Kamis, 24 Juli 2014   |   Jum'ah, 26 Ramadhan 1435 H
Pengunjung Online : 1.868
Hari ini : 15.298
Kemarin : 2
Minggu kemarin : 157.256
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.935.530
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Latar Belakang Sejarah Kesusastraan Melayu Masa Prasejarah

Penduduk paling awal di Kepulauan Nusantara adalah dua spesies manusia purba yang tergolong sebagai Proto homonoid. Mereka muncul pada masa prasejarah yang sangat jauh, yakni masa Pleistosen atau Zaman Es.

Manusia Purba yang pertama, Homo habilis, hidup pada masa Pleistosen Awal, sekitar 2,5 juta hingga 2 juta tahun yang lalu. Pencapaian kebudayaannya—jika memang bisa dikatakan demikian—masih sangat rendah. Volume otak manusia Purba ini masih sangat kecil, walaupun tentu telah lebih besar daripada volume otak primata. Ia belum bisa membedakan dirinya secara tegas dari para penghuni alam semesta lain di sekitarnya. Mungkin ia masih hidup mirip binatang, hanya memiliki gagasan yang paling sederhana tentang alat untuk membantu penghidupan, dan mungkin sekali ia sangat gemar melahap daging sesama manusia prasejarah.

Homo erectus

Kira-kira antara tahun 600 ribu dan 12.000 SM, Asia Tenggara agak terpisah dari benua Asia, mungkin karena terpasung lingkaran es. Gugusan Pulau-pulau Melayu juga terpisah dari daratan Asia, tetapi semakin menyatu dengan Semenanjung Melayu setiap kali permukaan Laut Cina menurun ketika terjadi pembekuan es (Bernard Phillipe Groslier, 2007:37).

Kira-kira pada saat inilah, yang dinamakan sebagai masa Pleistosen Pertengahan, muncul manusia Purba yang agak lebih maju baik fisik maupun kebudayaannya, yaitu Homo erectus. Manusia purba jenis ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari Homo habilis.

Homo erectus dipastikan pernah hidup di Jawa karena fosil Homo erectus yang berusia sekitar 200 ribu hingga 800 ribu tahun ditemukan di Ngandong, Solo, dan diberi nama Homo soloensis. Sedangkan dua fosil Homo erectus yang berusia sekitar 670 ribu juga telah ditemukan di Sangiran dan Mojokerto dan keduanya dinamakan sebagai Homo mojokertensis (Noriah Mohamed, 2000:7).

Homo erectus mungkin telah cukup pintar sehingga mengerti bahwa dengan tinggal di gua-gua, mereka terlindung bukan saja dari hujan dan panas tetapi juga dari sesama mereka yang kanibal. Mereka juga mampu memanipulasi batu menjadi berbagai peralatan untuk berburu atau menghadapi ancaman dari hewan-hewan buas.

Zaman ketika berbagai peralatan dari batu itu dibuat sering disebut sebagai Zaman Paleolitik atau Zaman Batu Tua. Peralatan tersebut berupa lempengan atau batu yang diasah pada satu sisi dan mungkin dapat disebut sebagai “pisau” atau “kapak”. Sisa-sisa budaya pembuatan peralatan batu ini telah ditemukan di situs Anyathya, Birma, dan situs Kota Tampan di Perak, Malaysia (Groslier, 2007:39).

Mungkin manusia prasejarah Homo erectus selanjutnya berkembang secara perlahan dan menurunkan Homo sapiens, manusia prasejarah yang telah memiliki ciri manusia modern. Pusat perkembangan ini bisa jadi adalah Jawa dan Sumatra, karena perkembangan kebudayaan di kedua pulau itu sangat menonjol jika dibandingkan dengan tempat-tempat lain di kawasan yang selanjutnya dikenal sebagai Nusantara (Mohamed, 2000:14-15).

