Kamis, 18 Desember 2014   |   Jum'ah, 25 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 606
Hari ini : 2.583
Kemarin : 17.356
Minggu kemarin : 186.674
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.467.895
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tomanurung: Leluhur dalam Pengetahuan Masyarakat Karampuang, Sulawesi Selatan


Tomanurung adalah sosok yang dilihat muncul di atas sebuah batu lapa’e. Datang dan perginya sosok ini tidak diketahui dari mana asalnya. Tomanurung dipercaya sebagai leluhur orang-orang Karampuang.

1. Asal-usul

Dalam bukunya Manusia dan Kebudayaan Indonesia, 1981, Koentjaraningrat menggambarkan Sulawesi Selatan sebagai provinsi yang memiliki kebudayaan yang khas karena dihuni oleh empat suku bangsa besar, yaitu Bugis, Makasar, Mandar, dan Toraja. Keempat suku besar ini masing-masing memiliki ciri adat istiadat yang khas dan menarik.

Dari empat suku besar tersebut, nilai-nilai kebudayaan Bugis Makasar banyak diserap oleh suku-suku kecil di Sulawesi Selatan. Hal ini disebabkan oleh kekuasaan Kerajaan Gowa dan Bone saat itu. Kedua kerajaan ini mengekspansi banyak daerah di Sulsel. Salah satu nilai kebudayaan Bugis Makasar itu dapat dilihat dari keberadaaan masyarakat adat Karampuang di Kabupaten Sinjai (Rahman Rahim, 1985). 

Karampuang adalah nama sebuah desa sekaligus nama komunitas adat. Tidak lebih dari seratus kepala keluarga, hidup di desa adat ini dengan damai dan terbuka akan kehadiran masyarakat luar. Masyarakat ini membentuk sebuah komunitas sendiri dan secara tertutup menjalankan aturan adat yang telah diajarkan oleh leluhur mereka. Meskipun demikian, dalam kesehariannya, komunitas Karampuang berbaur dengan masyarakat sekitar (Darman Manda, 2007).

Kata Karampuang,  menurut cerita yang berkembang di kalangan komunitas Karampuang berasal dari cerita tentang sosok yang diyakini sebagai leluhur orang Karampuang, yakni Tomanurung. Tentang cerita Tomanurung ini, terdapat dua versi cerita yang berbeda, namun keduanya sama-sama dipercaya oleh orang Karampuang. Pertama, kata Karampuang berasal dari mitos Tomanurung muncul di gunung Karampuang. Kedua, kata Karampuang diyakini berasal dari penggabungan dua suku kata dari gelar kebangsawanan Bugis-makassar, yakni Karaeng dan Puang. Cerita-cerita tersebut tertulis di atas daun lontar yang hingga kini masih tersimpan di komunitas Karampuang (Muhannis, 2009).

Sebagai sebuah komunitas adat yang masih menjalankan aturan adat secara ketat, orang Karampuang mengatur sistem sosial pemerintahannya laksana sebuah kerajaan. Di komunitas ini terdapat raja (pamatoa), perdana menteri (panggela), dan dukun (sanro). Selain ketiga posisi ini, masih ada posisi-posisi lain yang diatur secara adat, misalnya guru spiritual yang bertugas menjadi pemimpin dalam pelaksanaan ritual adat (Darman Manda, 2007).

Menurut pendapat lain, sistem pemerintahan adat Karampuang terdiri dari empat pilar pokok, yaitu Arung, Ade, Sanro dan Guru. Arung, Ade dan Guru harus dijabat oleh laki-laki, sedangkan Sanro haruslah dijabat oleh seorang perempuan. Keempatnya digambarkan seperti empat unsur kehidupan, yakni api, tanah, udara, dan air (Darman Manda, 2007; Muhannis, 2009).

Masyarakat adat Karampuang mayoritas beragama Islam. Mereka memiliki adat istiadat yang banyak dipengaruhi oleh ajaran Islam. Setidaknya hal itu dapat dilihat dari perilaku sosial dan keagamaan yang ada, misalnya pada setiap malam Jumat, komunitas Karampuang menggelar pembacaan ayat-ayat suci Alquran secara bersama-sama di rumah adat yang ditinggali oleh Panggela. Bagi warga Karampuang, Jumat adalah hari yang sakral untuk dihargai dan dihormati. Ketika tanaman jagung mereka telah dipetik dan sawah mulai dibasahi, maka itu pertanda untuk memulai menanam padi. Malam hari sebelum menanam, masyarakat adat biasanya berkumpul di rumah adat untuk membaca doa-doa dan pujian dengan tujuan agar tanaman mereka jauh dari penyakit dan mendapatkan panenan yang banyak (Darman Manda, 2007).

