Selasa, 2 September 2014   |   Arbia', 7 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 2.568
Hari ini : 19.970
Kemarin : 22.071
Minggu kemarin : 167.818
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.078.687
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Kawali (Badik): Senjata Tradisional Masyarakat Adat Bugis

a:3:{s:3:

Badik merupakan salah satu jenis senjata tradisional yang menjadi identitas budaya suku-suku bangsa di bumi Melayu, termasuk sebagai senjata khas orang-orang Bugis, Makassar, Mandar, dan sejumlah suku bangsa lainnya di Sulawesi Selatan, serta etnis-etnis lainnya yang tersebar di berbagai tempat lainnya. Khusus dalam tradisi orang Bugis, badik dikenal dengan nama kawali.

1. Asal-usul

Seperti halnya keris, badik menjadi jenis senjata tradisional yang dikenal luas dan menjadi senjata khas lebih dari satu suku bangsa yang tersebar di Nusantara, bahkan di regional Asia Tenggara. Selain dikenal sebagai senjata tradisonal suku-suku bangsa di wilayah Sulawesi Selatan, badik ternyata juga menjadi senjata khas di sejumlah wilayah lain di Indonesia, seperti Jambi, Riau, Bengkulu, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Barat, Betawi (Jakarta), dan lainnya (http://organisasi.org). Bahkan, badik juga dikenal sampai ke Patani, Thailand bagian Selatan, dan menjadi senjata tradisional di sana. Berbagai jenis badik yang ditemukan di berbagai tempat yang berbeda itu memiliki nama dan ciri khas masing-masing.

Orang Bugis, yang termasuk dalam ras Deutero Melayu, menyebut badik dengan nama kawali. Suku Bugis yang datang setelah gelombang migrasi pertama. Daerah-daerah yang menjadi wilayah orang-orang Bugis di Sulawesi Selatan meliputi Bone (dulu wilayah Kerajaan Bone), Sinjai (dulu ada sejumlah kerajaan di wilayah ini antara lain: Kerajaan Tondong, Kerajaan Bulo-bulo, Kerajaan Lamatti, Kerajaan Turungen, Kerajaan Manimpahoi, Kerajaan Terasa, Kerajaan Pao, Kerajaan Manipi, Kerajaan Suka, dan Kerajaan Bala Suka), Pare-pare, Pangkep, Barru (dulu terdapat beberapa kerajaan di antaranya adalah Kerajaan Berru, Kerajaan Tanete, Kerajaan Soppeng Riaja, Kerajaan Mallusetas), Luwu (bekas wilayah Kerajaan Luwu-Bugis), Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan, Polmas, Pinrang, dan lain sebagainya (http://bugis-online.blogspot.com). Letak geografis dan tradisi orang Bugis juga dekat dengan orang-orang yang dulu menjadi warga Kerajaan Gowa dan Tallo di Makassar (http://id.wikipedia.org).

Wilayah Bugis disebut-sebut sebagai tempat di mana badik berasal dan pada akhirnya dikenal secara luas hingga ke daerah-daerah lain. Keyakinan tersebut dapat ditelisik dari tradisi orang Bugis yang suka menjelajah samudera untuk berdagang maupun merantau dan mengunjungi dunia luar. Aktivitas pelayaran oleh orang-orang Bugis ini memicu terjadinya pertukaran atau perpindahan budaya Bugis ke tempat-tempat yang dikunjungi. Perpindahan budaya ini kemudian berimplikasi pada proses akulturasi budaya yang ditandai dengan persebaran artefak-artefak khas Bugis, di antaranya adalah badik Bugis atau kawali.

Asal-muasal kawali sebenarnya sudah bermula jauh sebelum ajaran Islam masuk ke wilayah Sulawesi Selatan dan menjadi agama mayoritas penduduknya. Nicolas Gervaise, orang Prancis yang pernah diangkat sebagai guru untuk membimbing dua orang pangeran dari Makassar, berkisah bahwa pada zaman dahulu, orang-orang Sulawesi Selatan masih menyembah Dewa Matahari dan Dewa Bulan (Gervaise dalam C. Pelras, 1981:168). Dewa-dewa itu disembah pada pagi hari saat terbitnya matahari dan munculnya bulan pada malam hari. Untuk menghormati dewa-dewa, maka diselenggarakanlah berbagai jenis upacara, ibadah, dan ritual pengorbanan (karoba). Kawali menjadi bagian dari ritual-ritual keagamaan tersebut dan termasuk salah satu benda yang disakralkan.

