Selasa, 29 Juli 2014   |   Arbia', 1 Syawal 1435 H
Pengunjung Online : 1.651
Hari ini : 12.747
Kemarin : 19.510
Minggu kemarin : 121.346
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.959.213
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Leluhur Suku Wana, di Kendari (Sulawesi Tengah)


Salah satu keluarga Suku Wana


A. Asal-usul

Berbicara tentang Suku Wana, pertama-tama yang harus diketahui adalah tentang sebuah kawasan yang terletak di pedalaman Propinsi Sulawesi Tengah bagian Timur. Kawasan yang dimaksud merujuk pada pemukiman Suku Wana yang meliputi wilayah pedalaman di Kabupaten Poso (terutama di Kecamatan Ampana Tete, Ulu Bongka, dan pedalaman Kecamatan Bungku Utara), Kabupaten Morowali (Kecamatan Mamosolato, Petasia, dan Soyojaya), dan wilayah pedalaman di Kabupaten Luwuk Banggai (Sudaryanto, 2005).

Oleh masyarakat luar, Suku Wana sering disebut sebagai Tau Taa Wana yang artinya orang yang tinggal di kawasan hutan. Namun, Suku Wana sendiri lebih sering menyebut dirinya dengan Tau Taa (tanpa wana), atau orang Taa. Hal ini disesuaikan dengan bahasa yang mereka gunakan, yaitu bahasa Taa –selain karena dalam bahasa mereka tidak dikenal istilah wana (Camang, 2006).

Dalam membangun kawasan pemukimannya, Suku Wana memilih untuk tidak membaur dengan penduduk mayoritas. Mereka memilih tinggal di kawasan pedalaman hutan Sulawesi Tengah dengan membangun semacam perkampungan yang disebut lipu. Dalam tradisi Suku Wana, nama kelompok masyarakat yang menempati lipu disesuaikan dengan nama kawasan di mana lipu tersebut berada. Misalnya To Posangke, To Oewaju, To Kajupoli, To Bulang, To Kajumarangke, To Untunue, To Langada, dan sebagainya (Departemen Transmigrasi dan PPH RI, Kantor Wilayah Propinsi Sulawesi Tengah, 1999/2000).


Salah satu Lipu atau perkampungan Suku Wana

Berdasarkan data sejarah, orang-orang Wana berasal dari sebuah kawasan di bagian selatan tenggara Pulau Sulawesi, tepatnya pada bagian Barat Daya atau Barat Laut Malili, di sebelah Tenggara Teluk Bone. Mereka sampai berada di pemukimannya saat ini diduga melalui gelombang migrasi pada ratusan tahun sebelum Masehi. Dari ciri-ciri fisik, kebudayaan material maupun dialek bahasa, Suku Wana termasuk dalam kelompok suku besar “Koro Toraja” yang rute migrasinya berawal dari muara antara Kalaena dan Malili kemudian menyusuri Sungai Kalaena dan terus ke utara melewati barisan Pegunungan Tokolekaju sampai akhirnya tiba di bagian tenggara Pesisir Danau Poso (Dirjen Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996/1997).

Dari tempat tersebut nenek moyang Suku Wana selanjutnya bergerak ke arah Timur Laut menyisir lereng Gunung Kadata menuju dataran Walati di Lembah Masewa yang dialiri Sungai La. Mereka terus bergerak ke arah timur menyusuri lembah Sungai Kuse sampai akhirnya tiba di daerah Hulu Sungai Bau. Kemudian melanjutkan perjalanan migrasinya ke arah timur hingga mencapai Hulu Sungai Bongka (Kaju Marangka). Di sini mereka kemudian menetap dan berkembang menjadi kelompok etnik Tau Taa Wana (Mattulada, 1985).

Dari Kaju Marangka, menurut A.C Kryut, peneliti awal dari Belanda, dalam artikelnya yang berjudul De To Wana op Oost-Celebes (1930), sebagian imigran tersebut kemudian menyebar dan mengelompok menjadi empat suku yang memiliki dialek bahasa yang berbeda, yaitu:

  1. Suku Barangas, berasal dari Luwuk dan bermukim di kawasan Lijo, Parangisi, Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro;
  2. Suku Kasiala, berasal dari Tojo Pantai Teluk Tomini dan kemudian bermukim di Manyoe, Sea, sebagian di Wumanggabino, Uepakatu, dan Salubiro;
  3. Suku Posangke, berasal dari Poso dan berdiam di kawasan Kajupoli, Toronggo, Opo, Uemasi, Lemo, dan Salubiro;
  4. Suku Untunue, mendiami Ue Waju, Kajumarangka, Salubiro, dan Rompi. Kelompok suku ini sampai sekarang masih menutup diri dari pengaruh luar (Yayasan Sahabat Morowali, 1998).

