Sabtu, 22 November 2014   |   Ahad, 29 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.768
Hari ini : 15.846
Kemarin : 21.623
Minggu kemarin : 157.095
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.366.617
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Perkawinan Adat Dayak Kendayan, Kalimantan Barat

Secara umum, adat perkawinan orang Melayu Dayak Kendayan dimulai dengan pinangan dan diakhiri dengan membongkar tengkalang (barang bawaan). Adat perkawinan suku Dayak Kendayan melarang perkawinan dua orang yang masih terikat keluarga.

1. Asal-usul

Suku Dayak Kendayan atau Kenayan tinggal berkelompok di pedalaman Kalimantan Barat. Hingga kini, suku ini masih berusaha melestarikan tradisi leluhur, salah satunya adalah adat perkawinan. Perkawinan bagi orang Kendayan merupakan masalah yang melibatkan kerabat dan keluarga. Artinya, menyangkut urusan seluruh waris kedua belah pihak. Jika tidak ditemui kata sepakat, maka perkawinan belum dapat dilaksanakan (JJ Kusni, 2001). 

Secara umum, adat perkawinan orang Dayak Kendayan dimulai dengan pinangan dan diakhiri dengan membongkar tengkalang (seserahan). Lebih dari itu, terdapat beragam ritual yang harus dijalankan. Adat perkawinan suku Kendayan melarang perkawinan 2 orang yang masih terikat keluarga. Namun, beberapa orang terkadang rela melanggar aturan dengan membayar denda sebagai tebusan atas pelanggaran mereka (JU Lontaan, 1975).

2. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Upacara adat perkawinan orang Dayak Kendayan biasanya digelar dari pagi hingga malam hari, bahkan hingga ke esok harinya lagi. Pelaksanaan upacara dipusatkan di rumah pengantin perempuan. Meskipun demikian, di rumah pengantin laki-laki biasanya juga digelar upacara sederhana bersama kerabat.

3. Pemimpin dan Peserta Upacara

Upacara adat perkawinan Dayak Kendayan dipimpin seorang yang disebut patone, yakni perantara yang dipilih dan diutus oleh waris pihak laki-laki untuk mendatangi calon mempelai perempuan. Patone bertanggung jawab terhadap segala kelancaran upacara perkawinan, baik urusan pesta maupun urusan rumah rumah tangga.

4. Peralatan dan Bahan

Peralatan dan bahan upacara perkawinan adat Dayak Kendayan tergantung pada model perkawinan yang akan digelar. Akan tetapi, umumnya peralatan dan bahan yang diperlukan adalah sebagai berikut:

  • Kue tumpik (curu)
  • Babi
  • Ayam
  • Nasi pulut
  • Uang logam
  • Pakaian laki-laki sehari-hari
  • Kain tenun

5. Proses Pelaksanaan

Secara umum, proses pelaksanaan upacara adat perkawinan Dayak Kendayan meliputi 3 tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutup.

a. Persiapan

Pada tahap ini, semua orang yang akan berpartisipasi dalam upacara ini bersama-sama menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan proses perkawinan yang akan dilakukan. Mulai dari perlengkapan hingga kebutuhan adat.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan upacara adat perkawinan Dayak Kendayan digelar dalam beberapa tahap, antara lain tunang, balawang karamigi, bisik gumi, pasamean, dan prabut pelaminan. Berikut adalah pelaksanaan selengkapnya.

    Tunang

    Pada tahap ini, orangtua mempelai laki-laki meminta kepada orangtua perempuan untuk meminang anaknya. Pada umumnya, lamaran ini akan diterima. Saat ini, sistem tunangan ini masih dilakukan meskipun sebenarnya antara kedua calon sudah saling mengenal dan bersepakat untuk menikah. Dalam konteks ini, tunang dilakukan untuk menghormati adat.