Orang-orang Sulawesi Selatan pra-Islam juga memuja kalompoang (gaukang) atau arajang. Kata arajang bagi orang Bugis atau kalompoang (gaukang) bagi orang Makassar berarti “kebesaran”. Maksud dari arti tersebut adalah “benda-benda yang dianggap sakti, keramat, dan memiliki nilai magis”. Benda-benda keramat yang biasanya dimiliki oleh raja yang sedang berkuasa tersebut antara lain berwujud badik (kawali), tombak, keris, perisai, payung, patung dari emas dan perak, kalung, piring, jala ikan, gulungan rambut, dan lain sebagainya.

Bagi orang asli Bugis, memiliki kawali adalah suatu keharusan, seperti ungkapan dalam bahasa Bugis yang berbunyi: “Taniya ugi narekko de’na punnai kawali”. Ungkapan lokal masyarakat Bugis ini dapat diartikan sebagai berikut: “Bukan seorang Bugis jika tidak memiliki badik” (http://pulaumistik.blogspot.com).

2. Jenis-jenis Kawali

Berdasarkan motif dan sugesti kegunaannya, kawali atau badik Bugis terdiri dari beberapa jenis. Pengkategorian jenis-jenis kawali atau badik Bugis dibagi ke dalam dua golongan, yakni kawali yang mendatangkan manfaat dan kawali yang bisa menimbulkan atau menandakan kerugian.

Berikut ini adalah beberapa jenis kawali atau badik Bugis yang diyakini dapat mendatangkan faedah yang positif:

a. Kawali Lamalomo Sugi, jenis kawali atau badik Bugis yang mempunyai motif kaitan pada bilahnya dan diyakini sebagai senjata yang dapat memberikan kekayaan dan kesejahteraan materi bagi pemiliknya.

b. Kawali Lataring Tellu, mempunyai motif berupa tiga noktah dalam posisi tungku. Kawali atau badik Bugis ini dipercaya akan membawa keberuntungan bagi pemiliknya, yakni tidak akan kekurangan makanan dan tidak akan mengalami duka nestapa. Itulah sebabnya, kawali Lataring Tellu dirasa paling cocok digunakan bagi mereka yang bekerja di sektor pertanian.

c. Kawali Lade’ Nateyai, memiliki pamor berupa bulatan kecil pada bagian pangkal dan guratan berjajar di bagian matanya dan mempunyai motif berbentuk gala pada pangkalnya. Kawali atau badik Bugis ini dipercaya mampu mendatangkan rezeki yang melimpah bagi pemiliknya.

d. Kawali Lagemme’ Silampa, memuat motif berupa urat yang membujur dari pangkal sampai ke ujung dan diyakini sebagai salah satu jenis kawali atau badik Bugis yang sangat ideal. Kawali Lagemme’ Silampa dipercaya senantiasa akan memberikan keselamatan dan kesejahteraan dalam kehidupan bersama dengan segenap keluarga dan para kerabatnya.

e. Kawali Ilakkoajang, memiliki motif guratan di seluruh tubuhnya. Kawali ini adalah jenis badik yang dipercayai sebagai senjata yang mampu mendatangkan wibawa serta derajat yang tinggi bagi pemiliknya.

f. Kawali Lasabbara, kawali atau badik Bugis jenis ini dipercaya dapat mendatangkan sifat-sifat kesabaran bagi si penggunanya.

g. Kawali Lamalomo Rialawengeng, jenis kawali atau badik Bugis yang seperti ini diyakini mampu membuat setia bagi istri pemiliknya dan tidak akan melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mempermalukan sang suami.

h. Kawali Latenriwale, kawali atau badik Bugis ini memiliki motif berupa bulatan berbentuk oval pada bagian ujungnya. Kawali Latenriwale dipercaya dapat membangkitkan sifat pantang mundur serta tidak mudah menyerah bagi pemiliknya dalam setiap pertempuran dan mampu mendatangkan kemenangan dalam setiap pertarungan (http://pulaumistik.blogspot.com).

Selain kawali yang dipercaya mampu mendatangkan energi-energi positif, terdapat pula jenis-jenis badik Bugis yang diyakini dapat menimbulkan hal-hal yang buruk bagi pemiliknya atau menandakan perbuatan-perbuatan tercela yang pernah dilakukan oleh si pemegangnya. Beberapa jenis kawali atau badik Bugis yang mengandung unsur-unsur negarif itu antara lain:

a. Kawali Lasukku Ja’na, jenis kawali atau badik Bugis yang satu ini dianggap sebagai jenis yang sangat buruk dan mengandung kesialan yang dapat menimpa si pemiliknya.

b. Kawali Latemmewa, juga dianggap sebagai salah satu jenis kawali atau badik Bugis yang sangat tidak baik. Kawali diyakini ini tidak dapat menjaga wibawa dan kehormatan pemiliknya. Menurut kepercayaan, pemilik kawali ini tidak akan melakukan perlawanan kendati ditampar oleh orang lain, atau dengan kata lain, kawali Latemmewa tidak mampu menjaga harga diri si pemegangnya.

c. Kawali Lamalomo Malaweng Tappi’enngi, dipercaya bahwa jika menyimpan kawali atau badik Bugis jenis ini, istrinya sering atau akan terlibat dalam perbuatan zina dengan lelaki lain. Kawali Lamalomo Malaweng Tappi’enngi ini memiliki motif berupa guratan tanda panah pada bagian pangkalnya (http://pulaumistik.blogspot.com).

