Selasa, 2 September 2014   |   Arbia', 7 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 2.215
Hari ini : 16.906
Kemarin : 22.071
Minggu kemarin : 167.818
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.078.410
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Budaya Melayu

Syair (Modern)

a:3:{s:3:

Syair adalah bentuk puisi dalam sastra Melayu lama. Kata syair berasal dari bahasa Arab syu’ur yang berarti perasaan. Dari kata syu’ur, muncul kata syi’ru yang berarti puisi dalam pengertian umum. Syair dalam kesusasteraan Melayu merujuk pada pengertian puisi secara umum. Namun, dalam perkembangannya syair tersebut mengalami perubahan dan modifikasi sehingga menjadi khas Melayu, tidak lagi mengacu pada tradisi sastra syair di negeri Arab. Penyair yang berperan besar dalam membentuk syair khas Melayu adalah Hamzah Fansuri, dengan karyanya, antara lain: Syair Perahu; Syair Burung Pingai; Syair Dagang; dan Syair Sidang Fakir. Dari namanya, syair, tampak jelas bahwa orang Melayu mengenalinya seiring dengan penetrasi dan perkembangan ajaran Islam, terutama tasawuf di Nusantara. Syair berbahasa Arab yang tercatat paling tua di Nusantara adalah catatan di batu nisan Sultan Malik al-Saleh di Aceh, bertarikh 1297 M. Sedangkan syair berbahasa Melayu yang tertua adalah syair di prasasti Minye Tujoh, Aceh, Indonesia bertarikh 1380 M (781 H). Dalam syair ini, bahasa Melayu masih bercampur dengan bahasa Sansekerta dan Arab.

Bentuk syair terdiri dari empat baris serangkap dengan rima a/a/a/a dan a/b/a/b, yang paling populer adalah a/a/a/a. Tiap baris terdiri dari antara 8 hingga 12 suku kata. Tiap empat baris membentuk satu bait syair, dan merupakan satu kesatuan arti. Selain itu, ada juga syair yang terdiri dari tiga baris dengan rima akhir a/a/b; dan yang terdiri dari dua baris dengan rima a/b, namun kedua bentuk ini tidak populer. Bait syair yang terdiri dari empat baris agak mirip dengan pantun. Letak perbedaannya adalah, empat baris pantun merupakan dua baris sampiran dan dua baris  isi yang berdiri  sendiri, sementara bait syair merupakan bagian dari sebuah cerita yang panjang. Dari segi jumlah, syair diperkirakan menempati posisi kedua setelah pantun, yang menandakan bentuk sastra ini sangat populer pada masyarakat Melayu. Dari segi cara penceritaan, syair bisa diklasifikasi menjadi dua: syair naratif dan yang non naratif. Selanjutnya, berdasarkan isi dan tema, syair naratif bisa dibagi lagi menjadi 4 jenis yaitu: syair romantis (contohnya: Syair Bidasari); syair sejarah (contohnya: Syair Perang Makassar; Syair Perang Banjar); syair keagamaan (contohnya: Syair Nur Muhammad); syair kiasan (contohnya: Syair Ikan Terubuk); sedangkan syair non-naratif terbagi menjadi tiga jenis yaitu: syair agama; syair nasihat dan syair di luar tema-tema tersebut. Dalam portal ini terdapat pembahasan segala hal yang berkenaan dengan syair-syair tersebut.

  1. Syair Singapura Terbakar.
  2. Syair Kampung Gelam Terbakar.
Dibaca : 91.542 kali.