Rabu, 1 Oktober 2014   |   Khamis, 6 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.331
Hari ini : 8.714
Kemarin : 22.967
Minggu kemarin : 241.277
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.177.815
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Aluk Rambu Solo’: Upacara Pemakaman Adat Melayu Toraja, Sulawesi Selatan


Aluk rambu solo’ adalah upacara pemakaman adat yang menjadi tradisi orang-orang Melayu serumpun di Toraja, Sulawesi Selatan. Aluk rambu solo’ dapat dimaknai sebagai upacara pemujaan dan penyempurnaan arwah orang yang wafat supaya dapat berkumpul bersama leluhur di alam roh.

1. Asal-usul

Suku bangsa Melayu di Toraja, Sulawesi Selatan, memiliki banyak tradisi yang sakral dan unik. Salah satunya adalah aluk rambu solo’, yakni upacara pemakaman adat orang Toraja. Kendati dalam pelaksanaannya harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, namun upacara ini masih tetap lestari hingga sekarang (Tino Saroenggalo, 2008). Istilah aluk rambu solo’ terbangun dari tiga kata, yaitu aluk (keyakinan), rambu (asap atau sinar), dan solo’ (turun). Dengan demikian, aluk rambu solo’ dapat diartikan sebagai upacara yang dilaksanakan pada waktu sinar matahari mulai turun (terbenam). Sebutan lain untuk upacara ini adalah aluk rampe matampu’. Aluk artinya keyakinan atau aturan, rampe artinya sebelah atau bagian, dan matampu’ artinya barat. Jadi, makna aluk rampe matampu ’adalah upacara yang dilaksanakan di sebelah barat dari rumah atau tongkonan (L.T. Tangdilintin, 1975; K. Kadang, 1960).

Upacara aluk rambu solo’ bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam  roh, bersama para leluhur mereka yang bertempat di puya. Upacara  ini sebagai penyempurnaan, karena orang baru dianggap benar-benar wafat setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang wafat itu hanya dianggap sebagai orang yang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya ketika masih hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi makanan dan minuman, bahkan diajak berbicara. Selain itu, orang Toraja arwahnya mencapai tingkatan dewa (to-membali puang) untuk kemudian menjadi dewa  pelindung (deata) (Mohammad Natsir Sitonda, 2007).   

Aluk rambu solo’ adalah warisan ajaran leluhur Toraja. Upacara ini dilaksanakan berdasarkan keyakinan leluhur yang disebut aluk todolo, berarti kepercayaan atau pemujaan terhadap roh leluhur. Di dalam aluk todolo terdapat aluk pitung sabu pitu ratu pitungpulo atau 777 aturan, salah satunya yang berhubungan dengan pemujaan roh leluhur pada saat kematian (Sitonda, 2007). Berdasarkan status sosial orang atau tingkat ekonomi keluarga yang diupacarakan, aluk rambu solo’ dapat dibagi menjadi 4 jenis, yaitu:

  1. Silli’, yakni upacara pemakaman untuk kasta paling rendah, yaitu kasta kua-kua atau budak. Upacara jenis ini tidak ada pemotongan hewan sebagai persembahan dan dibagi dalam beberapa bentuk, seperti dedekan (upacara pemakaman dengan memukulkan wadah tempat makan babi) dan pasilamun tallo manuk (pemakaman bersama telur ayam).
  2. Pasangbongi, yakni upacara yang hanya berlangsung satu malam. Yang termasuk jenis ini antara lain bai a’pa’ (persembahan empat ekor babi), si tedong tungga (persembahan satu ekor babi), di isi (pemakaman untuk anak yang meninggal sebelum tumbuh gigi dengan persembahan seekor babi), dan ma’ tangke patomali (persembahan dua ekor babi).  
  3. Di batang atau di doya tedong, yakni upacara untuk kasta tana’ basi (bangsawan menengah) dan tana’ bulan (bangsawan tinggi). Selain kerbau, upacara jenis ini juga mempersembahkan babi dan ayam. Upacara biasanya digelar selama 3-7 hari berturut-turut. Pada akhir acara, dibuatkan sebuah simbuang (menhir) sebagai monumen untuk menghormati orang yang wafat.
  4. Rapasan, yakni upacara khusus bagi golongan tana’ bulan (bangsawan tinggi) yang digelar selama 3 hari 3 malam. Termasuk upacara jenis ini, antara lain rapasan diongan (rapasan tingkat rendah hanya memenuhi syarat minimal persembahan 9-12 kerbau), rapasan sundun (rapasan lengkap persembahan 24 ekor kerbau dan babi tak terbatas), dan rapasan sapu randanan (rapasan simbolik dengan persembahan yang diandaikan 30 ekor kerbau) (Sitonda, 2007).

