Selasa, 21 Oktober 2014   |   Arbia', 26 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.999
Hari ini : 14.585
Kemarin : 20.089
Minggu kemarin : 174.811
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.252.828
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Bintang Rowot: Waktu dalam Pengetahuan Orang Sasak di NTB

Bintang rowot adalah gugusan bintang yang terdiri dari tujuh bintang yang menjadi dasar dari konsep perhitungan waktu dalam sistem pengetahuan orang Sasak di Nusa Tenggara Barat (NTB).

1. Asal-usul

Orang Sasak, leluhur asli orang Lombok sekarang, merupakan pemilik kebudayaan yang unik dan sakral (John Ryan Bartolomew. 2001; Erni Budiwanti, 2000). Dalam kehidupan keseharian, mereka memiliki beragam tradisi luhur yang hingga sekarang masih diterapkan, salah satunya adalah pengetahuan tentang waktu.

Kehidupan leluhur Sasak yang akrab dengan alam, termasuk perjalanan bintang, melahirkan sebuah pengetahuan unik tentang waktu. Pengetahuan ini diperoleh dari pengamatan terhadap gugusan bintang yang terdiri dari tujuh bintang yang terletak di atas sebelah kiri orang yang memandangnya. Gugusan bintang ini biasa mereka sebut dengan nama bintang rowot (Lalu Wacana, dkk., 1985).

Secara umum, konsep tentang bintang rowot didasarkan pada perhitungan perjalanan bulan yang memadukan antara pengamatan langsung dan perhitungan kalender Jawa dan Arab, yakni penggabungan antara abad, windu, dan perhitungan bulan Arab (Hijriah). Perpaduan ini diduga kuat akibat adanya akulturasi budaya antara Jawa, Arab, dan Sasak pada masa lalu. Suku Sasak sendiri dipercaya berasal dari Jawa, yaitu orang-orang yang bermigrasi pada periode Kerajaan Mataram. Setidaknya hal ini dibuktikan dari beberapa kesamaan bahasa dan istilah, seperti abad, windu (8 tahun), lawang (pintu), atau pawon dapur) (Lalu Wacana dkk., 1985; Ahmad Amin, et.al., 1978).

Pengetahuan tentang bintang rowot diperoleh dari ajaran nenek moyang Sasak secara turun-temurun. Pengetahuan ini hanya dikuasai oleh pemimpin adat yang diperoleh secara turun-temurun pula. Saat petani akan turun ke sawah untuk menanam atau memanen, maka sebelumnya mereka akan mendatangi pemimpin adat untuk meminta petunjuk dan nasehat tentang kapan waktu turun bibit, menanam, memanen, dan melindungi tanaman dari wabah penyakit (Lalu Wacana, dkk., 1985).

Bagi orang Sasak, musim panen juga berkaitan dengan musim kawin (Bartolomew, 2001). Jika musim kemarau panjang, mereka menyiasatinya dengan menciptakan permainan perisean (perang antardua lelaki menggunakan rotan). Darah yang keluar dari petarung dijadikan harapan akan turunnya hujan (Aryani Setyaningsih, 2009).  Hingga saat ini, sistem perhitungan bintang rowot masih digunakan masyarakat di perdesaan Lombok, khususnya oleh masyarakat Bayan Lombok Utara.

2. Konsep Bintang Rowot

Konsep perhitungan bintang rowot cukup sederhana. Namun, untuk memahaminya, diperlukan kejelian, pengetahuan, dan pengalaman yang memadai dan seimbang. Berikut adalah konsep bintang rowot tersebut.

Suku Sasak memakai tahun huruf seperti dengan tahun Jawa. Tahun Jawa dimulai dari tanggal 8 Juli 1633 bertepatan dengan 1 Muharam 1043 atau disebut juga dengan 1 Suro 1555 S. Huruf Sasak sendiri disebut dengan huruf jejawan. Hasil sastra tulisan Sasak juga banyak yang digubah dalam bahasa Jawa. Bahasa resmi adat dan pemerintahan Sasak tempo dulu adalah bahasa Jawa Madya. Ucapan syahadat, doa, dan mantra-mantra mereka juga kebanyakan dilantunkan dalam bahasa jawa (Lalu Wacana, dkk., 1985).

Dalam perhitungan waktu, orang Sasak juga mengenal kesatuan kurun waktu dengan nama abad (100 tahun), windu (8 tahun), tahun (12 bulan), bulan, dan jelo (hari). Nama-nama windu pun sama dengan di Jawa, yaitu alif, ehe, jimmawal, je, dal, be, wawu, dan jimakir.  