Pendapat sejarah di atas mendapat pembenaran dari para tetua adat Suku Wana, terutama tetua-tetua adat di Bulang dan tetua-tetua adat di Cagar Alam Morowali, yang meyakini bahwa leluhur mereka adalah satu, berasal dari Tundantana, yaitu sebuah tempat di wilayah Kaju Marangka, yang berada dalam kawasan Cagar Alam (CA) Morowali. Tundantana diyakini sebagai tempat manusia pertama yang dititiskan dari langit dan kemudian melahirkan leluhur-leluhur Suku Wana.


B. Konsepsi Leluhur Suku Wana

Dilihat dari tipe kebudayaan yang dikembangkan, Suku Wana tergolong dalam rumpun Austronesia. Hal ini dapat dilihat dari cara mereka dalam menjelaskan asal-usul leluhur mereka yang konon turun dari langit (Sudaryanto, 2005). Menurut para tetua adat Suku Wana, ada empat tempat utama wilayah sebaran Suku Wana sekarang, yang berhubungan langsung dengan mitologi asal-usul leluhur Suku Wana, yaitu: Kaju Kele‘i yang lebih populer dengan sebutan Kaju Marangka, Tongku Tua, dan Watumoana yang ketiganya berada di kawasan Cagar Alam Morowali, serta Sarambe yang terletak di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bulang bagian Hulu, tepatnya dalam wilayah adat Suku Wana Bulang Lipu Mpoa (Camang, 2003).

Para tetua adat Suku Wana percaya bahwa silsilah leluhur mereka yang pertama adalah seorang perempuan bernama Ngga yang diturunkan ke bumi oleh Pue (Tuhan) dan seorang lelaki bernama Mbakale yang menitis dari sebatang kayu besar bernama Kaju Paramba‘a. Keduanya kemudian kawin dan melahirkan dua orang anak. Anak pertama bernama Manyamrame (perempuan), dan anak kedua bernama Manyangkareo (laki-laki). Setelah dewasa, Manyamrame dan Manyangkareo kemudian dikawinkan. Dari perkawinan tersebut, lahir tujuh orang anak, masing-masing: Jambalawa (perempuan), Sansambalawa (laki-laki), Lapabisa (perempuan), Vuampuangka (laki-laki), Pini (perempuan), dan Adimaniyu (perempuan) (Dinas Kesejahteraan Sosial Daerah Propinsi Sulawesi Tengah, 2003).  

Selain Pini yang tetap melajang di Kaju Marangka hingga membatu menjadi watumona (batu beranak), keenam saudaranya dikawinkan-mawinkan –yang masing-masing sebagai berikut: Jambalawa dengan Animasa (merantau ke tanah Gowa dengan menggunakan bintang tiga); Sansambalawa dengan Adimaniyu (merantau ke tanah Cina dengan menumpang bintang tujuh), serta Lapabisa dengan Vumpuangka (merantau ke tanah Jawa dengan menggunakan kapal). Sedangkan Pini, tetap lajang di Kaju Marangka, dan diyakini sebagai orang yang sekarang menjadi watumoana (Yayasan Sahabat Morowali, 1998).

Dari perkawinan antara Jambalawa dengan Animasa, membuahkan sejumlah keturunan. Tiga diantara anak keturunan itu datang kembali ke Burangas (tanah asal orang tuanya), yakni: Pue Loloisong di Kaju Marangka dan Pue Rorat di Sarambe, Janggu Wawu di Kaju Marangka. Sedangkan Sansambalawa dengan Adimaniyu mendapatkan anak bernama “Pue Dungola” yang sempat datang ke Tongku Tua tetapi kembali lagi ke Cina (Dinas Kesejahteraan Sosial Daerah Propinsi Sulawesi Tengah, 2003).