Saat ini, upacara adat aluk rambu solo’ di masyarakat Toraja sudah mengalami perubahan yang cukup signifikan, khususnya dalam kelengkapan persembahan. Faktor ekonomi menjadi salah satu akar persoalannya karena hewan persembahan biasanya berharga cukup tinggi. Misalnya, jenis kerbau yang digunakan bukan kerbau biasa, tetapi kerbau bule (tedong bonga) yang harganya antara 10–50 juta/ekor (Saroenggalo, 2008).

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Upacara aluk rambu solo’ digelar sesuai dengan kesiapan keluarga secara ekonomi karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bagi kaum bangsawan yang mampu, biasanya akan langsung menggelar upacara ini ketika ada anggota keluarga yang meninggal. Namun, bagi kalangan biasa, mereka akan menunggu hingga punya cukup dana. Sementara itu, tempat pelaksanaan upacara dipusatkan di dua lokasi, yakni di rumah duka dan di lapangan (rante).

3. Peserta dan Pemimpin Upacara

Peserta upacara aluk rambu solo’ adalah seluruh keluarga orang yang wafat dan segenap warga masyarakat. Pelaksanaan upacara ini dipimpin oleh beberapa orang khusus yang terdiri dari:

  • To mebalun atau to ma’kayo, bertugas memimpin dan membina upacara pemakaman.
  • To ma’pemali, bertugas melayani, merawat, dan memelihara jenazah selama upacara berlangsung.
  • To ma’kuasa, bertugas membantu secara umum pelaksanaan pemakaman.
  • To ma’sanduk dalle, perempuan yang khusus menyiapkan nasi bagi jenazah yang akan dimakamkan.
  • To dibulle tangnga, perempuan yang bertugas sebagai penghubung antarpetugas upacara yang lain, khususnya yang berkaitan dengan sesaji.
  • To sipalakuan, orang yang bertugas memenuhi semua kebutuhan perawatan jenazah dan upacara.
  • To ma’toe bia’, seorang laki-laki yang bertugas menyalakan api dan memegang obor selama upacara berlangsung.
  • To masso’ boi rante, perempuan yang bertugas membuka jalan ke rumah duka atau lapangan tempat upacara.
  • To mangengnge baka tau-tau, seseorang yang khusus membawa tempat pakaian dari patung.   

4. Peralatan dan Bahan

Peralatan yang dibutuhkan dalam pelaksanaan upacara aluk rambu solo’ antara lain:

  • Tombi saratu, kain panjang seperti umbul-umbul.
  • Tuang-tuang atau tanda upacara.
  • Gendang.
  • Maa’, kain berukir sebagai tanda kemuliaan.
  • Sesaji.
  • Gong atau bombongan.

5. Proses Pelaksanaan

Proses pelaksanaan upacara aluk rambu solo’ meliputi 3 tahap, yaitu: persiapan, pelaksanaan, dan penutup. Berikut adalah proses pelaksanaan upacara aluk rambu solo’ yang digelar selama 4 hari.

a. Persiapan

Untuk menyiapkan upacara aluk rambu solo’, beberapa persiapan yang harus dilakukan meliputi: pertemuan keluarga, pembuatan pondok upacara, dan menyediakan peralatan upacara.

