Senin, 24 November 2014   |   Tsulasa', 1 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.509
Hari ini : 6.432
Kemarin : 22.432
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.375.140
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Canang (Riau)

1. Asal Usul

Main canang adalah suatu permaianan yang terdapat di Bunguran Barat, Pulau Tujuh, Kepulauan Riau. Permainan ini oleh masyarakat Pekanbaru disebut sebagai Patok Lele atau Tuk Lele. Konon, permainan ini berasal dari anak-anak yang ada di perkampungan nelayan, namun lama-kelamaan menjadi kegemaran dan diambil alih oleh anak-anak bangsawan Kesultanan Riau abad XVII. Dalam perkembangannya saat ini, main canang kembali lagi menjadi permainan rakyat. Artinya, tidak hanya dilakukan oleh anak-anak bangsawan saja, tetapi siapa saja dapat memainkannya.

2. Pemain

Canang dapat dimainkan oleh kaum laki-laki atau perempuan. Jadi, tidak ada kaitannya dengan perbedaan jenis kelamin. Permainan yang dilakukan oleh orang yang berusia 7--20 tahun ini, biasanya hanya dimainkan oleh 2--5 orang.

3. Tempat dan Peralatan Permainan

Permainan ini dapat dikatakan tidak membutuhkan tempat yang luas, dan dapat dimainkan di berbagai tempat seperti, badan-badan jalan, baik itu di lembah, lereng gunung, ataupun pantai. Perlatannya cukup sederhana, yaitu berupa dua buah kayu canang yang ukurannya berbeda. Kayu yang disebut induk canang berkuruan panjang kurang lebih 30 cm dan lebar 2,5 cm. Sedangkan anak canang berukuran panjang kurang lebih 18 cm dan lebar 0,75 cm. Kelengkapan lainnya adalah sebuah lubang berukuran panjang kurang lebih 30 cm, lebar kurang lebih 5 cm, dan dalam kurang lebih 3--5 cm. Lubang ini dibuat di pangkal arena sebagai sentral atau pusat arena. Selain itu, ada sebuah garis batas tikam atau biasa disebut garis benteng. Garis ini berfungsi sebagai penentu sah atau tidak jatuhnya kayu canang yang dilentingkan oleh pemain.

4. Aturan Permainan

Permainan canang dapat dibagi menjadi dua, yaitu beraje (perseorangan) dan berundung (beregu). Beraje biasanya dilakukan oleh laki-laki dengan jumlah 2--5 orang. Sedangkan, berundung dilakukan oleh laki-laki dan perempuan secara bersamaan dengan jumlah 3--5 orang. Mengingat bahwa berundung melibatkan dua jenis kelamin yang berbeda maka harus ada pemisahan yang tegas antara kelompok laki-laki dan perempuan karena tidak baik jika dalam satu kelompok ada jenis kelamin yang berbeda. Apalagi, jika yang main itu sudah menginjak remaja.


5. Nilai budaya

Nilai yang terkandung dalam permainan ini adalah kecermatan, keagamaan (Islam) dan sportivitas. Nilai kecermatan tercermin dalam usaha setiap pemain agar jatuhnya kayu canang dinilai sah karena ada garis batas tikam yang berfungsi sebagai penentu syah atau tidak jatuhnya kayu canang yang dilentingkan oleh pemain. Nilai keagamaan tercermin dalam pembagian kelompok yang sejenis untuk menghindari segala sesuatu yang tidak diinginkan karena bukan muhrimnya. Nilai sportivitas tercermin dari adanya kesadaran bahwa dalam permainan tentunya ada pihak yang kalah dan menang. Oleh karena itu, setiap pemain dapat menerima kekalahan dengan lapang dada.

 

Sumber :

Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Riau, 1984, Permainan Rakyat Daerah Riau, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
Dibaca : 16.240 kali.