Selasa, 29 Juli 2014   |   Arbia', 1 Syawal 1435 H
Pengunjung Online : 1.961
Hari ini : 14.472
Kemarin : 19.510
Minggu kemarin : 121.346
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.959.824
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Rumah Belah Bubung (Rumah Tradisional Melayu di Kepulauan Riau)

rumah belah bubung

1. Asal-Usul

Kepulauan Riau merupakan salah satu satu provinsi di Indonesia. Daerah ini merupakan gugusan pulau yang tersebar di perairan selat Malaka dan laut Cina selatan. Keadaan pulau-pulau itu berbukit dengan pantai landai dan terjal. Mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan dan petani. Sedangkan agama yang dianut oleh sebagian besar dari mereka adalah Islam.

Kondisi alam dan keyakinan masyarakat Kepulauan Riau sangat mempengaruhi pola arsitektur rumahnya. Pengaruh alam sekitar dan keyakinan dapat dilihat dari bentuk rumahnya, yaitu berbentuk panggung yang didirikan di atas tiang dengan tinggi sekitar 1,50 meter sampai 2,40 meter. Penggunaan bahan-bahan untuk membuat rumah, pemberian ragam hias, dan penggunaan warna-warna untuk memperindah rumah merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekpresi nilai keagamaan dan nilai budaya.   

Salah satu rumah untuk tempat tinggal masyarakat Kepulauan Riau adalah rumah Belah Bubung. Rumah ini juga dikenal dengan sebutan rumah Rabung atau rumah Bumbung Melayu. Nama rumah Belah Bubung diberikan oleh orang Melayu karena bentuk atapnya terbelah. Disebut rumah Rabung karena atapnya mengunakan perabung. Sedangkan nama rumah Bubung Melayu diberikan oleh orang-orang asing, khususnya Cina dan Belanda, karena bentuknya berbeda dengan rumah asal mereka, yaitu berupa rumah Kelenting dan Limas.

Nama rumah ini juga terkadang diberikan berdasarkan bentuk dan variasi atapnya, misalnya: disebut rumah Lipat Pandan karena atapnya curam; rumah Lipat Kajang karena atapnya agak mendatar; rumah Atap Layar atau Ampar Labu karena bagian bawah atapnya ditambah dengan atap lain; rumah Perabung Panjang karena Perabung atapnya sejajar dengan jalan raya; dan rumah Perabung Melintang karena Perabungnya tidak sejajar dengan jalan.

Besar kecilnya rumah yang dibangun ditentukan oleh kemampuan pemiliknya, semakin kaya seseorang semakin besar rumahnya dan semakin banyak ragam hiasnya. Namun demikian, kekayaan bukan sebagai penentu yang mutlak. Pertimbangan yang paling utama dalam membuat rumah adalah keserasian dengan pemiliknya. Untuk menentukan serasi atau tidaknya sebuah rumah, sang pemilik menghitung ukuran rumahnya dengan hitungan hasta, dari satu sampai lima. Adapun uratannya adalah: ular berenang, meniti riak, riak meniti kumbang berteduh, habis utang berganti utang, dan hutang lima belum berimbuh. Ukuran yang paling baik adalah jika tepat pada hitungan riak meniti kumbang berteduh.

2. Bahan dan Tenaga

a. Bahan-Bahan

  • Kayu. Kayu biasanya digunakan untuk membuat tiang, tangga, gelegar, bendul, rasuk, dan lain sebagainya.
  • Papan. Papan merupakan kayu yang telah dibelah tipis, tebalnya sekitar 3-5 cm. Papan digunakan untuk membuat dinding dan lantai.
  • Bambu (nibung). Selain kayu, bambu sering kali digunakan untuk membuat rumah, khususnya ketika kayu sulit didapat.
  • Daun Nipah dan daun Rumbia. Jenis daun ini digunakan untuk membuat atap rumah.
  • Seng. Seng digunakan sebagai pengganti daun Nipah dan Rumbia untuk membuat atap rumah.
  • Rotan. Rotan digunakan untuk mengikat atap rumah.

b. Tenaga

Tenaga untuk membangun rumah secara garis besar ada dua macam yaitu: tukang dan tenaga umum.