  • Pertemuan keluarga orang yang wafat, baik dari pihak ibu maupun bapak, dilakukan untuk membicarakan ahli waris, tingkat upacara yang akan dilakukan, tempat pelaksanaan upacara, dan lain-lain.
  • Pembuatan pondok upacara terdiri dari dua macam, yaitu yang ada di halaman rumah orang yang wafat dan di lapangan upacara. Pondok-pondok tersebut nantinya selain untuk pelaksanaan upacara juga sebagai tempat menginap para tamu. Pondok dibangun sesuai kasta orang yang wafat.
  • Menyediakan peralatan upacara seperti peralatan makan, tidur, sesaji dan lain-lain.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan upacara aluk rambu solo’ terbagi menjadi dua tahap, yaitu aluk pia atau aluk banua, yakni upacara dilakukan di halaman rumah orang yang wafat (upacara tahap pertama), dan aluk palao atau alok rante, yakni upacara yang dilakukan di lapangan atau rante (upacara tahap kedua).

1.      Aluk Pia atau Aluk Banua

Pada upacara pemakaman di halaman rumah, jenazah tetap di rumah duka. Upacara tahap pertama ini digelar selama 4 hari berturut-turut. Pada hari pertama dilakukan persembahan sesaji berupa kerbau dan babi, dengan diiringi nyanyian semalam suntuk (ma’badong). Di hari pertama ini, dilakukan juga perubahan letak jenazah sekaligus status mayat berubah menjadi to makula, yaitu orang yang dianggap benar-benar telah wafat.

Hari kedua, selain tetap melantunkan nyanyian semalam suntuk, keluarga menerima masyarakat dan kerabat yang biasanya datang dengan membawa sumbangan berupa hewan atau uang. Sumbangan ini sebagai tanda bahwa kelak jika sang penyumbang juga menyelenggarakan upacara, maka yang disumbang harus mengembalikannya, meskipun tidak dianggap sebagai utang. Para tamu biasanya akan memperkenalkan kerabat masing-masing sehingga dari sini mereka akhirnya saling mengetahui jalinan kekerabatan mereka.

Pada hari ketiga diadakan dua ritual. Pertama yaitu ma’bolong, penyembelihan babi di pagi hari oleh to mebalun di mana semua orang berpakaian hitam sebagai tanda berkabung. Kedua, ma’batang, penyembelihan kerbau di lapangan dan dilanjutkan dengan pembacaan mantra pujian pada leluhur dari atas menara daging (bala’kayan).    

Di hari keempat dilakukan ritual memasukkan jenazah ke dalam sebuah peti kayu. Kayu yang digunakan harus kayu yang sudah mati (kayu mate) dan menjadi simbol bahwa jenzah telah benar-benar mati.

2.      Aluk Palao atau Aluk Rante

Tahap ini digelar di lapangan dengan 4 prosesi, yaitu ma’ palao, allo katongkonan, allo katorroan, mantaa padang, dan meaa.

  • Ma’ palao, jenazah dari lumbung dipindahkan di lapangan dan dibawa dengan iringan arak-arakan. Sesampai di lapangan, kerbau dipotong dengan ditebas langsung lehernya. Daging kerbau lalu dibagikan kepada yang hadir dengan sebelumnya didendangkan syair-syair kedukaan yang diucapkan dalam bahasa adat Toraja.
  • Allo katongkkonan, keluarga menerima tamu yang datang dan mencatat pemberian sumbangan.
  • Allo katorroan, keluarga dan petugas istirahat sejenak untuk membicarakan persiapan acara puncak pesta pemakaman. Pada tahap ini, disepakati lagi berapa kerbau yang akan dipotong.
  • Mantaa padang, acara puncak yaitu pemotongan kerbau yang telah disepakati sebelumnya. Daging kerbau kemudian dibagikan kepada keluarga dan kerabat sesuai adat. Terkadang ada kerbau yang dibiarkan hidup tapi sudah diniatkan untuk disembelih dan disumbangkan untuk masyarakat.
  • Me aa, jenazah diturunkan dari lakian atau ke tempat pemakaman, kemudian digelar ibadah pemakaman, ungkapan belasungkawa, ucapan terima kasih dari keluarga, dan prosesi pemakaman jenazah.       