Orang sasak menggunakan bulan Arab dan bulan bilangan untuk menamai bulan-bulan dalam setahun. Bulan bilangan dihitung berdasarkan terbitnya bintang rowot. Bintang rowot hanya terbit sekali dalam setahun. Ciri khasnya adalah tidak pernah kelihatan pada waktu yang sama dengan bintang pari, atau dalam istilah orang sasak, kedua bintang tersebut tidak pernah saling berpandangan.

Bintang rowot awal terbitnya selalu pada salah satu antara tangggal 5, 15, atau 25. Oleh karena itu, bulan satu menurut orang Sasak dimulai dari terbitnya bintang rowot. Sebagai contoh, pada tahun 1983 bintang rowot terbit pada tanggal 15 bulan Syaban/Rowah dan bertepatan dengan tanggal 28 Mei 1983. Ini berarti tahun 1983 bulan satunya dimulai tanggal 28 Mei. Berikut adalah penjabarannya:

  • 15 Syaban - 14 Ramadhan = bulan Satu
  • 15 Ramadhan-14 Syawal = bulan dua
  • 15 Syawal - 14 Zulkaidah = bulan tiga
  • 15 Zulkaidah – 14 Zulhijah = bulan empat
  • 15 Zulhijah – 14 Muharam = bulan lima
  • 15 Muharam – 14 Syafar = bulan enam
  • 15 Syafar – 14 Robiul Awal = bulan tujuh
  • 15 Robiul Awal – 14 Robiul Akhir = bulan delapan
  • 15 Robiul Akhir – 14 Jumadil Awal = bulan kesembilan
  • 15 Jumadil Awal – 14 Jumadil Akhir = bulan kesepuluh
  • 15 Jumadil Akhir – 14 Rajab = bulan kesebelas
  • 15 Rajab – 14 Syaban = bulan kedua belas

Jumlah hari dalam sebulan menurut orang Sasak selalu 30 hari, sehingga dalam setahun ada 360 hari, tidak seperti tahun Masehi yang terkadang berjumlah 365 hari atau 366 hari (saat tahun kabisat). Bulan perhitungan Sasak ini tidak hanya digunakan untuk patokan dalam kehidupan harian saja, namun juga patokan dalam pertanian, dan oleh karena itu disebut juga bulan pertanian. Dalam prakateknya, perhitungan bulan Sasak tersebut didasarkan pada peredaran bulan Arab.

Perhitungan bintang rowot memiliki keunikan. Setiap tahun tanggal terbitnya akan mundur sepuluh hari dari tahun sebelumnya, sehingga jika umpamanya tahun ini terbit tanggal 15 Syaban, maka tahun depan akan terbit tanggal 25 Syaban, tahun berikutnya akan terbit tanggal 5 Syaban. Dengan demikian, sistem penanggalannya juga berubah, yakni pada tanggal terbit akan disebut bulan satu.

Menurut pemimpin adat Sasak, setiap terbitnya bintang rowot memiliki tanda yang berbeda-beda. Hal ini dikarenakan setiap terbit berkaitan dengan musim. Sebagai contoh, tanda-tandanya adalah sebagai berikut:

  • Bulan empat ditandai dengan terdengarnya suara guntur di langit. Peristiwa ini dianggap sebagai lawang tahun (pintu tahun). Pada peristiwa ini, semua petani dilarang melakukan kegiatan bertani.
  • Bulan enam ditandai dengan pergeseran matahari ke utara khatulistiwa. Pada bulan enam tanggal 6, 16, dan 26 ditandai dengan tumbuk, yakni bayang-bayang benda akan lenyap. Ini dibuktikan dengan cara mendirikan sebatang kayu. Tanda lainnya adalah di bagian utara Gunung Rinjani tampak gugusan mendung bergerak menyelimuti gunung, orang Sasak menyebutnya bao daya. Selain itu, terdengar guntur dan turun hujan selama tiga hari atau empat hari yang mereka disebut dengan istilah hujan pengelomang jami.
  • Bulan tujuh ditandai dengan angin yang bertiup lemah dan sinar matahari yang terik. Air laut naik tinggi tidak seperti biasanya. Sebaliknya, jika turun juga melebihi biasanya. Orang Sasak menyebutnya jelo padaq.
  • Bulan delapan ditandai dengan turun hujan selama 7-10 hari. Pohon yang meranggas mulai bersemi. Setelah itu, hujan akan berhenti selama 10-15 hari. Orang sasak menyebutnya mangan rawas (makan ulat) yang artinya “telur serangga mulai menetas menjadi ulat”.
  • Bulan kesembilan ditandai dengan curah hujan yang semakin lebat. Air sawah melimpah.
  • Bulan kesepuluh ditandai dengan keluar dan ditangkapnya nyale (sejenis cacing kelabang), yaitu pada tanggal 19 dan 20.
  • Bulan kesebelas ditandai dengan tumbuhnya cendawan payung dan munculnya ikan serta betok (belut) di sawah. Ikan-ikan ini akan mengikuti aliran air sawah menuju sungai. Hujan pun sudah mulai jarang turun.
  • Bulan kedua belas ditandai dengan udara yang panas dan tak ada hujan sama sekali. Ini menandakan musim kemarau tiba.