Homo sapiens

Persebaran berbagai Homo sapiens ke berbagai kawasan nusantara dimungkinkan karena sejak masa Pliosen (kira-kira 5 juta hingga 1,7 juta tahun yang lalu) kawasan ini belum terpisah-pisah oleh lautan dan terbentang di atas daratan luas yang disebut sebagai dataran Sunda, yang sebelah timurnya berbatasan dengan dataran Sahul atau kawasan yang sekarang menjadi New Guinea dan Australia. Jadi, ketika manusia prasejarah muncul pada masa-masa selanjutnya, persebarannya dari pusat-pusat kebudayaan itu dapat dilakukan dengan cukup mudah, yaitu dengan berjalan kaki. Ketika es mencair pada akhir masa Pleistosen, dataran Sunda dan dataran Sahul tenggelam oleh air laut. Penenggelaman ini menyebabkan Homo sapiens itu bermigrasi dari kawasan tanah asal ke kawasan baru yang tidak digenangi air (Mohamed, 2000:15).

Tetapi mungkin juga manusia prasejarah Proto homonoid tidak menjadikan kawasan Nusantara sebagai kawasan perkembangan mereka dan mereka pupus karena sebab-sebab yang tidak pasti (Mohamed, 2000:9). Homo sapiens yang kemudian berkembang di kawasan nusantara mungkin datang dari luar kawasan ini, mungkin bagian selatan Cina, Indocina, Champa, Kochin, atau Assam.

Dari tanah asal, mereka berjalan kaki ke arah selatan. Tentu saja di sepanjang jalan mereka menghadapi rintangan baik berupa iklim dan cuaca yang tidak bersahabat maupun dari hewan-hewan buas dan kelompok-kelompok manusia prasejarah lain. Jalur perpindahan yang lain mungkin melalui air yang ditempuh dengan rakit dan perahu. Sebab-sebab perpindahan mereka bisa jadi adalah banjir atau gempa bumi (Mohamed, 2000:14). Perpindahan Homo sapiens tersebut dilakukan secara berkelompok, bukan serentak, sehingga jalan yang mereka tempuh tentu berbeda-beda.

Orang Melayu Proto

Siapapun pendahulunya atau dari mana tanah asalnya, Homo sapiens yang berkembang di kawasan Nusantara dan telah memiliki ciri-ciri manusia modern sebagaimana yang kita kenal adalah adalah nenek moyang kelompok manusia yang kini dikenal sebagai orang Melayu Proto.

Homo sapiens diperkirakan telah mendiami semua benua. Bentuk fisiknya sudah cukup dapat dipakai untuk produksi suara dalam bertutur karena struktur mulut, hidung, kerongkongan, tenggorokan, dan dasar tengkorak sudah berkembang (Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1993:14). Kelompok Homo sapiens dan keturunan pertamanya, orang Melayu Proto, membangun kebudayaan yang lebih maju daripada para pendahulunya. Kebudayaan ini disebut kebudayaan Mesolitik atau Zaman Batu Pertengahan, dan dilanjutkan dengan kebudayaan Neolitik atau Zaman Batu Baru.

Ketika muncul kelompok manusia berikutnya, yaitu orang Melayu Deutro, yang mungkin merupakan keturunan dari orang Melayu Proto tetapi mungkin juga merupakan kelompok lain yang datang dari tanah asal nenek moyang kedua kelompok orang Melayu tersebut, kebudayaan manusia di kawasan Nusantara mulai meninggalkan jejak-jejak yang lebih jelas.

Orang Melayu Deutero/Purba

Proto homonoid dan Homo sapiens masih hidup dengan cara berburu dalam kelompok-kelompok kecil dan meramu makanan serta memakan daging manusia. Pada masa Mesolitik, mungkin manusia telah mampu menggunakan api untuk memanaskan udara dan memasak makanan, sedangkan tempat berteduh utamanya mungkin berupa gua dan teduhan batu (Mohamed, 2000:18).

Namun, orang Melayu Proto mungkin telah memiliki kemampuan untuk menghadapi dan mengubah alam sekitarnya dengan menerapkan corak hidup sebagai peladang, pelaut, atau pemburu. Mereka telah keluar dari gua dan menerapkan kemampuan bertukang dengan membangun kelompok tempat-tempat tinggal di tanah lapang berupa rumah panggung. Untuk memperoleh kayu bahan rumah, mereka menebang pohon dengan menggunakan beliung batu.

Mereka mengasah sisi batu sehingga menjadi lebih tajam dan rapi, lalu menggunakannya untuk menajamkan buluh bambu dan dengan buluh bambu itu mereka membuat alat penangkap ikan. Dengan kemampuan bertukang dan peralatan itu mereka juga sudah bisa membuat perahu.

