Jumat, 24 Oktober 2014   |   Sabtu, 29 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.709
Hari ini : 11.291
Kemarin : 19.177
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.266.781
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Benteng Keraton Wolio

1. Sejarah Singkat

Jika kita datang ke Sulawesi Tenggara, maka kita akan menemukan banyak peninggalan bersejarah yang menarik dikunjungi. Salah satu bentuk peninggalan sejarahnya adalah benteng peninggalan Kesultanan Buton, yaitu Benteng Keraton Wolio. Benteng ini terletak di Pulau Buton, persisnya di Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Di wilayah Kesultanan Buton, sebenarnya terdapat 72 buah benteng yang tersebar di seluruh kadie (sekarang namanya kecamatan).

Benteng Keraton Wolio merupakan salah satu benteng terbesar di antara benteng-benteng tersebut.  Jika dilihat dari atas, dengan bangunan bagian selatan sebagai kepalanya, maka akan terlihat bangunan benteng berbentuk huruf dal. Selain benteng ini, di Kecamatan Betoambari sebenarnya juga terdapat dua benteng lainnya, yaitu Benteng Baadia yang berbentuk huruf alif dan Benteng Sorawolio yang menyerupai huruf mim. Masyarakat Buton mengasosiasikan tiga bentuk huruf dalam tiga benteng tersebut sebagai ekspresi nama Nabi Adam AS, yang terdiri atas huruf alif, dal, dan mim.   

Benteng ini dibangun pada abad ke-15, yaitu pada masa kekuasaan Sultan Buton III, La Sangaji atau Sultan Kaimuddin (1566-1570). Namun, pada saat itu, pembangunan benteng belum dapat dirampungkan karena ketika dibangun pertama kali hanya berupa tumpukan batu yang mengelilingi pusat kesultanan.

Pada masa kekuasaan Sultan Buton IV, La Elangi atau Sultan Dayanu Ikhsanuddin (1578-1615), tumpukan batu tersebut kemudian disusun dengan lebih rapi. Awalnya, Sultan Buton IV merasa resah dengan makin banyaknya bajak laut yang menyerang rakyatnya. Untuk menghalau serangan itu, ia memerintahkan prajuritnya agar membangun 16 baluara (emplasemen meriam) di sekeliling Bukit Wolio. Sultan mendasari jumlah 16 dengan proses kelahiran manusia. Angka 16 adalah angka kehidupan (nutfah) karena pada umur 160 hari, Allah SWT akan meniupkan ruh pada janin yang ada di dalam perut ibu. Dengan filosofi ini, adanya 16 baluara itu tujuannya adalah untuk memberikan jaminan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat sekitar Kesultanan Buton.

Pada masa kekuasaan Sultan Buton ke-VI, La Buke atau Sultan Gafarul Wadudu (1632-1645), terjadi perubahan secara besar-besaran. Pada tahun 1634, ia memerintahkan ribuan prajurit dan seluruh warganya agar membangun benteng besar di puncak Bukit Wolio, yaitu dengan cara menghubung-hubungkan seluruh bangunan (16) baluara dalam satu rangkaian yang utuh. Yang menjadi arsitek pembangunan benteng secara utuh ini adalah Perdana Menteri Maa Waponda. Ia mendesain rancangan denah bangunan benteng dengan dasar huruf dal. Kenapa ia bisa berpikir seperti itu? Ternyata, ketika menyusun baluara itu, ia menemukan ada salah satu sudut yang tidak bisa dipertemukan. Sudut tersebut kebetulan berada tepat di atas sebuah tebing yang sangat curam.

Proses pembangunan benteng ini sebenarnya mirip dengan proses pembangunan Candi Borobudur di Jawa. Bahan baku utama yang digunakan adalah batu-batu gunung. Agar bisa saling melekat kuat, tumpukan batu tersebut dilekatkan dengan menggunakan putih telur. Menurut La Ode Abu Bakar, tokoh adat masyarakat Buton, cara melekatkan antar tumpukan batu tidak hanya dengan putih telur saja, namun juga menggunakan kapur yang diolah menjadi adonan dengan campuran agar-agar dan putih telur. Seluruh penduduk di Kesultanan Buton turut serta membantu proses pembangunan benteng, baik laki-laki maupun perempuan. Pihak laki-laki membantu dalam hal mengumpulkan batuan-batuan gunung dan menyusunnya, sedangkan pihak perempuan mengumpulkan pasir.

