Sabtu, 19 April 2014   |   Ahad, 18 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 876
Hari ini : 5.077
Kemarin : 13.608
Minggu kemarin : 148.067
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.610.907
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Sumpit, Senjata Khas Masyarakat Dayak


Orang Dayak sedang bersiap menembakkan damek 

1. Asal Usul

Hidup di tengah hutan lebat dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi dan dihuni oleh beragam macam hewan liar dan buas, telah menginspirasi orang-orang Dayak untuk membuat senjata yang tidak saja mampu melindungi mereka dari ganasnya kehidupan hutan, tetapi juga mampu menjadi penopang kehidupan mereka baik secara materiil maupun moril. Berdasarkan kondisi dan tujuan tersebut, orang Dayak membuat senjata khusus, salah satunya adalah senjata yang cukup unik yang kemudian dikenal dengan nama sumpit atau sumpitan. 

Sumpit atau sumpitan adalah senjata khas masyarakat Dayak yang terdiri dari tiga bagian, yaitu batang (pipa) sumpit, damek (anak sumpit), dan sangkoh (mata tombak terbuat dari besi atau batu gunung yang diikatkan pada ujung pipa sumpit). Senjata yang mengandalkan kekuatan meniup ini dapat mengenai sasaran dari jarak yang cukup jauh, yaitu sekitar 30 meter untuk posisi vertikal dan 25 meter untuk posisi horisontal (http://www.kipde-ketapang.go.id) tergantung kemampuan si penyumpitnya.

Dengan senjata ini, orang Dayak dapat melumpuhkan musuh dan hewan-hewan buruan baik yang berada di atas pohon, seperti burung-burung, maupun hewan-hewan buas yang hidup di darat dari, jarak yang relatif jauh. Dengan kemampuan melumpuhkan binatang buruan dan musuh dari jarak jauh, maka orang Dayak telah menciptakan alat proteksi diri yang cukup canggih. Jika ternyata bidikan pertama tidak mengenai sasaran, dan sebaliknya binatang buas atau musuh menyerang balik dari jarak yang cukup dekat sehingga damek tidak dapat digunakan secara efektif atau tidak sempat memasang damek,  maka pipa sumpit yang terbuat dari kayu belian dengan sangkoh di ujungnya menjadi senjata cadangan yang sangat bermanfaat untuk melindungi diri dari jarak dekat. Keberadaan sangkoh diujung pipa sumpit ibarat sangkur pada ujung bedil, atau mata tombak yang siap menunggu serangan musuh.

Untuk lebih mengefektifkan fungsi dari senjata ini, khususnya untuk keperluan berburu atau melawan musuh, orang-orang Dayak melumuri damek (anak sumpitnya) dengan racun yang terbuat dari getah tumbuhan. Konon, racun pada anak sumpit tidak ada penawarnya, sehingga orang atau binatang yang terkena senjata ini walaupun hanya tergores dapat menyebabkan kematian. Namun yang cukup unik, binatang apapun yang mati oleh senjata ini dagingnya tidak beracun dan cukup aman untuk dikonsumsi (Kompas, 24 Desember 2004). Selain jangkauan dan racunnya yang cukup mematikan, kelebihan lain alat ini adalah pada saat digunakan tidak menimbulkan bunyi. Unsur senyap ini sangat penting saat mengincar binatang buruan atau musuh yang sedang lengah. Selain untuk berburu dan berperang, sumpit juga digunakan untuk perlengkapan upacara adat atau sebagai mas kawin dalam pernikahan adat Dayak (Kompas, 24 Desember 2004).


Pawai budaya merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengenalkan
sumpit kepada masyarakat