  • Tukang. Keberadaan tukang dalam mendirikan bangunan sangat penting. Tukang tidak saja berkaitan dengan mutu rumah tetapi juga untuk menjaga keamanan yang punya rumah dari hal-hal mistik. Tukang yang ahli tidak saja pandai mengerjakan bagian-bagian rumah tetapi juga pandai membuat rancangan bangunan.
  • Tenaga umum. Tenaga umum biasanya diperlukan untuk mengumpulkan bahan-bahan bangunan dan ketika mendirikan bangunan. Tenaga umum ini disebut juga tukang ulur atau tukang wak sendul. Disebut tukang ulur karena pekerjaanya mengulur-ulurkan atap, kayu-kayu, atau peralatan tukang. Sedangkan yang disebut tukang wak sendul adalah mereka yang ingin belajar menjadi tukang, membantu dalam pekerjaan kasar.

3. Pemilihan Tempat

Karena keberadaan rumah sangat penting untuk menjaga keamanan penghuninya dari hal-hal yang bersifat fisik atau bersifat mistis, maka tempat untuk mendirikan bangunan rumah harus dipilih secara cermat. Secara garis besar, ada tiga kategori tanah untuk tempat mendirikan bangunan yaitu baik, sedang, dan dipantangkan. Tanah yang baik untuk mendirikan rumah diantaranya adalah: tanah liat kuning, tanah datar, tanah miring ke belakang, tanah belukar, dan tanah yang dekat dengan sumber mata air. Tanah dengan kategori sedang diantaranya adalah: tanah dusun, tanah liat bercampur pasir, dan tanah bekas perumahan lama. Sedangkan tanah yang harus dihindari untuk tempat mendirikan rumah diantaranya adalah: tanah tempat orang mati berdarah, tanah pasir dan tanah gembut, tanah kuburan atau bekas kuburan, tanah bekas orang yang mati karena penyakit menular, tanah tahi burung, tanah miring ke timur laut, dan tanah wakaf.     

4. Tahapan Pembangunan Rumah Rakit

a. Persiapan

1) Musyawarah

Orang yang hendak mendirikan bangunan, terlebih dahulu memusyawarahkan keinginannya tersebut dengan keluarga dekat dan tetangga sekitar. Musyawarah biasanya diadakan di kediaman orang tua atau keluarga tertua dan dipimpin oleh keluarga yang dituakan. Dalam musyawarah tersebut, orang yang hendak mendirikan bangunan menyampaikan rencananya untuk mendirikan rumah. Biasanya yang disampaikan adalah rencana tempat, ukuran bangunan, bentuk pengadaan bahan, tukang dan sebagainya. Hasil musyawarah menjadi pedoman orang yang hendak mendirikan rumah, dan juga peserta musyawarah, dalam mendirikan rumah. Pengingkaran terhadap hasil musyawarah dianggap penghianatan terhadap masyarakat.

2) Mempersiapkan Tempat

Setelah mendapat masukan dari peserta musyawarah, khususnya yang berkaitan dengan tempat, orang yang hendak mendirikan rumah mendatangi pawang agar tanah yang di atasnya hendak didirikan rumah diteliti terlebih dahulu cocok tidaknya dengan calon penghuninya. Walaupun secara kategoris tanah yang hendak ditempati merupakan tanah dengan kategori baik, tetapi jika menurut pawang tanah tersebut tidak cocok, maka tempat tersebut tidak akan dipilih. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:

