Senin, 22 Desember 2014   |   Tsulasa', 29 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.891
Hari ini : 17.448
Kemarin : 18.132
Minggu kemarin : 120.139
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.481.118
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Kematian Pada Masyarakat Jambi (Provinsi Jambi)

1. Asal Usul

Jambi adalah salah satu provinsi di Sumatera, Indonesia. Masyarakatnya, sebagaimana masyarakat lainnya di Indonesia, mempercayai bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya (lihat Koentjaraningrat, 1972 dan Keesing, 1992). Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke kehidupan selanjutnya (dari manusia masih berupa janin hingga meninggal dunia). Oleh karena masa-masa tersebut dianggap sebagai masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya, maka diperlukan adanya suatu usaha untuk menetralkannya, sehingga masa-masa tersebut dapat dilalui dengan selamat. Dan, usaha itu adalah membuat upacara-upacara yang kemudian dikenal sebagai upacara di lingkaran hidup individu yang meliputi: kehamilan, kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian. Tulisan ini terfokus pada upacara kematian pada masyarakat Jambi.

2. Tata Laksana

Rangkain proses upacara kematian pada masyarakkat Jambi meliputi tahap-tahap: pembacaan Bardah dan Surat Yasin, pemberitahuan tentang kematian, pemandian, penyembahyangan, pemakaman, dan pentahlillan. Untuk lebih jelasnya, tahap-tahap itu adalah sebagai berikut:

a. Tahap Pembacaan Bardah dan Surat Yasin

Ketika seseorang dalam keadaan sekarat (akan meninggal dunia), maka agar orang tersebut semakin teguh imannya perlu dibacakan Bardah dan Surat Yasin, karena pembacaan tersebut diyakini dapat mempengaruhi sikapnya, sehingga ia akan tenang menghadapi ajalnya dan meninggal dengan tenang pula. Pembacaan bardah dan Surat Yasin tersebut dilakukan secara bersama-sama oleh para kerabat dan tetangga terdekat yang hadir dipimpin oleh seorang pemuka agama.

b. Tahap Pemberitahuan tentang Kematian

Jika orang yang sekarat tersebut meninggal, maka pihak keluarganya akan memberitahukan kepada tua tenganai (ketua kaum kerabatnya) dan imam masjid. Sementara, kaum perempuan, baik tetangga maupun kaum kerabat, biasanya akan mengumpulkan semacam sumbangan yang berupa beras secupak (sepenuh wadah yang terbuat dari tempurung kelapa yang dibelah menjadi dua). Selain itu, ada pula yang membawa kelapa tua dan barang-barang lain yang diperlukan untuk membuat makanan dan atau minuman. Sedangkan, para lelakinya, disamping membantu dalam persiapan penguburan, juga mempersiapkan kayu-kayu yang diperlukan untuk memasak makanan dan minuman.

c. Tahap Pemandian  

Setelah orang-orang yang melayat sudah berdatangan, dan tidak ada lagi kerabat yang ditunggu kedatangannya, maka mayat pun dimandikan oleh ahlinya dan ahli waris berserta Imam masjid. Tugas mereka tidak hanya terbatas pada memandikan mayat, tetapi juga membungkusnya dengan kain kafan.

d. Tahap Menyembahyangkan Mayat

Mayat yang telah terbungkus dalam kain kafan itu kemudian dimasukkan dalam usungan yang terbuat dari papan, lalu ditutupi dengan kain khusus yang berwarna hitam dan bertulis ayat-ayat suci Al Quran. Sebagai catatan, sebelum mayat dibawa ke masjid untuk disembahyangkan, salah seorang ahli waris mengucapkan beberapa kata (semacam sambutan) kepada para hadirin (pelayat). Pada kesempatan itu ahli waris menceriterakan bagaimana almarhum meninggal, riwayat hidupnya, dan benda-benda (harta waris) yang ditinggalkan. Selain itu, jika almarhum mempunyai hutang, maka yang bersangkutan (si pemberi hutang) dapat menyelesaikannya kepada ahli waris. Pada kesempatan itu, ahli waris juga memohon kepada hadirin agar memaafkan almarhum jika semasa hidupnya membuat kesalahan, baik disengaja maupun tidak.

e. Tahap Pemakaman (Penguburan)

Setelah mayat disembahyangkan, maka tahap berikutnya adalah penguburan atau pemakaman. Pada saat mengusung jenazah dari masjid atau surau ke tempat pemakaman, diutamakan, dilakukan oleh ahli waris dan atau kerabat dekat almarhum. Demikian juga yang memayunginya dan menyambut serta memasukan jenazah ke liang kubur. Selanjutnya, setelah jenazah dimasukkan ke liang kubur dan ditimbun dengan tanah serta diberi batu nisan, maka pembacaan doa pun dilakukan oleh Imam masjid.

f. Tahap Pengajian dan Pentahlillan

Walaupun penguburan jenazah telah dilakukan, bukan berarti proses upacara kematian pada masyarakat Jambi telah berakhir. Akan tetapi, masih ada satu tahap lagi, yaitu tahap pengajian dan pentahlilan. Tahap ini dilakukan pada malam harinya yang berupa pengajian (pembacaan ayat-ayat suci Al Quran) yang dilanjutkan dengan tahlilan. Kegiatan ini dilakukan ada yang hanya sampai hari ketiga (3 malam) dan ada yang selama 7 hari penuh (7 malam). Namun demikian, sebagai catatan, baik yang hanya melakukan 3 hari maupun yang 7 hari penuh, pada hari yang ke-3 atau ke-7, siangnya mereka sama-sama memperbaiki tanah kuburan. Kegiatan ini oleh masyarakat setempat disebut sebagai “naik tanah”. Kemudian, pada malam harinya mereka mengadakan makan bersama (kendurian). 

3. Nilai Budaya

Upacara kematian adalah salah satu upacara di lingkaran hidup individu. Upacara kematian yang dilakukan oleh masyarakat Jambi, jika dicermati secara mendalam, maka di dalamnya mengandung nilai-nilai yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan bersama dan bekal kehidupan di kemudian hari. Nilai-nilai itu antara lain kegotong-royongan, kemanusiaan, dan religius.

Nilai kegotong-royongan dan kemanusiaan tercermin dalam perilaku warga masyarakat di sekitar keluarga yang sedang berkabung. Dalam hal ini, tanpa diminta, setiap keluarga datang untuk menyampaikan bela sungkawa dan membantu dengan mengirim salah seorang anggotanya (perempuan) ke rumah keluarga yang sedang berkabung sambil membawa sejumlah beras. Sementara itu, para lelakinya, disamping membantu dalam persiapan penguburan, juga mempersiapkan kayu-kayu yang diperlukan untuk masak-memasak dalam rangka selamatan (kendurian). Dan, nilai religius tercermin dalam doa-doa yang dipanjatkan oleh orang-orang yang menghadiri doa bersama sewaktu si sakit sedang sekarat, maupun saat upacara kematiannya. Doa-doa tersebut dibacakan dengan tujuan agar si mayit dapat pergi dengan tenang ke alam baka. (AG/bdy/73/12-07)

Sumber:

  • Keesing, Roger. 1992. Antropologi Budaya Edisi ke dua. Jakarta: Erlangga.
  • Koentjaraningrat. 1985. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta: Dian Rakyat.
  • Proyek penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Adat-Istiadat Daerah Jambi. 1978. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Dibaca : 12.383 kali.