Rabu, 22 Oktober 2014   |   Khamis, 27 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.469
Hari ini : 10.430
Kemarin : 21.528
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.255.958
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Serampang Duabelas
Tari Tradisional Melayu Kesultanan Serdang, Sumatra Utara


Bersatunya sapu tangan sebagai simbol bersatunya dua hati

A. Asal-usul

Tari Serampang Duabelas merupakan tarian tradisional Melayu yang berkembang di bawah Kesultanan Serdang. Tarian ini diciptakan oleh Sauti pada tahun 1940-an dan digubah ulang oleh penciptanya antara tahun 1950-1960 (http://www.wisatamelayu.com/id; http://cetak.kompas.com). Sebelum bernama Serampang Duabelas, tarian ini bernama Tari Pulau Sari, sesuai dengan judul lagu yang mengiringi tarian ini, yaitu lagu Pulau Sari (www.wisatamelayu.com/id; http://cetak.kompas.com; Sinar, 2009: 48).

Sedikitnya ada dua alasan mengapa nama Tari Pulau Sari diganti Serampang Duabelas. Pertama, nama Pulau Sari kurang tepat karena tarian ini bertempo cepat (quick step). Menurut Tengku Mira Sinar, nama tarian yang diawali kata “pulau” biasanya bertempo rumba, seperti Tari Pulau Kampai dan Tari Pulau Putri. Sedangkan Tari Serampang Duabelas memiliki gerakan bertempo cepat seperti Tari Serampang Laut. Berdasarkan hal tersebut, Tari Pulau Sari lebih tepat disebut Tari Serampang Duabelas. Nama duabelas sendiri berarti tarian dengan gerakan tercepat di antara lagu yang bernama serampang (Sinar, 2009: 48). Kedua, penamaan Tari Serampang Duabelas merujuk pada ragam gerak tarinya yang berjumlah 12, yaitu: pertemuan pertama, cinta meresap, memendam cinta, menggila mabuk kepayang, isyarat tanda cinta, balasan isyarat, menduga, masih belum percaya, jawaban, pinang-meminang, mengantar pengantin, dan pertemuan kasih (Sinar, 2009: 49-52; www.wisatamelayu.com/id). Penjelasan tentang ragam gerak Tari Serampang Duabelas akan dibahas kemudian.

Menurut Tengku Mira Sinar, tarian ini merupakan hasil perpaduan gerak antara tarian Portugis dan Melayu Serdang. Pengaruh Portugis tersebut dapat dilihat pada keindahan gerak tarinya dan kedinamisan irama musik pengiringnya.

Seni Budaya Portugis memang mempengaruhi bangsa Melayu, terlihat dari gerak tari tradisionalnya (Folklore) dan irama musik tari yang dinamis, dapat kita lihat dari tarian Serampang XII yang iramanya tari lagu dua. Namun kecepatannya (2/4) digandakan, gerakan kaki yang melompat-lompat dan lenggok badan serta tangan yang lincah persis seperti tarian Portugis. Sebagai seorang penari tentu saya takjub dengan adanya kaitan budaya antara kedua negara ini, dan sebagai puteri Melayu Serdang, dalam khayalan saya bayangkan ketika guru Sauti menari di hadapan Sultan Sulaiman di Istana Kota Galuh Perbaungan. Sungguh betapa cerdas beliau dengan imajinasinya menggabungkan gerak tari Portugis dan Melayu Serdang, sehingga tercipta tari Serampang XII yang terkenal di seluruh dunia itu (Tengku Mira Sinar, www.waspada.co.id).

Tari Serampang Duabelas berkisah tentang cinta suci dua anak manusia yang muncul sejak pandangan pertama dan diakhiri dengan pernikahan yang direstui oleh kedua orang tua sang dara dan teruna. Oleh karena menceritakan proses bertemunya dua hati tersebut, maka tarian ini biasanya dimainkan secara berpasangan, laki-laki dan perempuan. Serampang Duabelas tidak hanya berkembang dan dikenal oleh masyarakat di wilayah Kesultanan Serdang, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia, seperti Riau, Jambi, Kalimantan, Sulawesi, bahkan sampai ke Maluku. Bahkan, tarian ini sering dipentaskan di manca negara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, dan Hongkong (www.wisatamelayu.com/id).


