Senin, 28 Juli 2014   |   Tsulasa', 30 Ramadhan 1435 H
Pengunjung Online : 1.521
Hari ini : 9.838
Kemarin : 17.575
Minggu kemarin : 157.256
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.955.372
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Orkes Gulintangan: Musik Tradisional Brunei Darussalam


Orkes gulintang adalah musik tradisional khas Brunei Darussalam. Peralatan orkes ini terdiri dari lima macam, yaitu gulintangan, canang, tawak-tawak, gong, dan gandang labik.

1. Asal-usul

Brunei Darussalam merupakan salah satu negara rumpun Melayu di Asia Tenggara. Negara ini dikenal sebagai salah satu penjaga tradisi budaya Melayu yang masih terus dilestarikan oleh masyarakatnya hingga kini, salah satunya adalah musik tradisional gulintang atau yang oleh masyarakat Brunei disebut dengan nama orkes (sebutan “musik” bagi orang Brunei) gulintangan. Pada setiap perayaan festival budaya di Brunei, gulintang selalu dimainkan oleh kelompok-kelompok musik tradisional. Kenyataan ini menandakan bahwa orkes gulintang memiliki posisi penting dalam tradisi masyarakat Brunei, karena secara kebudayaan, gulintang menjadi identitas budaya yang unik dan dihormati.

Jika dicermati, orkes gulintang mirip dengan musik kulintang pada masyarakat Minangkabau. Dalam bahasa Melayu Brunei, gulintang memiliki dua arti. Pertama adalah orkes yang terdiri dari beberapa jenis alat bunyi-bunyian, seperti satu gong besar, canang (gong yang berjumlah tiga buah), tawak-tawak (gong yang berjumlah dua buah), gandang labik (gendang kembar) dan gulintangan (gong kecil-kecil yang berjumlah delapan buah). Kedua, sejenis alat musik tradisional Brunei yang terdiri daripada beberapa gong kecil (delapan biji) yang disusun di atas tali (Kamus Bahasa Melayu Brunei dalam www.MelayuOnline.com).

Nama gulintang diambil dari salah satu alat musik yang paling penting dalam orkes tersebut, yakni gulintangan. Tanpa gulintangan, orkes ini dirasakan kurang dan tidak lagi disebut gulintang. Namun demikian, semua alat musik dalam orkes gulintang harus ada dan saling melengkapi. Jika dimainkan bersama, alat-alat musik ini akan menghasilkan sebuah musik tradisional yang enak dinikmati dan enak didengar (Md. Daud bin Tuah, 1985-1986; Awang bin Ahmad, 1985).

Dalam khazanah budaya Melayu Brunei, gulintang dipercaya berasal dari ajaran nenek moyang. Orkes ini merupakan hasil karya seni leluhur Brunei yang memang dikenal sebagai orang yang menyukai seni, khususnya pantun, dan orkes gulintang merupakan media untuk menuangkan pantun menjadi sebuah lagu (Mahmud Haji Bakyr, 1976). Gulintang adalah musik tradisional ber-genre gembira. Hal ini terlihat dari irama rancak yang dihasilkan peralatan dalam orkes tersebut. Peralatan tersebut ada yang dimainkan dengan cara dipukul dan ada juga yang ditabuh. Realitas ini menjadikan orkes gulintang sebagai ruang untuk bergembira dan berdendang bersama, misalnya dalam sebuah pesta perkawinan (Hajah Kaipah binti Abdullah, 2002).

Sebagai hasil karya leluhur yang masih dihargai hingga sekarang, orkes gulintang mengandung nilai-nilai bagi kehidupan orang Brunei, baik dari sisi wujud peralatannya, cara memainkannya, maupun dari sisi busana yang dipakai oleh para pemain dan penyanyinya. Nilai-nilai ini menjadi media penting bagi orang Brunei untuk terus mengikatkan kepribadian mereka dengan kebudayaan leluhur. Dalam konteks pelestarian budaya, anggapan ini penting untuk diapresiasi sebagai usaha untuk memajukan kebudayaan dan tradisi Melayu secara umum.

2. Peralatan

Orkes gulintang terdiri dari beberapa alat musik yang harus dimainkan dengan aturan dan ritme tertentu. Peralatan yang dibutuhkan dalam orkes gulintang sebenarnya ada lima macam, yaitu gulintangan, canang, tawak-tawak, gong, dan gandang labik. Namun demikian, biasanya ada kelompok gulintang tertentu yang memadukannya dengan alat musik modern, seperti biola atau gitar. Adapun lima peralatan orkes gulintang tersebut adalah sebagai berikut:

  • Gulintangan, yakni seperangkat gong kecil berjumlah delapan buah yang ditata di atas rajutan tali dan di dalam sebuah bingkai kayu memanjang. Dalam setiap pentas, gulintangan harus ada karena alat ini merupakan inti dari orkes gulintang.
  • Canang, yakni tiga gong yang digantung dengan tali pada sebuah tiang kayu dan dimainkan secara berurutan. Canang berfungsi sebagai pelengkap yang mengiringi gulintangan.
  • Tawak-tawak, yakni sebuah gong yang yang digantung dengan tali pada sebuah tiang kayu. Dalam bahasa Brunei, tawak-tawak disebut sebagai peningkah atau peningkul yang berfungsi untuk merespon irama gulintangan dan canang.
  • Gong, yakni alat musik yang berbentuk bulat yang terbuat dari besi yang ditempa dan dibentuk benjol di tengahnya. Gong berfungsi sebagai penegas irama alat musik yang lain.
  • Gandang labik, yakni dua gendang dari kayu yang dilubangi tengahnya lalu ditutup dengan kulit kambing atau sapi. Fungsi gandang labik sama dengan gulintangan, yakni sebagai pemandu bagi alat-alat lainnya.

3. Pemain dan Busana

Orkes gulintang umumnya dimainkan oleh laki-laki, sedangkan kaum perempuan biasanya menjadi penari atau penyanyi yang mengiringi pementasan gulintang. Jumlah pemain musik sesuai dengan jumlah alat musiknya, yaitu enam orang, dengan rincian: satu pemain untuk gulintangan, canang, tawak-tawak, dan gong serta dua orang penabuh gandang labik. Selain itu, ditambah dengan satu orang penyanyi dan dua hingga empat orang penari.

Saat pementasan, para pemain, penyanyi, dan penari gulintang pada umumnya berbusana adat Brunei, yakni celana dan baju dari bahan satin yang licin dan mengkilap, sarung yang lilitkan di paha seperti rok, serta berkopiah hitam (seperti busana adat laki-laki Minangkabau). Warna busana dapat berubah-ubah, hal ini disesuaikan dengan selera kelompok gulintang. Akan tetapi, pada umumnya busana mereka berwarna krem, hijau, merah, atau biru. Warna-warna ini dianggap tepat karena sesuai dengan irama orkes gulintang yang berusaha mengajak orang untuk bergembira, berjoget, dan bernyanyi bersama.

4. Waktu dan Tempat Pementasan

Orkes gulintang dipentaskan pada beberapa acara adat budaya Brunei, seperti perayaan pesta perkawinan, festival budaya, atau perayaan hari jadi kota. Dalam pentas perayaan pesta perkawinan, gulintang biasanya menampilkan tarian dan nyanyian yang berisi kisah percintaan muda-mudi. Selain itu, juga disertai dengan pantun-pantun tentang pengantin dan petuah tentang bagaimana hidup berbahagia. Untuk pentas di pesta perkawinan ini biasanya bertempat di rumah mempelai perempuan atau di gedung.

Sementara itu, dalam perayaan festival budaya atau hari jadi kota, gulintang biasanya memainkan irama-irama rancak dan nyanyian gembira. Hal ini untuk merangsang para penonton agar ikut berjoget atau menyanyi. Para penarinya pun biasanya akan dipilih yang cantik-cantik dan tampan-tampan dengan busana yang indah dan menawan. Acara ini biasanya digelar di sepanjang jalanan kota atau di gedung-gedung milik kerajaan. Dalam acara ini, biasanya juga akan digelar kesenian Melayu lainnya, seperti tari-tarian semisal Tari Zapin.

5. Cara Memainkan

Jika dilihat sekilas, cara memainkan peralatan orkes gulintang cukup mudah, yakni seperti hanya sekadar dipukul dan ditabuh. Namun, memainkan alat-alat orkes gulintang sebenarnya cukup sulit karena terdapat not-not nada tertentu yang harus ditaati. Jika sembarangan dalam memukul, maka bunyi yang dihasilkan menjadi tidak enak didengar. Oleh karena itu, di Brunei, orkes gulintang harus dimainkan oleh orang-orang yang sudah piawai. Mereka umumnya adalah keturunan dari orang yang dahulunya juga seniman orkes gulintang.

Kecuali gandang labik yang dimainkan dengan cara ditabuh menggunakan telapak tangan, semua alat orkes gulintang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan alat, yaitu potongan kayu sepanjang lebih kurang setengah meter. Kayu tersebut ada yang dipotong begitu saja dan ada pula yang dibuat benjolan pada ujungnya. Alat pemukul gulintang ini dibuat oleh orang khusus supaya bisa seimbang antara pukulan dan bunyi yang dihasilkan sehingga enak didengar.

