Rabu, 22 Oktober 2014   |   Khamis, 27 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.983
Hari ini : 16.619
Kemarin : 21.528
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.257.362
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Tari Lagu Dua (Tari Tanjung Katung): Tari Tradisional Melayu

Tari Lagu Dua atau yang disebut juga sebagai tari Tanjung Katung adalah jenis tarian tradisional Melayu yang ditarikan di berbagai daerah rumpun Melayu. Tari ini memiliki gerakan yang khas, yakni gerakan tarinya menggunakan langkah dua atau berganda.

1. Asal-usul

Tari Lagu Dua atau dikenal juga dengan nama tari Tanjung Katung merupakan kesenian tari Melayu yang hingga kini masih terus dipentaskan dalam acara-acara adat di daerah Melayu serumpun, seperti di Kesultanan Serdang, Sumatra Utara. Tari Lagu Dua merupakan ajaran leluhur yang banyak diinspirasi dari adat kebudayaan Melayu. Nama Lagu Dua diambil dari gerakan tari ini yang seluruhnya menggunakan langkah dua atau langkah berganda, yakni setiap satu kali gerakan menggunakan dua ketukan. Sedangkan sebutan Tanjung Katung merujuk pada salah satu lagu yang mengiringi tari ini (Tengku Mira Sinar, ed., 2009). Karena cukup melegenda, tari ini dijadikan salah satu identitas penting dalam kebudayaan tari Melayu (Haji Tengku M. Lah Husny, 2001). 

Secara umum, tari Lagu Dua mengambil pola tarian yang berasal dari Portugis. Tari ini berkisah tentang pertemuan seorang jejaka dengan seorang gadis dalam sebuah perjalanan. Pertemuan tersebut menimbulkan debaran jiwa di antara keduanya. Keduanya akhirnya saling berkunjung ke rumah masing-masing untuk mempererat tali silaturahmi. Selama saling kunjung ini, kedua sejoli saling penjajakan untuk hubungan lebih lanjut. Oleh karena itu, tari Lagu Dua biasa ditarikan oleh pasangan laki-laki dan perempuan (Sinar, 2009). Dengan ciri tempo 2/4 cepat, yang oleh orang Melayu disebut tempo menari atau joget, pola langkah dalam tari ini berupa selangkah kaki kanan maju, setengah langkah kaki kiri menyusul kaki kanan secara bergantian.   

2. Penari dan Busana

Tari Lagu Dua pada umumnya ditarikan oleh muda-mudi secara berpasangan. Namun, saat ini sudah terjadi modifikasi di mana tidak harus muda-mudi, tari ini juga dapat ditarikan oleh penari yang lebih dewasa. Meskipun demikian, syarat terpenting dari tari ini adalah penarinya harus berpasangan, karena tari ini mengutamakan kesatuan gerak.

Dalam menarikan lagu dua, para penari memakai busana adat khas Melayu, yakni celana, baju, dan kopiah untuk laki-laki, serta kebaya, selendang, dan hiasan di kepala bagi perempuan. Tidak ada batasan tentang warna busana, namun pada umumnya hijau dengan paduan warna emas. Penggunaan busana adat Melayu ditujukan untuk menghormati kesenian Melayu sekaligus pengenalan dua aspek budaya, tari dan busana adat.

3. Musik Pengiring

Tari Lagu Dua diiringi oleh musik tradisional Melayu dengan lagu-lagu dengan irama rancak cepat, seperti lagu Tanjung Katung, Sri Taman atau Bunga Melati, serampang laut, air pasang, pancang jermal, dua singapura, anak kala, rentak seratus enam, demam puyuh, siput air, dan tudung periuk menari.

4. Ragam Gerak

Ragam gerak tari Lagu Dua hampir seluruhnya menggunakan langkah dua atau langkah berganda. Pola hitungannya adalah 1 hop 2, 3, dan 4. Hitungan 1 kaki kanan melangkah (maju/mundur), hop kaki kiri menyusul kaki kanan. Hitungan 2 kaki kanan melangkah lagi (maju/mundur). Hitungan 3 kaki kiri melangkah (maju/mundur), hop kaki kanan menyusul kaki kiri. Hitungan 4 kaki kiri melangkah (maju/mundur), begitu seterusnya.

