Jumat, 22 Agustus 2014   |   Sabtu, 25 Syawal 1435 H
Pengunjung Online : 1.509
Hari ini : 10.462
Kemarin : 21.250
Minggu kemarin : 137.461
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.040.338
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Baayun Mulud: Upacara Memperingati Kelahiran Nabi Muhammad SAW di Kalimantan Selatan


Seorang anak diletakkan dalam ayunan

1. Asal-Usul

Bulan Rabiul Awwal merupakan salah satu bulan bersejarah dalam kalender Islam. Pada bulan ini, tepatnya tanggal 12 Rabiul Awwal nabi Muhammad SAW, lahir ke muka bumi. Oleh karena itu, bulan Rabiul Awwal oleh sebagain umat Islam disebut juga dengan nama bulan maulud atau bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kelahiran Nabi Muhammad merupakan salah satu nikmat terbesar bagi umat Islam. Bekait dengan hal tersebut, pada bulan ini, tepatnya setiap tanggal 12 Rabiul Awwal, ada sebagian umat Islam yang menyelenggarakan kegiatan-kegiatan khusus untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, seperti upacara Baayun Mulud yang diadakan oleh masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan.

Baayun Mulud terdiri dari dua kata, yaitu baayun dan mulud. Kata Baayun berarti melakukan aktivitas ayunan/buaian. Aktivitas mengayun bayi biasanya dilakukan oleh seseorang untuk menidurkan anaknya. Dengan diayun-ayun, seorang bayi akan merasa nyaman sehingga ia akan dapat tidur dengan lelap. Sedangkan kata mulud (dari bahasa Arab maulud) merupakan ungkapan masyarakat Arab untuk peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, kata Baayun Mulud mempunyai arti sebuah kegiatan mengayun anak (bayi) sebagai ungkapan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sang pembawa rahmat bagi sekalian alam. Oleh karena yang diayun dalam upacara tersebut adalah anak kecil, maka upacara ini juga disebut upacara Baayun Anak. 

Selain sebagai ungkapan syukur, pelaksanaan upacara ini juga untuk mengambil berkah atas kemuliaan Nabi Muhammad SAW. Harapannya, anak yang diayun mempunyai kepribadian sebagaimana Nabi Muhammad SAW, dan menjadi muslim yang taat dan bertakwa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Upacara Baayun Mulud tidak saja diikuti oleh masyarakat yang berada dalam satu wilayah (baca: kampong), tetapi juga dari daerah lain. Bahkan dalam perkembangnnya, upacara Baayun Mulud tidak hanya untuk anak kecil tetapi juga orang-orang lanjut  usia yang diwaktu kecilnya belum sempat diayun (baca: mengikuti upacara ini).

Sejak beberapa tahun yang lalu, pemerintah Kalimantan Selatan mengemas upacara Baayun Mulud sebagai salah satu atraksi wisata daerah. Dengan menjadikan upacara ini sebagai aset wisata budaya, maka upacara Baayun Mulud akan terus lestari dan akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan ekonomi masyarakat. Tetapi juga harus disadari bahwa menjadikannya sebagai paket wisata, jika tidak dilakukan secara hati-hati, dapat mereduksi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, sehingga pelaksanaan upacara Baayun Mulud menjadi sekedar pentas sani (entertainment).

2. Peralatan dan Bahan-Bahan Upacara

Sebagaimana kegiatan upacara lainnya, upacara Baayun Mulud membutuhkan peralatan pendukung dan bahan-bahan yang menjadi prasyarat sahnya upacara. Adapun peralatan dan bahan-bahan yang dibutuhkan di antaranya adalah:

  • Piduduk. yaitu sebuah sasanggan yang berisi beras kurang lebih tiga setengah liter, sebiji gula merah, satu buah kelapa, satu telur ayam, benang, jarum, sebongkah garam, dan uang perak. Piduduk ini digunakan sebagai suguhan setelah upacara selesai dilaksanakan.
  • Ayunan. Ayunan untuk upacara Baayun Mulud biasanya dibuat di tengah ruangan masjid, yaitu membentang di antara tiang-tiang masjid. Ayunan yang dibuat terdiri dari tiga lapis, yaitu: atas, tengah dan bawah. Lapisan paling atas dibuat dengan menggunakan kain sarigading (sasirangan), lapisan tengah menggunakan kain kuning (kain belacu yang diberi warna kuning dari sari kunyit), dan lapisan paling bawah memakai kain bahalai (kain panjang tanpa sambungan jahitan).

