Minggu, 23 November 2014   |   Isnain, 30 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 800
Hari ini : 3.071
Kemarin : 17.747
Minggu kemarin : 160.999
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.371.153
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Permainan Makah-Makah (Nanggroe Aceh Darussalam)


Makah-Makah adalah salah satu jenis permainan tradisional yang berasal dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Permainan ini sangat mudah dimainkan dan tidak memerlukan peralatan yang rumit. Makah-Makah merupakan permainan tradisional berjenis kompetisi dan dilakukan secara kolektif, di mana para peserta dibagi menjadi dua regu yang saling bertanding.

1. Asal-usul

Permainan tradisional merupakan simbolisasi dari pengetahuan yang turun-temurun dan mempunyai fungsi atau pesan di baliknya (Hayuningtyas dalam Fitri Astuti, 2009). Permainan tradisional yang terdapat di Nanggroe Aceh Darussalam memenuhi penjabaran ini. Meskipun semakin terdesak dengan kehadiran permainan modern, permainan tradisional di Nanggroe Aceh Darussalam, termasuk Makah-Makah, masih dan tetap diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi.

Permainan tradisional yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam mengemban pesan-pesan moral dan nilai-nilai budaya yang sangat bemanfaat bagi perkembangan anak. Selain itu, sebagian besar permainan tradisional di Nanggroe Aceh Darussalam sangat terkait dengan unsur-unsur dalam ajaran Islam yang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah, peradaban, dan kebudayaan bumi Serambi Mekah. Bagi segenap masyarakat Aceh yang telah memeluk agama Islam sejak sekitar tahun 800 Masehi, Islam tidak sekadar dianut sebagai keyakinan (agama) semata, melainkan sudah menjadi jalan hidup karena ajaran Islam telah menjadi rujukan dan barometer dalam sendi-sendi kehidupan orang Aceh (http://achehlibrary.com).

Nama permainan tradisional Makah-Makah merujuk pada kata “Makkah” atau “Mekah”. Pemakaian kata “Makkah” atau “Mekah” dapat dimaknai dengan dua arti. Pertama, “Makkah” atau “Mekah” dapat diartikan sebagai pusat atau kiblat bagi segenap umat Islam di seluruh dunia. Pemaknaan ini merujuk pada inti dari permainan Makah-Makah, di mana kedua regu yang terlibat dalam permainan ini berlomba-lomba untuk dapat mencapai titik sasaran atau yang dinamakan dengan Makkah (Rusdi Sufi, et.al., 2004: 27). Titik sasaran atau Makkah dapat dimaknai sebagai simbol dari pusat atau kiblat umat Islam di seluruh dunia, termasuk Nanggroe Aceh Darussalam yang mayoritas penduduknya adalah muslim, di mana setiap orang Islam berlomba-lomba untuk dapat sampai ke rumah Tuhan atau Mekah, misalnya dengan maksud untuk menunaikan ibadah haji atau umrah bila mampu.

Makna Makah-Makah yang kedua adalah bahwa Nanggroe Aceh Darussalam adalah daerah yang mendapatkan julukan sebagai Serambi Mekah. Serambi sendiri dapat diartikan sebagai bagian depan dari rumah. Jadi, untuk dapat sampai ke Mekah, maka harus dilalui terlebih dulu serambinya atau “beranda depan”-nya, yaitu bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Kemunculan sebutan Serambi Mekah untuk Nangggroe Aceh Darussalam tidak disebabkan oleh sebuah peristiwa belaka, akan tetapi juga merupakan ungkapan apresiasi dari masyarakat muslim, khususnya yang menetap di kawasan Asia Tenggara, terhadap Aceh yang begitu gigih mengembangkan dan mempertahankan Islam sebagai agama yang suci  (http://achehlibrary.com).

2. Peralatan

Peralatan yang diperlukan dalam memainkan Makah-Makah sangat mudah diperoleh di lingkungan sekitar tempat tinggal masyarakat di Nanggroe Aceh Darussalam. Makah-Makah hanya memerlukan sebiji batu atau benda lain yang berukuran kecil agar mudah disembunyikan dalam genggaman tangan yang diletakkan di belakang punggung peserta permainan.

3. Pemain

Terdapat beberapa ketentuan bagi pemain atau peserta yang akan memainkan permainan tradisional Makah-Makah. Ketentuan-ketentuan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Permainan tradisional ini dapat dimainkan oleh anak-anak dengan usia kurang lebih antara 9-13 tahun.
  2. Jumlah peserta yang ada dibagi menjadi dua regu. Masing-masing regu berjumlah paling sedikit 4 (empat) orang atau lebih, tergantung dari banyaknya jumlah total peserta yang akan mengikuti permainan ini.
  3. Permainan Makah-Makah dilakukan secara kolektif dan bersifat kompetisi atau perlombaan antara dua regu.
  4. Permainan tradisional ini bisa dilakukan baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan, akan tetapi dibutuhkan peserta yang cukup banyak untuk menambah seru jalannya permainan (Sufi, et.al., 2004: 27-28).

