Selasa, 2 September 2014   |   Arbia', 7 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 2.246
Hari ini : 16.836
Kemarin : 22.071
Minggu kemarin : 167.818
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.078.401
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Upacara Kematian Orang Melayu Suku Alas, NAD

Suku Alas merupakan bagian dari rumpun Melayu yang hidup dan bermukim di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Orang-orang Suku Alas mempunyai berbagai ragam upacara adat sebagai salah satu hasil peradaban dan kebudayaan yang mereka miliki. Satu dari sekian banyak ritual tradisional orang-orang Suku Alas adalah upacara kematian adat yang sangat khas dan mengandung banyak makna bagi siklus kehidupan mereka.

A. Asal-usul

Suku Alas adalah salah satu suku bangsa Melayu yang berkembang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, tepatnya di Aceh Tenggara. Asal-muasal penamaan suku ini berasal dari kata “alas” itu sendiri yang berarti “tikar”. Kondisi geografis yang ditempati oleh orang-orang Suku Alas memang berupa dataran yang membentang seperti tikar. Oleh sebab itu pula, kawasan itu dikenal juga dengan sebutan Tanah Alas. Wilayah mukim Suku Alas yang terletak di sela-sela Pegunungan Bukit Barisan yang memanjang dari ujung utara (Aceh) sampai ujung selatan (Lampung) itu dilewati cukup banyak aliran sungai, salah satunya adalah Lawe Alas atau Sungai Alas.

Meskipun secara administratif terletak di Kabupaten Aceh Tenggara yang merupakan bagian dari Provinsi NAD, namun beberapa lini peradaban dan kebudayaan Suku Alas lebih mirip denga Suku Batak Karo di Sumatra Utara. Mayoritas orang Suku Alas bermukim di daerah pedesaan dan bermata pencaharian sebagai petani atau peternak. Selain padi, warga Suku Alas juga hidup dari perkebunan, seperti karet, kopi,dan kemiri, selain mengumpulkan hasil hutan, termasuk kayu, rotan, damar dan kemenyan. Di sektor peternakan, orang Suku Alas memelihara berbagai jenis hewan ternak seperti kuda, kambing, kerbau, dan sapi.

Kehidupan sosial di lingkungan masyarakat Suku Alas terhimpun dalam sebuah kampung atau desa yang disebut kute. Satu kute biasanya dihuni oleh satu klan (merge) atau lebih. Sedangkan suatu klan berasal dari sekelompok orang dari garis keturunan yang sama. Seorang anggota klan tidak boleh menikah dengan anggota klan yang sama, dengan kata lain, harus mencari pasangan hidup yang berasal dari klan lain. Kendati sebagian besar orang Suku Alas memeluk Islam, namun masih banyak yang mempertahankan ajaran leluhur. Dalam kaitannya dengan siklus hidup, warga Suku Alas masih melakukan beberapa ritual upacara tradisional, salah satunya adalah upacara kematian yang dilakukan secara adat.

Pelaksanaan upacara adat di dalam suatu komunitas suku bangsa merupakan bagian yang sangat terkait dengan keberlangsungan peradaban dan kebudayaan yang terdapat di suku bangsa itu. Upacara adat lahir, tumbuh, dan berkembang secara turun-temurun demi tetap tegaknya norma-norma sosial dan kearifan lokal yang memuat banyak sekali nilai-nilai luhur. Demikian pula dengan upacara kematian adat Suku Alas di Aceh yang mengandung makna serta kaidah yang bisa dipetik dari ritual tersebut.

B. Prosesi Upacara Kematian Adat Suku Alas

Dalam pelaksanaan upacara kematian adat yang merupakan salah satu ritual siklus hidup yang berlaku di kalangan masyarakat Suku Alas di Nanggroe Aceh Darussalam, terdapat tata cara dan tahapan-tahapan tertentu. Beberapa tahapan dalam upacara kematian adat Suku Alas itu adalah sebagai berikut:

1. Masa Jenazah di Rumah (Persiapan)

Ketika ada salah satu anggota warga Suku Alas yang wafat, maka kabar duka ini segera diberitahukan kepada kepala kampung yang kemudian mengumumkan kepada seluruh warga. Warga masyarakat akan berdatangan ke rumah duka untuk membantu prosesi upacara kematian, dari tahap persiapan hingga selesainya rangkaian upacara. Jalannya upacara kematian adat dipimpin oleh tengku imam yang dibantu oleh kepala kampung (pengulu).

Terdapat tradisi khusus dalam rangkaian upacara kematin adat masyarakat Suku Alas di Aceh Tenggara. Ketika ada orang yang wafat, pemberitahuan akan berita duka ini harus segera disampaikan, terutama kepada sanak keluarga atau kerabat orang yang meninggal dunia, terutama sekali kepada keluarga yang paling dekat, yakni dua angkatan ke atas dan dua angkatan ke bawah orang yang wafat. Selain itu, para kerabat harus diberitahukan secara khusus dari salah satu anggota keluarga almarhum atau orang yang diutus. Jika hal ini tidak segera dilakukan bisa berpotensi menimbulkan keretakan dalam hubungan kekerabatan.

Persiapan kebutuhan untuk prosesi pemakaman dipersiapkan oleh pihak keluarga, seperti kain kafan, papan dan alat-alat untuk membuat keurreunda atau keranda (peti mayat), ramuan air badar untuk disiramkan atau diusapkan ke badan jenazah agar tidak mengeluarkan bau tidak sedap setelah dimandikan. Ramuan air badar adalah ramuan tradisional yang terdiri dari campuran air jeruk purut, mengkur, kunyit, dan beras yang telah dihaluskan. Segala keperluan upacara penguburan tersebut dipersiapkan secara bersamaan agar dapat bersamaan pula selesainya sehingga pada tidak menemui kendala ketika prosesi pemakaman dilakukan.

2. Prosesi Memandikan Mayat

Setelah semua persiapan untuk pelaksanaan upacara pemakaman adat telah selesai dan semua orang yang ditunggu untuk hadir dalam prosesi ini telah hadir, maka kepala kampung akan mengabarkan kepada keluarga duka bahwa upacara sudah siap dimulai. Acara yang berikutnya adalah upacara memandikan jenazah yang dalam tradisi Suku Alas biasanya dilakukan di sungai. Kebiasaan ini terkait dengan kondisi alam di Tanah Alas yang mempunyai banyak sungai sehingga sungai menjadi salah satu sumber kehidupan utama bagi masyarakat Suku Alas.

Prosesi memandikan jenazah dipimpin oleh tengku imam yang dibantu oleh pihak keluarga duka. Setelah semua perangkat siap, jenazah diangkat dan ditempatkan di dalam usungan yang sudah dihiasi dengan berbagai macam kain indah beraneka warna. Sebelum mayat diusung ke luar rumah, sanak keluarga dan kerabat orang yang wafat melakukan ritual mengkiran atau menusuki, yaitu berjalan melalui bawah usungan. Setelah prosesi mengkiran selesai, selanjutnya usungan yang membawa jenazah diarak ke arah sungai. Di sepanjang perjalanan, usungan dilindungi dengan payung agar terhindar dari teriknya sinar matahari.

Setibanya di sungai, usungan diturunkan ke dalam air dengan sangat berhati-hati. Bagian sungai yang dipilih biasanya adalah tempat yang airnya tidak terlalu dalam atau dangkal, kira-kira sedalam 30 cm, agar ketika jenazah bisa mengenai air. Sebelum mayat diturunkan dari usungan, para keluarga yang turut memandikan mayat duduk berbaris di dalam air. Tengku imam memberi instruksi cara-cara memandikan mayat. Kemudian, imam menggosok tubuh jenazah dengan air badar. Setelah dianggap bersih semuanya, selanjutnya tengku imam menyiramkan air sembilan ke atas tubuh jenazah. Air sembilan adalah air pembersih terakhir. Dinamakan air sembilan karena air ini disiramkan sebanyak 9 kali dan dengan demikian jenazah sudah dianggap bersih.

Setelah seluruh badan jenazah bersih, kemudian diangkat ke atas tepi sungai dan ditidurkan di tikar yang sudah disiapkan. Lalu,tengku imam mengambil kain kafan untuk memulai prosesi pembungkusan jenazah. Setelah selesai, acara dilanjutkan dengan shalat jenazah. Shalat jenazah bisa dilakukan di tepi sungai pada saat itu juga, namun bisa juga dilakukan di masjid terdekat.

Usai dishalatkan, jenazah siap diberangkatkan menuju tempat persemayaman terakhir. Namun, sebelumnya dilakukan ritual ngeratap, yaitu kerabat dan anggota keluarga menangisi orang yang wafat dengan berbagai macam tuturan untuk mengingatnya selama masih hidup. Ritual ngeratap diperkirakan berasal dari kebudayaan Karo dan masyarakat Batak lainnya. Dari alasan ini, juga berbagai sebab lainnya, orang Suku Alas diduga kuat memiliki garis keturunan yang sama dengan orang Batak, khususnya Batak Karo. Pada perkembangannya, mengingat ajaran Islam melarang kebiasaan meratapi orang yang sudah meninggal dunia, maka ritual ngeratap mulai tidak dijalankan lagi.

Setelah semua prosesi ini dijalankan dan selesai, tahap selanjutnya adalah membawa jenazah ke lokasi pemakaman untuk dikabarkan. Usungan jenazah kembali diangkat untuk dibawa ke area pemakaman. Usung-usungan jenazah berada di barisan paling depan dan dilindungi dengan payung agar tidak terkena panas cahaya matahari.

3. Prosesi Penguburan Mayat

Di area makam, beberapa orang ditugaskan untuk menyiapkan lokasi yang akan digunakan untuk pemakaman. Tanah pun digali sebagai lubang untuk menguburkan jenazah nanti. Setelah rombongan pembawa jenazah tiba di tempat pemakaman, jenazah diangkat dari keranda, kemudian dimasukkan dengan hati-hati ke liang kubur. Setelah jenazah dimasukkan ke dalam lubang lahat, tali pengikat yang terdapat di pada kepala jenazah dibuka dengan maksud agar jenazah tidak terkurung dalam kain kafan. Usai itu, lubang tempat di mana jenazah dimasukkan kembali ditimbun dengan tanah bekas galian tadi. Prosesi menimbun lubang kubur dengan tanah ini harus dilakukan dengan cara yang sangat hati-hati.

Setelah tanah ditimbun, tengku imam selaku pemimpin upacara pemakaman, mengambil dua batang geloah (batang jarak) lalu ditanam di atas timbunan makam, tepatnya di bagian di mana kepala dan kaki jenazah berada. Tujuan dari penanaman batang geloah adalah sebagai pertanda bahwa di tempat itu sudah dipakai untuk menguburkan seseorang, sekaligus sebagai pengganti nisan untuk sementara. Dalam tradisi masyarakat Melayu dan nusantara pada umumnya memang belum menggunakan nisan dari batu atau kayu ketika kuburan masih baru.

Usai penancapan batang geloah, tengku imam mengambil air yang sudah disediakan dan kemudian disiramkan di atas kubur. Setelah itu, tengku imam duduk di dekat batang geloah yang ditancapkan di bagian atas (kepala jenazah) untuk membaca talkin dan doa penutup. Pembacaan doa ini diikuti oleh seluruh hadirin yang ada di tempat itu.

Sesudah selesai membaca talkin dan doa, salah seorang perwakilan keluarga almarhum atau almarhumah menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua orang yang telah hadir dan membantu prosesi upacara kematian hingga pemakaman sampai dengan selesai. Dalam ucapan terima kasih tersebut juga disampaikan kepada semua kerabat dan seluruh warga masyarakat untuk datang ke rumah duka selama tiga malam, dari malam pertama sampai dengan malam ketiga. Setelah penyampaikan ucapan terima kasih dari pihak perwakilan keluarga selesai, maka upacara pemakaman pun tunai dilaksanakan, dan semua orang dipersilakan untuk kembali ke rumah masing-masing.

4. Masa Takziah

Dalam tradisi masyarakat Melayu, termasuk yang dilakukan oleh warga masyarakat Suku Alas di Aceh bagian tenggara, prosesi takziah selalu dilakukan sebagai salah satu rangkaian upacara kematian yang dilakukan secara adat. Upacara takziah dilakukan sebagai peringatan bagi yang masih hidup agar selalu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa selama sisa hidupnya. Selain itu, ritual takziah juga dilakukan dengan tujuan agar arwah orang yang sudah meninggal dunia mendapat tempat yang baik di sisi Tuhan dan semua amal perbuatannya memperoleh ganjaran yang setimpal.

Ritual takziah dalam tradisi masyarakat Suku Alas dilakukan selama tiga hari berturut-turut, yakni malam pertama, malam kedua, dan malam ketiga setelah upacara penguburan. Peserta takziah biasanya terdiri dari warga masyarakat, kerabat, dan handai taulan keluarga yang sedang berduka. Takziah dimulai setelah waktu Magrib, namun sejak siang atau sore harinya, kaum perempuan sudah datang terlebih dahulu ke rumah duka dengan membawa kue-kue dan bahan makanan yang akan disajikan usai acara takziah nanti.

Acara takziah masih dipimpin oleh tengku imam yang memulai prosesi ini dengan pembacaan surat Al Fatihah dan diakhiri dengan pembacaan doa. Durasi waktu pelaksanaan prosesi takziah tergantung pada panjang atau pendeknya bacaan takziah yang dipimpin oleh tengku imam. Setelah pembacaan takziah selesai, dihidangkan makanan dan minuman alakadarnya pada para tamu. Seusai makanan dan minuman siap dihidangkan pada seluruh peserta, salah seorang kerabat berdiri dan berpidato singkat yang intinya mempersilahkan para hadirin untuk mencicipi hidangan. Apabila acara makan dan minum telah selesai, maka para hadirin dipimpin tengku imam memohon diri pada tuan rumah untuk pulang ke rumah masing-masing. Demikianlah acara takziah seperti ini dilangsungkan hingga hari ketiga.

5. Masa Hari Ketujuh

Ritual yang dilakukan di hari ketujuh setelah upacara pemakaman justru menjadi seremonial yang lebih besar dari rangkaian upacara sebelumnya. Bagi keluarga yang mampu, biasanya memotong kerbau atau sapi untuk keperluan acara ini. Sedangkan bagi mereka yang tidak mampu cukup dilakukan secara sederhana, namun tetap lebih besar dari upacara sebelumnya.

Sebelum tiba di hari ketujuh, keluarga duka akan membuat undangan yang terbuat dari daun sirih. Undangan yang mencari ciri khas masyarakat Suku Alas ini disebut pemanggo 7. Undangan kemudian disampaikan kepada kaum kerabat dan orang-orang yang akan diundang pada upacara malam ketujuh. Penyampaian sirih undangan dilakukan oleh salah seorang kerabat yang biasanya kaum perempuan yang dibantu seorang laki-laki.

Kerabat keluarga duka yang menerima undangan akan mempersiapkan barang-barang yang akan diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan. Beberapa jenis barang bawaan itu antara lain: limun, kerotuum (nasi bungkus daun pisang berbentuk bulat panjang), lauk pauk satu susun (rantang), kelapa, telur bebek, beras, dan uang. Pada saat penyerahan bawaan ini terdapat tutur kata adat yang intinya adalah agar tuan rumah sudi menerima bawaan alakadarnya itu. Pihak tuan rumah pun membalas dengan tutur kata adat yang pada intinya mengucapkan rasa terima kasih.

Upacara hari ketujuh dimulai setelah Shalat Magrib. Tengku imam membuka acara dengan pembacaan samadiah yang dilanjutkan dengan membaca doa. Acara selanjutnya adalah penentuan mengenai ahli waris dari almarhum/almarhumah atau yang dikenal dengan nama acara berbadas. Jika almarhum/almarhumah meninggalkan anak laki-laki yang sudah berumur, berbadas tidak perlu dilakukan. Berbadas dilakukan apabila ahli waris yang ditinggalkan belum ditetapkan secara adat maupun agama. Berbadas dipimpin oleh tengku imam yang dibantu oleh penghulu desa (kepala desa) karena mereka itulah yang dianggap paling paham tentang aturan agama dan adat mengenai hukum ahli waris.

6. Masa Tanam Batu

Masa tanam batu adalah penamaan untuk prosesi penempatan batu nisan di tanah kubur. Tujuan dari pengunaan batu nisan adalah sebagai tanda agar makam itu selalu diingat dan dirawat oleh keluarga dan masyarakat pada umumnya. Bagi warga Suku Alas, penanaman batu nisan dilakukan sehari setelah pelaksanaan upacara hari ketujuh. Sebagai pelengkap dalam upacara tanam batu adalah nasi ketan kuning untuk dimakan bersama dan air yang diramu dengan irisan jeruk purut untuk disiramkan di atas tanah makam. Upacara tanam batu nisan dilakukan pada pagi hari dan masih dipimpin oleh tengku imam. Upacara dimulai dengan penyiraman makam dengan air yang telah disediakan dan dilakukan oleh imam. Penyiraman dilakukan sebanyak tiga kali dari bagian atas makam (kepala) sampai ke bawah (kaki) sambil membaca doa.

Selanjutnya, batu yang bagian atasnya telah dibungkus dengan kain putih dan ditempatkan di dalam wadah yang disebut talam, diambil oleh tengku imam, kemudian ditanam di atas makam pada bagian kepala. Batu ditancapkan kira-kira setengah bagian dengan posisi batu yang tertutup kain berada di atas. Setelah itu, tengku imam melanjutkan menanam batu pada bagian bawah makam (kaki). Kedua batu tersebut ditanam tidak jauh jaraknya dengan pohon geloah yang telah ditanam sebelumnya pada saat upacara pemakaman. Setelah prosesi penanaman batu selesai, tengku imam berjongkok di samping makam untuk membaca doa dan diikuti oleh para hadirin.

Selesai pembacaan doa, acara dilanjutkan dengan makan bersama nasi ketan kuning yang telah disediakan. Setelah semuanya selesai, maka upacara tanam batu pun sudah rampung dilaksanakan. Dengan demikian, rangkaian upacara kematian adat masyarakat Suku Alas telah dilaksanakan.

C. Nilai-nilai

Rangkaian upacara kematian secara adat masyarakat Suku Alas di Aceh Tenggara banyak mengandung nilai-nilai budaya, antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Pewarisan Ilmu. Upacara kematian masyarakat Suku Alas banyak memuat aturan yang dilakukan secara turun-temurun. Demikian pula dengan keberadaa tengku imam sebagai pemimpin upacara yang harus mewariskan ilmunya kepada generasi yang selanjutnya.
  2. Menjalankan Ajaran Agama. Upacara kematian masyarakat Suku Alas banyak yang mengambil dari ajaran Islam dalam prosesinya, dan maka dari itu, pelaksanaan upacara kematian adat ini sekaligus juga merupakan tindakan untuk melaksanakan ajaran agama Islam.
  3. Seni dan Sastra Tradisional. Nilai seni dan sastra tradisional ini tercermin pada sejumlah tahap dalam rangkaian upacara kematian adat Suku Alas, seperti lantunan doa-doa dan prosesi berucap pantun adat.
  4. Solidaritas Masyarakat. Rangkaian upacara kematian masyarakat Suku Alas mengundang dan melibatkan banyak orang, baik dari keluarga, kerabat, maupun warga desa. Dari sinilah terlihat rasa solidaritas masyarakat Suku Alas yang masih tinggi.

D. Penutup

Upacara kematian adat pada masyarakat Suku Alas di Aceh Tenggara adalah salah satu bentuk kearifan lokal Melayu yang dipadukan dengan ajaran agama Islam. Oleh karena itu, tradisi ini harus selalu dijaga karena mengandung banyak sekali nilai luhur dan sebagai salah satu perwujudan identitas Melayu serumpun.

(Iswara N Raditya/Bdy/01/09-2011) 

Referensi:

  • Bakhrum Yunus, dkk., 1987. Struktur Sastra Lisan Alas. Jakarta: Depdikbud.
  • Eko Iskandar, “Upacara Kematian pada Masyarakat Suku Alas”, [online] diakses dari http://rakaiskandar.blogspot.com/2007/08/nilai-nilai-yang-terkandung-dalam.html.
  • Koentjaraningrat, 1987. Kebudayaan dan Mentalitas Pembangunan. Jakarta: Gramedia.
  • Sidi Gazalba, 1978. Batas Agama dan Kebudayaan: Pendekatan Rasional Masalah Mati. Jakarta: PT Tintamas.
  • Zakaria Ahmad, 1984. Upacara Tradisional: Upacara Kematian di Daerah Istimewa Aceh. Jakarta: Depdikbud.

 

Sumber Foto: http://enjoyed-kings.blogspot.com/

Dibaca : 6.949 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password