Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.624
Hari ini : 12.017
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.270.966
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Pantun

a:3:{s:3:

Pantun adalah bentuk puisi yang terdiri atas empat baris yang bersajak bersilih dua-dua (pola ab-ab), dan biasanya, tiap baris terdiri atas empat perkataan. Dua baris pertama disebut sampiran (pembayang), sedangkan dua baris berikutnya disebut isi pantun. Ada dua pendapat mengenai hubungan antara sampiran dan isi pantun. Pendapat pertama dikemukakan oleh H.C. Klinkert pada tahun 1868 yang menyebutkan bahwa, antara sampiran dan isi terdapat hubungan makna. Pendapat ini dipertegas kembali oleh Pijnappel pada tahun 1883 yang mengatakan bahwa, hubungan antara keduanya bukan hanya dalam tataran makna, tapi juga bunyi. Bisa dikatakan jika sampiran sebenarnya membayangkan isi pantun. Pendapat ini dibantah oleh van Ophuysen yag mengatakan bahwa, sia-sia mencari hubungan antara sampiran dan isi pantun. Menurutnya, yang muncul pertama kali dibenak seseorang adalah isi, baru kemudian dicari sampirannya agar bersajak. Dalam perkembangannya, Hooykas kemudian memadukan dua pendapat ini dengan mengatakan bahwa, pada pantun yang baik, terdapat hubungan makna tersembunyi dalam sampiran, sedangkan pada pantun yang kurang baik, hubungan tersebut semata-mata hanya untuk keperluan persamaan bunyi. Pendapat Hooykas ini sejalan dengan pendapat Dr. (HC) Tenas Effendy yang menyebut pantun yang baik dengan sebutan pantun sempurna/penuh, dan pantun yang kurang baik dengan sebutan pantun tak penuh/tak sempurna. Karena sampiran dan isi sama-sama mengandung makna yang dalam (berisi), maka kemudian dikatakan, “sampiran dapat menjadi isi, dan isi dapat menjadi sampiran.”

Dalam kehidupan masyarakat Melayu sehari-hari, pantun merupakan jenis sastra lisan yang paling populer. Penggunaannya hampir merata di setiap kalangan: tua-muda, laki-laki-perempuan, kaya miskin, pejabat-rakyat biasa dst. Dalam prkatiknya, pantun ini diklasifikasi ke dalam beberapa jenis yaitu: Pantun Nasihat, Pantun Berkasih Sayang, Pantun Suasana Hati, Pantun Pembangkit Semangat, Pantun Kerendahan Hati, Pantun Pujian, Pantun Teka-teki, Pantun Terhadap Perempuan, dan Pantun Jenaka.

Pantun juga berfungsi sebagai bentuk interaksi yang saling berbalas, baik itu dilakukan pada situasi formal maupun informal. Pantun pada masyarakat Melayu mengalir berdasarkan tema apa yang tengah diperbincangkan. Ketika seseorang mulai memberikan pantun, maka rekan lainnya berbalas dengan tetap menjaga tali perbincangan. Dalam interaksi pantun berbalas ini berlatar belakang pada situasi formal maupun situasi informal. Pada situasi formal semisal ketika meminang atau juga membuka sebuah pidato, sedangkan pada situasi informal seperti perbincangan antar rekan sebaya.

Pantun adalah genre sastra tradisional yang paling dinamis, karena dapat digunakan pada situasi apapun. Sebagaimana dikatakan bahwa: 

“Di mana orang berkampung disana pantun bersambung. Di mana ada nikah kawin disana pantun dijalin. Di mana orang berunding di sana pantun bergandeng. Dimana orang bermufakat di sana pantun diangkat. Di mana ada adat dibilang, di sana pantun diulang. Di mana adat di bahas di sana pantun dilepas”.

Karena itu tidak pandang latar belakang apapun, pantun dapat digunakan baik untuk anak-anak, orang muda maupun orang tua. Adapun beberapa klasifikasi berbagai pantun antara lain berupa:

     
1. Pantun Nasihat

a. Pantun Nasihat agama
b. Pantun Nasihat adat
2. Pantun Berkasih Sayang

a. Pantun Berkenalan
b. Pantun Saling Berjanji
c. Pantun Perceraian/Perpisahan
d. Pantun Memendam Rindu
e. Pantun Putus Cinta
f. Pantun Kasih Tak Sampai
g. Pantun Berangan-angan
3. Pantun Suasana Hati

a. Pantun Sukacita
b. Pantun Dukacita
4. Pantun Pembangkit Semangat

a. Pantun Pembangkit Semangat
b. Pantun Pembangkit Keberanian
c. Pantun Pembangkit Semangat Hidup
5. Pantun Kerendahan Hati

a. Pantun Kerendahan Hati pada Ilmu Pengetahuan
b. Pantun Kerendahan Hati pada Harta
6. Pantun Pujian