3. Bagian-bagian Kawali

Secara umum, kawali atau badik Bugis terdiri dari tiga bagian utama, yakni pangulu (hulu atau gagang), bilah (besi), dan wanua (sarung). Masing-masing kawali atau badik Bugis yang dikenal di sejumlah tempat yang didiami orang-orang Suku Bugis memiliki ciri-ciri fisik yang berbeda. Jenis badik Bugis dari Bone, misalnya, memiliki bilah yang pipih, ujung runcing dan bentuk agak melebar pada bagian ujung. Sedangkan kawali dari Luwu (badik Bugis dari daerah Luwu, bekas Kerajaan Luwu-Bugis) memiliki bilah yang pipih dan berbentuk lurus.

4. Fungsi Kawali

Kawali atau badik Bugis memiliki beberapa fungsi atau kegunaan sebagai berikut:

a. Sebagai Senjata

Fungsi utama kawali atau badik Bugis adalah sebagai senjata untuk membela diri atau untuk digunakan ketika menghadapi duel. Kawali yang dipakai sebagai senjata biasanya dilengkapi juga dengan racun yang dioleskan pada badan badik. Namun, kadar racun tersebut tergantung tujuan penggunaan kawali itu sendiri, apakah untuk membunuh atau hanya untuk sekadar berduel dalam pertarungan. Kawali yang memang sengaja akan digunakan untuk membunuh lawan tentu saja kadar racunnya lebih tinggi daripada kawali yang dipakai untuk berduel. Sedangkan kawali yang digunakan untuk berduel kadar racunnya lebih rendah atau terkadang tidak mengandung racun sama sekali jika tujuannya hanya untuk melukai musuhnya. Sasaran utama penggunaan kawali dalam pertarungan biasanya untuk menikam pada bagian tengkuk lawan sehingga ujung kawali dibuat keras. Bentuk kawali didesain pula untuk mengiris dan oleh karena itulah bagian sisi kawali biasanya sangat tajam (http://osdir.com).

b. Sebagai Identitas Diri

Menurut pandangan orang Bugis, setiap jenis kawali memiliki kesaktian alias kekuatan gaib. Kekuatan ini dapat mempengaruhi kondisi, keadaan, dan proses kehidupan si pemilik kawali. Selaras dengan hal itu, terdapat kepercayaan dalam keyakinan pada masyarakat adat Bugis bahwa kawali juga mampu mendatangkan ketenangan dan kedamaian lahir maupun batin, kesejahteraan, serta kemakmuran.

Sebaliknya, kawali atau badik Bugis dipercaya pula dapat mendatangkan kesusahan, kemelaratan, kemiskinan, atau kesengsaraan bagi orang yang memilikinya namun tidak benar dalam penggunaannya. Dengan demikian, kawali atau badik tidak hanya difungsikan sebagai senjata untuk membela diri atau untuk aktivitas berburu semata, melainkan juga sebagai salah satu bentuk identitas diri dari suatu komunitas etnis atau kelompok adat, dan hal itu sudah berlangsung sejak berabad-abad yang telah lampau (http://pulaumistik.blogspot.com).

c. Sebagai Benda Pusaka

Kawali atau badik Bugis dapat juga berfungsi sebagai benda pusaka, namun biasanya berlaku bagi kawali yang berusia lama atau mengandung nilai historis tertentu. Kawali sebagai benda pusaka pada umumnya juga dikeramatkan dan disucikan. Akan tetapi, kawali dalam kategori ini tidak boleh digunakan untuk bertarung, apalagi sampai membunuh lawan. Diyakini bahwa kawali pusaka yang pernah dipakai untuk membunuh akan terdapat noda kemarahannya, dan bila dikeluarkan dari sarungnya, maka kawali tersebut akan meminta korban lagi sebagai “makanan”nya. Selain itu, kawali pusaka biasanya berwujud lebih indah dan lebih halus, terkadang diberi tambahan ornamen dari emas atau permata (http://osdir.com).

d. Sebagai Peralatan dalam Upacara Adat

Pada zaman dulu, kawali atau badik Bugis juga menjadi salah satu peralatan yang dipakai dalam ritual pelaksanaan upacara adat, misalnya digunakan pada saat prosesi penyembelihan korban. Oleh karena itu, kawali dianggap sebagai benda yang suci dan harus dibersihkan pada saat-saat tertentu. Selain itu, kawali juga menjadi salah satu perlengkapan dalam event-event adat Bugis lainnya, misalnya pada saat pelaksanaan upacara pernikahan adat Bugis dan upacara-upacara adat lainnya.