4. Tempat Permainan

Permainan Makah-Makah biasanya dilakukan oleh anak-anak di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan sekitarnya pada waktu sore hari atau pada saat-saat senggang. Permainan Makah-Makah bisa dilakukan di tanah lapang atau di pekarangan rumah dengan lahan yang agak luas karena melibatkan cukup banyak peserta.

5. Aturan Permainan

Sufi, et.al (2004) menerangkan bahwa terdapat beberapa aturan yang berlaku dalam permainan Makah-Makah. Aturan-aturan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Jumlah peserta yang ada dibagi menjadi dua regu. Masing-masing regu berjumlah paling sedikit 4 (empat) orang atau lebih, tergantung dari jumlah total peserta yang akan mengikuti permainan ini.
  2. Masing-masing regu dipimpin oleh seorang ketua regu.
  3. Masing-masing regu berlomba-lomba untuk dapat sampai terlebih dulu ke titik sasaran atau yang disebut sebagai Makkah.
  4. Proses kompetisi antara kedua regu untuk sampai ke titik sasaran dilakukan dengan cara-cara yang akan dijelaskan dalam poin “cara bermain”.
  5. Regu yang pertama sampai ke titik sasaran keluar sebagai pemenang (Sufi, et.al., 2004: 27).

6. Cara Bermain

Berikut ini adalah langkah-langkah atau cara-cara yang harus dilakukan dalam memainkan Makah-Makah.

  1. Kedua regu saling berhadap-hadapan pada suatu garis lurus secara berurutan atau sejajar. Jarak antara regu yang satu dengan regu yang lain adalah sekitar 2 (dua) meter.
  2. Kedua regu menghadap ke titik sasaran atau Makkah. Letak Makkah berada di tengah-tengah atau di antara kedua regu.
  3. Masing-masing regu bertanding untuk dapat sampai terlebih dulu ke titik sasaran atau Makkah.
  4. Tugas ketua regu pertama adalah mengawasi atau menempatkan batu yang diberikan kepada salah satu anggota regunya. Pemberian batu oleh ketua regu pertama dilakukan dengan rahasia atau tidak boleh sampai diketahui oleh regu kedua. Hal yang sama juga dilakukan oleh ketua regu kedua.
  5. Supaya pemberian batu tidak diketahui oleh regu lawan, maka masing-masing ketua regu harus mempunyai strategi, yaitu dengan seolah-olah memberikan batu kepada semua anggota regu yang dipimpinnya meskipun sebenarnya yang benar-benar diberi batu oleh ketua regu hanya satu orang.
  6. Setiap anggota kedua regu, baik yang benar-benar diberi batu oleh ketua regu atau yang pura-pura diberi batu untuk mengecoh regu lawan, bersikap seolah-olah sedang menggenggam batu dengan menyembunyikan kedua tangan ke belakang punggung.
  7. Setelah batu yang asli disembunyikan oleh salah satu anggota regu sementara anggota regu yang lain seolah-olah juga memegang batu dengan berpura-pura menyembunyikan kedua tangan ke belakang punggung, maka tugas ketua regu kedua adalah menebak di mana batu yang dimiliki oleh regu pertama. Begitu pula sebaliknya, ketua regu pertama juga menebak di mana batu yang disimpan oleh regu kedua.
  8. Saling menebak itu dilakukan secara bergantian. Cara masing-masing ketua regu menebak di mana keberadaan batu milik regu lawan adalah dengan menunjuk salah satu anggota regu lawan yang dianggapnya memegang batu tersebut.
  9. Apabila regu kedua tidak betul atau salah dalam menerka di mana keberadaan batu yang dimiliki oleh regu pertama, maka regu pertama diperbolehkan untuk maju selangkah ke depan. Dengan demikian, regu pertama akan semakin mendekati titik sasaran atau Makkah. Hal ini dilakukan secara bergantian dan berlaku juga untuk regu kedua.
  10. Tebakan yang dilakukan oleh kedua regu secara bergantian ini dilakukan dengan terus-menerus hingga salah satu regu dapat mencapai titik sasaran atau Makkah. Regu yang pertama kali sampai ke titik sasaran ditetapkan sebagai pemenang permainan ini (Sufi, et.al., 2004: 27-28).

