Sabtu, 1 November 2014   |   Ahad, 8 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.063
Hari ini : 5.546
Kemarin : 21.974
Minggu kemarin : 177.917
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.295.708
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kain Sasirangan (Kerajinan Tradisional Kalimantan Selatan)


Pakaian perempuan yang terbuat dari kain Sasirangan

1. Asal Usul

Kain Sasirangan merupakan salah satu hasil kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan yang diwariskan secara turun temurun (http://www.pintunet.com). Kain ini oleh masyarakat setempat digunakan untuk membuat pakaian adat, yaitu pakaian yang digunakan orang-orang Banjar baik oleh kalangan rakyat biasa maupun keturunan para bangsawan untuk melaksanakan upacara-upacara adat (http://rubiyah.com).

Kain ini dipercaya sebagai kain sakral warisan abad XII saat Lambung Mangkurat menjadi Patih Negara Dipa. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat Kalimantan Selatan, kain Sasirangan kali pertama dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat setelah bertapa selama 40 hari 40 malam di atas rakit Balarut Banyu. Konon, menjelang akhir bertapanya, rakit Patih Lambung Mangkurat tiba di daerah Rantau kota Bagantung. Di tempat ini, ia melihat seonggok buih yang dari dalamnya terdengar suara seorang wanita, wanita itu adalah Putri Junjung Buih yang kelak menjadi Raja di daerah ini. Putri tersebut akan  muncul (“mewujud”) kalau syarat-syarat yang dimintanya dipenuhi, yaitu sebuah istana Batung dan selembar kain yang ditenun dan dicalap (diwarnai) oleh 40 orang putri dengan motif wadi/padiwaringin yang keduanya harus diselesaikan dalam waktu sehari. Kain tersebut merupakan kain calapan, yang kemudian dikenal dengan sebutan kain Sasirangan, yang kali pertama dibuat (http://rubiyah.com).

Kain Sasirangan dipercaya mempunyai kekuatan magis yang dapat digunakan untuk mendukung pengobatan (batatamba), khususnya mengusir roh-roh jahat (http://catatannya-ikha.blogspot.com; http://www.indomedia.com; http://adhelina.com). Selain dapat menyembuhan, kain ini juga diyakini dapat menjadi alat ”pelindung” badan dari gangguan makhluk halus. Agar bisa menjadi alat pengusir roh jahat atau pelindung badan, pembuatan kain Sasirangan biasanya berdasarkan pesanan (pamintaan). Berdasarkan hal tersebut, orang Kalimantan Selatan menyebut Sasirangan sebagai kain pamintan (permintaan). Bentuk awal kain Sasirangan cukup sederhana, seperti ikat kepala (laung), sabuk dan tapih bumin (kain sarung) untuk kaum lelaki; dan  selendang, kerudung, udat (kemben), dan kekamban (kerudung) untuk kaum perempuan (http://ikm.depperin.go.id; http://inasforfun.multiply.com; dan http://rubiyah.com).

Perkembangan zaman telah merubah fungsi kain Sasirangan dalam masyarakat Kalimantan Selatan. Nilai-nilai sakral yang terkandung di dalamnya seolah-olah ikut memudar tergerus arus globalisasi mode. Globalisasi menjadikan kain ini tidak hanya mengalami proses desakralisasi sehingga berubah menjadi pakaian sehari-hari, tetapi juga  semakin dilupakan. Kain Sasirangan seolah-olah semakin tercerabut dari hati sanubari masyarakat Kalimantan Selatan. 


