Sabtu, 1 November 2014   |   Ahad, 8 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.436
Hari ini : 7.568
Kemarin : 21.974
Minggu kemarin : 177.917
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.296.282
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Hikayat Seri Rama

a:3:{s:3:

Hikayat Seri Rama sangat terkenal karena isinya memang memberi banyak pelajaran yang bermanfaat dalam kehidupan di masyarakat biasa maupun dalam lingkungan kerajaan. Karya ini berjiwa Hindu dan beraliran Wisnu yang mengajarkan kebaktian secara horizontal maupun vertikal dan menekankan bahwa hidup ini dianggap suci dan patut dihormati.

Hikayat ini ditulis dalam bentuk prosa dan menurut Stutterheim bahwa isinya bernuansa kerakyatan dan mengusik jiwa pembaca. Cerita ini berawal dari adanya pembukaan negeri baru Mandura Pura Negara yang diprakarsai oleh Perdana Menteri Puspa Jaya Kerma. Sebelum Raja Dasarata pindah ke tempat ini, Dasarata dan rakyatnya mengadakan perarakan besar. Pada saat perarakan ini, tandu atau tunggangan yang dinaiki oleh Dasarata patah, namun istri keduanya yaitu Bala Dari dengan sigap menopang tunggangan tersebut dengan tangannya. Melalui peristiwa ini baginda mengeluarkan pernyataan bahwa anaknya akan dijadikan raja di negeri baru.

Dalam hikayat ini juga terdapat silsilah Dasarata, peristiwa baginda berburu, peristiwa Maharesi menyuruh Dasarata membunuh seribu ekor gajah, perjumpaan dengan Maharesi Bagawan Bakrama Dewa, peristiwa Dasarata sakit, kelakuan Seri Rama ketika tumbuh menjadi besar, peristiwa Rawana ketika ingin memperistri Mandu Dari, dan seterusnya. Yang tidak kalah penting dalam hikayat ini adalah penggambaran budi pekerti Rama, dia sebagai seorang pahlawan yang gagah berani dan berbudi pekerti baik, mengasihi para menteri, hulubalang dan rakyatnya. Namun menjelang dewasa, dia menjadi jahat, suka mengganggu rakyatnya dan bahkan menyakiti ibunya.

Ringkasan Hikayat Seri Rama

Dalam hikayat ini dikisahkan bahwa Raja Dasarata mempunyai seorang putra dari istri pertamanya, yang diberi nama Seri Rama. Setelah dewasa, putra ini dijodohkan dengan Dewi Sita. Sedangkan dari istri keduanya, Sang Raja menurunkan seorang putra bernama Bharata. Sebelum meninggal, Raja Dasarata menjanjikan kepada istri keduanya untuk menjadikan Bharata sebagai Raja.

Mengetahui hal ini, Seri Rama melarikan diri ke tengah rimba Dandaka bersama dengan istrinya. Dewi Sita mempunyai raut wajah yang amat cantik dan kecantikannya itu tersebar ke mana-mana, sampai Maharaja Rawana, Raja Langkapura, mendengar berita ini. Karena keangkaramurkaannya yang selalu ingin memiliki apa ia inginkan, Rawana juga menginginkan Dewi Sita sebagai permaisurinya. Rawana ingin merebut istri Seri Rama dengan cara menculiknya ketika ia sedang berburu. Disuruhlah pengikutnya untuk menyamar menjadi seekor Kijang Kencana. Dewi Sita sangat menginginkan kijang itu. Karena kecintaannya, maka Seri Rama memburu kijang itu sampai jauh dari tempat tinggal mereka, padahal ia tahu bahwa kijang itu hanyalah kijang jadi-jadian. 

Sebelum ditinggal pergi, Sita diberi pembatas garis melingkar dimana ia berdiri dan dilarang untuk keluar dari garis itu. Dengan segala tipu dayanya, Rawana berubah wujud menjadi seorang kakek tua yang memohon pertolongan Dewi Sita. Ia lupa akan pesan suaminya. Akhirnya Dewi Sita bisa dibawa kabur ke Langkapura. Dewi Sita dibawa terbang oleh Rawana. Namun dalam perjalanan, Rawana harus berhadapan dengan seekor garuda yang berusaha menghalangi niat jahatnya. Garuda kalah tidak berdaya dan jatuh ke tanah. Sebelum meninggal, ia ditemukan oleh Seri Rama dan sempat menyampaikan berita kepadanya bahwa Dewi Sita diculik oleh Rawana.

Dewi Sita berhasil dibawa ke Langkapura oleh Maharaja Rawana. Seri Rama kemudian mencari Dewi Sita di Istana Langkapura. Akhirnya, Seri Rama dapat berhadapan untuk berkelahi dengan Maharaja Rawana. Kemenangan ada pada pihak Seri Rama, ketika anak panahnya berhasil mengenai dada Rawana dan membakar dirinya. Dewi Sita berhasil direbut kembali oleh Seri Rama, namun beliau enggan menerima Dewi Sita sebagai istrinya karena ragu-ragu akan kesuciannya. Maka beliau minta kepada Dewi Sita untuk dapat membuktikan bahwa dirinya tidak pernah dinodai. Dewi Sita membuktikan dengan cara membakar dirinya dengan sambil berjalan di atas api. Dalam ujian itu, Dewi Sita tidak hangus terbakar, yang menandakan bahwa ia tidak ternoda.

Maharaja Rawana masih menyimpan dendam pada Seri Rama. Ia masih menginginkan Dewi Sita. Kemudian ia meminta pertolongan kepada Kikewi Dewi untuk melukiskan wajahnya pada kipas yang mana saat Dewi Sita tidur kipas itu diletakkan di atas dadanya. Sehingga setiap Dewi Sita memandang Seri Rama masih terbayang Rawana. Setelah mengetahui hal itu, Seri Rama menolak kesucian Dewi Sita. Dewi Sita pun dibuang ke pengasingan selama 12 tahun.

Setelah 12 tahun, Seri Rama mulai menyadari kekhilafannya dan mulai insyaf akan kelakuannya yang telah menyia-nyiakan Dewi Sita. Ia berkeyakinan bahwa istrinya masih suci sebagaimana dibuktikan bahwa binatang-binatang di sekeliling Dewi Sita ikut bersedih. Burung-burung tidak berkicau dan yang lebih parah lagi Kikewi Dewi termakan sumpah Dewi Sita, yaitu tidak bisa berkata-kata apa pun. Akhirnya Dewi Sita diterima kembali oleh Seri Rama dan mereka hidup bahagia.

(FX. Indrojiono/sas/5/10/08)

Daftar Pustaka

Kredit foto : www.4dham.com
Dibaca : 23.579 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password