Saat pementasaan orkes gulintang, alat-alat musik dimainkan sesuai urutan, yakni sebagai berikut:

  • Gulintangan. Gong kecil berjumlah delapan buah ini biasanya akan dimainkan pertama kali dengan dipukul berdasarkan irama tertentu karena gulintangan berfungsi sebagai pembuka dan penuntun bagi alat musik lainnya. Biasanya, gulintangan akan dipukul secara bergantian dari kedua tangan seorang pemain. Ibarat gitar, gulintangan sering dimainkan dengan cara akustik lebih dahulu sebagai intro (nada sebelum masuk lagu). 
  • Canang. Tiga gong ini dimainkan dengan cara dipukul menggunakan sebatang kayu yang dibuatkan benjolan di ujungnya. Canang dipukul dengan ritme yang jarang namun harus selalu memperhatikan bunyi alat musik yang lain. Hal ini karena canang berfungsi sebagai pelengkap yang mengiringi gulintangan. Jika canang dipukul dengan bit yang pas, maka orkes gulintang sudah menemukan irama yang enak dinikmati;
  • Tawak-tawak. Alat musik inilah yang membuat irama menjadi dinamis. Saat tawak-tawak dipukul dengan irama cepat, misalnya, hal itu menandakan penyanyi harus bernyanyi dengan cepat dan penari melakukan gerakan yang rancak.
  • Gong. Alat musik ini dipukul dalam irama jarang-jarang dengan menyesuaikan irama dari gulintangan, canang, dan tawak-tawak. Gong menjadi alat musik yang penting dan biasanya akan berhenti dipukul untuk terakhir kali sesaat sebelum pementasan usai.
  • Gandang labik. Alat ini fungsinya sama pentingnya dengan gulintangan, yakni sebagai pemandu bagi alat-alat lainnya. Biasanya, terdapat dua gandang labik yang ditabuh menggunakan telapak tangan oleh dua orang ahli gendang. Gandang labik menjadikan orkes menjadi rancak dan gerakan penyanyi serta penarinya tampak lebih semangat, apalagi jika gerakannya selaras dengan bunyi “dang” atau “tak” dari gandang labik.

6. Nilai-nilai

Kesenian musik tradisional Brunei Darussalam orkes gulintang mengandung nilai-nilai positif sebagai berikut:

  • Pendidikan. Nilai ini tampak jelas dari nasehat yang terkandung dalam syair dan pantun yang dilantunkan dalam lagu-lagu di orkes gulintang. Nasehat yang disampaikan dalam bentuk lagu lebih enak didengar dan berkenan dalam hati. Cara ini lebih mendidik dan tidak terkesan menggurui. Nasehat dalam lagu-lagu orkes gulintang biasanya berkisar tentang bagaimana mencari jodoh yang baik, berbakti kepada orangtua, taat kepada aturan agama, hidup rukun dalam keluarga, dan sebagainya. Dalam konteks ini, orkes gulintang telah menjadi media pendidikan agama, sosial, dan budi pekerti Melayu yang efektif dan menghibur.
  • Kebersamaan. Nilai ini tampak dari interaksi sosial antara penonton dengan para pemain orkes. Dalam kondisi yang demikian, rasa kebersamaan menjadi semakin erat, karena direkatkan oleh tradisi dan budaya. Hal ini sangat terasa khususnya ketika gulintang dipentaskan dalam pesta perkawinan, di mana penonton dapat mengusulkan lagu tertentu kepada pemimpin orkes. Interaksi seperti inilah yang semakin mempererat rasa kebersamaan tersebut.
  • Pelestarian budaya. Pementasan orkes gulintang merupakan bentuk nyata dari upaya pelestarian kebudayaan tradisional Brunei Darussalam. Dari pementasan ini diharapkan pelestarian orkes gulintang terus digalakkan sehingga akan menumbuhkan rasa memiliki terhadap kesenian tradisional. Pementasan secara berkala juga akan menjadikan gulintang sebagai musik tradisional yang dapat bertahan dalam gempuran zaman.
  • Simbol. Nilai ini tampak dari busana dan tari-tarian dalam orkes gulintang. Dalam kajian budaya, simbol merupakan ekpresi jiwa manusia terhadap realitas yang dihadapinya. Baju adat Brunei merupakan simbol kebudayaan Melayu yang memiliki nuansa keindahan dalam berkesenian. Simbol ini mengajarkan agar manusia mencintai keindahan dan tradisi leluhur.

5. Penutup

Orkes gulintang yang menjadi musik khas Brunei Darussalam merupakan wujud kebudayaan Melayu yang telah memperkaya dan menegakkan marwah kebudayaan Melayu. Kesenian orkes gulintang sebenarnya dapat digunakan sebagai media pemersatu kebudayaan Melayu di seluruh dunia.

Yusuf Efendi (bdy/41/01-11)

Sumber Foto: http://anakbrunei.org

Referensi

Awang bin Ahmad, 1985. Gulintangan sebagai Satu Permainan Musik Tradisional. Kertas Kerja Seminar Kebudayaan Brunei.

Mahmud Haji Bakyr, 1976. Tinjauan Ringkas Gulintangan Brunei. Brunei: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Md. Daud bin Tuah, 1985/1986. Gulintangan: Alat Muzik Tradisional Brunei (Tesis). Fakulti Sains Kemasyarakatan dan Kemanusiaan, Universiti Kebangsaan Malaysia.

Hajah Kaipah binti Abdullah, 2002. Alat Muzik Tradisional Brunei. Brunei Darrusalam: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Kamus Melayu, dalam http://melayuonline.com. Diunduh pada tanggal 10 Januari 2011.

Dibaca : 17.733 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password