Minggu, 26 Oktober 2014   |   Isnain, 2 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 801
Hari ini : 3.281
Kemarin : 20.528
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.274.481
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Kerajaan Nan Sarunai


Sejarah Kerajaan Nan Sarunai terkait erat dengan kehidupan orang-orang Suku Dayak Maanyan, salah satu sub Suku Dayak tertua di tanah Borneo. Kerajaan Nan Sarunai adalah pemerintahan purba yang muncul dan berkembang di wilayah yang sekarang termasuk dalam daerah administratif Provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia, tepatnya di antara wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara dan Kabupaten Tabalong. Kerajaan Nan Sarunai merupakan bagian awal dari riwayat panjang Kesultanan Banjar, salah satu pemerintahan kerajaan terbesar yang pernah ada di Kalimantan Selatan.

1. Sejarah

Suku Banjar adalah salah satu suku bangsa terbesar yang mendiami wilayah Kalimantan Selatan. Namun, identitas warga asli Kalimantan Selatan masih menjadi perdebatan, sebab wilayah ini ditempati oleh bermacam-macam orang dari berbagai suku bangsa. Identitas Urang Banjar (orang Banjar) yang asli Melayu ataukah Urang Dayak (orang Dayak) menjadi tema perdebatan masyarakat mengenai asal-usul masyarakat Banjar (Yusuf Hidayat, dalam Jurnal Sosiologi Universitas Airlangga, 2006). Istilah Urang Banjar dimaksudkan untuk menyebut mayoritas penduduk yang mendiami sebagian besar daerah di Provinsi Kalimantan Selatan, meskipun tidak semua warga Kalimantan Selatan beretnis Banjar asli.

Dalam buku Urang Banjar dalam Sejarah, A. Gazali Usman (1989) mencoba memberikan jalan tengah atas ketidaksepahaman yang terjadi antara orang Melayu dan orang Dayak tersebut. Menurut penelitian Usman, yang disebut sebagai Urang Banjar setidaknya terdiri dari etnis Melayu sebagai etnis yang dominan dan ditambah unsur orang-orang Suku Dayak, termasuk Suku Dayak Maanyan (Usman, 1989:1).

a. Suku Dayak Maanyan, Pendiri Kerajaan Nan Sarunai

Suku Banjar pernah mempunyai pemerintahan bernama Kesultanan Banjar yang berdiri sejak tahun 1526 Masehi. Kesultanan ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang karena diawali dari masa yang jauh sebelum masuknya pengaruh Islam yang ditandai dengan berdirinya Candi Laras dan Candi Agung pada masa Hindu-Budha (Bani Noor Muchamad, et.al., 2006:106). Kesultanan Banjar merupakan babak akhir dari rangkaian riwayat sejumlah kerajaan di Kalimantan Selatan pada masa-masa sebelumnya. Pemerintahan yang pertama kali menjadi cikal-bakal Kesultanan Banjar adalah Kerajaan Nan Sarunai. Kerajaan purba yang dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan ini disebutkan dengan nama yang berbeda-beda. Selain Nan Sarunai, nama-nama lain yang juga diyakini sebagai nama kerajaan ini adalah Kerajaan Kuripan, Kerajaan Tanjungpuri, dan Kerajaan Tabalong. Nama Kerajaan Tabalong disertakan karena kerajaan ini terletak di tepi Sungai Tabalong. Sungai Tabalong adalah anak sungai Bahan, sedangkan Sungai Bahan adalah anak Sungai Barito yang bermuara ke Laut Jawa.