2. Lokasi

Komplek Benteng Keraton Wolio kini terletak di Kelurahan Melai, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Kecamatan Betoambari terletak di Pulau Buton, yaitu sebelah tenggara Sulawesi. Pulau ini persisnya berada di antara Teluk Bone, Selat Muna, dan Laut Banda. Untuk mencapai pulau ini diperlukan waktu sekitar dua belas jam perjalanan laut dari Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Untuk menuju Kota Bau-Bau perlu melalui Pelabuhan Murhum terlebih dahulu. Sebab, pelabuhan ini merupakan gerbang masuk menuju kota. Jarak antara Kota Bau-bau dengan benteng adalah 3 kilometer.

3. Deskripsi Benteng

La Ode Hafilu, salah seorang keturunan Kesultanan Buton, menceritakan bahwa bentuk, arsitektur, dan makna Benteng Keraton Wolio banyak berkenaan dengan nilai-nilai tasawuf yang diamalkan oleh para Sultan Buton. Di samping bentuk bangunan benteng ini seperti huruf dal, nilai-nilai tasawuf yang terkandung di dalamnya juga dapat dilihat pada bentuk-bentuk lain dalam komplek benteng, sebagaimana akan dibahas di bawah ini. 

Luas keseluruhan komplek Benteng Keraton Wolio adalah 400 ribu meter persegi. Bentengnya sendiri berukuran 2.740 meter, tingginya 2-8 meter, lebarnya 1-2 meter, dan ketebalan dindingnya mencapai 1,5 meter hingga 2 meter. Pada akhir tahun 2006, Museum Rekor Indonesa (MURI) mencatat benteng ini sebagai benteng terluas di tanah air, dengan luas sekitar 22 hektar. Benteng ini memiliki 12 pintu (lawa). Pembangunan 12 pintu tersebut dilakukan pada masa Sultan Buton ke-VI setelah 16 baluara tersusun rapi menjadi sebuah benteng yang utuh.

Secara umum, fungsi pintu-pintu tersebut adalah untuk menghubungkan keraton dengan kampung-kampung sekitar kesultanan. Menurut La Ode Mursali, budayawan Buton setempat, jumlah 12 pintu diidentikkan dengan jumlah lubang pada tubuh manusia, yang terdiri atas lubang pori-pori kulit, mulut, dua lubang telinga, dua lubang mata, dua lubang hidung, satu lubang anus, satu lubang saluran kencing, satu lubang saluran sperma, dan satu lubang pusat. Sebagai contoh, pintu utamanya yang bernama Lawana Lanto dipahami sebagai pengandaian mulut manusia. Contoh lainnya adalah pintu rahasia benteng (Lawana Kampebuni) yang dipahami sebagai pengandaian lubang saluran sperma. Pintu ini sering digunakan oleh petinggi-petinggi kesultanan sebagai jalan keluar atau sebagai tempat persembunyian jika ada serangan musuh yang dapat membahayakan keluarga istana.

Pada setiap pintunya terdapat tulisan yang diberi nama dan gelar para pengawas pintu-pintu tersebut, seperti Lawana Rakia, Lawana Lanto, Lawana Labunta, Lawana Kampebuni, Lawana Wabarobo, Lawana Dete, Lawana Kalau, Lawana Bajo/Bariya, Lawana Burukene/Tanailandu, Lawana Melai/Baau, Lawana Lantongau, dan Lawana Gundu-gundu. Di benteng ini terdapat 52 meriam yang diletakkan pada setiap pintunya, baik kanan maupun kiri pintu. Kubu pengawasan benteng ini (bastion) berjumlah 17 buah (sumber lain menyebut 16). Angka 17 merupakan jumlah rakaat dalam shalat yang harus diamalkan oleh setiap Muslim pada tiap harinya. Pada pojok kanan sebelah selatan terdapat godana-oba (gudang mesiu) dan di sebelah kiri juga terdapat gudang peluru.

Di komplek benteng ini terdapat Makam Sultan Murhum, yaitu Sultan Pertama di Kesultanan Buton, yang pernah berkuasa selama 40-an tahun (1491-1537). Ketika mangkat, jenazahnya dimakamkan di puncak Bukit Wolio dengan ketinggian sekitar 800 meter di bawah permukaan laut. Menurut cerita masyarakat sekitar, orang yang berdoa di makam ini biasanya akan dikabulkan. Bahkan, Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri pernah berkunjung ke makam ini ketika dirinya bersiap-siap maju menjelang pemilihan umum (pemilu) 1999.

