Kamis, 2 Oktober 2014   |   Jum'ah, 7 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 838
Hari ini : 2.932
Kemarin : 22.291
Minggu kemarin : 241.277
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.181.117
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Guriding: Alat Musik Tradisional Orang Banjar, Kalimantan Selatan


Guriding adalah alat musik tradisional yang terbuat dari bambu atau kayu, berbentuk kecil, dan memiliki alat getar (tali). Guriding dimainkan dengan cara ditempelkan di bibir sambil menarik tali gegangnya agar tali bergetar dan berbunyi.

1. Asal-usul

Suku Banjar di Kalimantan Selatan memiliki alat musik tradisional yang unik dan sakral bernama guriding, karena perbedaan bahasa beberapa daerah menyebut kuriding. Unik karena alat musik ini berbentuk kecil namun dapat mengeluarkan bunyi yang nyaring, sedangkan sakral karena berlatarbelakang mitos kemunculan macan yang hingga sekarang masih dipercaya oleh masyarakat Banjar. Terlepas dari kontroversinya, guriding menjadi penanda budaya orang Banjar yang penting untuk dikaji dan dipelihara.

Menurut cerita masyarakat, guriding pada awalnya adalah milik seekor macan yang tinggal di hutan Kalimantan Selatan. Pada suatu hari, sang macan meminta anaknya untuk memainkan guriding. Namun, tiba-tiba ilat (alat getar) guriding tersebut patah dan menusuk tenggorokan sang anak hingga mati. Semenjak kejadian tersebut, sang macan menasehatkan kepada anak keturunannya agar tidak lagi membunyikan guriding (Mohammad Saperi Kadir, 1985/1986).     

Kadir (1985/1986) menjelaskan lebih lanjut bahwa berdasar cerita di atas, dalam perkembangannya masyarakat Banjar meyakini bahwa guriding adalah alat ampuh untuk mengusir macan yang sering berkeliaran di kampung mereka. Bagi masyarakat yang tingggal di sekitar hutan dan persawahan, mereka selalu membunyikan guriding dan tidak jarang mereka juga menggantungkan atau meletakkannya di atas tempat tidur anak mereka. Menurut Tadjudin Noer Gani (2007), sebagian masyarakat juga meyakini bahwa untuk membunyikan guriding diperlukan sebuah nyanyian, selain sebagai pengiring juga sebagai mantra.

Orang Banjar memiliki kebudayaan yang kaya, namun terkadang mereka kesulitan untuk memeliharanya (Suriansyah Ideham dkk, 2005). Saat ini, guriding masih sering dibunyikan, khususnya oleh orang-orangtua Banjar sebagai alat hiburan di kala sendiri dan melepas lelah usai bekerja di kebun atau hutan. Beberapa keluarga bahkan masih menyimpan guriding di rumah-rumah mereka, meski tujuannya tidak untuk melindungi anak mereka dari ancaman macan. Mereka menganggap bahwa guriding adalah tradisi budaya yang perlu untuk dilestarikan, sambil mengajarkan kepada generasi muda untuk mencintai budaya leluhur.

2. Bentuk Guriding

Guriding atau kuriding memiliki bentuk yang kecil dan unik. Wujudnya terbagi dalam dua bagian, yaitu dalam (tidak rata) dan luar (rata). Bagian dalam adalah bagian yang ditempelkan ke mulut ketika dibunyikan, sebaliknya bagian luar adalah yang menghadap ke luar.

Guriding terbuat dari bambu atau kayu dan berbentuk empat persegi panjang yang kedua ujungnya dibuat bulat. Selain untuk memperindah, bentuk bulat ini ditujukan agar guriding tidak melukai mulut ketika dibunyikan. Pada badan guriding terdapat alat getar, yakni tali yang terbuat dari serat pohon kayu atau senar. Alat getar tersebut terbagi atas dua bagian, yaitu sebelah kanan (ilat) dan kiri (butuh).     

Pada ujung kana dan kiri guriding terdapat lubang untuk meletakkan tali (tatarikan) yang terhubung dengan alat getar. Ketika tali tersebut ditarik, maka alat getar tersebut akan berbunyi, sambil ditempelkan pada mulut. Bunyi guriding akan terasa nyaring jika tali ditarik dengan ritme yang benar.

3. Bahan-bahan dan Alat-alat Pembuatan

Bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat guriding cukup sederhana, yaitu meliputi bambu (paring); kayu bangaris; pelepah daun sirang; pelepah enau, tali atau senar untuk alat getar, tali untuk penarik, dan potongan bambu kecil untuk memudahkan ketika ditarik. Sementara itu, alat-alat yang digunakan untuk membuat guriding meliputi gergaji untuk memotong bambu atau kayu dan pisau kecil untuk menghaluskan bambu dan memotong tali serta melubangi.

4. Proses Pembuatan

Proses pembuatan guriding cukup sederhana. Langkah pertama adalah memilih bambu atau kayu yang agak tua agar guriding kuat dan tidak mudah patah. Selanjutnya bambu atau kayu dipotong sepanjang 15-20 cm dan dihaluskan dan dibuat ukuran tebal 0,5 cm dan lebar 2 cm. ukuran ini dianggap tepat - berdasar turun temurun- untuk menghasilkan guriding yang enak dipegang dan dimainkan.  

Bagian guriding selanjutnya dibagi dua, kanan dan kiri. Pada bagian kanan dipasang alat getar (ilat) dan bagian kiri dipasang alat getar (butuh). Bambu pada bagian ini dibuat agak tipis serta dibuat celah-celah kecil selebar 1 mm, tujuannya agar bunyi guriding lebih nyaring.