Pue Loloisong, Pue Rorat dan Janggu Wawu inilah yang diyakini sebagai leluhur langsung Suku Wana. Pue Loloisong, menurut keyakinan umum Tau Taa Wana dimakamkan di Kaju Marangka, sementara Janggu Wawu menghilang ke alam lain ketika berada di Gunung Tongku Tua. Sedangkan makam Pue Rorat diyakini berada dalam gua di puncak gunung Sarambe, yang berada dalam wilayah lipu Mpoa (Dinas Kesejahteraan Sosial Daerah Propinsi Sulawesi Tengah, 2003). .

Lebih jelasnya mengenai silsilah leluhur Suku Wana dapat dilihat pada bagan di bawah ini:

Silsilah Leluhur Tau Taa Wana


Sumber: http://www.ymp.or.id/

Terlepas dari benar tidaknya keyakinan tersebut, yang pasti Museum Sulawesi Tengah sejak tahun 1970-an telah menetapkan Gua Sarambe sebagai tempat yang dilindungi sebagai cagar budaya. Dalam gua tersebut banyak terdapat benda-benda peninggalan sejarah berupa guci kuno dan tempayan.


C. Pengaruh Sosial

Sebagaimana suku-suku pedalaman lainnya, Suku Wana juga menjalankan pola hidup yang secara simbolik terkait dengan upaya menjaga keharmonisan hubungan dengan para leluhur mereka. Satu hal yang paling menonjol dari upaya tersebut adalah dengan menjaga setiap jengkal tanah yang diwariskan oleh leluhur mereka. Dalam keyakinan Suku Wana, tanah (tana poga‘a) diciptakan oleh Pue (Tuhan) adalah tidak lain untuk menjadi tempat hidup leluhur pertama mereka. Jadi, tanah tempat hidup mereka sekarang ini adalah tanah yang diberikan oleh Pue kepada nenek moyang mereka, yang selanjutnya diwarisi oleh Orang Wana saat ini untuk dijaga kelestariannya. Jika tanah tersebut sampai rusak atau berubah fungsi, maka Pue dan leluhur mereka akan murka dan segera mendatangkan bencana alam seperti tanah longsor dan kebakaran hutan. Dalam kehidupan sehari-hari, Suku Wana menyebut tanah warisan leluhur mereka dengan “tana ntautua” atau tanah para leluhur (Yayasan Sahabat Morowali, 1998).

Keyakinan tentang kekeramatan tentang tana ntautua begitu melembaga dalam kehidupan Suku Wana hingga sekarang ini. Hal ini membuat Suku Wana selalu menolak setiapkali pemerintah berniat memindahkan (resettlement) mereka menuju kawasan pemukiman yang menurut pemerintah lebih layak. Bagi Suku Wana, resettlement tersebut adalah sebuah pemaksaan untuk membuat mereka durhaka kepada leluhur, karena tidak lagi menjaga dan mempertahankan tana ntautua (Camang, Nunci, dan Tampobolon, 2005).

Keteguhan menjaga tana ntautua tersebut juga melahirkan implikasi-implikasi simbolik yang bagi Suku Wana telah menjadi semacam hukum adat yang harus dipatuhi. Pengaruh-pengaruh tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:


1. Menebang pohon berakibat pada petaka

Dalam keyakinan Suku Wana, pohon berfungsi sebagai perekat tanah leluhur. Jika pohon ditebang secara berlebihan, maka tanah menjadi tidak rekat lagi sehingga dapat mengakibatkan terjadinya bencana alam. Dengan demikian, dalam memaknai fungsi pohon, Suku Wana memiliki kesamaan dengan kaum konservasionis yang juga menganggap pohon berfungsi sebagai perekat tanah. Hanya saja keduanya memiliki alasan yang berbeda. Jika kesimpulan kaum konservasionis itu merujuk pada ilmu ekologi modern, maka kesimpulan Suku Wana merujuk pada cerita tentang kaju paramba‘a. Tetua adat Suku Wana menjelaskan cerita kaju paramba‘a sebagai berikut:

Kaju kele‘i dan kaju paramba‘a adalah kayu yang sengaja ditancapkan oleh Pue (Tuhan) tidak saja untuk melindungi leluhur Suku Wana tetapi juga untuk mengikat tanah leluhur atau tana ntautua agar kuat dan terus menyatu. Tapi karena kaju paramba‘a kemudian ditebang oleh Ngga, akibatnya timbul bencana tanah longsor, sehingga tana ntautua terpecah menjadi pulau-pulau. Tana ntautua yang dulunya luas menjadi sempit. Setelah kaju paramba‘a ditebang, maka yang mengikat tana ntautua tinggal kaju kele‘i. Jika kaju kele‘i juga ditebang, tanah akan longsor lagi dan tana ntautua yang sudah sempit akan menjadi semakin sempit” (dalam Abubakar dan Camang, 2004).