Penghidupan mereka semakin terjamin karena mereka telah berhasil memelihara hewan ternak seperti babi dan kerbau, dan bahkan memanipulasi tanaman pangan dengan sistem perladangan berpindah. Dengan sistem ini, mereka menebas hutan dan menanam pisang, keladi, ubi kayu, kelapa, tebu, dan padi.

Pencapaian kebudayaan orang Melayu Proto dilanjutkan oleh orang Melayu Deutero. Orang Melayu Deutero mengembangkan ilmu penanaman padi dan tanaman pangan yang lain, memelihara hewan ternak, dan menguasai ilmu pelayaran. Mereka juga mulai membuat berbagai peralatan dari logam. Kemampuan mengolah campuran logam memungkinkan mereka untuk membuat berbagai peralatan rumah tangga dan peralatan pertanian seperti bajak, membuat perahu yang lebih besar dan rumah yang lebih kukuh, dan roda untuk memudahkan transportasi.

Mereka memanfaatkan hewan ternak mereka untuk membajak sawah. Selain itu, mereka bekerjasama dengan individu-individu lain baik dari kelompok sendiri maupun dari kelompok lain untuk menangani masalah-masalah yang biasa dihadapi oleh pertanian yang tergantung pada musim, serta masalah-masalah lain seperti bencana alam.

Orang Melayu Deutero juga telah menerapkan sistem ekonomi barter. Orang yang mempunyai hasil jagung yang lebih akan menukarkan kelebihan hasil buminya itu dengan barang-barang yang dibuat oleh tukang logam atau mungkin memberikan persembahan kepada orang yang lebih kuat sehingga bisa memperoleh perlindungan.

Mereka juga telah menerapkan pembagian kerja secara seksual. Kaum perempuan bekerja membuat barang-barang tembikar, menenun dan memelihara ternak, sementara kaum laki-laki berburu dan melakukan kerja-kerja fisik yang berat.

Orang Melayu Deutero juga mempunyai kepercayaan religius yang disebut animisme, yaitu kepercayaan terhadap kekuatan-kekauatan gaib, hantu, benda mati, jin, jembalang, penunggu, dan sebagainya. Menurut kepercayaan ini, benda tertentu, baik bernyawa maupun tidak bernyawa seperti tumbuhan, hewan, air, batu, gunung, laut dan sebagainya yang memiliki peran penting dalam kehidupan manusia, adalah entitas-entitas yang memiliki jiwa atau roh.

Maka, jika manusia ingin menggunakan benda-benda tersebut, ia harus memohon izin sehingga jiwa-jiwa yang ada di dalamny agar mereka tidak marah. Permohonan izin tersebut dilakukan, misalnya, dengan mengucapkan jampi, serapah, sembur, seru, atau mantera-mantera lain sebelum melakukan aktivitas pertanian. Dan sebelum membuka hutan untuk diolah menjadi ladang, orang Melayu Deutero akan memberikan persembahan berupa sesaji dan korban kepada penunggu hutan.

Orang Melayu Deutero mengembangkan sistem permukiman yang tertata. Mereka membangun rumah-rumah panggung atau bangunan lain yang ditinggikan di tepi sungai atau laut. Kumpulan dari beberapa rumah membentuk kampung dan unit sosial ini memiliki seorang pemimpin yang dilantik secara khusus.

Organisasi semacam ini mungkin sangat diperlukan untuk menghadapi ancaman dari luar. Pusat-pusat perkampungan orang Melayu Deutero biasanya memang memiliki tempat pembuatan atau penyimpanan senjata, tetapi dengan organisasi yang teratur, mereka menjadi lebih kuat ketika mempertahankan diri dari serangan musuh.

Organisasi politik mulai terwujud ketika beberapa kampung membentuk aliansi, mungkin berdasarkan ikatan kekerabatan, persetujuan, atau pernikahan. Aliansi itu dipimpin oleh pemimpin yang diberi gelar raja. Jika suatu aliansi telah merasa kuat, boleh jadi raja akan memerintahkan penyerbuan untuk menaklukkan kampung-kampung lain dan menundukkan mereka di bawah kekuasaannya. Agen paling penting, yang memiliki kekuatan untuk mengubah kampung-kampung yang terserak hingga menjadi suatu entitas politik yang teratur, adalah kepala masyarakat bergelar raja tersebut serta institusi sosial-politik yang akhirnya disebut sebagai kerajaan (Mumford dalam Mohamed, 2000:21).