    Bisik Gumii

    Tahap ini adalah tahap di mana orangtua laki-laki memanggil segala warisnya yang terdiri dari 2 saudara pihak bapak dan ibu (4 waris), untuk berunding. Hal yang dirundingkan adalah menyelidiki apakah calon menantu perempuan yang dipilih masih terikat keluarga atau tidak, dan untuk mengetahui apakah calon menantu perempuan itu cocok dijadikan istri. Setelah calon mempelai perempuan yang dimaksud telah disetujui, maka 4 waris kemudian memilih seorang patone.

    Hal yang sama juga dilakukan oleh keluarga mempelai perempuan. Pihak perempuan harus mengadakan penelusuran tentang 3 hal, yaitu apakah ia masih terikat keluarga sehingga harus mengeluarkan adat pangaras, jika ada ikatan keluarga tapi jauh ia harus membayar adat pari basah, dan jika terdapat ikatan keluarga dekat ia harus membayar adat pangarumpang.

    Balawang Karamigi

    Kurang lebih 3 hari setelah perundingan, patone datang ke rumah mempelai perempuan untuk bertemu dengan bapak sang gadis. Patone akan bertanya dengan kata-kata ungkapan yang akan dijawab oleh tuan rumah. Jawaban dari tuan rumah inilah yang menentukan apakah lamaran itu diterima atau tidak.

    Pasamean

    Setelah itu, tuan rumah akan menggelar adat bakomo mantah, yaitu membuat tambul, tumpik, nasi pulut, dan menyembelih seeokor ayam. Semua bahan itu akan dimasak, lalu dimakan bersama. Setelah persetujuan ini, pihak perempuan biasanya akan mengirimkan sebentuk cincin kepada calon mempelai laki-laki. Pada saat itu, mereka akan menentukan hari perkawinan. Saat mengirimkan cincin, biasanya akan diucapkan matamuan asap bontong (kedua pihak telah mempersatukan asap dapurnya). Pihak mempelai laki-laki biasanya akan mengirimkan benda-benda kuno sebagai pertanda ikatan.

    Prabut Pelaminan

    Setelah kedua belah pihak setuju, patone akan mendatangi keluarga kedua mempelai untuk menanyakan kelengkapan segala persyaratan. Jika sudah lengkap, patone akan bertanya perkawinan akan digelar dengan cara apa, begawe jambu Jawa (kedua belah pihak orang kaya dengan pesta besar), begawe mokongi (keduanya keluarga sederhana), atau begawe ngalalak copak (kedua keluarga amat sederhana). Jika sudah memilih salah satu, perkawinan akan segera digelar.

    Mengantar Pengantin Laki-laki

    Rombongan pengantin laki-laki dipimpin oleh patone pergi ke rumah mempelai perempuan dengan diiringi oleh para pemuda yang dipilih. Mereka membawa makanan dan atong (kotak) yang berisi uang logam, ayam yang telah direbus, dan pakaian laki-laki sehari-hari. Barang yang ada di dalam atong menjadi alamat atau pertanda bagi calon mempelai perempuan. Jika berisi kain belacu, berarti calon suami meminta calon istri untuk membantunya menjadi tani. Namun, jika berisi kain-kain mewah seperti batik, maka itu pertanda kalau sang istri tidak perlu susah-susah membantu mengerjakan sawah.

    Menyambut Rombongan Pengantin Laki-laki

    Rombongan pengantin perempuan akan menyambut dengan menebarkan beras kuning. Setelah itu, seseorang dari pihak perempuan menyerahkan beras banyu sepinggan ke patone. Lalu patone menerimanya dan mencelupkan tangannya ke dalam beras tersebut serta mengusapkan tangannya ke dahi pengantin laki-laki sebagai tanda ia telah membersihkan segala kekotoran selama perjalanan. Setelah itu, seorang gadis datang membawa setekoh air putih dan menuangkannya ke kaki pengantin laki-laki. Kedua pengantin lalu masuk ke rumah dan duduk di serambi diikuti rombongan. Saat mereka duduk, datanglah seorang gadis membawa sepiring beras pulut, beras biasa, seperangkat sirih, beras banyu, dan seekor ayam yang lalu dikipas-kipaskan sebagai simbol membuang sial selama perjalanan pengantin laki-laki.

