Jumat, 19 Desember 2014   |   Sabtu, 26 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 778
Hari ini : 3.251
Kemarin : 15.192
Minggu kemarin : 186.674
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.471.781
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pantun dan Ungkapan Melayu tentang Menghormati Ibu


Pantun dan ungkapan Melayu tentang menghormati ibu menggambarkan bahwa seorang ibu adalah sosok yang sangat penting bagi anaknya. Ibu ibarat tempat bernaung bagi seorang anak ketika menghadapi berbagai masalah.

1. Asal-usul

Menuliskan pantun Melayu adalah menggelorakan kembali ajaran leluhur Melayu tentang budi pekerti yang bernilai tinggi. Karya sastra tradisional ini telah menjadi identitas bangsa Melayu hingga dikenal dunia. Salah satu pantun Melayu yang mengandung ajaran pekerti yang luhur adalah pantun tentang menghormati sosok perempuan, dalam hal ini adalah sosok ibu (Budi S. Santoso, 1986). Dahulu, pantun ini diajarkan oleh para orangtua kepada anak pada usia dini atau ketika menginjak dewasa. Di sela-sela waktu luang atau sedang berkumpul keluarga, seorang nenek biasanya menasehati agar cucu-cucunya menghormati ibu melalui perantaraan pantun. Sedangkan orangtua akan melantunkan pantun ini sembari bermain.

Pada saat acara perkawinan, pantun ini juga biasa dilantunkan sebagai wejangan untuk calon suami agar menghormati istrinya dan ibunya (Santoso, 1993; Nizamil Jamil [ed.], 1982).  Secara umum, pantun ini menggambarkan betapa penting sosok seorang ibu bagi anaknya dalam kehidupan berumahtangga. Ibu ibarat rumah sebagai tempat bernaung bagi anak. Jika ibu tiada, maka rumah itu seakan roboh dan anak tidak dapat lagi berteduh dari hujan dan panas (Santoso, 1993).

2. Konsepsi Pantun Menghormati Ibu

Pantun menghormati ibu menunjukkan pentingnya peran ibu, khususnya bagi anak. Selain itu juga menunjukkan peran bapak sebagai pendamping ibu. Berikut adalah syair-syairnya:

Elok rupanya kumbang jantan

Dibawa itiik pulang etang

Tidak berkata besar hati

Melihat ibu sudah datang

 

Dibawa itik pulang petang

Dapat di rumput bilang-bilang

Melihat ibu sudah datang

Hati cemas menjadi hilang

 

Dapat di rumput bilang-bilang

Mengisap bunga dengan mayang

Hati cemas menjadi hilang

Perut lapar menjadi kenyang

 

Sinangis lauk rang tiku

Diatur dengan duri pandan

Menangis duduk di pintu

Melihat ayah pergi berjalan

 

Diatur dengan duri pandan

Gelombang besar membawanya

Melihat ayah pergi berjalan

Entah pabila kembalinya

 

Lurus jalan ke Payakumbuh

Kayu jati bertimbal jalan

Di mana hati tidaklah rusuh

Ibu mati bapak berjalan

 

Di mana padi tak akan luluh

Padi basah tidak ditampi

Di mana hati tidak kan rusuh

Bunda hilang bapak berbini

 

Berbuah kedampung di kuah

Sayak dipenggal keganti cawan

Ayah kandung berbini muda

Ananda tinggal tak berkawan

 
Dalam ungkapan Melayu, posisi ibu terlihat begitu penting. Simak ungkapan Melayu berikut:           

            Bini setu-ut laki, anak setu-ut bapak

            Bini seturut laki, anak seturut bapak

 

            Tesingkap aib laki, tedodah aib bini

            Tersingkap aib laki, terdedah aib bini

 

            Dalam setu-ut, jangan mengarut

            Dalam seturut, jangan mengarut

 

            Elok laki kono bini, elok bini kana laki

            Elok laki-laki karena bini, elok bini karena laki-laki

 

            Adat belaki bini: sekain sepakaian, seule seilei

            Adat berlaki bini: sekain sepakaian, sehulu sehilir

 

            Adat beanak laki, seluan sekemudi

            Adat beranak laki, sehaluan sekemudi

 

            Adat belaki tunak di umah, adat bebini kuat melasak

            Adat berlaki tunak di rumah, adat berbini kuat melasak

 

            Adat berumah tanggo, panjangkan kio-kio

            Adat berumah tangga, panjangkan kira-kira

 

            Bapak taukan bobanyo, anak kan utangnyo

            Bapak tahukan bebanya, anak tahukan hutangnya

 

            Kasei ke bini bepado-pado, sayang ke anak beagak-agak

Kasih ke bini berpada-pada, sayang ke anak beragak-agak

 

Sayang ke bini tinggal-tinggalkan, sayang ke anak pukul-pukulan

Sayang ke bini tinggal-tinggalkan, sayang ke anak pukul-pukulan

 

3. Nilai-nilai

Pantun Melayu tentang menghormati ibu mengandung nilai-nilai luhur dalam kehidupan orang Melayu, antara lain:

a.      Meningkatkan rasa hormat kepada ibu dan anak. Nilai ini tercermin jelas dari kalimat-kalimat dalam pantun yang menggambarkan peran ibu pada anak dan kondisi anak ketika ditinggal ibu: Ayah kandung berbini muda, Ananda tinggal tak berkawan.

b.      Melestarikan sastra tradisional Melayu. Nilai ini tercermin dari syair-syair pantun Melayu sebagai karya sastra Melayu. Melalui sastra pantun, orang Melayu dapat belajar dan merenungi masalah kehidupan. Dalam konteks ini, pantun menjadi media yang menyenangkan untuk belajar tentang kehidupan.

c.       Menjaga adat. Pantun sebagai tradisi leluhur merupakan adat orang Melayu. Oleh karena itu, mempelajari sastra pantun secara tidak langsung juga menjaga adat-istiadat Melayu.

d.      Pelajaran bagi ibu. Bagi seorang ibu, pantun ini dapat dijadikan bahan introspeksi diri dan bercermin bahwa dirinya begitu penting bagi keluarga.

e.      Keseimbangan peran. Nilai ini tercermin dari ungkapan yang mengajarkan bahwa antara ibu dan bapak saling melengkapi, keduanya memiliki peran yang sama dalam menjaga kehidupan rumah tangga.

4. Penutup

Pantun Melayu tentang ibu berkorelasi dengan ajaran agama dan masyarakat bahwa sosok ibu sangat penting dan luhur bagi kehidupan. Ibu adalah yang melahirkan sekaligus menjaga anak. Oleh karena tingginya nilai seorang ibu, maka selayaknya pantun ini patit dikaji dan diteladani.

(Yusuf Efendi/Bdy/65/05-2011)

Sumber Foto: http://dinda-persari.blogspot.com/

Referensi

Budi S. Santoso, 1986. Masyarakat Melayu dan Kebudayaannya. Riau: Pemda.

Budi S. Santoso, 1993. Nilai Budi Pekerti dalam Pantun Melayu. Jakarta: Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Depdiknas

Nizamil Jamil (ed.), 1982. Upacara Perkawinan Adat Riau. Riau: Bumi Pustaka

Dibaca : 19.200 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password