Senin, 22 Desember 2014   |   Tsulasa', 29 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 2.017
Hari ini : 19.735
Kemarin : 18.132
Minggu kemarin : 122.426
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.481.545
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Seloka

Kata seloka berasal dari bahasa Sanskerta sloka. Yang dimaksud dengan seloka adalah bentuk puisi Melayu Klasik yang memuat perumpamaan yang mengandung senda gurau, kejenakaan, khayalan, impian, sindiran, atau ejekan. Biasanya ditulis dalam dua atau empat baris namun juga terkadang beberapa ditemukan enam baris dengan memakai bentuk pantun atau syair, gurindam, talibun (bahasa berirama), teromba atau mantra. Jika terdiri dari dua bait maka akan tersusun menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari empat baris dengan masing-masing baris terdiri dari 16 kata.

Dalam Sastra Melayu, seloka termasuk dalam jenis puisi bebas. Terkadang rima dapat muncul namun beberapa tanpa ada rima. Secara keseluruhan, seloka berisi cerita yang benar-benar telah dikenal dalam masyarakat Melayu, seperti Pak Kaduk, Lebai Malang, dan lain-lain.

Fungsi seloka tetap seperti karya-karya sastra Melayu yang lain, yaitu sebagai pengajaran ataupun panduan bagi anggota masyarakatnya.

Adapun contoh seloka dapat dilihat di bawah ini:

Seloka Pak Kaduk:

Aduhai malang Pak Kaduk!
Ayamnya menang kampung tergadai
Ada nasi dicurahkan
Awak pulang kebuluran
Mudek menongkah surut
Hilir menongkah pasang
Ada isteri dibunuh
Nyaris mati oleh tak makan
Masa belayar kematian angin
Sudah dilabuh bayu berpuput
Ada rumah bertandang duduk
Aduhai malang Pak Kaduk!

Salah satu sindiran di dalam seloka tersebut adalah “Ayamnya menang kampung tergadai.” Lazimnya jika ayamnya menang maka pemilik ayam akan memperoleh hadiah. Hal ini berbalik dengan apa yang dialami Pak Kaduk, sudah ayamnya menang dia harus kehilangan taruhannya yaitu kampungnya. Untuk lebih jelasnya dapat kita perhatikan ringkasan ceritanya di bawah ini:

Cerita Pak Kaduk, merupakan cerita yang mengisahkan sepasang  suami-istri yang bernama Pak Kaduk dan Mak Siti. Kisah ini terjadi di wilayah negeri Cempaka Sari, yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Indera Sari. Raja dan masyarakatnya hidup dalam lingkungan perjudian. Salah satu kegemaran Raja Indera Sari adalah menyabung ayam.

Di dalam wilayah ini ada sepasang suami isteri, Pak Kaduk dan Mak Siti yang hidup di tepi sungai dalam keadaan miskin. Pada suatu hari, Pak Kaduk berkeinginan juga untuk ikut menyabung ayam di kerajaan. Ia membawa ayamnya yang bernama Biring Si Kunani. Dia begitu yakin dengan ayamnya ini akan memenangkan pertandingan dengan ayam-ayam di istana. Pak Kaduk mempersiapkan pakaian dari kertas dan meminta istrinya untuk menjahit pakaian tersebut. Setelah bajunya jadi, Pak Kaduk pergi ke gelanggang sabung. Dengan tipu muslihat yang dilakukan oleh Raja, ayam Pak Kaduk telah ditukar dengan ayam milik baginda yang bernama Si Jalak. Karena keyakinannya, Pak Kaduk tanpa pertimbangan dengan matang mempertaruhkan kampungnya kepada Raja dengan uang sejumlah 50 rial.

Dalam pertandingan tersebut ternyata Biring Si Kunani telah menewaskan Si Jalak. Pak Kaduk tidak tahu bahwa ayamnya telah ditukarkan dengan ayam Baginda. Pak Kaduk melompat-lompat kegirangan karena Biring Si Kunani yang telah menjadi milik Raja disangka ayamnya. Dengan tingkahnya yang melompat-lompat kegirangan membuat bajunya yang dari kertas robek semua sehingga dia menjadi telanjang. Melihat kejadian tersebut Sang Raja dan orang-orang di sekitarnya mentertawakan Pak Kaduk. Akhirnya Pak Kaduk menyadari bahwa semua yang dia kerjakan merupakan tindakan yang salah besar, sehingga dia menyesal atas semua tindakan tersebut.

(FX. Indrojionao/sas/2/09/08)

Daftar Pustaka

Dibaca : 36.367 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password