e. Sebagai Peralatan Sehari-hari

Fungsi kawali atau badik Bugis sebagai peralatan sehari-hari juga menjadi fungsi utama selain sebagai senjata. Sejak zaman dulu, orang-orang Bugis menggunakan rencong sebagai salah satu perlengkapan ketika berburu maupun ketika mencari ikan di laut, serta digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti pisau.

f. Sebagai Asesoris atau Cenderamata

Seiring dengan perkembangan zaman, kawali atau badik Bugis menjadi salah satu cenderamata yang banyak diminati oleh para wisatawan sebagai oleh-oleh khas dari tanah Bugis. Kawali yang digunakan sebagai komoditas wisata ini tentunya tidak mengandung unsur-unsur magis tertentu dan biasanya diproduksi dalam jumlah yang banyak dalam bentuk tiruan.

5. Nilai-nilai

Keberadaan kawali atau badik Bugis sebagai salah satu kekayaan budaya dan kearifan lokal tentu saja memuat nilai-nilai yang bermanfaat, baik bagi orang-orang Suku Bugis maupun masyarakat pada umumnya. Berikut ini adalah nilai-nilai positif yang terkandung dalam kawali atau badik Bugis:

a. Nilai Tradisi

Kawali atau badik Bugis adalah senjata tradisional yang menjadi ciri khas dan kebanggaan masyarakat Suku Bugis yang banyak menghuni wilayah Sulawesi Selatan. Kawali tidak saja berfungsi sebagai senjata dan alat berburu saja, melainkan juga dapat berguna sebagai penanda jatidiri orang Bugis, sebagai pusaka yang disakralkan, dan berperan penting dalam prosesi pelaksanaan berbagai ritual adat Bugis. Oleh karena itu, keberadaan kawali dalam konteks tradisi kebudayaan orang Bugis sangat berpengaruh.

b. Nilai Sejarah

Penggunaan kawali bagi orang Bugis sudah berlangsung sangat lama, sejak orang-orang Bugis masih menganut kepercayaan leluhur pada masa pra-Islam. Pada masa ini, kawali menjadi bagian yang sangat penting dalam berlangsungnya upacara-upacara adat. Keberadaan kawali berlanjut pada masa kerajaan di mana senjata tradisional ini menjadi salah satu elemen yang tidak kalah penting dalam koleksi pusaka atau benda-benda kerajaan yang dikeramatkan. Dengan demikian, kawali dalam tradisi orang Bugis memuat unsur historis tidak bisa diabaikan begitu saja.

c. Nilai Seni

Kawali atau badik Bugis merupakan salah satu karya seni hasil karya orang-orang Bugis. Kawali mempunyai jenis yang beragam dengan berbagai motif dan corak yang bermacam-macam pula, sehingga membuat para perajin kawali dapat menuangkan ide kreatifnya dalam membuat kawali. Apalagi saat ini kawali (dalam bentuk replika atau tiruan) sudah menjadi komoditas yang cukup potensial untuk dijadikan sebagai oleh-oleh khas tanah Bugis sehingga para perajin badik semakin leluasa untuk mengembangkan nilai seni kawali.

6. Penutup

Kawali atau badik Bugis merupakan warisan pusaka tradisional yang melengkapi kekayaan tradisi masyarakat adat Bugis. Bagi orang Bugis, memiliki kawali sudah menjadi suatu keharusan karena kawali sudah dianggap sebagai salah satu wujud identitas budaya atau jatidiri bagi setiap orang Bugis.

(Iswara N. Raditya/bdy/02/02-2011)

Referensi

“Badik”, dalam http://osdir.com, data diunduh pada tanggal 27 Februari 2011.

“Badik”, dalam http://pulaumistik.blogspot.com, data diunduh pada tanggal 25 Februari 2011.

C. Pelras, 1981. Hubungan Patron-Klien dalam Masyarakat Bugis-Makassar. Paris (Monografi).

“Daerah-Daerah yang Merupakan Suku Bugis”, dalam http://bugis-online.blogspot.com, data diunduh pada tanggal 27 Februari 2011.

“Nama Senjata Tradisional Khas Daerah Adat Budaya Nasional, Kebudayaan Nusantara Indonesia”, dalam http://organisasi.org, data diunduh pada tanggal 25 Februari 2011.

“Suku Bugis”, dalam http://id.wikipedia.org, data diunduh pada tanggal 27 Februari 2011.

Sumber Foto: Reproduksi dari foto-foto badik dalam http://pulaumistik.blogspot.com

Dibaca : 15.782 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password