Dalam perkembangannya, Tari Serampang Duabelas dibawakan
oleh sepasang muda-mudi.

Keberadaan Tari Serampang Duabelas yang semakin mendunia ternyata memantik kegelisahan sebagian masyarakat Serdang Bedagai pada khususnya, dan Sumatra Utara pada umumnya. Kekhawatiran tersebut muncul karena dua hal. Pertama, persebaran Tari Serampang Duabelas ke berbagai daerah dan negara tidak diimbangi dengan transformasi kualitasnya. Artinya, transformasi Tari Serampang Duabelas terjadi hanya pada bentuknya saja, bukan kepada tekniknya. Menurut Jose Rizal Firdaus (Kompas, 1 Juli 2008), salah satu yang mengkhawatirkan dari perkembangan Tari Serampang Duabelas adalah pendangkalan dalam hal teknik menari. Hal ini disebabkan oleh orang-orang dari luar daerah Deli Serdang yang memainkan tarian ini tidak didukung oleh penguasaan terhadap teknik yang benar. Akibatnya, terjadi pergeseran teknik tari dari aslinya.

Kedua, minimnya kepedulian generasi muda kepada Tari Serampang Duabelas. Meluasnya persebaran tarian ini ke berbagai daerah ternyata tidak diimbangi dengan meningkatnya kecintaan generasi muda Serdang Bedagai terhadap tarian ini. Kondisi ini tidak saja dapat menyebabkan Tari Serampang Duabelas hilang karena tidak ada penerusnya, tapi juga bisa hilang karena diklaim oleh pihak lain (Kompas, 1 Juli 2008).

Kedua fenomena tersebut harus disikapi secara cepat dan tepat agar Tari Serampang Duabelas tidak saja lestari, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Serdang Bedagai pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Sedikitnya ada tiga hal yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan Tari Serampang Duabelas. Pertama, menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai aset daerah. Artinya, pemerintah harus melakukan proteksi agar tarian ini tidak diklaim oleh pihak lain, yaitu dengan mematenkan hak ciptanya.

Kedua, mendekatkan Tari Serampang Duabelas kepada anak-anak dan remaja. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai salah satu materi pengajaran muatan lokal. Dengan menjadikan Tari Serampang Duabelas sebagai materi muatan lokal, maka anak-anak sejak dini diajarkan untuk mengetahui sejarah keberadaannya dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap geraknya. Dengan cara ini, maka kita telah berusaha menanamkan kepada generasi muda rasa cinta, bangga, dan rasa memiliki terhadap Tari Serampang Duabelas.

Ketiga, menyelenggarakan perlombaan rutin Tari Serampang Duabelas. Menyelenggarakan perlombaan tari artinya mencari orang yang mempunyai kemampuan terbaik dalam menari. Dalam perlombaan, hanya yang terbaiklah yang akan menjadi juara. Untuk menjadi yang terbaik, setiap orang harus belajar dengan sungguh-sungguh agar mempunyai kemampuan menari yang lebih baik dari orang lain. Melalui strategi ini, setiap orang secara halus “dipaksa” untuk mempelajari Tari Serampang Duabelas secara baik dan benar. Jika cara ini berjalan, maka ada dua hal yang dicapai sekaligus, yaitu lestarinya Tari Serampang Duabelas pada satu sisi, dan terjaganya kualitas teknik Tari Serampang Duabelas pada sisi yang lain.

Keempat, memberikan jaminan kesejahteraan hidup para pelestarinya. Para stake holder, khususnya pemerintah, perlu membuat terobosan agar para pelestari Tari Serampang Duabelas, dan juga para pelestari warisan budaya lainnya, dapat hidup secara salayak. Para pelestari kebudayaan kebudayaan tentu akan terus bekerja dan mengabdikan hidupnya untuk melestarikan warisan budaya jika apa yang dilakukan tidak saja secara normatif menjaga kelestarian budaya, tetapi juga secara praktis menjadi penopang keberlangsungan hidupnya. Seringkali warisan budaya dibiarkan terlantar karena “tidak memberikan” manfaat kepada pemiliknya.        