Untuk gerakan tangan, bertukar antara tangan kanan dan kiri dalam setiap dua ketuk, dengan rincian sebagai berikut:

·          Untuk Penari Perempuan

Pada hitungan 1 dan 2, tangan kiri diangkat serong kiri badan setinggi di atas pinggang. Posisi lengan hampir lurus, ujung jari tengah dipertemukan dengan ibu jari, dan telapak tangan menghadap ke atas. Tangan kanan berada di sisi badan agak ke belakang. Posisi lengan hampir lurus, ujung jari tengah dipertemukan dengan ibu jari, dan telapak tangan menghadap ke belakang.

Hitungan 3 dan 4 kebalikan dari gerakan di atas, yaitu tangan kanan diangkat serong kanan badan setinggi di atas pinggang. Posisi lengan hampir lurus, ujung jari tengah dipertemukan dengan ibujari, dan telapak tangan menghadap ke atas. Tangan kiri berada di sisi badan agak ke belakang. Posisi lengan hampir lurus, ujung jari tengah dipertemukan dengan ibu jari, dan telapak tangan menghadap ke belakang. Demikian seterusnya hingga hitungan ke 8.

Bentuk tangan pada saat melakukan gerakan mundur adalah berada di bahu depan atau dada kanan atas dan ujung jari memegang kerah baju dengan siku dilipat (lengan atas tidak boleh lurus dengan bahu). Tangan kiri di sisi badan, yaitu di pangkal paha dan biasanya sambil sedikit menyingsingkan kain.

·          Untuk penari laki-laki

Pada hitungan 1 dan 2, tangan kiri diangkat setinggi dada, telapak tangan dikepal dan berada di tengah badan, ditarik dari arah luar ke dalam seolah-olah membuat putaran disusul dengan tangan kanan pada hitungan 3 dan 4. demikian seterusnya bergantian setiap dua ketuk hingga hitungan ke 8. pada saat melakukan gerakan mundur tangan berkacak pinggang.

Adapun ragam gerak dalam tari lagu dua ini terdapat 4 macam, sebagai berikut:

Ragam I

  • Gerakan di tempat langkah dua, 1 x 8.
  • Hitungan 1-4 maju serong kanan langkah dua menuju garis tengah (garis bayangan), hitungan 5-8 mundur langkah dua kembali ke tempat semula.
  • Gerakan di tempat langkah dua, 1 x 8.
  • Hitungan 1-4 maju serong kiri langkah dua menuju garis tengah (garis bayangan), hitungan 5-8 mundur langkah dua kembali ke tempat semula.
  • Hitungan 1-4 maju serong kiri langkah dua menuju garis tengah (garis bayangan), hitungan 5 belok kanan dan langkah dua sejajar garis tengah.
  • Hitungan 1-4 melingkar kecil langkah dua arah ke kanan, hitungan 5-8 maju langkah dua menyeberangi garis tengah, kemudian belok kiri dan bersisian dengan pasangan, dengan sisi kiri badan sebagai titik temu.
  • Mundur langkah dua membentuk setengah lingkaran dengan sisi kiri badan sebagai poros, 1 x 8.
  • Maju langkah dua kembali ke tempat semula dengan edaran bentuk setengah lingkaran atau seperti huruf “C” terbalik, 1 x 8.

Ragam II

  • Gerakan di tempat langkah dua, 1 x 8.
  • Hitungan 1-4 maju serong kanan langkah biasa menuju garis tengah (garis bayangan), hitungan 5-8 mundur langkah biasa kembali ke tempat semula.
  • Gerakan di tempat langkah dua, 1 x 8.
  • Hitungan 1-4 maju serong kiri langkah biasa menuju garis tengah (garis bayangan), hitungan 5-8 mundur langkah biasa kembali ke tempat semula.
  • Maju langkah dua menyeberangi garis tengah menuju ke tempat pasangan melalui arah kiri ke kanan dan membentuk mata pancing, 1 x 8.
  • Hitungan 1-4 melingkar kecil langkah dua arah ke kanan, hitungan 5-8 maju langkah dua melingkar ke arah kiri (berad di tempat pasangan). Gerakan ini disebut juga melingkar balas atau balas.
  • Maju langkah dua kembali menyeberangi garis tengah kembali ke tempat semula (dari tempat pasangan) melalui arah kiri ke kanan dan membentuk mata pancing, 1 x 8.
  • Hitungan 1-4 melingkar langkah dua ke arah kanan, hitungan 5-8 maju langkah dua melingkar ke arah kiri (gerakan balas)