    Pengantin Tama atau Nyangahan Nabare Rasi

    Sesudah acara makan malam, pengantin perempuan duduk di balik kelambu di dalam kamar.  Kemudian patone mendekati kamar diikuti pengantin laki-laki. Di depan kamar, patone berdiri sambil memikul tikar dan membungkus sebilah tombak, sedangkan pengantin laki-laki memikul atong. Patone lalu mengetuk pintu sambil mengucap mantonk katingek. Mendengar suara ketukan, pengantin perempuan membuka pintu lalu patone dan pengantin laki-laki masuk. Setelah itu, kedua pengantin duduk bersandingan dan patone memberikan nasi pulut kepada kedua pengantin dengan posisi tangan bersilang. Seusai acara ini, kedua pengantin dipersilahkan tidur.

    Mandi di Sungai

    Keesokan paginya, kedua pengantin pergi ke sungai untuk mandi sambil membawa bara api dari dapur. Sesampai di sungai, mereka akan duduk di tepi sungai lalu berdoa sambil memegang bara api yang kemudian dicelupkan ke sungai. Tindakan ini merupakan simbol agar Jubata (Tuhan) memadamkan bencana yang akan mengancam mereka seperti padamnya bara api tersebut.    

c. Penutup

Acara ditutup dengan ngama tingkalang yakni membongkar tingkalang oleh ahli waris. Setelah itu, semua rombongan akan pulang dan pengantin perempuan pulang ke rumah pengantin laki-laki. Setelah semua pulang, upacara adat ini dianggap selesai.

6. Doa-doa

Dalam upacara perkawinan adat ini terdapat doa-doa yang dilantunkan, antara lain:

  1. Doa permohonan kepada Jubata agar kedua mempelai diberikan keturunan yang baik dan dilimpahi rejeki.
  2. Doa permohonan agar kedua mempelai beserta keluarganya dijauhkan dari bencana.

7. Pantangan dan Larangan

Setelah pengantin perempuan diboyong ke rumah pengantin laki-laki, keduanya dilarang menerima tamu dan tidak diizinkan bepergian selama 3 hari. Jika dilanggar, maka keduanya akan terkena sangsi adat. 

8. Nilai-nilai

Upacara adat perkawinan orang Dayak Kendayan memiliki nilai-nilai dalam dalam kehidupan, antara lain:

  1. Pelestarian tradisi. Upacara adat perkawinan ini adalah ajaran leluhur. Oleh karena itu, mempraktekkan ajaran ini secara tidak langsung merupakan salah satu upaya dalam melestarikan tradisi leluhur.
  2. Melanjutkan sejarah suku. Salah satu tujuan perkawinan adalah mencetak generasi penerus. Dengan generasi yang terus berlanjut, maka sejarah dan kebudayaan bangsa tersebut akan bertahan dan berkembang.
  3. Pelestarian sastra tradisional. Nilai ini terlihat dari ungkapan-ungkapan sindiran yang diucapkan saat pertunangan.
  4. Mempererat dan memperluas hubungan keluarga. Nilai ini tercermin dari tujuan perkawinan itu sendiri, yakni menyatukan kedua belah keluarga menjadi satu keluarga besar.
  5. Memperbanyak jumlah anggota suku. Dengan perkawinan, jumlah keluarga akan bertambah, begitu juga dengan jumlah anggota suku.

9. Penutup

Adanya upacara adat perkawinan ini membuktikan bahwa kehidupan orang Dayak Kendayan sudah memiliki struktur kehidupan yang cukup teratur. Hal ini menegaskan betapa kayanya adat dan tradisi orang Dayak Kendayan.

(Yusuf Efendi/Bdy/77/07-2011) 

Referensi

J.U Lontaan, 1975. Sejarah-hukum adat dan adat istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumirestu
JJ Kusni, 2001. Negara Etnik: Beberapa Gagasan Pemberdayaan Suku Dayak. Yogyakarta: Forum Studi Perubahan dan Peradaban (FusPAD).

Sumber Foto: http://id.wikipedia.org

Dibaca : 11.723 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password