Pengrajin kain Sasirangan sedang melakukan proses
pewarnaan dengan tehnik colek

Perlu segera dilakukan langkah-langkah strategis untuk menyelamatkan kain Sasirangan dari kepunahan. Sedikitnya ada tiga hal yang dapat dilakukan, yaitu: pertama, melakukan transmisi pengetahuan nilai-nilai yang terkandung di dalam kain Sasirangan. Mungkin saja, semakin ditinggalkannya kain Sasirangan oleh masyarakat Kalimantan Selatan, karena masyarakat kurang mengetahui nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Oleh karenanya, momentum otonomi daerah harus dimanfaatkan seluas-luasnya untuk menanamkan nilai-nilai lokal kepada masyarakat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah memasukkan kain Sasirangan dan segala turunannya ke dalam mata pelajaran muatan lokal (mulok) (www.banjarmasinpost.co.id). Dengan dimasukkan menjadi salah satu pelajaran mulok, maka akan terjadi proses transformasi nilai-nilai yang terkandung dalam kain Sasirangan, dengan demikian generasi muda akan semakin mencintai local wisdom-nya.

Kedua, keberpihakan secara politik. Harus ada kepedulian dari para pemegang kekuasaan (decision maker) untuk memberikan ruang kepada batik Sasirangan untuk berkembang dan mengembangkan dirinya (http://muhammadrizkyadha.wordpress.com). Misalnya memberikan pelatihan peningkatan mutu kepada pada pengrajin, bantuan modal, memfasilitasi penjualan, dan sebagainya.  

Dan ketiga, revitalisasi. Setelah ada proses pewarisan (melalui pendidikan) dan konstruksi kesadaran melalui “intervensi” politik, maka hal lain yang harus dilakukan adalah melakukan revitalisasi dalam: (1). Pemanfaatan kain secara lebih luas. Jika pada awalnya kain Sasirangan hanya digunakan untuk keperluan “jimat” dan pembuatan pakaian untuk keperluan upacara adat, maka mungkin perlu juga mengkreasi (baca: memodifikasi) kain Sasirangan sedemikian rupa sehingga model yang dihasilkan mencerminkan style busana modern sehingga generasi muda tidak malu untuk menggunakannya (www.banjarmasinpost.co.id dan http://rizkyadha.blogspot.com). (2). Ekonomisasi. Seringkali sebuah kebudayaan ditinggalkan oleh para pendukungnya, bukan karena kebudayaan itu jelek, tetapi karena ia tidak mampu menjanjikan kehidupan yang lebih baik kepada penyokongnya (http://www.indomedia.com). Oleh karenanya, pengembangan-pengembangan mode sehingga kain Sasirangan dapat diterima oleh pasar perlu terus dilakukan.   Namun juga harus disadari bahwa revitalisasi harus berlandaskan kepada spirit dari kain Sasirangan itu sendiri (http://rizkyadha.blogspot.com). Dengan cara ini, keberadaan kain Sasirangan sebagai simbol jatidiri masyarakat Kalimantan selatan akan tetap terjaga.

2. Bahan-Bahan

a. Kain

Pada awalnya, bahan baku untuk membuat kain adalah serat kapas (katun). Dalam perkembangannya, bahan baku kain Sasirangan tidak hanya kapas, tetapi juga non kapas, seperti: polyester, rayon, sutera, dan lain-lain (www.sinarharapan.co.id).

b. Pewarna

Secara umum, ada dua macam bahan yang digunakan sebagai pewarna, yaitu pewarna alami dan kimiawi. (1) bahan pewarna alami, di antaranya adalah: daun pandan, temulawak, dan akar-akar seperti kayu kebuau, jambal, karamunting, mengkudu, gambir, dan air pohon pisang. (2) bahan pewarna kimiawi. Oleh karena bahan-bahan pewarna alami sulit didapat dan prosesnya sangat lama (hingga berhari-hari), maka para pengrajin kain Sasirangan banyak beralih menggunakan pewarna kimia, selain bahan bakunya mudah didapat, prosesnya pewarnaannya juga lebih mudah dan cepat.

Jenis zat pewarna kimiawi yang sering digunakan antara lain: warna direct, warna basis, warna asam, warna belerang, warna hydron, warna bejana, warna bejana larut, warna napthol, warna disperse, warna reaktif, warna rapid, warna pigmen dan warna oksidasi. Selain itu, untuk menambah kesan anggun dan mewah juga digunakan zat warna prada (http://ikm.depperin.go.id dan http://rubiyah.com).

c. Perintang atau pengikat

Selain kedua jenis bahan utama di atas, bahan lain yang  diperlukan dalam pembuatan kain Sasirangan adalah bahan perintang atau pengikat. Bahan perintang tersebut biasanya terbuat dari benang kapas, benang polyester, rafia, benang ban, serat nanas dan lainnya.