Selain membaca Al quran, pada waktu tertentu masyarakat adat Karampuang juga suka menggelar pembacaan Barjanji, yakni sebuah puji-pujian kepada Nabi Muhammad. Acara ini dipimpin oleh Guru dan biasanya dihadiri hampir seluruh pejabat dan warga Karampuang. Jika melihat perilaku mereka yang sama dengan ajaran Islam, maka masyarakat adat Karampuang mirip dengan umumnya orang Bugis dan Makasar yang banyak di pengaruhi oleh Kerajaan Gowa (Cristian Pelras, 2006; Hamid Abdullah, 1985).   

2. Konsep Leluhur

Pengetahuan orang Karampuang tentang leluhur mereka berkaitan erat dengan pengetahuan mereka tentang cerita asal mula alam. Menurut cerita yang mereka percayai, bahwa pada mulanya, bumi yang ditinggali manusia ini adalah lautan. Dari lautan itu kemudian muncul gundukan-gundukan (cimbolo) yang menyerupai tempurung kelapa, seperti gunung Latimojong, gunung Bawakaraeng, serta gunung Karampuang yang dalam kebudayaan orang Karampuang dikenal dengan nama Batu Lappa’e (Darman Manda, 2007; Muhannis, 2009).

Syahdan, dari atas Batu Lappa’e inilah masyarakat Karampuang melihat sesosok bayangan tetapi tidak diketahui dari mana asalnya dan menghilang tanpa dikethaui ke mana jejaknya. Kontan saja masyarakat merinding ketika melihat sosok tersebut. Sosok ini mereka sebut dengan Tomanurung. Dalam cerita selanjutnya, Tomanurung mereka beri gelar Manurung Karampulu’e, yang berarti sosok yang kehadirannya menyebabkan bulu kuduk mereka merinding. Tomanurung inilah yang selanjutnya mereka percaya sebagai leluhur mereka. Dan dari cerita inilah kemudian kata Karampulu’e berubah menjadi nama tempat, yakni Karampuang.

Oleh masyarakat adat Karampuang, Tomanurung diangkat menjadi raja di wilayah Karampuang. Dalam menjalankan tugas, seusai membuka wilayah baru, Tomanurung menghilang. Suatu ketika, sebelum Tomanurung menghilang, ia mengumpulkan rakyatnya dan berpesan:

Saya mau hidup tidak mau mati, saya inginkan kebaikan tidak mau keburukan.

Tak lama setelah Tomanurung menghilang, tiba-tiba muncul cahaya terang di atas air yang terapung-apung di sekeliling gunung Karampuang. Dari cahaya itu kemudian muncul tujuh orang Tomanurung dengan wajah yang berbeda-beda. Salah seorang dari mereka terdapat seorang wanita. Oleh masyarakat, wanita satu-satunya ini kemudian diangkat menjadi ratu di wilayah adat Karampuang.

Sementara itu, atas suruhan sang Ratu, keenam saudaranya yang lain pergi ke berbagai tempat dan menjadi Tomanurung-tomanurung baru dan akhirnya mendirikan kerajaan baru, seperti di Kerajaan Ellung Mangenre, Bohong Langi, Bontona Barua, Carimba, Lante Amuru, dan Tassese.

Sesaat sebelum mereka menyebar, sang Ratu berpesan:

Turunlah kalian ke daratan datar, namun kebesaranmu kelak harus mampu melindungi Karampuang, raihlah kehormatan namun kehormatan itu kelak turut menaungi leluhurmu, kalau tidak maka kebesaranmu akan aku ambil kembali.

Sang ratu juga menganjurkan agar adik-adiknya mengangkat 12 panggela atau gela sebagai pelaksana harian pemerintahan. Dan saat itu terciptalah 12 gela baru, antara lain Gella Bulu, Biccu, Salohe, Tanete, Marowanging, Anakarung, Munte, Siung, Sullewatang Bulo, Sullewatang Salohe, Satengga dan Pangepana Satengga.

Setelah keenam adiknya pergi dan mendirikan kerajaannya masing-masing, sang ratu pun menghilang (mallajang) di puncak gunung Karampuang di atas batu datar (Batu Leppa’e). Oleh masyarakat adat Karampuang, batu itu disebut dengan batu emba’e yang berarti tempat berpindah atau menghilang.

