Jumat, 22 Agustus 2014   |   Sabtu, 25 Syawal 1435 H
Pengunjung Online : 2.226
Hari ini : 18.710
Kemarin : 21.774
Minggu kemarin : 134.921
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.038.828
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Resensi Buku



23 februari 2010 00:07

Arab Melayu

Arab Melayu

Judul Buku
:
Mengenal Tulisan Arab Melayu
Penulis
:
M. Irfan Shofwani
Penerbit:
BKPBM dan Adicita, Yogyakarta
Cetakan
:
Pertama, 2005
Tebal
:
ix + 59 halaman
Ukuran
:
14,2 x 20 cm
 

Masih ingatkah Anda dengan huruf Arab pegon? Bagi mereka yang pernah nyantri di pondok-pondok pesantren salaf mungkin sangat mengenal huruf Arab yang satu ini. Meskipun wujudnya memakai aksara Arab, pembacaannya menggunakan tata bahasa Indonesia karena sejatinya huruf Arab pegon memang berasal dari bahasa Melayu yang penulisannya menggunakan aksara Arab.

Membedakan huruf Arab pegon dengan huruf Arab asli sangat mudah. Penulisan Arab pegon menggunakan semua aksara Arab Hijaiyah, dilengkapi dengan konsonan abjad Indonesia yang ditulis dengan aksara Arab yang telah dimodifikasi. Modifikasi huruf Arab ini dikenal sebagai huruf jati Arab Melayu, berwujud aksara Arab serapan yang tak lazim. Misalnya, untuk konsonan ‘ng‘, Arab pegon menggunakan huruf ‘ain dengan tiga titik di atasnya. Sedangkan untuk konsonan ‘p‘, diambil dari huruf fa‘ dengan tiga titik di atasnya dan sebagainya. Selain itu, huruf Arab pegon meniadakan syakal (tanda baca) layaknya huruf Arab gundul.

Sejarah penulisan Arab pegon di Nusantara diperkirakan ada sejak tahun 1200 M / 1300 M seiring dengan masuknya agama Islam menggantikan kepercayaan Animisme, Hindu, dan Budha. Di kalangan orang Malaysia, huruf Arab Pegon ini dikenal dengan sebutan tulisan jawi, sementara orang Jawa sendiri justru menyebutnya sebagai huruf Arab pegon. Banyak orang Jawa mengira bahwa huruf Arab pegon itu hanya milik orang Jawa saja karena penggunaannya sudah mentradisi di pesantren-pesantren salaf di Jawa. Bahkan, hingga kini komunitas santri di pesantren-pesantren salaf masih menggunakan huruf Arab pegon ini dalam memahami teks-teks Arab dan kitab kuning yang penerjemahannya memakai huruf Arab pegon.

Di kalangan yang lebih luas, huruf Arab pegon dikenal dengan istilah huruf Arab Melayu karena ternyata huruf Arab berbahasa Indonesia ini telah digunakan secara luas di kawasan Melayu mulai dari Terengganu (Malaysia), Aceh, Riau, Sumatera, Jawa (Indonesia), Brunei, hingga Thailand bagian selatan (hlm. 9). Tak heran, jika kita membeli produk-produk makanan di kawasan dunia Melayu (Malaysia, Thailand Selatan, Brunei, dan beberapa wilayah di Indonesia) dapat dipastikan terdapat tulisan Arab pegon dalam kemasannya.

Sayangnya, huruf Arab pegon kini tak lagi dikenal oleh masyarakat luas. Padahal, menurut sejarahnya, huruf Arab pegon telah digunakan secara luas oleh para penyiar agama Islam, ulama, penyair, sastrawan, pedagang, hingga politikus di kawasan dunia Melayu. Pergeseran penggunaan huruf Arab pegon menjadi huruf Rumawi dimulai saat Kemal Attaturk yang dikenal dengan sebutan Bapak Turki Modern menggulingkan kekuasaan Khalifah Utsmaniyah terakhir, Sultan Hamid II pada tahun 1924. Kongres bahasa yang diadakan di Singapura pada 1950-an memperkuat kedudukan huruf Rumawi. Salah satu keputusan dalam kongres tersebut menghasilkan pembentukan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia yang mempelopori dan mengompori penggunaan abjad Rumawi. Saat itulah hampir semua penerbit koran, majalah, dan buku dengan terpaksa mengganti aksara Arab pegon dengan huruf Rumawi (hlm. 12).

Buku ini sengaja dihadirkan guna memperkenalkan kembali huruf Arab pegon yang mulai asing di hadapan masyarakat umum. Untuk itulah, penulis buku ini mengemas tulisannya dengan sistematika yang apik dan mudah dimengerti, sehingga layak disebut sebagai buku ajar Arab pegon. Tata cara pelafalan, mulai dari vokal, konsonan, hingga diftong Arab pegon diulas dengan cermat. Tak hanya itu, buku ini juga memberi ulasan tata cara baca yang praktis, dilengkapi dengan latihan soal. Di bagian akhir buku ini disertakan pula contoh naskah kuno ”Hikayat Hang Tuah” yang bertarikh 1882 terbitan Melaka, Malaysia, dan juga syair lawas ”Gurindam Duabelas” karya Raja Ali Haji dari Pulau Penyengat, Riau tahun 1847, serta naskah kuno lainnya yang diabadikan dalam tulisan Arab pegon (hlm. 43-54).

Lebih dari itu, buku ini memberi wawasan yang sangat bermanfaat bagi khalayak umum dalam memahami fakta sejarah tentang huruf Arab pegon di kawasan dunia Melayu. Selamat membaca!

Oleh :
Nanum Sofia (Mahasiswi S2 Psikologi UGM)
Dibaca : 17.826 kali.
07 maret 2012 00:07

Dosa-dosa Para Pemimpin Melayu Nusantara

02 november 2011 00:07

Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat