Senin, 21 April 2014   |   Tsulasa', 20 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 1.062
Hari ini : 4.768
Kemarin : 20.433
Minggu kemarin : 148.067
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.618.632
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Benteng Somba Opu

1. Sejarah Singkat

Benteng Somba Opu dibangun pada abad ke-15, tepatnya pada tahun 1525. Benteng ini dibangun oleh Sultan Gowa ke-IX, Daeng Matanre Karaeng Tumapa‘risi‘ Kallonna (1510-1546). Tujuan Sultan Kallonna membangun benteng ini adalah sebagai media pertahanan wilayah Kesultanan Gowa dari serangan Hindia Belanda (VOC) dan Portugis. Ketika pertama kali dibangun, benteng ini hanya terbuat dari tanah liat. Pada masa kekuasaan Sultan Gowa ke-X, I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565), benteng ini kemudian disempurnakan dan dibangun kembali dengan menggunakan batu bata.

Pada pertengahan abad ke-16, benteng ini pernah menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan rempah di Nusantara. Banyak pedagang asing dari Asia dan Eropa berkunjung ke tempat ini untuk melakukan kegiatan perdagangan. Rupanya, kondisi itu membuat Penjajah Belanda tidak suka atau iri dengan perkembangan yang pesat terjadi di Kesultanan Gowa. Akhirnya, Belanda menyerang Kesultanan Gowa yang pada saat itu di bawah kepemimpinan Sultan Gowa ke-16, Mallombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape atau juga disebut Sultan Hasanuddin. Terjadilah perang besar yang disebut Perang Makassar. Perang ini terjadi dalam kurun waktu antara tahun 1655 hingga tahun 1669. Benteng Somba Opu pernah diduduki Belanda selama sepuluh hari. Akhirnya, perang ini dimenangkan oleh Belanda.

Akibat dari kekalahan tersebut, Sultan Hasanuddin dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Dalam perjanjian ini, disebutkan bahwa semua benteng pertahanan yang berguna sebagai perlindungan kota harus dihancurkan, kecuali Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam) yang difungsikan sebagai pemukiman dan kantor VOC dan Benteng Somba Opu yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan kesultanan (pasal 10 dan 11). Di samping itu, ada pasal lain yang isinya merugikan kepentingan masyarakat pribumi, yaitu bahwa “hanya VOC saja yang boleh melakukan perdagangan di Makassar dan bebas dari segala bentuk pajak perdagangan”.

Benteng Somba Opu yang tetap menjadi hak milik Kesultanan Gowa (sebagai pusat pemerintahan), akhirnya sempat dikepung selama sebulan. Pada tanggal 24 Juni 1669, benteng ini direbut oleh VOC. Akibatnya, pusat pemerintahan Kesultanan Gowa dipindahkan ke Benteng Ana‘ Gowa di Taenga, seberang Sungai Jeneberang.

Setelah dihancurkan Belanda, Benteng Somba Opu rusak dan terendam oleh ombak pasang yang selalu menyapu benteng ini. Pada tahun 1980-an, benteng ini pernah ditemukan kembali oleh sejumlah ilmuan. Ternyata, benteng ini tidak sepenuhnya hancur. Pada tahun 1990, puing-puing tembok benteng ini diekskavasi dan sebagian bangunan benteng direkonstruksi yang pada akhirnya berwujud menjadi suatu obyek wisata menarik, yaitu sebagai sebuah museum bersejarah. Di dalam komplek benteng terdapat istana para sultan Gowa.

2. Lokasi

Benteng ini terletak di Jalan Daeng Tata, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.

3. Deskripsi Benteng

Benteng ini berbentuk persegi empat, dengan panjang sekitar 2 kilometer, tinggi 7 hingga 8 meter, luas sekitar 1.500 hektar. Seluruh bangunan benteng dipagari dengan dinding yang cukup tebal. Ketika dibangun pertama kali pada tahun 1525, bahan dasar pembuatan benteng adalah tanah liat, namun kemudian pada pemerintahan Sultan Gowa ke-XI benteng ini direnovasi dengan menggunakan batu bata. Seperti halnya Benteng Fort Rotterdam, bentuk benteng ini mirip penyu jika dilihat dari pemukaan yang lebih tinggi.

4. Fungsi Sosial

Pada masa Sultan Hasanuddin, benteng ini berperan sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Gowa. Kesultanan ini pernah menjadi pusat perniagaan sekitar abad ke-15. Ketika Daeng Pammate diangkat sebagai syahbandar pada tahun 1538, Benteng Somba Opu digunakan sebagai pusat perekonomian Kesultanan Gowa.

Benteng ini kini berfungsi sebagai museum yang juga sekaligus sebagai tempat wisata bersejarah. Museum ini berada di salah satu bagian dari komplek benteng. Dalam museum ini tersimpan benda-benda penting peninggalan sejarah Kesultanan Gowa. Di dalam komplek benteng juga terdapat beberapa rumah adat asal Sulawesi Selatan. Di samping itu, juga terdapat sebuah meriam besar di salah satu bagian benteng yang disebut dengan Baluwara Agung. Meriam ini disebut dengan “Meriam Anak Bangsa”. Panjang meriam adalah 6 meter dengan berat sekitar 9.500 kg. Di samping sebagai museum, benteng ini juga berfungsi secara sosial, misalnya sebagai tempat untuk menggelar pameran pembangunan, seperti pameran tentang pembangunan Kota Makassar dan pembangunan Provinsi Sulawesi Selatan. Masyarakat juga dapat meminjam komplek benteng ini sebagai tempat pesta perkawinan atau acara-acara lainnya.

(HS/sej/26/10-07)

Sumber :

  • Republika, 24 Agustus 2003.
  • www.emedia.com.my.
  • www.depdagri.go.id.
  • www.makassar.go.id.
  • www.panyingkul.com.
Kredit foto: www.panyingkul.com Harianto Siradjuddin

____________

Informasi lain tentang Benteng Somba Opu bisa dibaca di sini (WisataMelayu.com).

Dibaca : 11.945 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password