Selain tanah dan kayu, satu komponen lagi yang menurut Suku Wana harus dilindungi adalah sungai. Pohon-pohon besar (kaju), tanah (tana), dan sungai (ue) adalah kesatuan yang saling terkait. Kesatuan itulah yang oleh Suku Wana kemudian disebut sebagai hutan atau pangale. Jika salah satu unsur pangale tersebut dirusak, maka keseimbangan kesatuan tersebut akan rusak. Untuk itu, menurut keyakinan Suku Wana, jika manusia ingin kehidupannya di dunia ini terhindar dari bencana, maka mereka harus mampu menjaga kelestarian pangale-nya (Yayasan Sahabat Morowali, 1998).


2. Pangale: Orang tua yang harus dilindungi

Makna simbolik lain yang juga melembaga sampai saat ini di kalangan Suku Wana sebagai hasil dari penfasiran terhadap cerita kaju paramba‘a adalah “hutan sebagai orang tua”. Hal ini pernah disampaikan oleh Jeo, pemuka adat dari Lipu Mpoa, dalam acara “Lokakarya dan Dialog Nasional Promosi Sistem Hutan Kerakyatan,” di Jakarta tanggal 3 – 7 Juli 2000. Ketika itu, Jeo yang biasa dipanggil Apa Inse, memaparkan:

“Istilah hutan bagi kami adalah Pangale. Dia adalah Ibu bagi masyarakat kami. Kenapa hutan itu kami jaga karena hutan (pangale) adalah ibu kami. Dalam melakukan kapongo (membuka hutan), kami bikin upacara adat, karena itu termasuk memindahkan nyawa ibu. Navu (kebun) kami akan hidup karena dalam lindungan ibu (pangale)… kami marah pada HPH karena merusak hutan. Kami yang pelihara hutan justeru dianggap merusak” (dalam Camang, Nunci, dan Tampubolon, 2005).

Sewaktu menjelaskan makna “pangale sebagai ibu” pada lokakarya tersebut, Jeo menafsirkan pangale sebagai kesatuan antara ue (sungai), tana (tanah) dan propo (pepohonan atau kaju dalam bentuk jamak). Jeo menulis demikian:

… Di dalam sejarahnya, orang tua dulu menganggap hutan dan tanah sebagai ayah dan ibu. Hutan atau pohon-pohon (propo) itu ayah dan tanah itu ibu. Sehingga kami Tau Taa mengelola hutan dan tanah harus dibuatkan kapongo (sesajian) mampasimang. Tujuannya permisi kepada ayah dan ibu dan menghindari musibah… (dalam Camang, Nunci, dan Tampubolon, 2005).

Pada kesempatan terpisah, Apan Sewu, tetua adat Suku Wana dari Bulang juga mengungkapkan ikhwal pemaknaan pepohonan sebagai ayah dan tanah sebagai ibu berdasarkan tafsir terhadap mitologi kaju paramba‘a. Menurut Apan Sewu, Pue sebenarnya menurunkan dua manusia ke bumi, tetapi hanya Ngga (perempuan) yang dapat mencapai Tanah, sedangkan yang satunya –yang bernama Mbala—tersangkut di pohon dan kemudian berubah menjadi monyet. Ketika Ngga menebang Kaju Paramba‘a, dari pohon itu menitis Mbakale (laki-laki). Ngga dan Mbakale kawin dan melahirkan Tau Taa Wana Bulang. Dari cerita Apan Sewu ini, secara simbolik dapat disimpulkan bahwa Ngga yang sampai di tanah adalah representasi dari ibu moyang, sedangkan Mbakale yang keluar dari pohon kayu (kaju paramba‘a) adalah representasi dari bapak moyang (Yayasan Sahabat Morowali, 1998).