Struktur organisasi sosial politik orang Melayu Deutero itu menjadi katalisator internal yang mentransformasi setiap aspek kehidupan masyarakat maupun pengaruh dari luar wilayah kerajaan. Orang Melayu Deutero menganggap bahwa seorang raja Melayu adalah penjelmaan dari kuasa kosmos tertinggi yang harus dihormati dan disakralkan. Dengan kekuasaannya yang absolut itu, raja berkuasa untuk melancarkan perhubungan antarkerajaan, bahkan juga dengan berbagai bangsa dari kerajaan di luar Nusantara, misalnya dengan membukakan pintu bagi kerajaan dan bangsa-bangsa lain untuk beraktivitas di wilayah kekuasaannya.

Ketika bangsa India dan Cina mulai sering menyinggahi Semenanjung Melayu dan sekitarnya dalam perjalanan panjang ke Cina dan sebaliknya, raja-raja Melayu membuka pintu, menyerap berbagai pengaruh yang mengokohkan kekuasaannya dan kebesaran kerajaannya, termasuk peminjaman dan penyerapan aksara dari India. Dengan keterbukaan dan penyerapan kebudayaan dari luar itu, orang Melayu memasuki fase baru dalam evolusinya, yaitu suatu masa di mana prestasi-prestasi kebudayaannya mulai dapat disaksikan dengan bukti-bukti kuat oleh orang-orang yang hidup pada masa-masa selanjutnya. Namun, sebelum evolusi kebudayaan tersebut terjadi, orang Melayu Deutero atau bisa juga disebut sebagai orang Melayu Purba, mendasarkan inventarisasi dan eksekusi intelektualnya pada sarana lisan.

Bahasa Melayu Purba

Orang Melayu Purba saling bercakap dan melakukan proses pemikiran individual dengan menggunakan bahasa Melayu Purba yang telah terlalu sulit untuk dipahami oleh orang Melayu modern. Mereka telah pandai bermasyarakat, jadi mereka harus mengucapkan berbagai perkara penting untuk mengurusi organisasi mereka.

Dalam hal ini, bahasa diperlukan untuk perhubungan dalam masyarakat yang melibatkan hubungan yang sekecil-kecilnya, yaitu hubungan antara individu, hingga hubungan yang sebesar-besarnya, yaitu hubungan antara rakyat dengan pemerintah (Mohamed, 2000:44). Selain berhubungan dengan orang-orang dari kelompok sendiri, bahasa Melayu Purba juga digunakan dalam perhubungan dengan masyarakat luar seperti orang Cina, Arab dan India awal yang berkunjung ke nusantara.

Penggunaan bahasa Melayu Purba secara tertulis belum dapat dibuktikan hingga sekarang. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh tiga kemungkinan. Pertama, orang Melayu Purba mungkin memang belum mengenal aksara walaupun sudah mempunyai bahasa. Kedua, catatan dalam bahasa Melayu Purba mungkin memang sudah ada tetapi dalam bentuk gambar yang tidak konsisten sifatnya, bukan dalam bentuk aksara. Hal ini ditunjukkan oleh penemuan berbagai lukisan oleh Homo sapiens di gua-gua di berbagai dunia. Tetapi lukisan-lukisan itu tidak mencatat bahasa percakapan manusia secara sistematis, sehingga bahan-bahan tersebut tidak mewakili bentuk bahasa tertentu. Ketiga, catatan menggunakan aksara Melayu Purba telah ada, seperti yang tersisa dalam huruf Rencong dan Kawi. Namun, aksara-aksara ini tidak dapat memenuhi keperluan dalam menuliskan bahasa Melayu yang semakin berkembang. Lagipula pencatatan dilakukan dengan bahan-bahan yang mudah lapuk dalam iklim tropis atau rentan terhadap bencana alam (Mohamed, 2000:45-46).

Untuk menghasilkan pertuturan lisan dengan tujuan komunikasi atau penciptaan kesusastraan yang memerlukan ungkapan kecakapan berbahasa berulang kali, orang Melayu Purba mungkin sekali mengandalkan teknik penghapalan. Teknik ini hingga sekarang masih didapati pada golongan orang-orang tua yang masih buta huruf. Sehingga, sebelum undang-undang kemasyarakatan diciptakan, orang Melayu Purba menurunkan sarana pengaturan masyarakat melalui hapalan kepada generasi selanjutnya.

