Senin, 20 Oktober 2014   |   Tsulasa', 25 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.924
Hari ini : 14.623
Kemarin : 22.025
Minggu kemarin : 174.811
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.247.949
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Aruh Ganal (Ungkapan Syukur Masyarakat Dayak)

a:3:{s:3:
1. Asal-Usul

Bahuma atau berladang bagi masyarakat Dayak di Kalimantan tidak semata-mata merupakan aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga aktivitas religius untuk berhubungan dengan Sang Maha Pemberi Rizqi. Ada juga yang menyebutkan bahwa aktivitas bertani yang dijalankan oleh masyarakat Dayak merupakan bagian dari religi huma. Puncak dari tradisi ritual bahuma adalah Aruh Ganal (kenduri besar), yaitu pesta yang diadakan setelah panen raya sebagai ungkapan syukur atas rizqi yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Selain itu, Aruh Ganal juga sebagai permohonan agar hasil pada musim tanam berikutnya semakin melimpah dan dijauhkan dari hama perusak tanaman.

Disebut Aruh Ganal  karena upacara ini dirayakan secara besar-besaran selama lima, tujuh, dan atau 12 hari oleh seluRohwarga kampung; dengan mengundang warga dari kampung-kampung lainnya. Bahkan, terkadang juga mengundang aparat pemerintahan. Kemeriahan Aruh Ganal, sepenuhnya tergantung kepada banyak-sedikitnya hasil bahuma masyarakat. Apabila hasil panen banyak dan bagus maka akan diadakanlah upacara Aruh Ganal secara meriah, sebaliknya jika panen kurang berhasil maka cukup diadakan AruhKecil atau bahkan tidak diadakan sama sekali.

Aruh Ganal disebut juga bawanang banih halin atau upacara mahanyari banih barat, yaitu upacara yang dilaksanakan karena mendapat hasil panen padi yang banyak dan selama bahuma tidak mendapat musibah. Padi yang diikutkan dalam upacara ini adalah padi yang terakhir kali dipanen atau disebut juga hasil panen yang kedua. Beras dari hasil panen tersebut belum boleh dimakan sebelum diupacarai. Dengan kata lain, masyarakat Dayak baru akan menikmati hasil dari bahuma setelah mereka mengucapkan syukur kepada Sang Maha Pemberi Rizqi.

Oleh karena Aruh Ganal merupakan upacara sakral dan bernuansa magis, maka pelaksanaan upacara Aruh Ganal dipimpin oleh Balian. Balian adalah tokoh (pimpinan) adat yang mempunyai pengetahuan luas mengenai seluk beluk adat dan tradisi masyarakat Dayak. Pengetahuan ini diperoleh dengan cara berguru kepada Balian Tuha (Dukun Tua) dan melakukan Balampah (semacam semedi untuk membangun persahabatan dengan berbagai jenis roh halus sehingga memperoleh kesaktian tertentu).

Balian yang terlibat dalam upacara Aruh Ganal terdiri dari beberapa orang dan dipimpin oleh Pangulu Adat (Penghulu Adat). Dalam menjalankan tugasnya, setiap Balian selalu didampingi oleh Panjulang. Panjulang adalah wanita yang selalu memperhatikan pembicaraan Balian, dan pada saat bersamaan dapat mengajukan permohonan atas kehendak masyarakat. Segala permintaan Balian dilayani oleh Panjulang.

2. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Aruh Ganal diadakan setahun sekali di dalam Balai Adat. Pelaksanaannya dilakukan sesudah panen, biasanya jatuh pada bulan Juli dan Agustus. Namun jika dalam musyawarah adat dianggap bahwa hasil panen penduduk kurang memuaskan (sedikit), maka Aruh Ganal tidak dilaksanakan pada tahun itu. Lama pelaksanaan Aruh Ganal bervariasi antara lima sampai 12 hari, tergantung pada banyak tidaknya hasil panen masyarakat.

 
Di Balai Adat ini, upacara Aruh Ganal di selenggarakan. 

Penetapkan hari dan tanggal penyelenggaraan Aruh Ganal dilakukan pada musyawarah adat yang dipimpin oleh Kepala Adat dibantu oleh Kepala Kampung. Aruh Ganal selalu dilaksanakan pada tanggal muda, berkisar antara tanggal 1 sampai 15. Pemilihan tanggal tersebut berhubungan dengan keyakinan bahwa jika upacara diadakan pada tanggal muda, maka rejeki (hasil panen) pada masa mendatang (hasil panen berikutnya) akan semakin melimpah.