  1. Orang yang hendak membangun rumah (suami-istri) pergi ke tempat pawang. Kepada pawang mereka menyampaikan rencananya untuk membangun rumah.
  2. Setelah itu, suami istri yang hendak membangun rumah bersama pawang pergi ke tempat akan didirikan rumah.
  3. Setelah sampai ke tempat di mana hendak didirikan rumah, pawang menyerahkan tongkat berujung runcing sepanjang dua hasta kepada istri pemilik tanah. Diserahkan kepada pihak perempuan berdasarkan keyakinan bahwa perempuan mempunyai sifat yang halus.
  4. Kemudian si istri pemilik tanah memasukkan tongkat tersebut ke dalam tanah di tengah-tengah lokasi perumahan sampai tersisa segenggaman tangan.
  5. Kemudian tongkat itu digoyang perlahan-lahan dan kemudian dicabut.
  6. Setelah tercabut, pawang mengumpulkan tanah yang melekat pada tongkat tersebut dan menyimpannya.
  7. Kemudian pawang mengambil tanah bekas lobang tongkat dan dikepal menjadi satu kepalan.
  8. Tanah yang dikepal kemudian diserahkan kepada orang yang hendak mendirikan bangunan untuk dibawa tidur di rumahnya. Tetapi jika orang yang hendak membangun rumah menyatakan ragu dan tidak sanggup, maka pawanglah yang membawa pulang tanah tersebut.
  9. Jika orang yang hendak membangun rumah membawa pulang sendiri kepalan tanah bekas lubang tongkat tersebut, maka keesokan harinya ia harus melaporkan mimpinya kepada pawang. Mimpi orang yang hendak membangun rumah menjadi bahan analisa (tilikan) dengan membandingkan dengan melihat tanah yang melekat pada tongkat. Tetapi jika yang membawa pulang tanah sekepal tersebut adalah pawang, maka keesokan harinya orang yang hendak membangun rumah datang untuk menanyakan hasil tilikan pawang. Dari hasil tilikan pawang itulah dapat diketahui apakah tanah tersebut ada penunggunya apa tidak (biasanya disebut Jembalang Tanah), jahat apa tidak, kalau jahat dapat dibujuk apa tidak, dan lain sebagainya.
  10. Berdasarkan hasil tilikan pawang, kemudian orang yang hendak mendirikan rumah mengadakan upacara semahan atau disebut juga upacara menetau, mematikan tanah. Dalam upacara menetau ini, hewan yang dipotong biasanya ayam, kambing, atau kerbau.         

3) Pengumpulan Bahan

Bahan utama untuk membuat rumah Belah Bubung adalah kayu. kayu yang sering digunakan untuk membuat rumah Belah Bubung adalah: kayu Tembesu, Naling, Kulim, Punak, Kuras, Resak dan Medang. Di samping itu, ada beberapa kayu yang harus dihindari, yaitu: kayu yang dililit akar, kayu yang berlubang, kayu yang sedang berbunga, kayu yang batangnya berpilin, kayu tunggal, kayu bekas tebangan orang lain, dan kayu ketika ditebang tidak langsung jatuh ke tanah. Selain itu, harus diperhatikan bahwa pengerjaan membentuk kayu-kayu sesuai peruntukannya tidak boleh dilakukan ketika bulan terang (purnama). Agar lebih awet, setelah terkumpul semua kayu direndam antara 1 sampai 3 bulan.

b. Tahap Pembangunan

Pembangunan rumah Belah Bubung secara garis besar dapat dibagi ke dalam tiga tahap pembangunan, yaitu pembangunan bagian bawah, tengah, dan atas.

1) Bagian Bawah

Bagian bawah rumah Belah Bubung terdiri dari tiang, rasuk, bendul, gelegar, dan lantai. Adapun proses pembangunan bagian bawah rumah rakit adalah sebagai berikut:

  1. kayu-kayu yang sudah direndam di dalam air selama 1 sampai 3 bulan dikeringkan. Kemudian dipisah-pisahkan sesuai dengan peruntukannya. Misalnya untuk tiang, rasuk, dan sebagainya.
  2. Setelah semua kayu-kayu terkelompokkan sesuai dengan peruntukannya, kepala tukang memerintahkan kepada anak buahnya untuk mulai pembuatan bagian-bagian untuk rumah, misalnya untuk tiang dan sebagainya. Adakalanya kayu-kayu itu harus dibelah terlebih dahulu karena ukurannya besar, ditarah dengan kapak, ditarah dengan patil, dan kemudian diketam agar permukaan kayu menjadi halus. Bahan-bahan yang sudah diolah tersebut kemudian disimpan di tempat kering atau tempat yang tidak terkena hujan.
  3. Dilanjutkan dengan pemancangan tiang. Namun sebelumnya, orang yang hendak mendirikan rumah terlebih dahulu melaksanakan upacara Menegakkan Rumah. Pelaksanaan upacara ini biasanya diadakan pada Jumat pagi hari. Tujuan upacara ini adalah untuk memohon kepada Tuhan keselamatan orang yang hendak membangun rumah dan juga para tukangnya.

