Selasa, 2 September 2014   |   Arbia', 7 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 2.102
Hari ini : 15.432
Kemarin : 22.071
Minggu kemarin : 167.818
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.078.272
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Masjid Buton, Bau-Bau

a:3:{s:3:

1. Sejarah Pembangunan

Masjid Buton didirikan pada tahun 1538 M, dan merupakan bukti arkeologis dari proses Islamisasi yang pernah dilakukan di pulau ini. Pada paruh pertama abad ke-16 M, di Pulau Buton telah berdiri Kesultanan Buton (Bau-Bau), dan masjid ini merupakan masjid kesultanan. Melihat tahun berdirinya, tampaknya Kesultanan Buton lebih dulu masuk Islam daripada Kerajaan Gowa-Tallo. Masjid yang didirikan pada tahun 1538 M ini kemudian terbakar dalam perang saudara di Kesultana Buton. Oleh sebab itu, kemudian didirikan masjid baru pengganti masjid lama yang terbakar. Pendirian masjid baru ini diwarnai sebuah mitos.

Konon, di masa Sultan Buton ke-18, Sultan Mukhirudin Abdul Majid, terjadi perang saudara yang didalangi oleh Kapitan Laut Langkariri. Kapitan ini tidak puas dengan hasil pemilihan sultan yang dianggapnya tidak sesuai dengan tradisi saat itu. Perlu diketahui bahwa, pola kepemimpinan Kesultanan Buton tidak mengenal sistem pewarisan. Jika sultan meninggal, maka pengantinya harus dipilih melalui sebuah dewan perwakilan yang disebut siolimbona.

Dalam pemberontakan yang dilakukan oleh Langkariri, ia berhasil mengalahkan sultan, sehingga ia kemudian naik menggantikan sultan yang telah ia turunkan tersebut. Peperangan dalam merebut kekuasaan ini berlangsung dahsyat selama tiga bulan, hingga mereka lupa dengan hari.

Dalam suasana kacau tersebut, seorang penyebar agama Islam yang bermukim di Kraton Wolio bernama Syarif Muhammad mendengar suara azan dari sebuah bukit kecil dekat kraton. Ia kemudian pergi mencari sumber suara azan tersebut. Ternyata, suara azan tersebut keluar dari sebuah lubang yang ada di bukit tersebut. Setelah ia amati, ternyata suara azan tersebut berasal dari orang-orang Mekkah yang sedang menjalankan shalat Jumat. Serta merta, ia kemudian mengumumkan kepada seluruh penduduk negeri bahwa hari itu adalah hari Jumat. Oleh karena itu, banyak penduduk yang datang untuk melaksanakan shalat Jumat. Syarif Muhammad kemudian memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan pidato perdamaian, hingga pihak yang bertikai menyadari kesalahannya dan sepakat untuk berdamai.

Di lokasi tempat mendengar suara azan, kemudian dibangun sebuah masjid oleh Sultan Sakiudin Darul Alam, saat itu tahun 1712 M. Pembangunan masjid baru ini, karena bangunan masjid lama yang dibangun pada masa Sultan Buton pertama, yaitu Sultan Kaimudin telah habis terbakar dalam perang saudara yang berlangsung selama tiga bulan.    

Keunikan masjid pengganti masjid lama ini adalah, terletak dalam sebuah benteng berdinding batu karang yang sangat kokoh. Dalam sejarah masjid di nusantara, mungkin ini satu-satunya masjid yang terletak dalam lanskap benteng.

2. Lokasi

Masjid terletak di lokasi yang tinggi, cukup stategis, dalam sebuah benteng yang berdinding batu karang yang sangat kokoh.

3. Luas

Masjid Buton berdiri di atas fondasi berukuran 41x42 m, sementara bangunan masjid itu sendiri berukuran 21x22 meter.

4. Arsitektur

Denah masjid berbentuk segi empat panjang, dengan atap berjumlah dua lapis berbentuk limas. Saat ini, atapnya terbuat dari seng, kemungkinan, pada awal berdirinya, atap masjid berasal dari daun rumbia atau nipah. Di dalam masjid, letak mihrab dan mimbar berdampingan, dengan konstruksi dari batu bata, di bagian atasnya terdapat hiasan dari kayu berukir corak tumbuh-tumbuhan, mirip dengan corak Arabesque. 

Bangunan masjid ini terdiri dari tiga lantai, berbentuk mirip rumah panggung. Lantai satu adalah bagian dari tongkat rumah yang diberi dinding; lantai dua merupakan ruang utama untuk shalat; sementara lantai tiga hanyalah ruang kecil di bagian atas-tengah, berfungsi sebagai tempat azan dan juga menara pengawas. Dari lantai tiga ini, seseorang bisa melihat ke segala arah.

Untuk masuk ke dalam masjid, terdapat 12 pintu masuk, salah satu di antaranya merupakan pintu utama. Di bagian depan, atau sebelah timur sisi masjid terdapat serambi terbuka, di bagian tengah-depan ini, juga terdapat tangga beratap mirip baruga yang sering ditemukan dalam rumah adat orang-orang Sulawesi Selatan. Atap tangga hanya terdiri dari satu sisi miring.

Di dalam masjid, terdapat sebuah lampu antik dari perunggu bercabang tiga yang digantung di tengah masjid. Di tiap cabang lampu gantung tersebut, terdapat tiga bola lampu. Konon, lampu model ini hanya ada tiga buah di Indonesia, dua lainnya ada di Istana Negara Jakarta dan Kraton Yogyakarta.

Pegawai masjid diangkat oleh sultan dengan jumlah 60 orang, jauh lebih banyak dibanding pegawai masjid lainnya di Indonesia. Rincian para pegawai tersebut adalah: satu orang sebagai qadhi (hakim agama), satu orang imam, empat orang khatib, 12 orang muazin, dua orang tungguna ganda (pemukul bedug) dan 40 orang jamaah tetap. Dari penentuan jamaah tetap berjumlah 40 orang ini, tampaknya Kesultanan Buton menganut mazhab Syafii.

5. Perencana

Belum diketahui secara jelas, siapa sebenarnya perancang masjid ini.

6. Renovasi

Pada tahun 1930, di masa Sultan Hamidi (Sultan ke-37), masjid ini untuk pertama kalinya di renovasi tanpa mengubah bentuk aslinya. Saat itu, atap rumbia diganti dengan seng, dan sebagian rangka kayu diganti, karena sudah lapuk dimakan usia.

Kredit foto : Eddy Harianto

____________

Informasi lain tentang Masjid Buton bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 14.822 kali.