Di komplek benteng ini juga terdapat sebuah gua kecil (ceruk) bersejarah (Gua Arupalaka), yang letaknya di dinding tebing sebelah timur benteng. Gua ini dulunya pernah digunakan Arupalaka sebagai tempat persembunyian ketika pasukan tentara Kerajaan Gowa pimpinan Sultan Hasanuddin menguasai jantung pertahanan Kesultanan Buton. Untuk dapat masuk ke dalam gua, Arupalaka memasuki pintu rahasa (Lawana Kampebuni) terlebih dahulu. Ketika itu para tentara Gowa tidak mudah menemukan gua tersebut karena letaknya yang menggantung di dinding tebing. Jika berdiri di tepi batas alam itu, maka letak gua persis di bawah telapak kaki. Dari tepi atas benteng, Sapati Baluwu pernah menyampaikan pesan kepada Arupalaka yang sedang bersembunyi di dalam gua. Sapati adalah sebuah jabatan yang berperan membantu Sultan Buton dalam urusan dalam negeri kesultanan.    

4. Fungsi Sosial

Pada masa Kesultanan Buton, benteng ini mempunyai dua fungsi, yaitu sebagai pembatas pusat lingkungan keraton dan sebagai media perlindungan dari serangan musuh. Benteng juga berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, sosial, dan juga dakwah (syiar) Islam. Kegiatan dakwah baru dilakukan setelah Kerajaan Buton berubah menjadi Kesultanan Buton pada masa Raja Buton ke-6, Lakilaponto, yang akhirnya berganti nama menjadi Sultan Murhum Kaimuddin Khalifatul.

Di samping itu, bagian benteng ini juga berfungsi sebagai pemukiman masyarakat sekitarnya. Hanya saja, pemerintah Dinas Pariwisata Kota Bau-Bau telah mewanti-wanti masyarakat yang mendiami kawasan sekitar komplek benteng agar jangan membangun rumah dengan bergaya modern. Tujuannya adalah untuk menjaga nilai khas benteng sebagai peninggalan sejarah yang amat penting. Sebagian besar dari sekitar  295 unit rumah di kawasan komplek benteng masih berupa rumah panggung (rumah kayu) dengan gaya arsitektur rumah adat Buton. Konstruksi rumah ini tidak menggunakan paku sebagai pengikat sambungan kayu.

Hingga kini, benteng ini masih menyimpan adat-istiadat khas buton. Hal ini dapat dilihat dalam setiap perhelatan acara akad nikah. Dalam adat masyarakat Buton, sebelum upacara akad nikah berlangsung, biasanya diawali dengan iring-iringan mempelai laki-laki atau saat hendak akan mendatangi mempelai perempuan. Di dalam kamar mempelai perempuan terdapat orang tua kedua mempelai, penghulu, dan tetua adat. Proses seperti ini merupakan warisan leluhur mereka. Warisan tentang adat ini tersimpan rapi di dalam benteng keraton.

Pada masa kini, sebagai salah satu peninggalan sejarah yang amat penting di Sulawesi Tenggara, benteng ini ternyata masih memiliki fungsi sosialnya. Misalnya, benteng ini pernah digunakan sebagai tempat perhelatan acara-acara keagamaan, seperti acara ritual tahlilan dan qunut. Pelaksanaan acara malam qunutan dan tahlilal merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Wolio sejak 300 tahun yang lalu. Tujuannya adalah untuk mendoakan agar negeri mereka terhindar dari malapetaka dan juga untuk mempererat tali silaturahmi di antara para warga, pemimpin agama, dan juga pihak petinggi kesultanan.

Benteng ini juga berfungsi sebagai salah satu tujuan wisata yang menarik di kawasan Sulawesi Tenggara. Sebagai contoh, dari tepi benteng akan dapat dilihat pemandangan Kota Bau-Bau dan hilir mudik kapal di Selat Buton dengan jelas dari ketinggian.

(HS/sej/22/10-07)

Sumber :

  • Kompas, 29 Mei 2004.
  • Koran Tempo, 15 Agustus 2004.
  • Koran Tempo, 2 November 2004.
  • www.bau-bau.go.id.
  • www.liputan6.com.
  • www.sinarharapan.co.id.
Kredit foto : www.penyingkul.com

Kredit foto: orangbuton.wordpress.com

____________

Informasi lain tentang Benteng Keraton Wolio bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 13.184 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password