a. Pantun Pujian Kepada Allah
b. Pantun Pujian Kepada Muhammad
c. Pantun Pujian Kepada Orang Tua
d. Pantun Pujian Kepada Pemimpin
7. Pantun Teka-Teki

a. Pantun Teka-Teki dengan Obyek Alam Sekitar
b. Pantun Teka-Teki Perangkat Pembantu Manusia
8. Pantun Terhadap Perempuan

a. Pantun Perempuan Bersimbol Bunga
b. Pantun Perempuan Bersimbol Burung
c. Pantun Perempuan Bersimbol Warna Kulit
d. Pantun Perempuan Bersimbol Batu Permata
e. Pantun Perempuan dalam Simbol Cakrawala
9. Pantun Jenaka

a. Pantun Sindir-Menyindir
b. Pantun Mengolok-olok Badan
c. Pantun Kepandiran dan Kegagapan Diri
d. Pantun Kelakar Terhadap Isteri
e. Pantun Kelakar Terhadap Suami
f. Pantun Kelakar Terhadap Mertua
g. Pantun Kelakar Terhadap Janda
10. Pantun Ajaran Budi Terhadap Perempuan
 
a. Pantun Isteri Salehah
b. Pantun Perempuan Menjaga Marwah
c. Pantun Perempuan Elok Luar Dalam
11. Pantun Terhadap Laki-Laki
 
a. Pantun Gagah Berani
b. Pantun Tidak Pendek Akal
c. Pantun Tidak Pengecut
d. Pantun Tidak Malas Bekerja
12. Pantun Kepemimpinan
 
a. Pantun Pemimpin Berpendirian Teguh
b. Pantun Pemimpin Menjadi Pelindung
c. Pantun Pemimpin Adil
d. Pantun Pemimpin Amanah
13. Pantun dalam Prosesi Pernikahan
 
a. Pantun untuk Merisik
b. Pantun untuk Meminang
c. Pantun dalam Prosesi Akad Nikah
d. Pantun di Hari Persandingan
e. Pantun di Malam Pertama

Kajian Pustaka:

  • Effendy, Tenas. Tunjuk Ajar dalam Pantun Melayu. AdiCita Karya Nusa, 2004.
  • ___________, Pantun Nasehat. Adicita Karya Nusa, 2005.
  • ___________, Khazanah Pantun Melayu Riau. Dewan Bahasa dan Pustaka Kuala Lumpur, 2007.
  • ___________, Bini dalam Budaya Melayu Riau, 1979.
  • ___________, Pemimpin Menurut Acuan Adat Melayu Riau,1984.
  • ___________, Dara, Dalam Budaya Melayu Riau, 1986
  • ___________, Jantan dalam Budaya Melayu. Pekanbaru 1987.
  • ___________, Perempuan dalam Budaya Melayu Riau, 1989
  • ___________, Pantun Sebagai Media Dakwah dan Tunjuk Ajar Melayu, 1993. 
  • ___________, Pemimpin dan Kepemimpinan dalam Budaya Melayu Riau, 2002.
  • ___________, Seminar Pantun Melayu: Semalam, Hari dan Esok, Desember 2007.
  • ___________, Pantun Nasehat, (tanpa tahun)
  • ___________, Jender dalam Adat dan Budaya Melayu (tanpa tahun) 
  • Intan Marlina, Tengku (dkk) . “Simbol Wanita dalam Pantun Percintaan” dalam Hussin, Supyan dan Choo Ming, Ding dalam Prosiding Seminar dalam Pantun Melayu: Semalam, Hari Ini dan Esok. Desember, 2007.
  • Suseno, Tusiran. Mari Berpantun, Yayasan Kesenian Riau Jakarta dan Pemerintahan kota Tanjungpinang. 2003.
  • Redaksi Balai Pustaka. Pantun Melayu.Jakarta: Balai Pustaka, 2004.
  • Majelis Peperiksaan Malaysia. Mutiara Sastra Melayu Tradisional. Kuala Lumpur: 2005.
  1. Pantun Nasihat. (2)
  2. Pantun Berkasih Sayang. (7)
  3. Pantun Suasana Hati. (2)
  4. Pantun Pembangkit Semangat. (3)
  5. Pantun Kerendahan Hati. (2)
  6. Pantun Pujian. (4)
  7. Pantun Teka-Teki. (2)
  8. Pantun Terhadap Perempuan. (6)
  9. Pantun Jenaka. (7)
  10. Pantun Ajaran Budi Terhadap Perempuan. (3)
  11. Pantun Terhadap Laki-Laki. (4)
  12. Pantun Kepemimpinan. (5)
  13. Pantun dalam Prosesi Pernikahan. (5)
  14. Ungkapan Melayu tentang Sikap Menghargai Kebebasan Berpendapat.
Dibaca : 243.544 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password