B. Peralatan

Untuk menarikan Tari Serampang Duabelas, sedikitnya ada tigal hal yang harus dipersiapkan, yaitu:

  • Musik pendukung. Pada awal perkembangannya, musik pendukung tarian ini menggunakan peralatan musik tradisional. Namun seiring perkembangan zaman, peralatan musik yang digunakan semakin beragam.  
  • Pakaian penari. Biasanya, pakaian yang digunakan untuk menari Tari Serampang Duabelas adalah pakaian adat Melayu di pesisir pantai timur Pulau Sumatra. Walaupun bukan menjadi peralatan utama, keberadaan pakaian ini sangat penting. Sedikitnya ada dua alasan mengapa faktor pakaian menjadi penting, yaitu: pertama, warna-warni pakaian adat yang digunakan akan menjadikan ragam Tari Serampang Duabelas yang dimainkan semakin indah dan menarik; kedua, penggunaan pakaian adat menjadi penanda daerah asal Tari Serampang Duabelas.
  • Sapu tangan. Sapu tangan dalam Tari Serampang Duabelas mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai kombinasi pakaian adat, dan sebagai media tari pada gerakan penutup tarian.


"Penari laki-laki memakai Pakaian Teluk Belanga
dan penari perempuan memakai Kebaya Kekek.
Sapu tangan yang ditautkan merupakan simbol bersatunya
cinta kasih sepasang muda-mudi"

C. Penari

Tari Serampang Duabelas dimainkan secara berpasangan oleh laki-laki dan perempun. Namun, pada awal perkembangannya, tarian ini dimainkan secara berpasangan oleh laki-laki.

D. Gerakan Tari

Dinamakan Tari Serampang Duabelas karena gerakan tari yang bercerita tentang proses pencarian jodoh ini terdiri dari dua belas ragam gerakan.  Keduabelas ragam gerakan tersebut adalah (Tengku Mira, 2009: 49-52; www.wisatamelayu.com):

Ragam I : Tari permulaan (pertemuan pertama dua orang muda-mudi).

Gerakan pembuka Tari Serampang Duabelas diawali dengan menari ditempat, kemudian mundur sambil berputar sembari melompat-lompat kecil. Gerakan ini bertutur tentang bertemunya sepasang anak muda. Pada pertemuan pertama tersebut, dalam diri sepasang pemuda muncul rasa ingin mengenal tapi masih malu-malu.

Ragam II : Tari berjalan (cinta meresap).

Pada ragam kedua ini gerak tarian dilakukan sambil berjalan kecil, berputar dan berbalik ke posisi semula. Ragam ini menunjukkan bahwa dalam hati sepasang anak muda tersebut  mulai muncul benih-benih cinta. Benih-benih cinta tersebut terus berkembang, namun keduanya masih belum berani untuk mengutarakannya.


Kedua muda-mudi mulai saling jatuh cinta

Ragam III : Tari pusing (memendam cinta).

Dinamakan tari pusing karena gerakan tarinya berputar-putar. Dalam ragam ini sepasang pemuda semakin sering bertemu, sehingga benih-benih cinta dalam hati mereka semakin tumbuh subur. Namun, cinta mereka yang menggelora harus mereka pendam. Kondisi ini menyebabkan sepasang pemuda yang sedang kasmaran semakin tersiksa (pusing).

Ragam IV : Tari gila (gila karena mabuk kepayang).

Pada ragam IV ini, gerakan tarinya berlenggak-lenggok dan terhuyung-huyung sebagaimana orang yang sedang mabuk. Gerakan seperti orang mabuk merupakan simbol dari dua pasang kekasih yang sedang mabuk kepayang, akibat terlalu lama harus memendam cinta yang semakin menggelora.

Ragam V : Tari berjalan bersipat (isyarat tanda cinta).

Gerakan tari pada Ragam V ini sering juga disebut dengan ragam gila. Ragam ini menunjukkan bahwa sang pemuda semakin tidak mampu menahan hasrat hatinya. Kemanapun si gadis pergi, si pemuda senantiasa mengikuti. Nampaknya, dalam diri sang pemuda telah muncul tekad sekali melangkah pantang surut ke belakang. Pada tahap ini, sang pemuda mulai mengirimkan tanda-tanda bahwa ia jatuh cinta kepada si gadis.