c. Penutup

Upacara aluk rambu solo’ dinyatakan berakhir jika jenazah telah selesai dimakamkan. Saat ini, pelaksanaan upacara aluk rambu solo’ telah banyak berubah. Salah satu perubahannya adalah digelarnya upacara selama 12 hari dengan urutan acara sebagai berikut: Ma’pasuluk (pertemuan keluarga), mangriu’ batu (menarik batu simbuang), ma’ pasa tedong (menghitung ulang hewan korban), ma’ pengkalao (memindahkan jenazah ke tongkonan), mangisi lantang (mengisi pondok), ma’ pasonglo (memindahkan jenazah dari lumbung), allo katongkonan (keluarga menerima tamu), allo katorroan (istirahat), mantaa padang (memotong hewan korban), dan me aa (pemakaman jenazah).

6. Doa-doa

Dalam upacara adat aluk rambu solo’, terdapat doa-doa yang dilantunkan, antara lain:

a.      Doa permohonan perlindungan.

b.      Doa pengagungan kepada leluhur.

c.       Doa kepada orang yang wafat agar arwahnya diterima.

7. Pantangan dan Larangan

Terdapat pantangan dalam upacara adat aluk rambu solo’, yakni selama upacara berlangsung, seluruh peserta upacara dilarang membuat gaduh pada saat mantra dibacakan, dan untuk pihak keluarga tidak boleh membatalkan sesaji yang telah disepakati.

8. Nilai-nilai

Upacara adat aluk rambu solo’ memiliki nilai-nilai tertentu dalam dalam kehidupan orang Toraja, antara lain:

a.  Menghormati leluhur. Leluhur memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan orang Toraja, dan oleh karena itu, leluhur harus dihormati, salah satunya dengan menggelar upacara aluk rambu solo’ ini.

b.  Nilai kekerabatan. Nilai ini tercermin dari ungkapan simpati kerabat yang datang dengan membawa beragam bantuan. Hal ini tentu saja kian menguatkan kekerabatan mereka.

c.  Pelestarian tradisi. Upacara aluk rambu solo’ merupakan warisan leluhur, dan dengan menggelar upacara ini merupakan upaya pelestarian tradisi.

d.      Menjaga semangat suku. Pelaksanaan upacara adat aluk rambu solo’ juga merupakan salah satu upaya untuk menjaga semangat kesatuan suku karena upacara ini menjadi perekat masyarakat Toraja.

e.    Sakralitas dan spiritualitas. Nilai ini tercermin dari pelaksanaan upacara yang kental dengan nuansa sakral karena arwah leluhur diyakini hadir dalam acara ini.

9. Penutup

Upacara adat aluk rambu solo’ menjadi bukti penghormatan orang Melayu serumpun di Toraja kepada leluhur. Keterikatan dengan leluhur ini menjadi perekat kuat untuk selalu menjaga tradisi.

(Yusuf Efendi/Bdy/66/05-2011)

Sumber Foto: http://watipuspitasari.blogspot.com

Referensi

Mohammad Natsir Sitonda, 2007. Toraja Warisan Dunia. Makassar: Pustaka Refleksi.

K. Kadang, 1960. Ukiran Rumah Toraja. Jakarta: Dinas Penerbitan Balai Pustaka.

L.T. Tangdilintin, 1975. Tongkonan dengan Seni dan Koleksinya. Tana Toraja

Tino Saroenggalo, 2008. Ayah Anak Beda Warna. Anak Toraja Kota Menggugat. Yogyakarta: Tembi Rumah Budaya.   

Dibaca : 8.966 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password