Fungsi bahan perintang tersebut adalah untuk menjaga agar bagian-bagian tertentu dari kain terjaga dari warna yang tidak diinginkan. Oleh karenya, bahan perintang harus mempunyai spesifikasi khusus, di antaranya adalah (http://rubiyah.com):

  • Tidak dapat terwarnai oleh zat warna, sehingga mampu menjaga bagian-bagian tertentu dari zat warna yang tidak diinginkan.
  • Mempunyai konstruksi anyaman maupun twist yang padat.
  • Mempunyai kekuatan tarik yang tinggi.

3. Proses Pembuatan

Kata Sasirangan berasal dari kata sirang yang berarti diikat atau dijahit dengan tangan dan ditarik benangnya, atau dalam istilah bahasa jahit-menjahit disebut dismoke/dijelujur.  Kemudian kain yang telah dismoke disapu dengan bermacam-macam warna yang diinginkan, sehingga menghasilkan suatu bahan busana yang bercorak aneka warna dengan garis-garis atau motif yang menawan (http://www.indomedia.com). Adapun proses pembuatan kain Sasirangan adalah sebagai berikut: (proses pembuatan kain Sasirangan diolah dari http://rubiyah.com; http://ikm.depperin.go.id; dan Kriya Indonesian Craft, No 8, 2007).

a. Penyiapan bahan kain dan pewarna.

Tahapan paling awal pembuatan kain Sasirangan adalah pengadaan kain dan pewarna kain. Saat ini, telah tersedia banyak macam kain yang siap pakai, sehingga untuk membuat kain Sasirangan tidak perlu lagi dimulai dengan pemintalan kapas.

Hanya saja, biasanya kain-kain yang dijual ditoko kain sudah difinish atau dikanji. Padahal, kanji tersebut dapat menghalangi penyerapan kain terhadap zat pewarna. Oleh karenanya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah penghilangan kanji dari kain.

Untuk menghilangkan kanji, ada tiga cara yang dapat dilakukan, yaitu: (1) Direndam dengan air. Kain yang hendak dibuat Sasirangan direndam dalam air selama satu atau dua hari, kemudian dibilas. Namun cara ini tidak banyak disukai, karena prosesnya terlalu lama dan ada kemungkinan timbul mikro organisme yang dapat merusak kain. (2) Direndam dengan asam. Kain direndam dalam larutan asam sulfat atau asam chlorida selama satu malam, atau hanya membutuhkan waktu dua jam jika larutan zat asam tersebut dipanaskan pada suhu 350 C. Setelah itu, kain dibilas dengan air sehingga kain terbebas dari zat asam. (3) Direndam dengan enzym. Bahan kain yang hendak dibuat Sasirangan dimasak dengan larutan enzym (Rapidase, Novofermasol dan lain-lain) pada suhu sekitar 450 C selama 30 s/d 45 menit. Setelah itu, kain direndam dalam air panas dua kali masing-masing 5 menit, dan kemudian dicuci dengan air dingin sampai bersih.

b. Pengadaan pewarna kain

Selain pengadaan kain, hal lain yang harus dipersiapkan adalah zat pewarna, baik yang alami atau kimiawi. Kecermatan penggunaan pewarna merupakan hal yang sangat penting dalam pembuatan kain Sasirangan. Oleh karenaya, dalam pengadaan pewarna harus memperhatikan hal-hal berikut (http://rubiyah.com):

  • Harus mempunyai warna sehingga dapat meng-absorbs cahaya.
  • Dapat larut dalam air atau mudah dilarutkan.
  • Zat warna harus mempunyai affinitas terhadap serat (dapat menempel), tidak luntur, dan tahan terhadap sinar matahari.
  • Zat warna harus dapat berdifusi pada serat.
  • Zat warna harus mempunyai susunan yang stabil setelah meresap ke dalam serat.

c. Pembuatan pola desain dan jahitan

Setelah kain bersih dari kanji, maka tahap selanjutnya adalah pemotongan dan penjahitan. Adapun prosesnya sebagai berikut:


Memotong kain sesuai kebutuhan
  • Kain dipotong-potong sesuai dengan kebutuhan. Jika yang hendak dibuat adalah kain Sasirangan untuk selendang, maka kain dipotong sesuai ukuran selendang yang hendak dibuat.
  • Setelah itu, dilanjutkan dengan pembuatan pola motif .

Membuat pola
  • Kemudian pola motif tersebut dijahit (dismoke) menggunakan benang (atau bahan perintang lainnya) dengan jarak 1 - 2 mm atau 2 -3 mm.

Menjelujur atau mensmoke pola
  • Benang pada setiap jahitan-jahitan pola tersebut ditarik kencang sampai rapat dan membentuk kerutan-kerutan.

d. Pewarnaan pada kain

Setelah pola kain dijahit, maka tahap selanjutnya adalah pewarnaan. Pewarnaan merupakan proses yang cukup rumit sehingga membutuhkan keahlian khusus. Pewarnaan tidak bisa dilakukan dengan sembarangan, tetapi harus dilakukan secara teliti dan cermat berdasarkan kepada jenis kain dan kombinasi warna yang akan dibuat. Dengan ketelitian dan kecermatan, maka akan dihasilkan sebuah kombinasi warna yang elok dan anggun.

Secara garis besar, proses pewarnaan kain Sasirangan adalah sebagai berikut:

  • Zat pewarna yang hendak digunakan dilarutkan menggunakan air, atau medium lain yang dapat melarut zat warna tersebut.

Pewarnaan
  • Kemudian kain yang telah dismoke dimasukkan ke dalam larutan zat pewarna atau dengan dicolet (seperti membatik) dengan larutan tersebut sehingga terjadi penyerapan zat warna kedalam serat. Ada tiga cara pewarnaan kain Sasirangan, yaitu: (1) Pencelupan. Tehnik pencelupan digunakan apabila yang diinginkan hanya satu warna saja. Kain yang dicelup ke dalam larutan zat pewarna akan mempunyai satu warna yang rata kecuali pada bagian kain yang dijahit/dismoke akan tetap berwarna putih. (2) Pencoletan. Kain pada bagian yang telah dismoke ataupun di antara smoke-smoke diwarnai dengan cara dicolet. Pewarnaan dengan cara dicolet biasanya dilakukan apabila motif yang dibuat memerlukan banyak warna (lebih dari satu warna). Tentu saja, waktu yang dibutuhkan akan lebih lama dari sistem celupan. (3) Pencelupan dan Pencoletan. Cara ini menggabungkan kedua tehnik di atas. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan cara mencelupkan kain. Biasanya cara ini digunakan untuk membuat warna dasar pada kain. Kemudian dicolet dengan variasi warna sebagaimana telah direncanakan.

Memeriksa hasil pewarnaan
  • Setelah itu diteliti dengan seksama tingkat kerataan pewarnaannya. Caranya ini harus dilakukan agar hasilnya maksimal.  

e. Pelepasan Jahitan

  • Setelah proses pewarnaan kain Sasirangan selesai, kemudian kain dicuci sampai bersih dengan menggunakan air dingin.

Mencuci kain yang telah diwarnai
  • Selanjutnya jahitan-jahitan pada kain dilepas.

Melepaskan jahitan
  • Kain yang sudah dicuci kemudian dijemur, tetapi tidak boleh terkena sinar matahari langsung.

Menjemur kain

f. Finisihing

Proses terakhir dari pembuatan kain Sasirangan adalah proses penyempurnaan, yaitu merapikan kain agar tidak kumal. Untuk merapikan kain, biasanya dengan menggunakan strika.


Merapikan kain.

(pembuatan kain Sasirangan dengan cara-cara mistis dan untuk keperluan penyembuhan dalam proses pengumpulan data).

4. Motif Kain

Kain Sasirangan memiliki banyak motif, yaitu: sarigading, ombak sinapur karang (ombak menerjang batu karang), hiris pudak (irisan daun pudak), bayam raja (daun bayam), kambang kacang (bunga kacang panjang), naga balimbur (ular naga), daun jeruju (daun tanaman jeruju), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), kulat karikit (jamur kecil), gigi haruan (gigi ikan gabus), turun dayang (garis-garis), kangkung kaombakan (daun kangkung), jajumputan (jumputan), kambang tampuk manggis (bunga buah manggis), dara manginang (remaja makan daun sirih), putri manangis (putri menangis), kambang cengkeh (bunga cengkeh), awan beriring (awan sedang diterpa angin), benawati (warna pelangi), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), turun dayang (garis-garis), dan sisik tanggiling (Kompas, 27 Mei 2004; http://catatannya-ikha.blogspot.com).


Motif-motif kain Sasirangan

5. Nilai-Nilai

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa kain Sasirangan merupakan salah satu bentuk pengejawantahan dari local knowledge (pengetahuan lokal) masyarakat Kalimantan Selatan. Dengan kata lain, dengan “membaca” kain Sasirangan, maka akan diketahui beraneka macam nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Kalimantan Selatan. Di antara nilai-nilai tersebut adalah: nilai keyakinan, nilai budaya, dan nilai ekonomi.

Pertama, nilai keyakinan. Dengan meneroka sejarah keberadaan kain Sasirangan, maka akan diketahui pola perkembangan keyakinan masyarakat Kalimantan Selatan. Keyakinan masyarakat bahwa kain tersebut pertama kali dibuat oleh Patih Lambung Mangkurat untuk memenuhi permintaan Putri Junjung Buih sebagai prasayarat untuk menampakkan diri, menunjukkan bahwa kain Sasirangan mempunyai nilai supranatural. Oleh karenanya, masyarakat Kalimantan Selatan juga meyakini bahwa kain ini mempunyai kekuatan untuk mengusir roh-roh jahat. Keyakinan tersebut secara jelas menunjukkan bahwa kain ini merupakan pengejawantahan dari keyakinan masyarakat Kalimantan Selatan.

Kedua, nilai budaya. Kain Sasirangan merupakan salah satu bentuk pencapaian kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan. Pemilihan bahan, cara pewarnaan, warna yang digunakan, dan pembuatan motif-motifnya, merupakan pengejawantahan dari hasil membaca dan memahami masyarakat Kalimantan Selatan terhadap alam dan fenomenanya. Selain itu, munculnya motif-motif kombinasi juga menunjukkan kreatifitas orang Kalimantan Selatan. Dengan kata lain, kain Sasirangan merupakan hasil dari pemikian masyarakat Kalimantan Selatan yang termanifestasi dalam produk yang memiliki nilai kultural.

Ketiga, nilai ekonomis. Seiring perkembangan zaman, masyarakat semakin menyadari adanya potensi ekonomi yang terkandung dalam kain Sasirangan. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya penggunaan kain Sasirangan, dari sekedar alat pengusir roh-roh jahat menjadi berbagai macam aneka produk, seperti baju pesta, sandal, tas, dan dompet. Selain itu, semakin dihargainya hasil kerajinan lokal memberikan nilai tambah ekonomis pada Sasirangan. Namun demikian, harus juga diperhatikan bahwa ekonomisasi tanpa memahami spirit yang terkandung dalam Sasirangan dapat menghilangkan “ruh” yang ada di dalamnya. Penggunaan pewarna kimiawi misalnya, mungkin saja akan lebih mengefektifkan pembuatan kain Sasirangan, tetapi juga harus disadari bahwa penggunaan pewarna kimia dapat merusak nilai-nilai lokal yang terkandung dalam kain Sasirangan.     

(AS/bdy/31/05-08)

Daftar Pustaka

Dibaca : 65.050 kali.