Saat hendak menghilang, sang Ratu sempat meninggalkan keris, lahan perkebunan dan persawahan, dan beberapa benda kerajaan lainnya. Keris pusaka dan benda-benda kerajaan tersebut hingga saat ini masih tersimpan di rumah adat Karampuang. Sementara itu,  pemanfaatan lahan (huju pitahu) dipegang dan dikendalikan oleh pamatoa, adapun lahan perkebunan atau tanah kering (lari tana) diserahkan kepada gela.

3. Pengaruh Sosial

Pengetahuan orang-orang Karampuang terhadap leluhur tampak berpengaruh terhadap beberapa hal dalam kehidupan sosial mereka, antara lain:

  • Menguatnya ketaatan pada adat. Meskipun berasal dari sebuah cerita, namun itu justru menjadi dasar dari kepercayaan orang Karampuang terhadap adat istiadat mereka. Tomanurung dianggap sebagai leluhur yang bijak karena telah meninggalkan ajaran yang baik bagi kehidupan mereka. Hingga hari ini, masyarakat Karampuang tetap menjaga adat mereka, baik dalam bentuk perilaku maupun benda-benda. Dan jika dicermati lebih dalam, bukankah hampir semua kepercayaan di dunia ini juga banyak berisi tentang cerita kebesaran pemimpin mereka?
  • Dasar kepemimpinan dan sistem pemerintahan adat. Pengetahuan masyarakat Karampuang tentang leluhur mereka juga ikut berpengaruh pada pola kepemimpinan dan sistem pemerintah mereka. Kepemimpinan yang berpijak pada empat pilar pokok, yaitu Arung, Ade, Sanro dan Guru, terwujud berdasar pola kepemimpinan Tomanurung sebelumnya. Hal yang sama juga terjadi pada sistem pemerintahan yang terdiri dari raja (pamatoa) dan perdana menteri (panggela).
  • Solidaritas sesama. Kepercayaan masyarakat Karampuang terhadap leluhur secara sosial juga berpengaruh terhadap solidaritas sesama mereka sebagai satu masyarakat adat. Hal ini akan tampak jelas jika dilihat ketika pelaksanaan upacara adat. Bayangkan saja mereka berkumpul bersama di rumah adat dan dipimpin oleh ketua adat lalu memanjatkan doa-doa adat. Dalam upacara tersebut biasanya akan disinggung cerita tentang leluhur mereka, Tomanurung.
  • Kepercayaan terhadap nama daerah adat. Seperti diceritakan sebelumnya, nama Karampuang diambil dari cerita leluhur mereka yang mendapat gelar Manurung Karampulu’e dan seiring waktu, kata Karampulu’e berubah menjadi nama tempat, yakni Karampuang. Hal ini tentu saja semakin menguatkan keyakinan mereka akan kebenaran cerita tentang leluhur mereka, karena berkait erat dengan desa mereka. Dengan demikian, memori mereka sudah tertata rapi, ketika menyebut Karampuang maka asosiasi yang muncul pastilah leluhur mereka.

4. Penutup

Jika melihat gempuran budaya modern yang dahsyat, maka kepercayaan masyarakat Karampuang terhadap leluhur yang masih bertahan hingga kini merupakan sesuatu yang luar biasa. Hal ini perlu untuk diapresiasi, karena adat istiadat tradisional penting untuk terus dilestarikan sebagai upaya untuk membendung efek negatif dari budaya modern. Selain itu, keberadaan kepercayaan ini membuktikan kemajemukan rakyat negeri ini.

Yusuf Efendi (bdy/39/12-10)

Sumber Foto: http://abubakarabdurrahman.blogspot.com

Referensi

Darman Manda, 2007. Komunitas Adat Karampuang. Makassar: Badan Penerbit UNM

Muhannis, 2009. Karampuang dan Bunga Rampai Sinjai. Yogyakarta: Ombak
Poloma

Rahman Rahim, 1985. Nilai-nilai Utama Kebudayaan Bugis. Makassar: Badan Penerbit Universitas Hasanuddin

Cristian Pelras. 2006. Manusia Bugis. (Diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Abdul Rahman Abu, et al). Jakarta: Forum Jakarta-Faris École français d’Extrême-Orient.

Hamid Abdullah. 1985. Manusia Bugis Makassar. Jakarta: Inti Idayu Press.

Koentjaraningrat, 1981. Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Djambatan

Dibaca : 9.315 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password