Kamis, 23 Oktober 2014   |   Jum'ah, 28 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.276
Hari ini : 6.387
Kemarin : 23.762
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.260.340
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Cidomo: Alat Transportasi Darat Tradisional di Lombok, Nusa Tenggara Barat


Cidomo adalah alat transportasi darat tradisional masyarakat Lombok berbentuk gerobak mini dan ditarik dengan kuda mini.

1. Asal-usul

Serasa berbanding lurus dengan alamnya yang indah, orang Lombok juga memiliki kreasi budaya yang unik, yakni alat transportasi darat tradisional bernama cidomo. Cidomo adalah sebuah gerobak mini yang ditarik dengan kuda mini. Hingga sekarang, cidomo masih menghiasi di hampir seluruh jalanan kota, desa, dan tempat wisata di Lombok. Keberadaan cidomo menjadi bukti bahwa tradisi budaya masih diapresasi dengan baik oleh penduduk Lombok.

Dalam sejarahnya, cidomo muncul dari kebudayaan agraris masyarakat Lombok. Perdesaan lombok yang dipenuhi oleh hamparan sawah dan kebiasaan suku Sasak memelihara kuda, memunculkan ide untuk membuat sebuah alat pengangkut padi yang ditarik kuda, lalu lahirlah cidomo. Dalam perkembangannya, cidomo tidak hanya untuk mengangkut padi, tetapi juga mengantarkan manusia ke sawah-sawah yang jauh dari permukiman penduduk. Cidomo pun sekarang tidak hanya ada di desa-desa, tetapi sudah masuk ke jalanan kota bersaing dengan kendaraan bermotor (Ahmad Amin dkk, 1978).

Cidomo menjadi alat transportasi alternatif unik yang disukai masyarakat dan wisatawan mancanagera. Dalam acara tradisi budaya seperti merariq (pernikahan), tidak jarang pengantin diarak menyusuri jalanan kota dan desa menggunakan cidomo (John Ryan Bartolomew, 2001). Sejurus dengan itu, Pemerintah Daerah Lombok melalui Departemen Pariwisata menjadikan cidomo sebagai alat transportasi khusus bagi wisatawan di beberapa lokasi wisata pantai, seperti di pantai Senggigi dan Gili Trawangan. Cidomo dianggap tepat  menggantikan motor atau mobil yang dianggap penuh polusi (http://www.inilah.com).

Cidomo memiliki bentuk yang unik. Selain kecil, jika dicermati unsur-unsur yang membentuk cidomo terdiri dari tiga hal, yaitu unsur dokar (ditarik kuda), cikar (badan cidomo dari kayu) dan motor (roda dari ban mobil). Berdasar wujud ini, tidak heran jika sebagian orang Lombok mengartikan kata cidomo sebagai perpendekan dari cikar, dokar, dan motor. Khususnya untuk jarak yang relatif dekat, masyarakat Lombok lebih menyukai naik cidomo dibanding ojek atau angkutan umum. Selain itu, ongkos naik cidomo relatif lebih murah, yaitu antara Rp. 2000 hingga Rp. 5000,-. Naik cidomo juga aman, dapat mengangkut banyak barang, dan relatif ramah lingkungan (http://lombokku.com). 

2. Bahan yang Digunakan

Bentuk cidomo tampak cukup sederhana, begitu juga dengan bahan-bahan untuk membuatnya. Secara umum, bahan-bahan untuk membuat cidomo terdiri dari tiga macam, yaitu besi untuk tiang penyangga rumah-rumahan cidomo, plastik terpal, seng, atau kayu untuk atap rumah-rumahan cidomo, kulit sapi atau kambing untuk tali kuda dan tali gagang kuda kusir, kayu untuk badan cidomo, dan ban mobil bekas untuk roda.

Bahan kayu dan ban mobil bekas masih mudah untuk dicari di hutan dan perdesaan Lombok. Akan tetapi untuk bahan besi saat ini sudah sulit ditemukan, karena para pengrajin besi tempa sudah semakin berkurang. Oleh karena itu, saat ini pembuatan cidomo tidak banyak lagi. Penduduk hanya memperbaiki cidomo yang sudah rusak, bukan membuat cidomo baru.

3. Proses Pembuatan 

Proses pembuatan cidomo cukup rumit, memerlukan waktu yang cukup lama, dan membutuhkan ahli yang mumpuni. Selain harus cermat dan hati-hati, membuat cidomo memerlukan biaya yang mahal dan sang pembuat cidomo saat ini umumnya adalah keturunan pembuat cidomo. Meskipun demikian, secara garis besar beberapa langkah cara membuat cidomo meliputi persiapan, membuat bahan, merangkaikan bahan, dan pengecekan akhir.

a. Mengumpulkan bahan

Langkah pertama untuk membuat cidomo adalah mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan, seperti memilih kayu jati yang baik, memilih besi yang kuat, memilih kulit kambing atau sapi yang berkualitas, memilih terpal, kayu, atau seng yang tebal, dan memilih ban bekas yang masih layak digunakan.