(Proses lebih lanjut pembangunan rumah Belah Bubung data-datanya sedang dikumpulkan).

2) Bagian Tengah

Pembangunan bagian tengah rumah ditandai dengan pemasangan balok-balok jenang, santo kusen, dan kasau. (proses pembuatan bagian tengah rumah Belah Bubung dalam proses pengumpulan data)

3) Bagian Atas

Pembangunan bagian atas rumah Belah Bubung ditandai dengan pemasangan Tutup Tiang, Alang, Tunjuk Langit (ander), Kuda-Kuda (skor), Kaki Kuda-Kuda (Kasau Jantan), Kasau Betina, Gulung-Gulung (Gording), Tulang Bubung, Atap Perabung, dan Loteng.

(proses pembuatan bagian tengah rumah Belah Bubung dalam proses pengumpulan data)

5. Bagian-Bagian Rumah Belah Bubung

Rumah Belah Bubung, umumnya terdiri dari tiga bagian yaitu: Selasar, Rumah Induk, dan Penanggah.

1) Selasar.

Selasar pada umumnya ada tiga macam, yaitu Selasar Luar, Selasar Jatuh, dan Selasar Dalam. Selasar yang berada di depan Rumah Induk disebut Selasar Luar. Jika lantai Selasar Luar lebih rendah dari Rumah Induk maka disebut Selasar Jatuh; dan jika Selasar menyatu dengan Rumah Induk disebut Selasar Dalam. Selasar merupakan tempat anak-anak bermain, meletakkan alat pertanian atau nelayan, dan tempat menerima tamu.

2) Rumah Induk.

Rumah Induk terbagai ke dalam tiga bagian, yaitu: ruangan muka, ruangan tengah, dan ruang dalam.

  • Ruangan muka. Ruangan ini menjadi tempat kaum ibu, serta tempat tidur keluarga perempuan dan anak-anak yang belum berumur 7 tahun.
  • Ruangan tengah. Ruangan ini menjadi tempat tidur anak laki-laki yang sudah berumur 7 tahun.
  • Ruang dalam. Tempat ini merupakan tempat tidur orang tua perempuan dan anak perempuan yang sudah dewasa.

3) Penanggah.

Yang dimaksud ruang penanggah adalah ruang Telo dan ruang dapur. Ruang Telo berfungsi menghubungkan Rumah Induk dengan dapur. Ruangan ini digunakan sebagai tempat menyimpan sebagian alat pertanian dan nelayan, serta tempat menyimpan cadangan air. Sedangkan dapur merupakan tempat melakukan aktivitas memasak, makan keluarga dan menyimpan peralatan memasak.    

6. Ragam Hias

Secara umum ada tiga macam hiasan yang digunakan, yaitu: flora, fauna dan alam.

1) Flora

Hiasan yang menstilisasi tumbuh-tumbunan banyak digunakan. Secara umum, penggunaan stilisasi tumbuh-tumbuhan dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok induk, yaitu: kelompok kaluk pakis, kelompok bunga-bungaan, dan kelompok pucuk rebung.