Selain itu, muncul pendapat berbeda yang menyatakan bahwa Kerajaan Tanjungpuri berbeda dengan Kerajaan Nan Sarunai. Pendapat ini meyakini bahwa Kerajaan Tanjungpuri bukan pemerintahan yang dikelola oleh Suku Dayak Maanyan, melainkan oleh orang-orang Melayu Palembang yang merupakan pelarian dari Kerajaan Sriwijaya (Suriansyah Ideham, eds., 2007:17). Versi yang satu ini juga menyebutkan bahwa Kerajaan Nan Serunai dan Kerajaan Tanjungpuri berada dalam lingkup ruang dan waktu yang sama. Kerajaan Nan Serunai berpusat di Amuntai, sedangkan Kerajaan Tanjungpuri beribukota di Tanjung.

Keyakinan bahwa pusat Kerajaan Nan Sarunai terletak di Amuntai ditegaskan oleh Alfred Hudson dalam penelitiannya yang bertajuk “The Paju Epat Maanyan in Historical Perspective” (Hudson dalam Indonesia, 4 Oktober 1967:26). Berdasarkan pembagian wilayah administratif Provinsi Kalimantan Selatan pada masa sekarang, kedua tempat itu tidak berada di kabupaten yang sama meskipun lokasi Amuntai dan Tanjung berdekatan dan sama-sama terletak di tepi Sungai Tabalong. Amuntai termasuk dalam wilayah Kabupaten Hulu Utara, sedangkan Tanjung berada di Kabupaten Tabalong.

Nama Sarunai sendiri dimaknai dengan arti “sangat termasyhur” (Ideham, eds., 2003). Penamaan ini bisa jadi mengacu pada kemasyhuran Suku Dayak Maanyan di masa silam, di mana mereka terkenal sebagai kaum pelaut yang tangguh, bahkan mampu berlayar hingga ke Madagaskar di Afrika. Selain itu, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa nama Sarunai berasal dari kata “serunai” yakni alat musik sejenis seruling yang mempunyai tujuh buah lubang. Alat musik ini sering dimainkan orang-orang Suku Dayak Maanyan untuk mengiringi tari-tarian dan nyanyi-nyanyian. Konon, Raja dan rakyat Kerajaan Nan Sarunai sangat gemar menari dan menyanyi. Sebenarnya istilah lengkapnya adalah Nan Sarunai. Kata “nan” diduga berasal dari bahasa Melayu yang kemudian dalam lidah orang Maanyan dilafalkan hanya dengan ucapan Sarunai saja. Dengan demikian, nama “Nan Sarunai” berarti sebuah kerajaan di mana raja dan rakyatnya gemar bermain musik (Sutopo Ukip, 2008).

Periodesasi pemerintahan yang muncul dan berkembang di Asia Tenggara pada umumnya terjadi dalam tiga fase, yaitu negara suku, negara awal, dan negara kerajaan (Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, 2002:1). Kerajaan Nan Sarunai memainkan peranan penting pada fase negara suku dalam konteks sejarah Banjar. Negara suku atau negara etnik mengandaikan bahwa rakyat di pemerintahan itu hanya terdiri dari satu etnik dan tatanannya diatur oleh tradisi yang ditransformasikan dari nenek moyang ke generasi berikutnya (M. Suriansyah Ideham, eds., 2003). Penempatan Kerajaan Nan Sarunai ke dalam fase negara suku dirasa tepat karena kerajaan ini merupakan pemerintahan purba yang dikelola oleh orang-orang dengan karakter yang masih berlingkup kesukuan, yakni Suku Dayak Maanyan. Selain itu, keberadaan Kerajaan Nan Sarunai dapat dikatakan sebagai fondasi awal dalam menyokong berdirinya beberapa pemerintahan pada masa berikutnya, yaitu Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Daha, hingga Kesultanan Banjar. Dengan kata lain, Kerajaan Nan Sarunai adalah mukadimah yang mengawali mata rantai perjalanan sejarah Banjar di Kalimantan Selatan.