Perubahan pola pikir dan kondisi alam tempat tinggal orang Dayak ternyata berpengaruh terhadap eksistensi sumpitan. Alat ini lambat laun mulai ditinggalkan oleh masyarakat dan sedang menuju kepunahan. Oleh karenanya, perlu segera dilakukan tindakan-tindakan pelestarian sehingga peralatan tradisional yang merupakan ciri khas Dayak ini tetap terjaga eksistensinya. Tentu saja, pelestarian harus berlandaskan pada perkembangan zaman.  Secara garis besar, ada dua pola pelestarian yang dapat dilakukan untuk menjaga eksistensi sumpit, yaitu pelestarian secara pasif dan aktif. Pelestarian secara pasif misalnya dengan melakukan duplikasi dan replikasi sumpit. Sedangkan pelestarian secara aktif dapat dilakukan dengan melakukan revitalisasi sumpit sehingga sumpit dan nilai-nilai yang dikandungnya tetap sesuai dengan gerak langkah perkembangan zaman. Adapun bentuk pelestarian secara aktif yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Menjadikan sumpit sebagai cendera hati untuk keperluan wisata. Dengan cara ini, sumpit tidak saja lestari, tetapi juga dapat menjadi sumber ekonomi masyarakat;
  2. Menjadikan sumpit sebagai bagian dari bahan ajar pendidikan, yaitu mata pelajaran muatan lokal. Dengan cara ini, akan muncul kesadaran dalam diri anak didik untuk melestarikan sumpit;
  3. Menjadikan kegiatan menyumpit sebagai olah raga yang diperlombakan, misalnya dalam Pekan Olah Raga Daerah (PORDA) dan Pekan Olah Raga Nasional (PON). Dengan cara diperlombakan, maka sumpit dengan sendirinya akan lestari. Tentu saja, jika digunakan untuk perlombaan, maka damek tidak perlu dilumuri dengan racun.

Jika pelestarian ini dilakukan, maka generasi mendatang akan mengetahui apa senjata khas Dayak, dan juga perkembangan indigenous technology yang dicapai oleh masyarakat Dayak.

2. Bahan dan Peralatan

a. Bahan-bahan

Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat sumpit atau sumpitan adalah sebagai berikut:

  • Kayu. Kayu merupakan bahan utama untuk membuat sumpit. Saat ini, ada juga yang membuat sumpit berbahan buluh (bambu).
  • Bilah bambu, lidi aren, atau sirap. Bahan-bahan ini digunakan untuk membuat anak sumpit (damek).
  • Bahan racun. Racun ini digunakan untuk mengolesi ujung damek. Tujuannya agar sasaran yang dibidik mati walau hanya tergores.
  • Besi tajam (lonjo atau sangkoh). Bahan ini diikatkan pada pucuk pipa sumpit dengan menggunakan rotan.
  • Satu ruas bambu. Bambu ini digunakan untuk membuat telep (tempat damek).  Sebuah telep biasanya mampu memuat sekitar 50-100 anak sumpit.
  • Rotan. Digunakan untuk mengikat sangkoh pada batang sumpit dan pengikat telep.
  • Kapuk. Dipasang pada bagian belakang damek. Tujuannya agar damek dapat melayang dan meluncur ke depan dengan stabil. Selain kapuk, bahan-bahan lain dapat digunakan dengan syarat dapat memberikan efek melayang dan stabil pada damek ketika dibidikkan.   

b. Peralatan

Peralatan yang diperlukan untuk membuat seperangkat sumpit adalah alat untuk memotong kayu dan bambu, meraut kayu dan lidi aren, dan alat untuk melubangi kayu.

3. Proses Pembuatan

Secara garis besar, satu set sumpit terdiri dari tiga bagian, yaitu batang (pipa) sumpit, damek (anak sumpit), dan telep (tempat damek). Ketiga bagian tersebut dapat dikerjakan secara bersamaan ataupun secara terpisah. Pembuatan sumpit secara garis besar terdiri dari dua tahapan, yaitu tahap persiapan dan tahap pembuatan.

a. Tahap Persiapan

Pada tahap ini, yang harus dilakukan adalah menyiapkan bahan-bahan dan peralatan yang diperlukan untuk membuat satu set sumpit. Adapun bahan-bahan yang perlu dipersiapkan adalah:

  • Kayu. Kayu yang digunakan sebagai bahan untuk membuat sumpit bukan kayu sembarangan, tetapi kayu yang kuat dan keras. Adapun kayu yang biasanya digunakan untuk membuat sumpit adalah kayu ulin, tampang, lanan, berang bungkan, rasak, atau kayu plepek. Setelah jenis kayu ditentukan, selanjutnya menentukan ukuran panjang sumpit yang hendak dibuat. Biasanya kayu dipotong dengan panjang sekitar 1,5 hingga 2,1 meter tergantung kepada ukuran tinggi orang yang hendak menggunakan sumpit. Konon, agar orang yang menggunakan sumpit mempunyai kekuatan dalam bernafas sehingga mampu melontarkan damek cukup jauh dan dapat membidik sasaran secara tepat, maka panjang sumpit dibuat sesuai dengan tinggi orang yang menggunakannya. Setelah itu, kayu dikupas bagian luarnya sehingga membentuk balok dengan ukuran sekitar 10 X 10 sentimeter.
  • Bilah bambu, lidi aren, atau sirap. Bahan-bahan ini merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya untuk dipersiapkan. Lidi aren yang digunakan untuk membuat anak sumpit biasanya dipilih yang lurus dan tebal (besar). Tujuannya, agar ketika dibidikkan kesasaran dapat melesat dengan cepat, tepat, dan mampu menembus (melukai) sasaran. Demikian juga dengan sirap dan bilah bambu.
  • Bahan racun. Pada zaman dahulu, bahan racun merupakan salah satu bahan yang cukup penting dalam pembuatan sumpit. Keberadaan racun cukup efektif untuk melumpuhkan atau membunuh sasaran. Racun yang dipersiapkan merupakan campuran dari beberapa bahan, seperti getah kayu ipuh, kayu siren, atau upas, dicampur dengan getah kayu uwi, ara, atau getah toba. Masyarakat Dayak juga mempunyai pengetahuan dalam memilih tumbuhan yang mengandung racun kuat ataukah tidak. Pohon ipuh, misalnya, secara alami memang mempunyai getah beracun, tetapi tingkat kekuatan racunnya berbeda-beda tergantung pada kondisi pohon. Pohon yang ipuh yang “tumbuh sendiri" (tidak berkelompok) mempunyai kekuatan racun lebih kuat dari yang berkelompok. Penyadapan getah pohon biasanya dilakukan pada musim kering. Untuk memperkuat efek racun, getah pohon itu biasanya dicampur dengan bisa binatang, seperti bisa ular.  
  • Besi tajam (lonjo atau sangkoh). Bahan yang diikatkan pada ujung pipa sumpit ini merupakan senjata cadangan jika damek tidak dapat melumpuhkan hewan atau musuh secara langsung, tetapi malah menyerang balik. Dengan adanya lonjo ini, maka si penyumpit masih mempunyai senjata jika harus bertarung dalam jarak dekat.  
  • Bahan-bahan lain yang harus dipersiapkan adalah tali dari rotan, satu ruas bambu, dan kapas. Untuk menyediakan bahan-bahan ini tidak harus pada tahap  persiapan, tetapi juga dapat dilakukan di sela-sela pembuatan pipa sumpit dan damek.

b. Tahap Pembuatan

Setelah semua bahan-bahan yang dibutuhkan dipersiapkan, maka pembuatan sumpit dapat segera dilakukan. Sebagaimana telah disampaikan di atas bahwa satu set sumpit terdiri dari tiga bagian, maka proses pembuatannya terdiri dari tiga tahap. Adapun prosesnya adalah sebagai berikut:

  • Pembuatan pipa sumpit.

Pembuatan sumpit dikerjakan dengan sangat cermat dan teliti. Hal ini bertujuan agar pipa sumpit yang dihasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Kayu berbentuk balok berukuran 10 X 10 cm dengan panjang 1,5 – 2,1 meter yang telah dipersiapkan digantung secara vertikal. Kemudian bagian bawah balok tersebut dibor ke arah atas. Dengan cara ini, sisa pengeboran akan langsung jatuh ke tanah dan lubang yang dihasilkan akan lebih lurus. Selain dengan digantung (vertikal), pembuatan lubang tengah juga terkadang dilakukan di sungai (horisontal). Tujuannya sama, yaitu sisa pengeboran langsung dibawa air dan lubang yang dihasilkan lebih lurus.

Setelah lubang pada bagian tengah selesai dibuat dengan diameter sekitar 1 cm, balok tersebut diraut (dibubut) sehingga berbentuk bulat seperti pipa dengan diameter sekitar 3 cm pada bagian pangkal, dan 2 cm pada bagian ujung. Setelah itu, baru ditempeli asesoris.



Sumpit dengan sangkoh digunakan dalam sebuah pertunjukkan seni

Aksesoris paling penting adalah lonjo atau sangkoh yang panjangnya sekitar 15 cm. Aksesoris ini dipasang pada bagian pucuk pipa sumpit dengan diikat menggunakan rotan. Seperti telah dipaparkan di atas, tujuan pemasangan lonjo atau sangkoh sebagai senjata cadangan jika damek tidak berhasil melumpuhkan sasaran. Pada bagian ujung tetapi pada posisi berseberangan dengan sangkoh dipasang besi sekitar 2 cm yang berfungsi sebagai alat bantu bidik. Selesainya pemasangan sangkoh berarti pipa sumpit sudah siap digunakan. 