Langkah di atas penting untuk dilakukan agar dapat menghasilkan cidomo yang baik, kuat, dan tahan lama. Oleh karena itu, keahlian membuat cidomo tidak dapat dimiliki oleh sembarang orang, karena tidak sembarang orang dapat memilih kayu dan besi yang tepat untuk dibuat cidomo.

b. Membuat bahan

Setelah semua bahan terkumpul, bahan kemudian satu persatu dibuat sesuai fungsinya. Bahan yang pertama kali diolah adalah kayu untuk membuat badan cidomo. Kayu dipotong-potong berbentuk papan dan sesuai keperluan, lalu dihaluskan agar badan cidomo terlihat halus dan rapi. Salah satu kayu dipotong panjang dan dibentuk bulat sebagai bahan untuk perentang depan yang menghubungkan antara tali ke leher kuda dan gagang tali kusir.

Badan cidomo adalah bagian yang rumit dan memerlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi untuk dibuat. Namun saat ini beberapa pasar dan toko di Lombok ada yang menjual badan cidomo yang sudah siap dipasang. Bagi mereka yang tidak mau kesulitan membuat badan cidomo, mereka dapat membelinya langsung.

Langkah kedua adalah mencetak besi untuk dijadikan pegas yang diletakkan di bawah badan cidomo dan sebagai tiang penyangga rumah-rumahan cidomo. Untuk mencetaknya, tukang cidomo biasanya akan pergi ke tukang pande besi. Besi dibuat pipih-pipih memanjang sesuai ukuran yang dibutuhkan. Jumlahnya disesuaikan dengan tingkat kepegasan yang diinginkan dan diseimbangkan dengan besar kecil badan cidomo. Besi untuk penyangga rumah-rumahan cidomo berjumlah empat buah yang akan diletakkan di empat sudut badan cidomo.

Langkah ketiga adalah membuat tali dari kulit sapi atau kambing. Kulit sapi atau kambing dijemur hingga kering, lalu dipotong memanjang sesuai ukuran (5-10 cm). Setelah berbentuk tali, kulit dijemur kembali dengan dicampur obat tertentu agar tali tidak kaku.

Tali kemudian disambung agar panjang dan dapat menjangkau kayu perentang dengan leher kuda. Pada beberapa titik, tali dilubangi untuk meletakkan pengait agar tali tidak lepas. Tali yang baik adalah yang tidak terlalu kaku, tetapi lemas seperti umumnya tali.

Langkah keempat adalah mencari ban mobil bekas dengan rangka roda dan as-nya, berjumlah dua buah. Ban mobil dipilih yang berukuran sedang (untuk mobil colt). Di beberapa pasar dan toko besi di Lombok terkadang juga sudah ada yang menjual ban mobil bekas yang sudah siap untuk cidomo.

Langkah kelima adalah memotong plastik terpal, kayu, atau seng untuk atap rumah-rumah cidomo. bahan-bahan tersebut dipotong sesuai dengan ukuran badan cidomo dan dilebihkan untuk pengikat tali agar tidak mudah lepas jika diterpa angin.

c. Merangkaikan Bahan

Setelah semua bahan selesai dibuat, bahan kemudian dirangkaikan satu persatu hingga membentuk cidomo yang utuh. Bahan pertama yang dirangkai adalah kayu untuk badan cidomo. Setelah itu, kayu perentang depan penghubung tali pengekang kuda. Kayu perentang harus dipasang dengan kuat agar ketika kuda memberontak kayu perentang tidak patah dan kuat menahan tenaga kuda.

Jika badan cidomo sudah terbentuk, selanjutnya adalah memasang besi pegas yang ada di bawah badan cidomo yang disusun sesuai kebutuhan. Setelah pegas terpasang, as roda dipasang bersamaan dengan rodanya. Menyangkut roda dan as, pemasangan harus cermat dan hati-hati, karena jika salah akan membuat cidomo berjalan tidak seimbang dan membahayakan penumpang dan pengguna jalan.

Setelah badan cidomo dan roda terangkai, langkah selanjutnya adalah memasang rumah-rumahan pada badan cidomo, yaitu memasang besi penyangga serta atap. Besi penyangga harus dipasang dengan kuat begitu juga terpalnya, hal ini dipersiapkan untuk menghadapi hujan dan angin yang terkadang dapat membuat terpal rusak.      

Bagian akhir yang perlu dirangkai adalah tali-temali pengikat leher kayu perentang. Tali diikat yang kuat dengan memperhatikan panjangnya hingga mudah dipegang oleh kusir. Hal ini penting agar gerak kuda dapat lebih leluasa dan tidak menyiksa kuda. Pada bagian ini, biasanya pembuat cidomo akan sekaligus memasang kuda untuk mencari ukuran yang pas.

d. Pengecekan akhir

Setelah semua bahan terangkai dan membentuk cidomo, pembuat cidomo biasanya akan melakukan pengecekan akhir untuk memastikan apakah semua bahan-bahan cidomo sudah terangkai dengan sesuai. Langkah ini penting dilakukan untuk menghindari masalah yang muncul, seperti kayu patah, pengait yang tidak terkait dengan baik, atau tali pengikat kuda yang terlalu sempit.