3. Bahan-Bahan dan Peralatan

Untuk melaksanakan upacara Aruh Ganal, ada beberapa peralatan yang harus dipersiapkan, di antaranya adalah:

  • Langgatan. Langgatan merupakan induk ancak dan sesaji. Untuk menghias langgatan dilakukan pada keesokan harinya setelah malam pembukaan. Langgatan dibuat bersusun lima tingkat, ancak yang terbesar terletak di bawah, makin ke atas makin kecil. Langgatan ini namanya bermacam-macam sesuai dengan isi dan tujuannya. Ada yang bernama Ancak ka Gunung (tidak bertingkat), Ancak Balai Raden (berbentuk perahu).
  • Tali rotan, digunakan untuk mengikat keempat sudut langgatan dan menggantungnya di tengah Balai Adat.
  • Kelangkung, dibuat sebanyak tiga buah. Yang pertama disebut Kelangkung Mantit (nama nenek moyang burung), Kelangkung Nyaru (Dewa Petir), Kelangkung Uria (dewa yang memelihara segala mangsa dan bala yang merusak tanaman)

4. Tata Laksana

Aruh Ganal merupakan hari yang sangat istimewa bagi masyarakat Dayak. Oleh karenanya, pelaksanaan upacara ini benar-benar dipersiapkan secara cermat, mulai dari penyiapan peralatan pendukung upacara sampai kapan upacara ini akan dilaksanakan. Pada hari pelaksanaan Aruh Ganal, masyarakat Dayak yang melaksanakannya libur bekerja, memakai pakaian baru, memakan makanan enak, dan lain sebagainya yang bisa menunjukkan kebahagiaan. Adapun prosesi pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

a. Persiapan Upacara

Persiapan untuk mengadakan upacara Aruh Ganal terdiri dari musyawarah adat dan pembuatan peralatan pendukung upacara. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut: 

  • Setelah masa panen selesai, warga kampung mengadakan musyawarah adat yang dipimpin oleh ketua adat utama (Pangulu Adat). Musyawarah adat ini membicarakan hasil panen dan kemungkinan mengadakan Aruh Ganal. Jika dalam musyawarah tersebut diketahui bahwa panen tahun ini banyak, maka Aruh Ganal diadakan tetapi jika tidak, maka Aruh Ganal tidak diadakan.
 
Para anggota Balai Adat
sedang mempersiapkan
keperluan upacara Aruh Ganal
  • Jika musyawarah adat memutuskan bahwa Aruh Ganal akan diadakan, maka kemudian ditentukan juga kapan waktu pelaksanaannya, dan siapa saja yang akan diundang. Sedangkan tempatnya, secara otomatis, di Balai Adat masyarakat Dayak.
  • Sehari menjelang upacara Aruh Ganal dilakasanakan, para warga kampung sangat sibuk mempersiapkan segala keperluan yang bisa mendukung kelancararan dan tercapainya tujuan upacara. Hari persiapan ini disebut hari batarah,  yaitu hari memulai pekerjaan, mempersiapkan segala sesuatu, membuat perlengkapan upacara, dan menyiapkan sesaji. Semua persiapan harus selesai dalam satu hari.
 
Detik-detik menjelang pelaksanaan upacara Aruh Ganal

b. Pelaksanaan Upacara

Setelah semua persiapan selesai, maka upacara Aruh Ganal segera dimulai. Upacara yang biasanya diadakan selama 5, 7 atau 12 hari ini dibuka dengan berbagai prosesi yang didominasi dengan pembacaan mantra-mantra (bamamang) sambil menari-nari (batandik) mengelilingi pusat Balai Adat. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:

 
Balian dan masyarakat umum duduk mengelilingi  altar upacara
  • Sekitar pukul pukul 21.00 WITA, upacara Aruh Ganal dimulai. Damang (sebutan bagi pemimpin balai adat) dan masyarakat kampung duduk mengelilingi altar yang dibikin sedemikian rupa sambil membacakan mantra-mantra untuk memanggil para roh nenek moyang mereka (bamamang).
  • Setelah usai acara pemanggilan roh-roh tersebut, acara diteruskan dengan hiburan khas masyarakat Dayak Meratus, yaitu acara babangsai, basarunai, dan barbarian. SeluRohpenduduk, baik tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan melakukan gerakan tari-tarian khas mereka. Musik monoton dari kendang kulit kijang yang ditabuh empat perempuan di empat penjuru mengalir sepanjang malam. Hanya ada dua jenis nada yang diperdengarkan untuk mengiringi batandik (menari) ditingkahi dengan suara gelang hiang yang dipegang masing-masing kepala suku. Kegiatan ini berlangsung hingga pagi hari, yaitu sekitar pukul 08.00 waktu setempat. Khusus untuk para Balian, biasanya mengadakan upacara sampai jam 16.00 tanpa istirahat.
  • Demikianlah, acara batandik dilaksanakan sampai lima, tujuh, atau bahkan 12 hari tanpa henti. Para kepala suku, denganmemegangi gelang hiang dan untaian bunga dengan janur kuning yang disebut ringgitan, menari mengelilingi tempat upacara sambil melafalkan mantra-mantra. Mantra-mantra itu hanya bisa dimengerti oleh mereka sendiri. Batandik merupakan ritual puncak dalam upacara adat Aruh Ganal. Sebelum batandik sebenarnya masih ada ritual lain, yaitu bamamang (berdoa membaca mantra-mantra), bakanjar (anak-anak muda menari-nari menyerupai burung elang terbang), dan bakapur (berkapur dengan minyak kelapa dan kapur sirih).
  • Kemudian acara disempurnakan dengan menyumbangkan sebagian beras (semacam zakat) kepada warga balai lain.
  • Berakhirnya penyerahan sebagian beras, menjadi penanda bahwa kegiatan upacara Aruh Ganal telah selesai.
  • Lima, tujuh atau dua belas hari (tergantung pada lamanya pelaksanaan Aruh) setelah upacara pembukaan, orang luar dilarang datang ke Balai Adat kecuali orang luar itu sudah ikut bermalam sebelumnya.

Prosesi ritual upacara Aruh Ganal secara lebih terperinci sedang dalam proses pengumpulan data.

5. Doa atau Mantera

Dalam proses pengumpulan data

6. Nilai-Nilai

Pelaksanaan upacara Aruh Ganal merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai kayakinan, sosial, dan politik masyarakat Dayak. Pertama, nilai keyakinan. Pelaksanaan Aruh Ganal merupakan bagian dari rangkaian proses bahuma (berladang) yang bersifat sakral. Hasil dari bahuma tidak semata-mata ditentukan oleh bagaimana bercocok tanam, tetapi juga karena pemberian Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka yakin bahwa dengan melakukan syukuran, maka panen mereka pada musim depan akan semakin melimpah, dan bebas dari hama. Selain itu, nilai keyakinan juga dapat dilihat pada pembacaan mantra-mantra untuk memanggil para roh nenek moyang. Pemangggilan roh nenek moyang merupakan usaha agar para roh tersebut melindungi mereka.

Kedua, nilai sosial. Upacara Aruh Ganal merupakan ajang untuk untuk memperkuat solidaritas antar warga kampung (balai) dan juga dengan warga/komunitas Dayak dari kampung lainnya. Masyarakat Dayak dari kampung-kampung lain ikut menyaksikan pelaksanaan Aruh Ganal, sehingga dengan sendirinya akan timbul solidaritas di antara mereka. Nilai sosial juga dapat dilihat dari pemberian sebagian hasil panen mereka kepada orang-orang dari kampung lain.

Ketiga, nilai politik. Selain mempunyai nilai keyakinan dan sosial, Aruh Ganal juga mempunyai nilai politik. Kedatangan orang luar dalam upacara Aruh Ganal merupakan kehormatan sekaligus pengakuan bahwa mereka "ada". Mereka juga merupakan warga negara yang mempunyai hak-hak, yang juga melaksanakan kewajiban sebagaimana warga negara lainnya, tetapi mereka berada pada posisi terpinggirkan. Melalui Aruh Ganal, mereka mempertahankan identitas dan sekaligus menampilkan dirinya kepada masyarakat luas. 

(AS/Bdy/28/03-08)

Daftar Pustaka

  • Anak Sultan,  Upacara Aruh Ganal, dalam http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/04/24/upacara-aruh-ganal/
  • Amir Sodikin, ”Aruh Ganal, Pesta Adat Terbesar Kalimantan Selatan yang Terlupakan” dalam Kompas, Selasa, 07 Oktober 2003.
  • Warga Dayak Meratus Gelar Aruh Ganal, dalam Radar Banjarmasin, 4 Juli 2006.
  • Menikmati Aruh Ganal Loksado, dalam http://www.indomedia.com/bpost/092006/24/ragam/ragam14.htm
  • Kemandirian Dayak Meratus, dalam http://www.ychi.org/index.php?option=com_content&task=view&id=71&Itemid=1
  • Abdurrahim, Kearifan Tadisional Masyarakat Adat Dayak Loksado Dalam PSDA, dalam http://www.ychi.org/index.php?option=com_content&task=
Dibaca : 11.844 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password