Suku Dayak Maanyan, pendiri Kerajaan Nan Sarunai, adalah salah satu sub Suku Dayak tertua di Borneo. Suku Dayak Maanyan termasuk dalam rumpun Ot Danum yang juga dikenal dengan nama Dayak Ngaju. Pada awalnya, orang-orang Suku Dayak Maanyan menetap di tepi Sungai Barito bagian timur (sekarang menjadi Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah). Oleh karena itu, orang-orang Suku Dayak Maanyan mendapat sebutan Kelompok Barito Timur. Orang-orang Suku Dayak Maanyan adalah kaum pelaut yang tangguh. Pada sekitar tahun 600 Masehi, orang-orang Suku Dayak Maanyan diduga pernah berlayar hingga ke Madagaskar, sebuah pulau di pesisir timur Afrika. Pencapaian luar biasa yang berhasil dilakukan Suku Dayak Maanyan ini seperti yang ditulis oleh Hudson yang menyebutkan bahwa ada persamaan antara bahasa orang Madagaskar dengan bahasa orang Maanyan (Hudson dalam Indonesia, 4 Oktober 1967:17).

Ketangguhan melaut orang-orang Suku Dayak Maanyan lama-kelamaan mulai berkurang karena terjadi proses pendangkalan di lingkungan maritim tempat mereka hidup. Areal pesisir yang selama ini menjadi lingkungan mereka sehari-hari mengalami penyurutan dan perlahan-lahan berubah menjadi daratan sehingga orang-orang Dayak Maanyan kehilangan budaya maritim yang dulu mereka miliki. Pada zaman purba, wilayah Kalimantan bagian tengah masih berwujud sebuah teluk besar. Fenomena pendangkalan ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya migrasi yang dilakukan oleh orang-orang Dayak Maanyan. Daerah tujuan para imigran Suku Dayak Maanyan adalah di tempat yang dalam Hikayat Banjar disebut dengan nama Pulau Hujung Tanah. Sedangkan Negarakrtagama karya pujangga Majapahit, Mpu Prapanca, yang ditulis pada tahun 1365 M, menyebut tempat itu sebagai Tanjung Negara (http://banjarcyber.tripod.com). Terdapat dua lokasi di masa sekarang yang diperkirakan merupakan bekas wilayah Pulau Hujung Tanah, yakni Amuntai dan Tanjung, yang keduanya terletak tidak jauh dari Pegunungan Meratus yang memang dikisahkan membentang di timur Pulau Hujung Tanah, tempat di mana Kerajaan Nan Sarunai berdiri.

Orang-orang Suku Dayak Maanyan adalah golongan Dayak Mongoloid yang merupakan gelombang migrasi orang-orang Dayak pertama ke wilayah Kalimantan Selatan. Peradaban Suku Dayak Maanyan dibuktikan dengan ditemukannya fosil-fosil manusia purba di Gua Batu Babi di Kabupaten Tabalong (Tajuddin Noor Ganie, 2009). Penelitian tentang “Ekskavasi Situs Gua Babi Tahap V Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan” yang dilakukan oleh Harry Widianto dan Handini (1999/2000) menyebutkan bahwa banyak sekali peninggalan bersejarah yang ditemukan di Gua Babi, antara lain berupa artefak batu, tulang, komponen tubuh manusia, dan cangkang moluska (Widianto & Handini, dalam Laporan Penelitan Arkeologi Banjarmasin, 1999/2000).