Aksi spiritual penyelamatan hutan dari ancaman deforestasi


3. Pangale: Tempat Keramat

Selain memaknai hutan berdasarkan penafsirannya terhadap cerita kaju paramba‘a, komunitas Suku Wana juga memiliki pemahaman tentang hutan berdasarkan keyakinannya terhadap pandangan dunianya (kosmologi). Dari pandangan dunia ini, mereka kemudian menafsirkan hutan (pangale) sebagai tempat sakral (keramat) yang mesti diperlakukan secara religio magis. Suku Wana percaya bahwa terdapat tiga jenis kekuatan roh yang menjaga hutan, yaitu roh-roh suci (malindu maya, malindu oyo, lamba jadi), roh-roh jahat (walia), dan arwah-arwah manusia (rate). Menyebut nama roh-roh ini adalah pantangan bagi Suku Wana ketika mereka berada di dalam hutan, kecuali sedang melakukan ritual-ritual tertentu (Camang, Nunci, dan Tampubolon, 2005). Keyakinan akan adanya roh penunggu hutan tersebut membuat Suku Wana memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pelestarian kawasan hutan. Sebab, jika hutan dirusak, roh-roh penunggu hutan akan marah, dan selanjutnya akan mendatangkan malapetaka kepada manusia yang merusak hutan tersebut.

(Afthonul Afif/bdy/03/09-08)


Daftar Pustaka

  • Abubakar, M.A., dan Nasution Camang, 2004, Kelembagaan dan Sosial Budaya Masyarakat Hukum Adat Tau Taa Wana di Kawasan Aliran Sungai Bulang Propinsi Sulawesi Tengah, Laporan Hasil Studi, Yayasan Merah Putih Palu. Didownload dari www.ymp.or.id/component/option,com_docman/task,doc_view/gid,95/Itemid,4/  pada tanggal 11 Agustus 2008.
  • Camang, N, 2006, “Tauu Taa Wana dan Rekognisi”, Makalah Seminar bertajuk “Demokratisasi Hubungan antara Pemerintah dan Tauu Taa Wana yang Berkeadilan”, Sulawesi Tengah, 5 Desember 2006. Didownload dari http://209.85.175.104/search?q=cache:UHXoQ3-5SqYJ:www.ymp.or.id/component/option,com_docman/task,doc_view/gid,122/Itemid,4/+leluhur+suku+wana&hl=en&ct=clnk&cd=5 pada tanggal 21 Agustus 2008.
  • Camang, N., 2003, Tau Taa Wana Bulang: Bergerak untuk Berdaya, Yayasan Merah Putih Palu --- Regenskogsfondet Indonesia, Palu.
  • Camang, N., Nungcy, H.A., dan Tampubolon, MHR., 2005, Usulan Naskah Akademik Peraturan Daerah Propinsi Sulawesi Tengah Prakarsa/Inisiatif tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Tau Taa Wana, Yayasan Merah Putih Palu.
  • Departemen Transmigrasi dan PPH RI, Kantor Wilayah Propinsi Sulawesi Tengah, Ringkasan Rencana Teknis Pembinaan UPT Dataran Bulan II Kab. Poso Propinsi Sulawesi Tengah TA 1999/2000.
  • Dinas Kesejahteraan Sosial Daerah Propinsi Sulawesi Tengah, Pengkajian Calon Lokasi Pemukiman Komunitas Adat Terpencil (KAT) Suku Wana (Tau Taa) di Lokasi Mpoa, Desa Bulan Jaya, Kecamatan Ampana Tete, Kabupaten Poso, Propinsi Sulawesi Tengah, Laporan Hasil Pengkajian tahun 2003. 
  • Dirjen Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Sulawesi Tengah: Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai- Nilai Budaya Sulawesi Tengah”, 1996/1997.
  • Mattulada, H.A., 1985, “Manusia dan Kebudayaan Kaili di Sulawesi Tengah”, dalam Majalah GAGASAN, Universitas Tadulako, No. III, Tahun I, Desember 1985.
  • Sudaryanto, I. Y., 2005, “Kesukuan dan Pertentangan Agama di Cagar Alam Morowali: Kasus Orang-Orang Wana di Kajupoli Sulawesi Tengah”, dalam Hikmat Budiman, ed., Hak-Hak Minoritas: Dilema Multikulturalisme di Indonesia, Jakarta: Yayasan Interseksi bekerjasama dengan Tifa Foundation.
  • Yayasan Sahabat Morowali, 1998, Hutan dalam Pandangan Orang Wana, Laporan Studi.

Kredit foto:

Dibaca : 14.507 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password