Ayunan yang telah siap untuk digunakan dalam upacara Baayun Mulud
  • Hiasan tali ayunan. Adapun hiasan yang digunakan untuk menghias tali ayunan dibuat dari:
  1. Janur. Hiasan dari janur biasanya berbentuk burung-burungan, ular-ularan, katupat bangsur, halilipan, kambang sarai, rantai, dan hiasan-hiasan lainnya.
  2. Buah-buahan. Buah-buahan yang digunakan sebagai hiasan di antaranya adalah: pisang dan kelapa.
  3. Kue tradisional suku Banjar. Makanan khas ini terdiri dari 41 jenis, di antaranya adalah: wajik, apam, kikicak, kalelapon, sarimuka, bingka, lamang, keraraban, wadai balapis, bingka barandam, cucur, katupat balamak, gaguduh, pais, gayam, bubur habang, bubur putih, onde-onde, jalabia atau cakodok, agar-agar, cangkarok, amparan tatak, dadar gulung, puteri salat, hintalu karuang, patah dan lain sebagainya.

Penganan khas Banjar

3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Sebagai upacara yang dilaksanakan untuk mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka upacara ini dilaksakan setiap tanggal 12 Rabiul Awwal. Namun ada juga yang melaksanakannya, tidak tepat pada tanggal 12 Rabiul Awwal, tetapi masih pada bulan Rabiul Awwal. Upacara ini biasanya dilaksanakan di dalam masjid, khususnya masjid-masjid yang mempunyai nilai histories dan dianggap keramat. Dalam perkembangannya, khususnya ketika upacara ini dikemas menjadi paket wisata, upacara ini juga dilaksanakan di Museum Lambung Mangkurat.


Masjid Al-Mukarramah di Desa Banua Halat, merupakan
salah satu tempat dilaksanakannya upacara Baayun Mulud

4. Tata Laksana

a. Tahap persiapan

Persiapan untuk melaksanakan upacara Baayun Mulud secara umum dilakukan sampai sesaat menjelang upacara dilaksanakan. Adapun persiapan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan dan mempersiapkan tempat pelaksanaan upacara. Penentuan tempat upacara menjadi sangat urgen apabila upacara Baayun Mulud yang hendak diselenggarakan diperkirakan atau direncanakan diikuti oleh banyak peserta, seperti pada tahun 2007 yang diikuti oleh 1800 peserta. Tempat pelaksanaan upacara biasanya diselenggarakan di masjid-masjid yang mempunyai nilai-nilai historis dan dianggap keramat. Setelah ditentukan tempatnya, kemudian disosialisasikan kepada segenap lapisan masyarakat.
  • Setelah itu menghubungi kelompok-kelompok pembaca syair-syair pujian. 
  • Sehari sebelum pelaksanaan upacara, para orang tua yang hendak mengayun anaknya (baca: mengikuti upacara Baayun Mulud) atau keluarga yang hendak mengayun orangtuanya menyerahkan piduduk kepada tokoh agama.
  • Setelah itu, dilanjutkan dengan membuat ayunan. Membuat ayunan bisa dilakukan sehari sebelum pelaksanaan upacara, ataupun pada saat menjelang pelaksanaan upacara. Namun ada juga yang mempersiapkan ayunan di rumahnya masing-masing.  

Para peserta sedang sibuk menghias ayunan
  • Kemudian, tali pengikat ayunan dihias dengan beraneka ragam hiasan seperti janur yang telah dibuat beraneka ragam bentuk, buah-buahan, dan kue-kue. Biasanya, kegiatan menghias ayunan dilakukan pada pagi hari menjelang pelaksanaan upacara.
  • Pada malam hari menjelang pelaksanaan upacara Baayun Mulud, para ibu sibuk menyiapkan kelengkapan upacara, seperti kue dan makanan lainnya.

Mempersiapkan suguhan acara Baayun Mulud
  • Setelah semua kebutuhan upacara dipersiapan, upacara Baayun Mulud segara dimulai. 

b. Tahap pelaksanaan

Pelaksanaan upacara Baayun Mulud ditandai oleh dua kegiatan penting, yaitu: pembacaan syair-syair Arab yang berisi puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan kegiatan mengayun anak. Adapun proses pelaksanaannya adalah sebagai berikut: 

  • Pada hari pelaksanaan upacara, para peserta akan mendatangi tempat pelaksanaan upacara. Bagi yang berasal dari luar daerah biasanya datang menggunakan angkutan umum. Ada juga yang datang ke lokasi acara sehari sebelum hari pelaksanaan. Biasanya mereka tidur di rumah-rumah penduduk yang ada di sekitar masjid. 