Ragam VI : Tari goncet-goncet (balasan isyarat).

Tari dengan sikap goncet-goncet merupakan simbol pihak si gadis membalas isyarat yang disampaikan si pemuda, dan si pemuda berupaya untuk memahami maksud dari isyarat tersebut. Jika diverbalkan dengan kata-kata, maka sikap goncet-goncet maksudnya adalah “Dindapun juga demikian wahai Kakandaku.”

Setelah sepasang pemuda tersebut mengetahui perasaan masing-masing, hati keduanya semakin mantap untuk bersatu. Rasa mantap tersebut dipata dilihat pada gerakan tari yang seirama dan sejalan.

Ragam VII: Tari sebelah kaki kiri/kanan (menduga-duga).

Ragam ini menunjukkan bahwa dalam hati sepasang pemuda tersebut mulai tumbuh kesepahaman atas isyarat-isyarat yang mereka kirimkan. Keyakinan mereka dikuatkan dengan janji untuk melanjutkan kisah yang mereka rajut hingga memasuki jenjang perkawinan. Setelah janji diucapkan, sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara tersebut pulang untuk bersiap-siap melanjutkan cerita indah selanjutnya.

Ragam VIII: Tari langkah tiga melonjak maju mundur (masih belum percaya).

Pada ragam VIII ini, gerakan tarinya melonjak maju-mundur. Gerakan ini merupakan simbol dari proses meyakinkan diri terhadap calon pasangannya. Sepasang muda-mudi yang telah berjanji, mencoba kembali meresapi dan lebih meyakinkan diri untuk memasuki tahap kehidupan selanjutnya. Setelah mereka semakin yakin, kebahagiaan menyelimuti mereka. Mereka asik bersenda-gurau menyongsong masa pengenalan dengan kedua keluarga besar. Kegembiraan ini ditunjukkan dengan gerakan tari yang rancak dan gembira.


Kedua pemuda menunggu masa perkenalan
dengan keluarga besarnya

Ragam IX: Tari melonjak (jawaban).

Disebut tari melonjak karena gerakan tari dilakukan dengan melonjak-lonjak. Gerakan ini sebagai simbol menunggu restu kedua orang tua masing-masing. Hati kedua pemuda tersebut berdebar-debar menunggu jawaban dan restu orang tua mereka.

Ragam X: Tari datang-mendatangi (pinang-meminang).

Setelah ada jawaban kepastian dan restu dari kedua orang tua masing-masing, maka pihak pemuda mengambil inisiatif untuk melakukan peminangan terhadap pihak perempuan. Hal ini dilakukan agar cinta yang sudah lama bersemi dapat bersatu dalam sebuah ikatan suci, yaitu perkawinan.

Ragam XI: Tari rupa-rupa jalan (mengantar pengantin).

Ragam XI berisi tarian yang memperlihatkan gerakan jalan dengan beraneka cara. Gerakan tari ini sebagai simbol proses mengantar pengantin ke pelaminan. Setelah lamaran yang diajukan oleh pemuda diterima, maka kedua keluarga akan melangsungkan perkawinan. Gerakan tari biasanya dilakukan dengan nuansa ceria sebagai ungkapan rasa syukur menyatunya dua kekasih yang yang sudah lama dimabuk asmara menuju pelaminan dengan hati yang berbahagia.

Ragam XII: Tari sapu tangan (pertemuan kasih).

Penggunaaan sapu tangan merupakan ragam terakhir dari Tari Serampang Duabelas. Pada ragam ini, gerakan tari dilakukan dengan menyatukan sapu tangan. Penggunanan sapu tangan merupakan simbol telah menyatunya dua hati yang saling mencintai dalam ikatan perkawinan, dan tidak akan terpisahkan baik dalam keadaan senang maupun susah.