4. Kelebihan dan Kekurangan

Alat transportasi darat cidomo memiliki kelebihan tertentu dibanding ojek atau angkutan umum. Kelebihan-kelebihan inilah yang dijadikan alasan masyarakat Lombok lebih memilih cidomo untuk bepergian jarak dekat. kelebihan-kelebihan tersebut antara lain, ongkos cidomo relatif murah, aman, dapat mengangkut banyak barang, dan relatif ramah lingkungan. Meskipun demikian, cidomo memiliki kekurangan yang disebabkan oleh kusirnya sendiri, yaitu dibiarkannya kotoran kuda berceceran jatuh di jalan raya. Hal ini tentu saja menyebabkan bau yang tidak sedap bagi lingkungan. Pemerintah Daerah tampaknya sudah sigap dengan memberikan pengarahan kepada kusir cidomo untuk memperhatikan ini, yaitu agar memasang terpal untuk menampung kotoron kuda.

5. Nilai-nilai

Masyarakat Lombok melihat cidomo sebagai alat transportasi allternatif yang menyenangkan, karena cidomo mengandung nilai-nilai tertentu dalam kehidupan mereka, antara lain:

  • Nilai ekonomi. Nilai ini tampak jelas dari ongkos yang relatif murah. Dengan ongkos murah, penumpang dapat diantar keliling kota dan perdesaan Lombok. Cidomo juga ekonomis untuk membawa barang yang banyak. Para ibu-ibu pedagang di pasar biasanya memanfaatkan cidomo untuk membawa barang dagangan mereka ke pasar. Setiap pagi buta, jalan desa dan kota sudah dipenuhi cidomo ibu-ibu ke pasar, beriringan seperti rombongan sepeda di perdesaan Yogyakarta.  
  • Nilai kebersamaan. Nilai ini tampak dari cengkrama para penumpang cidomo. Mereka biasanya saudara, tetangga, atau teman sekampung. Dalam cidomo mereka biasanya dapat bercerita dan berbagi bersama. Dalam kehidupan orang Lombok, cidomo menjadi ruang bersama untuk bercerita tentang kesulitan hidup, seusai bercerita biasanya beban hidup mereka terasa agak sedikit terkurangi. Suasana cerita terkadang menjadi asik ketika pak kusir pandai melucu dan berdendang lagu-lagu Sasak.
  • Nilai pelestarian tradisi budaya. Cidomo adalah alat transportasi tradisional, tentu saja dengan menggunakannya secara tidak langsung ikut melestarikan kebudayaan Sasak. Hal ini penting untuk dipahami karena cidomo menjadi salah satu penanda gerak zaman orang Lombok yang perlu dimaknai untuk menata kehidupan sosial yang ada.
  • Nilai kesederhanaan dan fungsi. Cidomo juga mengajarkan kesederhanaan yang menitikberatkan pada fungsi. Sederhana karena alat transportasi ini berbiaya murah sehingga mengajarkan orang untuk hidup hemat dan sederhana. Selain itu juga mengajarkan berpikir fungsi karena dapat mengantarkan dan memuat barang banyak. Dalam kondisi dunia dalam ancaman pemanasan global, maka pilihan menggunakan cidomo adalah tepat. Cidomo menjadi pengingat agar orang tidak merasa rendah jika tidak menggunakan mobil atau motor yang penuh polusi.  

6. Penutup

Sebagai alat transportasi tradisional yang tidak banyak mengeluarkan suara bising dan tidak berbahan bakar minyak, cidomo penting untuk terus dilestarikan, mengingat alam lombok yang selama ini dikenal sebagai lokasai wisata yang bersih, alami, tenang, dan nyaman tidak terganggu. Pemerintah Daerah Lombok tampaknya perlu memperhatikan ini agar Lombok tetap menjadi tujuan wisata utama dan dapat bersaing dengan lokasi wisata di provinsi lainnya di Indonesia Timur.

Yusuf Efendi (bdy/31/10-10).

Referensi

Ahmad Amin dkk, 1978. Adat istiadat daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Depdikbud RI

Aryani Setyaningsih. Lelaki Pepadu (Tesis). 2009. Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Alvons Van Deer Kraan, 1980. Lombok, Conquest, Colonization and Underdevelopment 1870-1940. Australian University Press.

John Ryan Bartolomew, 2001. Alif Lam Mim Kearifan Masyarakat Sasak. Yogyakarta: Tiara Wacana

Ridwan, 2008. Cidomo (online). Terdapat di http://masridwan.co.cc. (Diunduh tanggal 6 Oktober 2010).

Anak Lombok, 2010. Cidomo sebagai alat transportasi tradisional di Pulau Lombok (online). Terdapat di http://lombokku.com. (Diunduh tanggal 6 Oktober 2010).

Inilah.com. 2010. Wisatawan Menyukai Andong dan Cidomo (online). Terdapat di http://www.inilah.com. (Diunduh tanggal 6 oktober 2010).

Sumber foto: http://warungcimsmak.wordpress.com.

Dibaca : 36.969 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password