Ragam III (kanan)

  • Maju langkah dua menyeberangi garis tengah menuju ke pasangan (menjemput), 1 x 8.
  • Mundur langkah dua kembali ke tempat semula, 1 x 8.
  • Hitungan 1-4 belok kanan maju dengan langkah dua, hitungan 5-8 balik kiri maju dengan langkah dua.
  • Maju langkah dua belok kanan dan membentuk setengah lingkaran kecil ke arah kiri, bersisian dengan pasangan, dan sisi kiri badan sebagai poros, 1 x 8.
  • Mundur langkah dua belok kanan dan membentuk setengah lingkaran kecil ke arah kiri, bersisian dengan pasangan, dan sisi kiri badan sebagai poros, 1 x 8.
  • Maju langkah dua menyeberangi garis tengah menuju ke pasangan (mengantar), 1 x 8.
  • Hitungan 1-4 belok kanan maju dengan langkah dua, hitungan 5-8 balik kanan maju langkah dua.
  • Maju langkah dua kembali ke tempat semula (pulang) dengan membentuk edaran seperti huruf “C”.

Ragam III (kiri)

  • Gerakan di tempat langkah dua, 1 x 8.
  • Maju langkah dua menyeberangi garis tengah menuju ke tempat pasangan, 1 x 8.
  • Hitungan 1-4 belok kanan maju langkah dua, hitungan 5-8 balik kiri maju dengan langkah dua.
  • Maju langkah dua belok kanan dan membentuk setengah lingkaran kecil ke arah kiri, bersisian dengan pasangan, dan sisi kiri badan sebagai poros, 1 x 8.
  • Mundur langkah dua belok kanan dan membentuk setengah lingkaran kecil ke arah kiri, bersisian dengan pasangan, dan sisi kiri badan sebagai poros, 1 x 8.
  • Mundur langkah dua kembali ke tempat semula, 1 x 8.
  • Hitungan 1-4 belok kiri maju dengan langkah dua, hitungan 5-8 balik kanan maju langkah dua.
  • Hitungan 1-4 melingkar langkah dua ke arah kanan, hitungan 5-8 maju langkah dua melingkar ke arah kiri (gerakan balasan).

Ragam IV (kanan)

  • Sama dengan gerakan Ragam III (kiri).

Ragam IV (kiri)

  • Sama dengan gerakan Ragam III (kanan).

5. Nilai-nilai

Tari lagu dua mengandung nilai-nilai bagi kehidupan orang Melayu, antara lain:

  1. Disiplin dan kesabaran. Nilai ini tercermin dari ragam gerak tari yang memerlukan kesabaran dan kedisiplinan. Tari Melayu tanpa keduanya tidak akan menghasilkan gerakan tari yang baik dan indah.
  2. Hiburan. Dengan iramanya yang rancak dan lagunya yang gembira, tari ini menjadi hiburan yang menyenangkan.
  3. Pelestarian budaya dan seni. Melalui pementasan tari Lagu Dua, maka pelestarian budaya Melayu semakin terus berkembang. Ketika mementaskan tari ini, sebenarnya ada 3 hal yang dilestarikan, yaitu tari, lagu, dan busana Melayu.
  4. Olahraga. Dengan melihat gerakan tari yang rumit dan memerlukan kesiapan fisik yang prima, maka nilai olahraga dalam tari ini menjadi sebuah tuntutan bagi penari untuk mempersiapkannya secara matang. Dengan nilai ini, tari ini tidak hanya sekadar indah namun juga menyehatkan.

6. Penutup

Tari Lagu Dua atau Tanjung Katung memperlihatkan keelokan kesenian Melayu yang sudah termashur sejak dulu. Tari ini biasa dijadikan sebagai persembahan pada perhelatan acara-acara adat Melayu. Untuk itu, penting kiranya kesenian ini dilestarikan.

(Yusuf Efendi/Bdy/67/06-2011)

Sumber Foto: http://www.wisatamelayu.com
 

Referensi

Haji Tengku M. Lah Husny, 2001. Identitas Tari Melayu Tradisional. Makalah Lokakarya Lembaga Pengembangan Kesenian Melayu-Sumatera Timur, Provinsi DKI Jakarta. 

Tengku Mira Sinar (ed.). 2009. Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu Karya Almarhum Guru Sauti. Medan: Yayasan Kesultanan Serdang bekerjasama dengan Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta.

Dibaca : 10.881 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password