  • Pembuatan damek

Tahap selanjutnya adalah pembuatan damek, yaitu mata sumpit. Bilah bambu, lidi aren, atau sirap yang telah dipilih pada tahap persiapan dipotong dengan panjang sekitar 15 cm. Potongan tersebut kemudian diraut, dihaluskan, dan pada ujungnya dibuat runcing. Pada bagian pangkal damek kemudian dililiti kapas atau benda-benda lainnya yang memungkinkan damek bisa melayang menuju sasaran. Selesainya tahap ini, maka damek pada dasarnya telah siap untuk digunakan. Untuk damek jenis ini biasanya digunakan untuk sekedar melatih keterampilan atau digunakan dalam perlombaan.



Pentol pada bagian pangkal damek menyebabkan dapat melayang
secara seimbang menuju sasaran.

Namun, jika hendak digunakan untuk berburu atau berperang, maka damek tersebut biasanya dibakar dan diolesi dengan racun yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tujuannya, agar sasaran dapat segera dilumpuhkan walau hanya tergores. Bahkan untuk lebih memperkuat efeknya, anak sumpit untuk berperang atau berburu biasanya diberikan keratan sepanjang sekitar tiga sentimeter di ujung anak sumpit dengan maksud ujung tersebut patah dan tertinggal dalam tubuh buruan hingga racun lebih cepat bekerja. Pada tahap ini, damek telah siap digunakan untuk berburu atau berperang.

Ketika damek telah diolesi dengan racun, maka keberadaannya harus dijaga agar tuah racunnya tidak hilang. Menurut kepercayaan orang Dayak, tuah racun damek akan berkurang atau hilang sama sekali jika terkena bau-bauan yang cukup menyengat seperti minyak wangi, shampo, dan bawang (Kompas, 24 Desember 2004). Berdasarkan hal tersebut, biasanya setelah selesai dibuat, damek yang hendak digunakan untuk berburu atau berperang disimpan di tempat khusus.  

  • Pembuatan telep.   

Setelah damek selesai dibuat, maka tahap terakhir yang harus dilakukan adalah menyiapkan tempat untuk menyimpannya (telep). Tempat untuk menyimpan damek biasanya dibuat dari seruas bambu. Biasanya, sebuah telep dapat menyimpan sekitar 50-100 damek. Untuk menambah keindahannya, telep biasanya diukir dan dihias. Tahap paling akhir pembuatan telep adalah membuat penutupnya dan memberi tali sehingga dapat digendong.   



Telep tempat untuk menyimpan damek

4. Cara Penggunaan

Bagaimana sumpit yang hanya ditiup dapat meluncur sejauh 25-30 meter? Ada beberapa tekhnik dan keterampilan hal yang harus diperhatikan dan dikuasai oleh orang yang hendak menggunakan sumpit, yaitu: pertama, cara mengambil nafas. Pernafasan merupakan bagian yang teramat vital dalam menggunakan sumpit. Kekuatan dan kemampuan mengatur pernafasan menjadi faktor utama kuat-tidaknya damek meluncur, dan jauh tidaknya sasaran dapat dicapai. Kedua, posisi badan. Posisi yang lazim untuk menggunakan sumpit adalah berdiri atau dengan jongkok. Dengan cara ini, tekanan pernafasan akan lebih kuat, sehingga damek akan meluncur lebih cepat ke sasaran. Ketiga, cara memegang sumpit. Cara yang benar memegang sumpit adalah kedua telapak tangan harus menghadap ke atas. Kedua telapak tangan itu sebaiknya berdekatan atau bersentuhan. Keempat, sering latihan. Sebagus apapun cara bernafas, posisi badan, dan cara memegangnya, tetapi tidak pernah (jarang) latihan, maka hasilnya akan buruk.


Tehnik menggunakan sumpit

5. Nilai-nilai

Sumpit tidak sekedar sebatang kayu yang bagian tengahnya dilubangi, tetapi ia merupakan indigenous technology masyarakat Dayak yang dihasilkan dari proses memahami alam dan fenomenanya. Dengan kata lain, sumpit merupakan pengejawantahan dari pengetahuan dan nilai-nilai lokal yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Dayak. Secara garis besar, ada empat nilai yang terkandung dalam sumpit, yaitu struggle for survival, pemahaman terhadap alam, keterampilan, dan sakral.