Para peserta upacara Baayun Mulud
sedang menuju lokasi upacara
  • Peserta yang datang, biasanya langsung mencicipi penganan khas Banjar yang telah disediakan.  Setelah mencicipi hidangan tersebut, para peserta berkumpul di dalam masjid.
  • Sekitar jam 10.00 pagi, acara segara dilaksanakan dengan dipimpin oleh tokoh agama. Pemimpin upacara menjelaskan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan upacara Baayun Mulud.

Salah seorang peserta bersiap-siap
untuk mengayun anaknya
  • Kemudian pemimpin upacara mempersilahkan yang bertugas membacakan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
  • Ketika para pembaca syair-syair sedang bersiap-siap, para orang tua meletakkan putra-putri mereka di dalam ayunan.
  • Ketika syair-syair tersebut dibacakan, para orang tua segera mengayun putra-putri mereka yang berada di dalam ayunan secara perlahan-lahan dengan cara menarik selendang yang diikat pada ayunan.

Para orang tua sedang mengayun anaknya
  • Setelah syair-syair berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW selesai dibacakan, acara dilanjutkan adalah pembacaan ayat-ayat suci al-Quran.
  • Kemudian dilajutkan dengan ceraman agama.
  • Selanjutnya, upacara Baayun Mulud ditutup dengan pembacaan doa dan makan bersama.

Catatan: keterangan detail tentang tahapan-tahapan pelaksanaan upacara sedang dalam proses pengumpulan data.

5. Doa atau Matera

Sebagai upacara yang dilaksanakan untuk mensyukuri kelahiran Nabi Muhammad SAW, maka upacara tersebut ditandai oleh pembacaan syair-syair yang berisi pujian, Shalawat, dan doa-doa untuknya. Syair-syair tersebut dibaca dengan cara dilagukan secara merdu dan indah. Adapun syair-syair yang dibaca dalam upacara ini, di antaranya adalah: syair barzanji, syair syarafal anam, dan syair diba‘i.

6. Nilai-Nilai

Pelaksanaan upacara Baayun Mulud merupakan salah satu bentuk nyata akulturasi antara agama dan budaya lokal yang dipengaruhi oleh pemahaman masyarakat lokal terhadap nilai-nilai agama. Oleh karenanya, upacara ini tidak hanya mengandung nilai religious tapi juga sosial, budaya, dan ekonomi.

Pertama, nilai religious. Nilai religious dalam upacara ini dapat dilihat pada motif, bacaan dan tujuan dari upacara ini. Pada awalnya, motif penyelenggaraan upacara ini adalah sebagai ekspresi kecintaan kepada dan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Rasa syukur dan kecintaan tersebut kemudian diverbalkan dalam bentuk pembacaan syair-syair yang berisi pujian dan doa-doa. Dan sebagai buah dari rasa syukur dan kecintaan tersebut, mereka mengharapkan agar putra-putri mereka senantiasa mendapat kebahagiaan, syafaat nabi, dan menjadi hamba yang taat kepada Allah SWT. 



Anak yang diayun diharapkan menjadi muslim yang taat
dan bertakwa kepada Allah SWT dan Rasul-Nya

Kedua, nilai budaya. Mengayun anak pada saat upacara Baayun Mulud merupakan salah satu bentuk ekspresi dari nilai-nilai lokal yang hidup berkembang dalam masyarakat. Dengan diayun, seorang anak akan mendapatan ketenangan dan ketentraman karena berada dalam perlindungan dan limpahan kasih orang tuanya. Ia akan merasa nyaman sehingga dapat tidur dengan pulas. Selain itu, pelaksanaan upacara ini, dengan beraneka ragam pernak-perniknya, merupakan salah satu proses pewarisan khazanah lokal masyarakat. Dengan cara ini nilai-nilai lokal diwariskan sehingga dimungkinkan untuk terus lestari.   