Pada ujung-ujung bambu atau kayu bersebelahan dengan letak alat getar, dibuat lubang selebar 0, 5 cm. Pada lubang tersebut diikatkan seutas tali yang dibentuk bulat untuk memudahkan saat menariknya. 

5. Cara Memainkan

Cara memainkan guriding cukup mudah, namun untuk menghasilkan bunyi yang enak didengar, memerlukan latihan yang banyak. Atas dasar ini, sebagian orang menganggap guriding sebagai alat musik yang kecil bentuknya tapi sulit dimainkan.

Sebelum memainkan guriding, hal yang perlu diperhatikan adalah cara memegangnya. Pertama-pertama adalah jari manis tangan kiri dimasukkan ke lubang tali penarik yang ada di salah satu ujung guriding, lalu dipintal agar pendek dan lekat. Pada ujung ini juga, ibu jari menekan ke dalam dan telunjuk menekan ke luar. Sementara itu, pada ujung guriding yang satunya dipegang tangan kanan, yakni dengan mengikatkan jari telunjuk dan jari tengah pada kayu kecil penarik.

Langkah kedua adalah bagian guriding yang ditekan dengan ibu jari telunjuk tangan kiri dilekatkan di sebelah kiri mulut. Ujung ibu jari tangan kiri tepat berada di sisi mulut sebelah kiri dan guriding berada di antara bibir atas dan bawah. Sementara itu, tangan kanan memegang tali penarik (tatarikan) lalu diletakkan di bagian kanan wajah hingga sejajar dengan pipi sebelah kanan.

Setelah guriding berada pada posisi seperti di atas, maka untuk membunyikan  guriding adalah dengan menarik tali (tatarikan) yang dipegang tangan kanan. Tali ditarik dengan ritme tertentu (disentak) hingga tali bergetar dan selanjutnya  guriding akan berbunyi.

6. Nilai-nilai

Alat musik guriding memuat nilai-nilai tertentu bagi kehidupan orang Banjar, antara lain:

  • Pelestarian Budaya. Memainkan guriding merupakan bentuk nyata dalam upaya melestarikan kebudayaan tradisional. Dengan memainkan dan memelihara guriding, diharapkan dalam diri masyarakat-khususnya generasi muda- akan tumbuh rasa memiliki terhadap guriding. Saat ini, ketika anak muda lebih suka memainkan alat-alat musik modern dan tidak lagi menyukai alat musik tradisional, pemerintah daerah dan tokoh masyarakat perlu kiranya memberi perhatian pada alat musik dan pemain guriding agar tidak punah ditelan zaman.
  • Sakralitas. Nilai ini tercermin dalam kepercayan masyarakat Banjar akan asal-usul guriding. Akibat dari kepercayaan ini, sebagian masyarakat masih menyimpan guriding di rumah-rumah mereka, meskipun secara langsung tidak ditujukan untuk melindungi anak mereka dari macan. Namun, perilaku ini menjadi bukti bahwa nilai sakralitas guriding masih mengendap dalam hati masyarakat Banjar yang suatu ketika dapat tumbuh dan mendorong mereka untuk mencintai tradisi.   
  • Seni. Nilai ini tercermin dari kreativitas masyarakat Banjar hingga menghasilkan alat musik tradisional guriding. Bentuk guriding yang kecil namun dapat menghasilkan bunyi yang merdu, tentunya memerlukan jiwa seni untuk menciptakannya. Selain itu, nilai seni ini juga dapat dilihat dari proses pembuatan guriding yang cukup detil dan rumit. Begitu juga dalam cara memainkannya, untuk menghasilkan bunyi yang merdu, guriding harus dimainkan dengan rasa seni tradisi yang kuat. 
  • Pendidikan keluarga. Nilai ini tampak dari semangat yang terkandung dalam penciptaan guriding, yakni untuk melindungi keluarga. Terlepas dari kebenaran mitos asal-usul guriding, namun satu nilai yang dapat dipetik dari mitos itu adalah pesan pada orangtua agar mereka melindungi anak-anak dan keluarga mereka dari bahaya apapun-dalam hal ini disimbolkan dengan macan. Dalam konteks ini, mitos penciptaan guriding mengandung nilai pendidikan sosial dan budi pekerti yang penting bagi orang Banjar.

7. Penutup

Guriding merupakan alat musik tradisional Banjar yang saat ini keberadaannya hampir punah. Sebagai peninggalan leluhur yang sedikit banyak turut menyumbang kekayaan budaya Banjar, hendaknya pemerintah daerah Banjar mulai membuat program budaya untuk menyelamatkan guriding, salah satunya dengan mengikutkan guriding dalam sebuah festival budaya atau membuat program guriding masuk sekolah, dengan tujuan mengenalkan guriding pada generasi muda agar mereka mencintainya. Satu hal lagi yang lebih penting adalah, jangan sampai program budaya yang ada hanya dijadikan kepentingan politik seseorang yang sesaat.

Yusuf Efendi (bdy/32/10-10)

Referensi

Mohd. Saperi Kadir, 1985/1986. Guriding alat tradisional Kalimantan Selatan. Propinsi Kalimantan Selatan: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Direktorat Permuseuman Museum Negeri Lambung Mangkurat.

Tajudin Noor Ganie, 2007. Jatidiri puisi rakyat etnis Banjar di Kalsel (Peribahasa Banjar, Pantun Banjar, Syair Banjar, Madihin, dan Mantra Banjar). Banjarmasin: Rumah Pustaka Folklor Banjar, Banjarmasin.

Suriansyah Ideham dkk, 2005. Urang Banjar dan kebudayaannya. Kalimantan Selatan: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah.

Dibaca : 17.101 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password