Pertama, struggle for survival. Pesan yang sangat jelas dari keberadaan sumpit ini adalah bahwa setiap orang akan senantiasa membentuk dan menciptakan sesuatu yang mampu menjamin keberlangsungan hidupnya. Kondisi alam yang berupa hutan dan pohon-pohon tinggi “memaksa” orang-orang Dayak untuk membuat senjata yang mampu menjangkau sasaran yang berada di atas pohon maupun yang berada di balik rerimbunan pepohonan. Oleh karena mereka menyadari keterbatasan sumpit, maka mereka mengolesi mata sumpitnya dengan racun yang cukup mematikan. Keberadaan racun pada anak sumpit merupakan antisipasi dari kemungkinan binatang buruan atau musuh tidak dapat dilumpuhkan karena jarak jangkaunya cukup jauh maupun faktor alam lainnya seperti kuatnya hembusan angin. Dengan racun ini, maka cukup dengan tergores saja, sasaran akan mati. Jika binatang buruan atau musuh tidak terkena bidikan, dan bahkan balik menyerang dengan cukup cepat, maka lonjo atau sangkoh yang berada pada ujung pipa sumpit yang terbuat dari kayu keras segera berubah menjadi tombak dan dengan sendirinya menjadi senjata pertahanan diri yang cukup efektif.   

Kedua, pemahaman terhadap alam. Penggunaan sumpit dengan segala keterbatasannya mengharuskan orang Dayak mengetahui dan memahami kondisi dan potensi alam yang mereka tempati. Racun yang digunakan untuk mengolesi damek misalnya, merupakan bukti pemahaman mereka terhadap potensi yang dikandung oleh tumbuh-tumbuhan. Mereka juga harus pandai menghitung waktu dan membaca arah angin, sehingga pemanfaatan sumpit bisa berfungsi dengan maksimal. Misalnya, untuk menyumpit maka seseorang tidak boleh berlawanan atau memotong arah angin, karena bisa menyebabkan bidikan melenceng dari arah sasaran. Selain itu, dalam berburu mereka tetap mempertimbangkan kelestarian alam dan segala yang hidup di dalamnya. Hal ini misalnya dapat dilihat dari aturan tidak tertulis bahwa berburu hanya boleh dilakukan pada saat tertentu dengan tujuan tertentu, misalnya untuk lauk-pauk.



Salah seorang Kepala Adat Suku Dayak memberikan sumpit
kepada pejabat negara.

Ketiga, keterampilan. Agar sumpit dapat berfungsi secara maksimal, maka diperlukan keterampilan khusus sejak pembuatan sampai ketika menggunakannya. Pada tahap pembuatan misalnya, seseorang harus benar-benar ahli untuk membuat lubang lurus pada kayu. Jika lubang yang dibuat tidak lurus, maka sumpit yang dihasilkan tidak akan berfungsi secara maksimal. Demikian juga ketika hendak menggunakan sumpit, harus menguasai tehnik-tehnik khusus yang hanya dapat dilakukan dengan latihan-latihan. Dengan latihan-latihan tersebut, maka seseorang akan mempunyai keterampilan khusus.

Keempat, sakral. Ketika sebuah alat menjadi faktor yang diterminan dalam kehidupan masyarakat, maka biasanya alat itu akan segera dikonstruksi menjadi benda sakral, demikian juga dengan sumpit. Jika pada awalnya sumpit diciptakan untuk berburu atau berperang, namun karena posisinya semakin determinan dalam kehidupan orang Dayak, maka ia lambat laun mempunyai nilai sakral. Hal ini misalnya dapat dilihat dari penggunaan sumpit sebagai pelengkap upacara dan bahkan mas kawin dalam pernikahan orang Dayak.

Keempat nilai di atas secara jelas menunjukkan bahwa sumpit mempunyai posisi penting dalam struktur pengetahuan lokal masyarakat Dayak. Oleh karenanya, perlu dilakukan langkah-langkah serius untuk menjaga dan merevitalisasi sumpit sehingga tetap sesuai dengan perkembangan zaman.  

(Ahmad Salehudin/bdy/35/08-08).

Foto:

Referensi

Dibaca : 21.038 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password