7. Keahlian Khusus

Permainan Makah-Makah tidak mensyaratkan peserta untuk memiliki keahlian yang terlalu khusus. Faktor yang paling penting dalam melakukan permainan ini adalah jumlah peserta yang harus jamak karena jika orang yang terlibat dalam permainan ini berjumlah terlalu sedikit, maka tingkat persaingannya akan berkurang.

Orang yang dipercaya sebagai ketua regu sebaiknya memiliki jiwa kepemimpinan yang baik dan pandai dalam mengatur strategi, terutama ketika memilih salah seorang anggota regunya sebagai pemegang batu yang sebenarnya. Kejelian seorang ketua regu dalam hal ini cukup penting supaya regu lawan tidak dapat dengan mudah menebak kepada siapa batu tersebut diserahkan.

Masing-masing anggota regu juga harus mahir dalam memainkan peranannya dan bersikap seolah-olah batu pemberian sang ketua regu ada di dalam genggamannya sehingga pihak lawan akan terkecoh dan diharapkan akan salah menebak di mana batu itu sebenarnya berada. Dengan demikian, kemungkinan untuk memenangkan permainan akan semakin besar karena jika regu lawan tidak tepat dalam menebak, maka langkah menuju titik sasaran akan semakin dekat.

8. Nilai Budaya

Permainan tradisional dapat memacu perkembangan jiwa dan raga seseorang, apalagi pada usia dini. Dengan memainkan permainan tradisional, anak-anak dapat mengembangkan fantasi, daya imajinasi, dan kreativitasnya. Selain itu, banyak nilai penting pada permainan tradisional, antara lain sosialisasi, rangsangan kreativitas, sarana belajar, penyaluran energi emosional, perkembangan moral, fisik, dan kepribadian (Elisabeth B. Hurlock, 1992). Sementara itu, Yarahnitra (1992) menyimpulkan bahwa permainan tradisional merupakan hasil budaya yang besar nilainya bagi anak-anak dalam rangka berfantasi, berkreasi, berolahraga yang sekaligus berfungsi sebagai sarana latihan untuk hidup bermasyarakat, memperoleh keterampilan, dan melatih kesopanan dan ketangkasan (Yarahnitra dalam Astuti, 2009).

Terdapat cukup banyak nilai budaya, baik yang bersifat fisik maupun pesan moral, yang dapat diperoleh dari permainan Makah-Makah. Nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Kekompakan. Permainan ini menuntut koordinasi dan kekompakan yang harus terjalin dengan baik antara ketua regu dengan anggota-anggotanya maupun di antara anggota masing-masing regu. Dalam hal ini, nilai yang dapat dipetik adalah kesepahaman dan saling pengertian antara ketua dengan anggota grup dan antaranggota grup.
  2. Pendewasaan dan jiwa kepemimpinan. Bagi ketua regu, nilai budaya dan moral yang didapat adalah kedewasaan dan jiwa kepemimpinan dalam memimpin suatu kelompok.
  3. Pengelolaan kelompok. Wawasan mengenai pengelolaan atau manajemen suatu kelompok juga dapat diperoleh dari permainan ini. Seorang ketua regu harus mampu mengelola para anggotanya dengan baik untuk menghasilkan suatu proses dan hasil yang baik pula.
  4. Mempercayai orang lain. Saling percaya, baik dari ketua regu terhadap anggota-anggotanya dan sebaliknya maupun di antara sesama anggota menjadi kunci dari permainan Makah-Makah. Permainan ini memberikan pelajaran bahwa kita harus bisa mempercayai orang-orang yang telah rela bersama-sama melakukan suatu perjuangan bersama.
  5. Dapat dipercaya. Permainan Makah-Makah juga mengandung pesan positif bahwa kita harus bisa menjadi orang yang dapat dipercaya dan berusaha untuk menjalankan amanat yang dimandatkan oleh pemimpin dengan sebaik-baiknya.

(Iswara N. Raditya/Bdy/03/05-2010)

Sumber Foto: http://www.hinamagazine.com

Referensi:

“Aceh serambi Mekah”, diunduh pada tanggal 5 Mei 2010 dari http://achehlibrary.com,

Fitri Astuti, 2009. “Efektivitas permainan tradisional untuk meningkatkan kreativitas verbal pada masa anak sekolah”. Skripsi, Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Hurlock, Elisabeth. B., 1992. Psikologi perkembangan anak Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Rusdi Sufi, et.al., 2004. Keanekaragaman suku dan budaya di Aceh. Banda Aceh: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh bekerjasama dengan Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Dibaca : 6.269 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password