Jumat, 18 April 2014   |   Sabtu, 17 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 380
Hari ini : 470
Kemarin : 23.836
Minggu kemarin : 148.067
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.606.002
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pantun Jenaka

Salah satu aspek yang bisa diselipkan dalam sebuah pantun adalah kelakar atau humor yang segar. Pantun yang berisi humor itu disebut juga dengan pantun humor, pantun kelakar, pantun senda-gurau, pantun sindir-menyindir, olok-olok atau pantun jenaka. Pantun jenaka bertujuan untuk menghibur orang yang mendengarnya, ataupun terkadang sebagai media untuk saling menyindir dalam suasana yang penuh keakraban, sehingga tidak menimbulkan ketersinggungan. Dengan pantun ini, diharapkan suasana menjadi semakin riang.

Dalam menyampaikan humor tersebut, adat Melayu telah memberi batasan agar tidak melampaui batas yang dibenarkan oleh norma adat dan agama. Untuk itu, ada ungkapan yang mengatakan: banyak tertawa banyak dukanya; banyak gelak banyak balaknya; banyak gurau banyak risau; pantang berseloroh di depan orang; pantang bergurau tak menentu, dan banyak ungkapan lainnya. Berdasarkan ungkapan-ungkapan di atas, orang Melayu selalu berhati-hati dalam berkelakar dengan selalu memperhatikan lingkungan, lawan kelakar serta isi kelakar yang disampaikan.

Menurut Tenas Effendy, kemunculan pantun kelakar ini bisa dirunut dari tradisi orang Melayu yang sering melakukan berbagai upacara ataupun pertunjukan kesenian, di antaranya upacara mengemping, besolang, betobo, menarik jalur, pertunjukan nyanyi panjang dan sebagainya. Dalam upacara atau pertunjukan ini, seringkali diisi dengan acara berbalas pantun. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh warga masyarakat untuk mengungkapkan isi hati secara bebas tanpa khawatir melanggar pantang larang. Melalui upacara dan pertunjukan ini, pantun jenaka terus berkembang di masyarakat. Walaupun pantun tersebut berisi senda gurau, tapi tetap memiliki kandungan nilai dan tunjuk ajar. Terkadang, pantun jenaka tersebut tak lebih dari tunjuk ajar yang disampaikan secara halus, sesuai dengan ungkapan: di dalam kelakar ada pengajarannya, di dalam tertawa ada maknanya. Demikianlah, pantun jenaka yang berkembang di tengah kehidupan  masyarakat Melayu ternyata tak lepas dari unsur pengajaran nilai adat-resam dan agama. Sedangkan dalam Pantun Jenaka di bagi ke dalam dua hal, yakni pantun sindir-menyindir dan pantun mengolok-olok badan.seperti berikut:

  1. Pantun Sindir-Menyindir.
  2. Pantun Mengolok-olok Badan.
  3. Pantun Kepandiran dan Kegagapan Diri.
  4. Pantun Kelakar Terhadap Isteri.
  5. Pantun Kelakar Terhadap Suami.
  6. Pantun Kelakar Terhadap Mertua.
  7. Pantun Kelakar Terhadap Janda.
Dibaca : 150.865 kali.