Praktek kebahasaan Melayu Purba tampaknya sudah cukup lama berlangsung karena pada prasasti-prasasti awal yang berasal dari abad ke-7 M, struktur bahasanya sudah agak tersusun. Dengan demikian, corak utama komunikasi dan estetifikasi bahasawi Melayu Purba adalah lisan. Corak bahasa lisan adalah bahasa manusia (bahasa alamiah) yang disampaikan dengan menggunakan alat-alat bicara atau alat-alat artikulasi yang ada pada manusia, sehingga sifatnya berbeda dari bahasa tulis (B.H. Hoed, 2008:183).

Sifat-sifat komunikasi lisan adalah (1) produksinya menggunakan alat bicara, sedangkan penerimanya menggunakan indra pendengaran; (2) kecuali dalam komunikasi telpon atau komunikasi dalam kegelapan, pengirim dan penerima saling melihat tubuh dan wajah masing-masing; dan (3) kecuali dalam menerima komunikasi melalui rekaman, pada dasarnya tidak ada jarak waktu antara produksi dan penerimaan (Hoed, 2008:184).

Kesusastraan Melayu Purba

Ketiadaan mode dan sarana perekaman secara tertulis menyebabkan hasil kesusastraan masyarakat Melayu prasejarah cukup sukar untuk dideskripsikan secara tepat. Namun, rekonstruksi dari berbagai atribut kelisanan yang masih meninggalkan jejak pada masyarakat Melayu yang hidup pada masa-masa selanjutnya mengisyaratkan bahwa masyarakat Melayu Purba telah menghasilkan apa yang disebut sebagai kesusastraan rakyat (folk literature), baik yang berbentuk puisi maupun prosa.

Kesusastraan rakyat dapat dikenali sebagai salah satu hasil folklor, sehingga ciri-cirinya mirip dengan folklor, yaitu: (1) penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan, yakni disebarkan melalui tutur kata dari mulut ke mulut (atau dengan suatu contoh yang disertai gerak isyarat dan alat bantu pengingat) dari satu generasi ke generasi berikutnya, (2) bersifat tradisional, yaitu disebarkan dalam bentuk relatif tetap atau dalam bentuk standar serta disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama (paling sedikit dua generasi), (3) ada dalam versi-versi, bahkan varian-varian, yang berbeda-beda, (4) bersifat anonim, yaitu nama penciptanya sudah tidak diketahui orang lagi, (5) mempunyai rumus atau pola tertentu, (6) mempunyai fungsi atau kegunaan dalam kehidupan bersama suatu kolektif, (7) bersifat pralogis, yaitu mempunyai logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum, (8) menjadi milik bersama dari kolektif tertentu, (9) bersifat polos dan lugu sehingga seringkali kelihatannya kasar atau terlalu spontan (James Dananjaya, 1994:3-4).

Dalam masyarakat Melayu Purba, kesusastraan bergenre puisi yang terawal mungkin pantun, teka-teki, talibun dan mantera. Genre-genre ini dianggap sebagai bentuk yang sedikit sekali memperoleh pengaruh campur tangan asing (Harun Mat Piah dalam Mohamed, 2000:44).

Mungkin bentuk puisi yang paling tua adalah mantera, yang meliputi bermacam-macam subgenre seperti jampi, sembur, seru, serapah, pengasih, dan sebagainya. Hal ini bisa berkaitan dengan kepercayaan animisme orang Melayu Purba  (Harun Daod, 2007:4-9). Rasa takut dan segan terhadap roh-roh gaib membuat orang Melayu Purba merasa harus mengucapkan sesuatu, yang kemudian diberi nama mantera, agar terhindar dari murka dan gangguan roh-roh tersebut. Dalam evolusinya, mantera tidak hanya berkaitan dengan dunia supranatural, tetapi dapat juga dapat berkaitan dengan manusia, sebagaimana tampak dalam mantera yang ditujukan untuk mempengaruhi orang lain dalam hal cinta dan perdagangan.