  • Kelompok kaluk pakis memiliki dua motif utama, yaitu motif daun-daunan dan motif akar-akaran. Hiasan berbentuk daun meliputi motif daun susun, daun tunggal dan daun bersanggit. Sedangkan hiasan berbentuk akar-akaran meliputi motif akar pakis, akar rotan, dan akar tunjang.
kaluk pakis
kelopak jambu air
kaluk pakis bertingkat
Kaluk Pakis
Kelopak Jambu Air
Kaluk Pakis Bertingkat
  • Kelompok bunga-bungaan meliputi stilisasi bunga Kundur, bunga Melati, bunga Manggis, bunga cengkeh, bunga Melur, bunga Cina, dan bunga Hutan.
bunga kondur
bunga cengkeh bersusun
bunga melati
Bunga Kondur
Bunga Cengkeh Bersusun
Bunga Melati
  • Kelompok Pucuk Rebung meliputi motif Pucuk Rebung dan Sulo Lalang.
pucuk rebung kuntum dua dewa
Pucuk Rebung Kuntum Dua Dewa

Adapun warna-warna yang sering digunakan sebagai pewarna motif tumbuh-tumbuhan adalah:

  • Warna Hijau digunakan untuk mewarnai motif daun.
  • Warna Putih, Kuning, Merah, atau cat emas digunakan untuk mewarnai motif bunga.
  • Warna Hijau dan Biru digunakan untuk mewarnai motif tangkai.

2) Fauna

Ukiran yang menggunakan bentuk hewan dalam rumah Belah Bubung sangat sedikit jumlahnya. Adapun hewan yang dipilih adalah hewan yang dianggap baik oleh masyarakat, misalnya semut beriring, itik sekawan, dan lebah bergantung. Namun demikian penggambaran detail dari hewan-hewan tersebut tidak jelas. Dinamakan motif semut beriring karena bentuknya dianggap seperti semut beriring; dinamakan itik sekawan karena bentuknya mirip itik berjalan bergerombol; dan dinamakan lebah bergantung karena bentuknya seperti lebah bergantung. Penggunaan warna ditentukan oleh selera orang yang punya rumah.

itik sekawan
Itik Sekawan

3) Alam

Motif alam yang sering digunakan adalah motif Bintang-Bintang dan Awan Larat. Warna yang digunakan untuk mewarnai ukiran Bintang-Bintang pada umumnya adalah warna Putih, Kuning dan Keemasan. Sedangkan warna yang digunakan untuk mewarnai Awan Larat adalah warna hijau, biru, merah, kuning, dan putih.

bintang berkuntum
bulan penuh bunga berhias
Bintang Berkuntum
Bulan Penuh Bunga Berhias

4) Kaligrafi atau Kalimah.

Motif kaligrafi atau kalimah merupakan ukiran yang berasal dari ayat-ayat al-Quran. Penggunaan ayat-ayat al-Quran merupakan bentuk ukiran yang merefleksikan kepercayaan atau agama masyarakat Kepulauan Riau, yaitu Islam. Warna yang digunakan untuk mewarnai ukiran kaligrap atau kalimah adalah warna Putih, Biru, Hijau, Kuning, Keemasan atau Perak.

5) Motif lain.

Hiasan lain yang biasanya digunakan diantaranya adalah: Selembayung yang diletakkan di puncak atap, Sayap Layang-Layang yang diletakkan pada ujung kaki cucuran, Pinang-Pinang atau Gasing-Gasing, Papan Tebuk; dan Balam Dua Selengek atau ukiran berbentuk burung Balam. Warna yang biasanya digunakan adalah: warna Putih sebagai tanda kesucian; warna Merah sebagai tanda persaudaraan dan keberanian; warna Kuning sebagai lambang kekuasaan; warna Biru sebagai tanda kekuasaan di laut; warna Hijau melambangkan kesuburan dan kemakmuran; warna Hitam melambangkan keperkasaan; dan warna Keemasan sebagai lambang kejayaan dan kekuasaan.        

7. Nilai-Nilai

Pendirian rumah Belah Bubung yang dilakukan secara cermat dan teliti merupakan expresi terhadap nilai-nilai yang berkembang di dalam masyarakat. Arsitektur rumah berbentuk panggung dengan menggunakan kayu sebagai bahan dasarnya merupakan bentuk adaptasi masyarakat kepulauan Riau terhadap kondisi lingkungannya.

