Hal itu tentu saja positif untuk selalu disosialisasikan kepada khalayak ramai agar anggapan bahwa orang Dayak pemakan manusia dapat dikikis dan hilang. Karena bagaimana pun, stereotipe itu sangat merugikan orang Dayak.    

Secara umum, mengayau berarti mencari musuh atau mencari kepala musuh. Walaupun tradisi ini akrab dengan suku Dayak, namun satu hal yang harus dimengerti adalah bahwa tidak semua suku Dayak mempraktekkan tradisi ini. Hal ini disebabkan oleh varian tradisi di antara Suku Dayak itu sendiri. Bagi mereka, mengayau memiliki banyak tujuan, seperti menunjukkan keberanian, mempertahankan dan memperluas wilayah, melindungi warga suku, persembahan kepada dewa, salah satu cara untuk bertahan hidup, melindungi pertanian, untuk mendapatkan daya rohaniah, balas dendam, dan daya tahan berdirinya suatu bangunan (h. 532).

Tradisi ini terus berlangsung lama hingga akhirnya mulai berkurang ketika agama Kristen masuk ke Kalimantan. Saat ini, upacara adat mengayau hanya digelar untuk merayakan pesta adat. Namun, sebenarnya mengayau tidak dilakukan dengan sembarangan. Mengayau adalah upacara adat yang dilakukan secara khusus dan tidak sembarang orang dapat mengayau. Pengayauan sesungguhnya adalah hukuman yang sangat berat bagi pemenang kayau itu sendiri. Karena suatu ketika dirinya juga akan dikayau oleh orang lain. Mengayau juga tidak dibolehkan terjadi di sembarang tempat melainkan harus sesuai dengan tempat yang telah ditentukan dan sudah diberitahukan terlebih dahulu oleh ketua adat. Apabila didapati orang mengayau di sembarang tempat, maka dia dianggap bukan pengayau yang tidak baik.

Penyadaran dan Tanggungjawab sosial

Selain keberanian, eksistensi tradisi mengayau juga berkait erat dengan tanggung jawab sosial yang dimiliki laki-laki Dayak dalam melindungi jiwa dan stabilitas keamanan keluarga dan warga. Mengayau merupakan cara bertahan, melawan dan membela diri ketika diri, keluarga dan masyarakat terancam jiwanya.

Pada sisi lain, digelarnya upacara mengayau merupakan usaha orang Dayak untuk mengenalkan kepada khalayak umum bahwa kayau penting untuk dipahami, bukan sekedar dihukumi. Pemahaman negatif orang di luar suku Dayak tentang tradisi mengayau yang dianggap sebagai tradisi buruk (baca: kanibal atau primitif) perlu dikikis. Tradisi kayau bukan hanya sekadar memotong kepala musuh, melainkan lebih kepada tanggung jawab sosial dan sakral.

Hingga saat ini, perilaku mengayau sudah sangat berkurang (untuk mengatakan tidak ada). Hal ini menandakan, bahwa kayau bukanlah cara tepat untuk menyelesaikan masalah. Meskipun demikian, perdebatan antara manusiawi atau tidak tradisi mengayau masih berlangsung hingga kini. Dalam konteks memperdalam dialog untuk menyatukan pandangan ini, buku ini semakin penting dan menarik untuk dibaca.

(Yusuf Efendi/Res/83/10-2011)
Dibaca : 6.486 kali.
07 maret 2012 00:07

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

26 oktober 2011 07:07

Evaluasi Teks Sastra