Ketiga, nilai sosial.  Nilai sosial dari pelaksanaan upacara Baayun Mulud dapat dilihat dari para pesertanya yang berasal dari segenap lapisan masyarakat dengan latar belakang ekonomi, sosial, politik dan umur yang berbeda-beda. Di arena pelaksanaan upacara, mereka berbaur dan membangun kembali solidaritas sosial antar masyarakat. Ketika modernitas telah berhasil membentuk manusia-manusia modern yang individualis, maka pelaksanaan upacara ini merupakan ajang silaturrahim untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan yang humanis; saling menghargai, menghormati, dan tidak takut untuk berbagai.   

Keempat, nilai ekonomi. Seiring perkembangan zaman, pelaksanaan upacara Baayun Mulud tidak sekedar ritual, tetapi juga sebuah festival budaya yang mempunyai potensi untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat. Dengan dikembangkan potensi ekonominya, maka pelaksaan upacara Baayun Mulud tidak hanya akan memberikan kebahagiaan secara rohani kepada yang melaksanakan, tetapi juga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian, perlu juga disadari bahwa menjadikan upacara Baayun Mulud sebagai paket wisata dapat menyebabkan upacara ini kehilangan “ruhnya”.

(AS/bdy/29/04-08)

Sumber Rujukan

  • Ahmad, Juhaidi, “Wisata Budaya Layak Jual,” dalam http://www.indomedia.com/bpost/052005/7/ekbis/ekbis6.htm, diakses pada tanggal 10 Maret 2008.
  • Anak Sultan, “Upacara Baayun Mulud,” dalam http://kerajaanbanjar.wordpress.com/2007/04/01/upacara-baayun-mulud/, diakses pada tanggal 10 Maret 2008.
  • “Baayun Anak Masuk Kalender Wisata Kalsel,” dalam http://www.banjarmasinpost.co.id/content/view/20279/180/, diakses pada tanggal 15 Maret 2008.
  • “Baayun Anak: Masuk Kalender Wisata Budaya Tapin,” dalam http://64.203.71.11/gayahidup/news/0604/01/183914.htm, diakses pada tanggal 10 Maret 2008.
  • “Baayun Maulid di Banua Halat Masuk MURI,” dalam http://www.radarbanjar.com/berita/index.asp?Berita=Metropolis&id=81536, diakses pada tanggal 10 Maret 2008.
  • “Baayun Maulud Masih Mendapat Sambutan Masyarakat,” dalam http://64.203.71.11/kompas-cetak/0405/14/daerah/1024910.htm, diakses pada tanggal 10 Maret 2008.
  • “Baayun Maulud,” dalam http://fikria.multiply.com/photos/album/9/Baayun_Maulud, diakses pada tanggal 10 Maret 2008.
  • “Berebut Di-tapung-tawari Abah Anang,” dalam http://www.radarbanjar.com/berita/index.asp?Berita=Banjarbaru&id=81671, diakses pada tanggal 10 Maret 2008.
  • “Dari Acara Baayun Anak di Masjid Iqra,” dalam http://www.indomedia.com/bpost/042005/30/depan/utama5.htm, diakses pada tanggal 17 Maret 2008.
  • “Gaungnya Kurang Bergema,” dalam http://www.indomedia.com/bpost/052005/10/kalsel/lbm3.htm, diakses pada tanggal 10 Maret 2008.
  • http://www.kompas.com/read.php?cnt=.xml.2008.03.22.13432432&channel=1&mn=2&idx=5, diakses pada tanggal 17 Maret 2008.
  •  “Lomba Baayun Anak,” dalam http://www.kompasimages.com/detail_news.php?id=1853, diakses pada tanggal 11 Maret 2008.
  • “Maulud: antara Ritus dan Tradisi,” dalam http://ahmad-juhaidi.blogspot.com/2007/07/maulud-antara-ritus-dan-tradisi-di.html, diakses pada tanggal 10 Maret 2008.
  • “Semarak Maulid di Kota Apam: Gemakan Shalawat dari Rumah ke Rumah,” dalam http://www.indomedia.com/bpost/042006/11/kalsel/lbm6.htm, diakses pada tanggal 12 Maret 2008.
  • Zainuddin, Hasan, “Mauludan Rasul Kalsel Digelar Tak Sekedar Peringati Kelahiran Nabi” dalam http://hasanzainuddin.wordpress.com/budaya-banjar/85/, diakses pada tanggal 17 Maret 2008.
  • “728 Balita Dan Lansia Baayun,” dalam http://www.indomedia.com/bpost/042006/12/kalsel/lbm12.htm
Dibaca : 12.949 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password