Kamis, 24 Juli 2014   |   Jum'ah, 26 Ramadhan 1435 H
Pengunjung Online : 252
Hari ini : 7.992
Kemarin : 18.051
Minggu kemarin : 157.256
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.937.756
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Barzanji: Tradisi Melayu-Islam Masyarakat Riau

a:3:{s:3:


Barzanji merupakan kegiatan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW. Kegiatan ini dilakukan pada waktu Maulid Nabi untuk memperingati hari kelahiran Nabi dan dalam berbagai upacara yang lain.  

1. Asal-usul

Kebudayaan Melayu yang bersinggungan dengan Islam menghasilkan akulturasi budaya yang unik di antara keduanya. Beberapa tradisi yang dilakukan di tanah Arab, wilayah asal agama ini, tidak jarang juga merupakan bagian dari tradisi masyarakat Melayu. Salah satu di antaranya adalah pembacaan kitab karya Ja’far Al-Barzanj, yang kemudian biasa disebut barzanji (sebagian orang menyebut “berzanji” atau “berjanji”).

Kata “barzanji” dalam kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai isi bacaan puji-pujian yang berisi riwayat Nabi Muhammad SAW (2005:110). Jika mendengar kata “barzanji”, orang akan beranggapan bahwa awalan “ber” merupakan imbuhan. Padahal, kata “barzanji” berasal dari kata Al-Barzanj, nama belakang penulis prosa dan puisi terkenal yang mempunyai nama lengkap Ja’far Al-Barzanj (Ediruslan Pe Amanriza & Hasan Junus, 1993:18).

Syekh Ja’far Al-Barzanj bin Husin bin Abdul Karim lahir di Madinah tahun 1690 dan wafat tahun 1766. Al-Barzanj berasal dari sebuah daerah di Kurdistan, Barzinj. Nama asli kitab karangan yang kemudian lebih dikenal dengan nama Al-barzanji adalah ‘Iqd al-Jawahir yang berarti “kalung permata”. Kitab tersebut disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Kitab Al-Barzanji berisi tentang kehidupan Nabi Muhammad dari masa kanak-kanak hingga diangkat menjadi Rasul, silsilah keturunannya, sifat mulia yang dimilikinya, dan berbagai peristiwa yang dapat menjadi teladan umat Islam (Muhammad Thohiran, 2007).   

Kitab karangan Ja’far Al-Barzanj dikenal mulai dari Maroko di belahan bumi sebelah barat hingga Papua di belahan bumi sebelah timur. Sebagai karya yang menceritakan tokoh terbesar dalam Islam, yakni Nabi Muhammad, boleh dikatakan pertunjukan pembacaan karya Ja’far Al-Barzanj ini tidak boleh dipandang sebagai pertunjukan biasa. Bahkan, pembacaan kitab Al-barzanji merupakan tradisi yang acap kali bahkan pasti dilakukan di bulan kelahiran Nabi Muhammad, yaitu Bulan Maulud menurut penanggalan Hijriah.

Sebagai pertunjukan yang didasarkan pada riwayat kehidupan Nabi, tentunya pertunjukan barzanji banyak mengandung nilai-nilai keagamaan. Pada mulanya, kitab karya Ja’far Al-Barzanj khusus dikarang dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Peringatan itu sendiri, waktu kitab tersebut ditulis, belum menjadi tradisi Islam. Baru pada tahun 1207 M, Muzaffar ad-Din di Mosul, Irak, merayakannya dan tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai daerah termasuk hingga ke Riau (Amanriza & Junus, 1993:19).

Tradisi barzanji telah dilakukan sejak Islam masuk ke Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, masuknya Islam memberi pengaruh besar pada kebudayaan Melayu. Pola perpaduan ini bukan hanya terlihat pada tradisi barzanji, namun juga tradisi Melayu yang lain, semisal tabot, burdah, ghazal, dan lain sebagainya. Tentu saja perpaduan antara budaya Islam dan Melayu berbeda-beda tergantung pada kultur awal masyarakat setempat (R. Michael Feener & Anna M. Gade, 1998).

Tradisi barzanji di Riau rutin dilakukan pada peringatan Maulid Nabi Muhammad. Namun, tidak sebatas peringatan itu saja, tradisi barzanji juga digelar pada hari-hari besar Islam yang lain seperti Idul Fitri, Idul Adha, tahun baru Hijriah, dan lain sebagainya. Barzanji juga diselenggarakan dalam kegiatan kemasyarakatan, misalnya pada saat upacara pernikahan, memperingati kelahiran anak, dan sebagainya.

Tradisi barzanji memadukan berbagai kesenian, antara lain seni musik, seni tarik suara, dan keindahan syair kitab Al-Barzanji itu sendiri. Syair-syair dalam kitab Al-Barzanji tersebut dilantunkan dengan lagu-lagu tertentu, dan kadang diiringi alat musik rebana. Setelah pembacaan hikayat Nabi dari kitab karya Ja’far Al-Barzanj dan shalawat kepada beliau, akan dilanjutkan pembacaan syair Sinar Gemala Mestika Alam karya Raja Ali Haji.   

2. Syair Barzanji

Kitab Barzanji terdiri dari dua bagian besar, yaitu natsar dan nadhom. Natsar berupa prosa liris yang menceritakan kehidupan Nabi maupun silsilah beliau. Bagian ini terdiri dari 19 sub. Sedangkan nadhom berbentuk puisi yang ditulis dalam bentuk bait-bait. Nadhom terdiri dari 205 untaian syair. Bagian ini menyatu ke dalam 16 sub bagian.

Seperti halnya penulisan syair, Ja’far Al-Barzanj juga menggunakan berbagai idiom dan metafor sebagai ungkapan kecintaan dan kekagumannya pada Nabi Muhammad. Misalnya gambaran Ja’far Al-Barzanj mengenai Nabi Muhammad yang seperti bulan, matahari, dan ungkapan cahaya di atas cahaya pada bagian nadhom (Ipmaba, 2009).

Berikut ini contoh natsar dalam kitab Al-Barzanji yang diterjemahkan oleh Raja Haji Muhammad Sa’id sebagaimana termaktub dalam buku Seni Pertunjukan Tradisional Daerah Riau karya Amanriza & Junus (1993:22):

Mereka itulah penghulu yang besar-besar yang berjalan cahaya nubuwat itu pada beberapa dahi mereka itu yang elok dan zahirlah cahaya nur itu pada dahi Abdul Muthalib dan anaknya Abdullah.

Ya Allah semerbakkan oleh-Mu akan kuburnya yang mulia dengan bauan yang sangat harum daripada selawat dan salam. Hai Tuhanku selawatkan dan salam dan karuniakan berkat atasnya.

Beberapa fragmen dalam Al-Barzanji yang berupa nadhom berisi sanjungan dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad (Amarinza & Junus, 1993:29). Contoh nadhom dalam kitab Al-Barzanji adalah:

Keselamatan bagimu wahai junjunganku

Keluasan bagimu wahai cahaya mataku

Engkaulah menenda Husin, Nabi pemalu

Luaslah kesejahteraan tetap bagimu

Wahai Nabi Rasul yang mulia

Wahai kekasih, Rasul utama

Rahmat selamat sejahtera sempurna

Tetaplah bagimu, Rasul semesta

Syair Sinar Gemala Mestika Alam mulai dibaca pada akhir rangkaian kegiatan barzanji. Pembacaan syair ini dimulai pada dasawarsa terakhir abad ke-19 di Kesultanan Riau-Lingga. Syair ini menceritakan kehidupan Nabi Muhammad sejak dari kandungan hingga masa kerasulannya. Berikut ini adalah penggalan Syair Gemala Mestika Alam yang dikutip dari www.RajaAliHaji.com:

Malam Isnain dua belas harinya

Dahulu sedikit daripada fajarnya

Masa diperanakkan oleh bundanya

Beberapa mukjzat zahir padanya

Setengah daripada irhash ikram

Menerangi cahaya tempat-tempat yang kelam

Masyrik dan magrib tempat yang balam

Teranglah cahaya sayidil anam

setengah daripada cahaya irhash ter’ala

habis tersungkur segala berhala

yang disembah oleh kafir yang cela

ibadatnya batal tiada pahala

3. Nilai-nilai

Tradisi barzanji dan pembacaan shalawat merupakan kegiatan yang sarat nilai-nilai positif. Beberapa nilai yang terkandung dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut:

a. Nilai Religius

Pembacaan kitab Al-Barzanji merupakan bentuk bukti kecintaan penganut agama Islam terhadap Nabi Muhammad. Syair dan hikayat yang tertulis dalam kitab tersebut memaparkan nilai-nilai yang baik yang dapat meningkatkan kadar religiusitas seseorang. Selain itu, masyarakat juga dapat mengambil hikmah dari kehidupan Nabi Muhammad seperti yang dibacakan dalam kitab tersebut.

b. Nilai Sosial

Tradisi barzanji yang digelar pada perayaan hari besar Maulid Nabi dan dalam berbagai upacara lainnya di masyarakat, seperti perkawinan, kelahiran anak, khitanan, dan lain-lain. Kegiatan tradisi ini merupakan ruang bagi masyarakat untuk bersosialisasi antara satu dengan yang lain. Kegiatan barzanji mempertemukan mereka yang jarang bertemu, sehingga akan mempererat tali persaudaraan dan ikatan sosial dalam masyarakat.

c. Nilai Budaya

Syair-syair yang terangkum dalam kitab Barzanji, meskipun menceritakan kehidupan Nabi Muhammad, merupakan karya yang bernilai sastra tinggi. Sebagaimana yang kita ketahui, bangsa Arab mempunyai tradisi penulisan sastra yang kuat. Hal ini sejalan dengan budaya Melayu yang juga mempunyai tradisi sastra yang tidak bisa dikatakan bermutu rendah. Kedua budaya ini, budaya Arab yang dibawa agama Islam dan budaya Melayu, berpadu sehingga menghasilkan bentuk budaya baru. Perpaduan ini memperkaya kebudayaan Indonesia.

4. Penutup

Tradisi barzanji merupakan tradisi Melayu yang berlangsung hingga kini. Tradisi terus mengalami perkembangan dengan berbagai inovasi yang ada. Misalnya penggunaan alat musik modern untuk mengiringi lantunan barzanji dan shalawat. Barzanji menghubungkan praktik tradisi Islam masa kini dengan tradisi Islam di masa lalu. Selain itu, melalui barzanji masyarakat Melayu Islam dapat mengambil pelajaran dari kehidupan Nabi Muhammad.

(Mujibur Rohman/bdy/21/01-2011)

Sumber foto: Google.com

Referensi:

Departemen Pendidikan Nasional, 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Ediruslan Pe Amanriza dan Hasan Junus, 1993. Seni Pertunjukan Daerah Riau. Pekanbaru: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Riau.

Ipmaba, 2009. “Tentang Syair Al-Barzanji”. [Online] Tersedia di http://ipmaba.wordpress.com [Diunduh pada 17 Februari 2011].

Muhamad Thohiron, 2007. “Indahnya Syair-syair Al-Barzanji” [Online] Tersedia di http://kubah-senapelan.blogspot.com [Diunduh pada 17 Februari 2011].

R. Michael Feener dan Anna M. Gade, 1998. Pattern of Islamization in Indonesia: a Curriculum Unit for Post-Secondary Level Educators. New York: Cornell University Southeast Asia Program Outreach.

Raja Ali Haji, 1894. Syair Sinar Gemala Mestika Alam. [Online] Tersedia di http://www.rajaalihaji.com [Diunduh pada 17 Februari 2011].

Dibaca : 13.735 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password