Menyatunya dua hati yang ditandai dengan penyatuan sapu tangan
merupakan ragam XII Tari Serampang Duabelas

E. Nilai-nilai

Tari Serampang Duabelas tidak sekedar tarian yang menceritakan pertemuan sepasang pemuda yang dilanjutkan dengan perkawinan, tetapi juga merekam nilai-nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Kesultanan Serdang. Nilai-nilai tersebut antara lain:

Pertama, akulturasi budaya. Tari Serampang Duabelas merupakan hasil dari akulturasi antara budaya Melayu dengan budaya Portugis. Pertemuan antara Melayu dan Portugis, walaupun melalui kolonialisasi, ternyata juga memberikan dampak positif terhadap perkembangan seni, khususnya seni tari di daerah kesultanan Serdang. Penciptaan Tari Serampang Duabelas juga menunjukkan bahwa dengan membuka diri terhadap kebudayaan lain, sebuah kebudayaan akan menjadi semakin kaya.

Kedua, sifat inklusif bangsa Melayu. Keberadaan Tari Serampang Duabelas menunjukkan bahwa bangsa Melayu, khususnya Melayu Serdang, mempunyai sikap yang terbuka terhadap budaya lain. Gerakan kaki yang cukup lincah pada Tari Serampang Duabelas diadopsi dari seni tari yang berkembang di Portugis. Hal lain yang dapat diambil dari sifat terbuka bangsa Melayu ini adalah bahwa Melayu dapat menerima kebudayaan apa saja yang datang dari mana saja asalkan sesuai dengan nilai-nilai Melayu. 

Ketiga, mencari jodoh. Tari Serampang Duabelas mengisahkan tentang perjalanan kisah anak muda dalam mencari jodoh, mulai dari perkenalan sampai memasuki tahap pernikahan. Tarian ini mengajarkan bahwa untuk memilih jodoh tidak hanya atas dasar kecocokan dua orang yang akan menikah, tetapi juga harus mendapatkan persetujuan dari orang tua.

F. Penutup

Tari Serampang Duabelas merupakan khazanah warisan kesenian Melayu yang merefleksikan nilai-nilai luhur Melayu. Melalui tarian ini, kita tidak saja mengetahui keindahan sebuah tarian Melayu, tetapi juga akan mengetahui bagaimana proses pencarian jodoh masyarakat Melayu, khususnya Melayu Serdang. Selain itu, tarian ini juga menginformasikan tentang sifat dasar Melayu yang inklusif terhadap nilai-nilai yang berasal dari luar.

Melihat pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam Tari Serampang Duabelas tersebut, maka sudah seharusnya jika para stake holder secara bersama-sama untuk melestarikan dan mengembangkan Tari Serampang Dua Belas. Agar muncul kesadaran untuk melestarikan tarian tersebut, maka tarian tersebut harus didayagunakan agar tidak saja memberikan manfaat secara kultural (pelestarian budaya), tetapi juga secara ekonomi, yaitu menjadi sumber penghidupan  bagi pemilik dan pelestarinya.     

(Ahmad Salehudin/bdy/43/04-2009)

Kredit Foto:

  • Koleksi Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), Fotografer Aam Ito Tistomo
  • Cover buku “Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu Karya Almarhum Guru Sauti”

Daftar Pustaka

  • Agung Suharyanto, “Menimbang Tradisi dalam Hingarbingar,” dalam http://www.waspada.co.id/, artikel diunduh pada tanggal 6 April 2009.
  • “Menaikkan Kualitas Tari Serampang Dua Belas,” dalam http://www.medancity.com/, artikel diunduh pada tanggal 6 April 2009.
  • Nor Fadli March, “Tari Serampang Dua Belas,” dalam  http://www.wisatamelayu.com/, artikel diunduh pada tanggal 6 April 2009.
  • WSI, “Tari Serampang Dua Belas Perlu Direvitalisasi”, Kompas, Selasa, 1 Juli 2008.
  • “Tarian Serampang 12 Akan Dipatenkan”, artikel diunduh pada tanggal 6 April 2009 dari antara.co.id
  • Tengku Mira Roazanna Sinar (ed.). 2009. Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu Karya Almarhum Guru Sauti. Medan: Yayasan Kesultanan Serdang.
  • Tengku Mira Sinar, “Pengaruh Budaya Portugis Kepada Melayu Serdang,” dalam http://www.waspada.co.id/, artikel diunduh pada tanggal 6 April 2009.
  • “Untuk Lestarikan Budaya Bangsa: Pemkab Sergai Gelar Lomba Tari Serampang XII”, dalam http://serdangbedagaikab.go.id/, artikel diunduh pada tanggal 6 April 2009.
Dibaca : 75.787 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password