Berdasarkan pengetahuan ini, status sosial orang Sasak pada zaman dahulu diukur dari banyaknya sawah, lumbung, dan padi yang dimiliki. Dengan mengikuti perhitungan bintang rowot, hasil panen dipercaya akan selalu berhasil. Seiring dengan itu, pemimpin adat juga menggelar upacara adat agar panen berhasil dan dijauhkan dari wabah penyakit.        

3. Pengaruh Sosial

Pengetahuan orang Sasak tentang bintang rowot ini berpengaruh terhadap beberapa sektor kehidupan sosial, antara lain:

  • Kegiatan pertanian. Berkat pengetahuan tentang bintang rowot, orang Sasak dapat menentukan musim tanam dan panen. Setiap akan musim tanam, petani akan mendatangi pemimpin adat untuk meminta petunjuk. Masyarakat umum bahkan memanfaatkan perhitungan bintang rowot sebagai patokan untuk menggelar pesta pernikahan.
  • Status sosial. Pengetahuan ini hanya dimiliki oleh orang tertentu, yaitu pemimpin adat. Oleh karena itu, pemimpin adat Sasak sangat dihormati secara sosial. Jika ada masalah dengan pertanian, masyarakat selalu akan menemui pemimpin adat untuk meminta solusinya. Penghormatan kepada pemimpin adat juga membuktikan bahwa pengetahuan ini istimewa karena tidak semua orang memilikinya.
  • Menghargai alam. Pengetahuan tentang bintang rowot mengajarkan untuk menghargai alam. Pengetahuan ini digali dari pengalaman dan pemahaman orang Sasak tentang peredaran bintang di langit. Hal ini membuktikan bahwa antara orang Sasak dengan alam telah terjadi ikatan yang kuat. Sebagai contoh, Gunung Rinjani yang ada di Lombok hingga kini masih dipercaya sebagai gunung yang sakral dan tidak akan mencelakai mereka.
  • Kehidupan spiritual. Pengetahuan tentang bintang rowot berpengaruh terhadap kehidupan spiritual orang Sasak. Hal ini dapat dilihat pada saat pelaksanaan panen di mana para petani akan merayakan upacara adat dengan menggelar doa dan mempersembahkan sesaji sebagai ungkapan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan perhitungan bintang rowot yang tepat dipercaya dapat menjadikan mereka dapat memanen padi dengan tepat pula dan terlindungi dari hama.  

4. Penutup

Pengetahuan bintang rowot menjadi bukti leluhur Sasak memiliki kebudayaaan yang cukup tinggi pada zamannya. Dengan pengetahuan yang mengandalkan pengamatan dan ketelitian, mereka dapat membuat aturan waktu yang dapat membantu kehidupan masyarakat, khususnya petani.

(Yusuf Efendi/bdy/47/03-2011)

Referensi   

Ahmad Amin, et al., 1978. Adat istiadat Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Depdikbud RI.

Aryani Setyaningsih. 2009. Lelaki Pepadu (Tesis). Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Erni Budiwanti, 2000. Islam Sasak, Wetu Lima versus Wetu Telu. Yogyakarta: Kanisius.

John Ryan Bartolomew. 2001. Alif Lam Mim, Kearifan Masyarakat Sasak. Yogyakarta: Tiara Wacana

Lalu Wacana, dkk., 1985. Upacara Tradisional yang Berkaitan dengan Peristiwa Alam dan Kepercayaan Daerah Nusa Tenggara Barat. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dibaca : 4.062 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password