Pemilihan tempat yang dilakukan secara cermat dan teliti dengan meminta bantuan pawang, pemilihan dan pengolahan bahan-bahan bangunan, penyerahan pembangunan rumah kepada ahlinya merupakan usaha mendirikan rumah sehingga benar-benar dapat menjadi tempat berlindung secara jasmani dan memberikan ketentraman secara rohani kepada penghuninya.

Musyawarah dengan keluarga dan masyarakat sekitarnya, dan bergotong royong dalam pembangunannya merupakan upaya untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan dan menanamkan rasa solidaritas antar sesama tanpa memandang status sosialnya. Dengan bekerjasama, permasalahan dapat diatasi dan harmoni sosial dapat terus dijaga. Keharusan berpegang teguh pada kesepakatan-kesepakatan yang dicapai dalam musyawarah harus dipegang teguh oleh semua peserta musyawarah tidak saja merupakan upaya untuk memupuk rasa tanggung jawab setiap individu dalam masyarakat tetapi juga merupakan ketundukan kepada etika bermasyarakat.

Tata ruang rumah dengan beragam jenis fungsinya merupakan simbol agar semua orang taat pada aturan. Adanya bagian ruang yang berfungsi sebagai ruang-ruang privat, seperti ruang-ruang pada rumah Induk, dan ruang publik, seperti selasar dan penanggah, merupakan usaha untuk menanamkan dan menjaga nilai kesopanan, etika bermasyarakat.

Penggunaan ragam hias berkaitan dengan beragam warnanya tidak saja mengandung nilai estetika (keindahan) tetapi juga nilai etis, moral, sosial dan religius. Ukiran Daun Bersusun melambangkan kasih sayang, ukiran Daun Bersanggit melambangkan kehidupan bermasyarakat, ukiran Akar Pakis melambangkan keyakinan bahwa semuanya akan kembali pada yang Satu, ukiran Akar Rotan melambangkan kehidupan yang harus terus berkembang, dan ukiran Akar Tunjang melambangkan tempat berpijak. Ukiran berbentuk fauna melambangkan hidup bergotong royong, ketertiban umum dan sebagainya. penggunaan ukiran dari ayat-ayat al-Quran tidak saja untuk hiasan tetapi juga sebagai azimat, yaitu agar terhindar dari gangguan mahkluk halus dan sebagainya.

Pelaksanaan upacara baik ketika hendak mendirikan rumah, sedang mendirikan dan setelah mendirikan rumah bukan untuk memamerkan kekayaan tetapi merupakan ungkapan saling menghormati sesama makhluk Tuhan, dan juga sebagai bentuk ungkapan syukur atas rizqi yang telah diberikan oleh Tuhan.

Dengan mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam rumah Belah Bubung, maka kita akan mampu memahami dan menghargai beragam khazanah yang terkandung didalamnya. Bisa saja, karena perubahan zaman, arsitektur rumah Belah Bubung berubah, tetapi dengan memahami dan memberikan pemaknaan baru terhadap simbol-simbol yang digunakan, maka nilai-nilai yang hendak disampaikan oleh para pendahulu dapat terjaga dan tetap sesuai dengan zamannya. (AS/bdy/15/11-07).

Referensi:

  • Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1983/1984, Arsitektur Tradisional Daerah Riau, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
  • Djonie Soegeng, 2003, Arsitektur Melayu Modern: Penggalian Jiwa dan Transformasi Budaya, Pekan Baru, Unri Press.
  • Mahyudin Al Mudra, 2004, Rumah Melayu; Memangku Adat Menjemput Zaman, Yogyakarta, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Penerbit AdiCita.
  • Tenas Effendy, dkk. 2004. Corak Ragi; Tenun Melayu Riau. Yogyakarta, Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerjasama dengan Penerbit AdiCita.
  • Arsitektur Tradisional Riau {2}, dalam http://www.properti.net/berita/?q=3491, diakses tanggal 7 November 2007.
  • Profil Anjungan Riau, dalam http://www.tamanmini.com/anjungan/riau/profil, diakses tanggal 7 November 2007
  • http://www.astudio.id.or.id/artkhus52minangkabau_malaka.htm, diakses tanggal 7 November 2007
Dibaca : 18.848 kali.