Mantera adalah genre sastra yang lentur, sebagaimana yang terbukti dengan transformasinya ketika menerima pengaruh dari luar seperti India dan Islam. Walaupun demikian, mantera juga tetap berhasil mempertahankan struktur dasarnya, yaitu (1) struktur mantera mempunyai gagasan utama, teknik pengembangan, dan teknik persuasi, (2) bahasa mantera termasuk perlambangan dan kata khusus, (3) latar belakang mantera meliputi latar belakang religi, falsafah, dan etika, (4) mantera ditujukan kepada entitas-entitas tertentu seperti Tuhan, roh, makhluk halus, dan diarahkan kepada unsur magis, (5) tata cara pengucapan mantera yang mencakup tempat, peristiwa, pelaku, kelengkapan, dan (6) persyaratan dalam rangka memilih dan mengucapkan mantera (Daod, 2007:9).

Dalam bidang prosa, masyarakat Melayu Purba menghasilkan khasanah cerita prosa rakyat yang sangat kaya. Cerita prosa rakyat dapat dibagi ke dalam tiga golongan besar (Bascom dalam James, 1994:50), yaitu Mite (myth) adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh yang empunya cerita. Mite ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa terjadi di dunia lain atau bukan di dunia yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau. Legenda (legend) adalah cerita prosa rakyat yang mempunyai ciri-ciri yang mirip dengan mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap suci. Legenda ditokohi manusia, walaupun adakalanya mempunyai sifat-sifat luar biasa, dan seringkali juga dibantu makhluk-makhluk ajaib. Tempat terjadinya adalah di dunia seperti yang kita kenal kini karena waktu terjadinya belum terlalu lampau. Sedangkan dongeng (tale) adalah prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat.

Orang Melayu purba mungkin menciptakan, mengapresiasi, dan mengamalkan serta menghayati hasil-hasil kesusastraan lisan mereka yang kaya itu dalam berbagai kesempatan yang dianggap bermakna dalam kehidupan mereka. Dengan demikian, pada masa yang jauh itu pun kesusastraan Melayu Purba telah mengemban tugas dan fungsi sosial kemasyarakatan dan fungsi religius, selain fungsi estetika.

Kita kini dapat membayangkan bahwa seorang Melayu Purba, berbekal kapak atau beliung, berlutut di tepi sebuah hutan lebat di sisi timur pulau Sumatra dan mengucapkan mantera-mantera untuk memohon izin kepada roh penunggu hutan yang akan diubah menjadi ladang. Pada kesempatan yang lain, kita dapat membayangkan bahwa anak-anak Melayu Purba keluar dari rumah pada saat terang bulan dan bergembira bersama sambil bertukar pantun atau teka-teki.

Pada kesempatan yang lain lagi, ketika padi di sawah telah menguning dan merunduk-runduk ditiupi angin sore, sebuah keluarga Melayu Purba mengucapkan syukur kepada alam semesta atas bakal panen itu dan memberikan sesaji, mungkin berupa rebusan telur ayam yang telah dibelah, disertai dengan nasi putih dan taburan bunga-bunga, dan mungkin juga disertai dengan kemenyan yang dibakar dan menyebarkan bau harum ke seluruh penjuru.

______________

Referensi

B.H. Hoed, 2008. “Komunikasi lisan sebagai dasar tradisi lisan”. Dalam Metodologi kajian tradisi lisan. Pudentia, MPSS (ed.). 2008. Jakarta: Asosiasi Tradisi Lisan.

Bernard Philippe Grosslier, 2007. Indochina: persilangan kebudayaan. Diterjemahkan dari bahasa Perancis ke dalam bahasa Indonesia oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Cetakan ke-2. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Haron Daud, 2007. Mantera Melayu analisis pemikiran. Pulau Pinang: Penerbit Universiti Sains Malaysia.

James Dananjaya, 1994. Folklor Indonesia ilmu gosip, dongeng, dan lain-lain. Cetakan ke-4. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti.

Marwati Djoened Poesponegoro & Nugroho Notosusanto, 1993. Sejarah Nasional Indonesia I. Cetakan ke-8. Jakarta: Balai Pustaka.

Noriah Mohamed, 2000. Sejarah sosiolinguistik bahasa Melayu Lama. Pulau Pinang: Penerbit Universiti Sains Malaysia.

(An. Ismanto/sas/09/08-2009)

Dibaca : 7.929 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password