b. Bukti-bukti Keberadaan Kerajaan Nan Sarunai

Sejauh ini belum banyak referensi yang bersifat ilmiah dan secara proporsional menjelaskan tentang riwayat Kerajaan Nan Sarunai mengingat usia kerajaan ini yang sudah sangat tua. Sumber-sumber yang digunakan selama ini adalah cerita tutur yang termaktub dalam Hikayat Banjar. Sejarah Indonesia pada umumnya dalam menjelaskan suatu negara tradisional sangat bertumpu pada historiografi tradisional, seperti babad, hikayat, atau cerita rakyat. Historiografi tradisional mempunyai ciri-ciri yang menonjol dan saling berkaitan, yaitu etnosentrisme, rajasentrisme, dan antroposentrisme (Sartono Kartodirdjo, 1993:7). Informasi yang diperoleh dari Hikayat Banjar ditandai oleh sifat-sifat mistis, legendaris, dan tidak ada unsur waktu dalam urutan ceritanya (Idehams, eds.,2003). Hikayat Banjar adalah manuskrip tua yang telah lama dikenal di Kalimantan Selatan sejak zaman Kesultanan Banjar. Hikayat yang juga dikenal dengan sebutan Tutur Candi dan Sejarah Lambung Mangkurat ini mengisahkan tentang sejarah raja-raja Banjar dan Kota Waringin di Kalimantan Selatan. Bagian akhir dari Hikayat Banjar adalah bertarikh 1663 M atau masa-masa setelahnya. Hikayat Banjar masih diyakini oleh sebagian besar masyarakat Banjar hingga saat ini (www.semestaindonesia.com).

Hikayat Banjar ditulis sepanjang 4.787 baris atau 120 halaman. Namun, sebagian besar isi dari hikayat ini lebih banyak menceritakan tentang kerajaan-kerajaan setelah era Kerajaan Nan Sarunai, yakni Kerajaan Negara Dipa, Kerajaan Daha, dan Kesultanan Banjar. Riwayat Nan Sarunai sangat sedikit disinggung, terutama menjelang keruntuhannya. Kisah tentang Kerajaan Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar lebih menyerupai tradisi lisan, yakni nyanyian Suku Dayak Maanyan (wadian) yang kemudian ditransformasikan secara turun temurun. Tradisi lisan orang Dayak Maanyan mengisahkan bahwa mereka sudah memiliki negara suku bernama Nan Sarunai (MZ Arifin Anis, 1994). Nyanyian wadian menceritakan peristiwa tragis tentang runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai akibat serangan dari Kerajaan Majapahit pada sekitar abad ke-13 (Ideham, eds., 2007:16).

Menurut Johannes Jacobus Ras (1968), Hikayat Banjar terbagi menjadi dua versi. Versi pertama merupakan versi yang telah diubah dan disusun pada masa Kesultanan Banjar yang secara definitif telah memeluk agama Islam, sedangkan versi kedua dianggap sebagai versi yang berasal dari Negara Dipa yang memeluk agama Hindu (Ras, 1968:238). Dari analisis Ras ini dapat ditarik kesimpulan bahwa penjelasan mengenai sejarah Kerajaan Nan Sarunai dalam Hikayat Banjar memang hanya mendapat porsi yang sedikit karena, Negara Dipa, yang banyak dibahas dalam Hikayat Banjar versi kedua, baru muncul setelah era Kerajaan Nan Sarunai berakhir.

Kerajaan Nan Sarunai adalah suatu pemerintahan purba yang diperkirakan sudah eksis sejak zaman Sebelum Masehi. Salah satu bukti adalah ditemukannya peninggalan arkeologis yang diduga kuat berasal dari zaman di mana Kerajaan Nan Sarunai masih eksis. Jejak arkeologis Nan Sarunai di masa purba itu adalah sebuah candi yang ditemukan di Amuntai. Amuntai adalah salah satu tempat yang sangat mungkin menjadi tempat bermukim orang-orang Suku Dayak Maanyan yang kemudian mendirikan peradaban Kerajaan Nan Sarunai. Pada tahun 1996, dilakukan pengujian terhadap candi tersebut. Hasil penyelidikan itu cukup mengejutkan karena hasil pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di Amuntai tersebut menghasilkan kisaran angka tahun antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi (Kusmartono & Widianto, 1998:19-20). Jika penelitian ini benar adanya, maka usia Kerajaan Nan Sarunai jauh lebih tua dibandingkan dengan Kerajaan Kutai Martapura di Kalimantan Timur (berdiri pada abad ke-5 M) yang selama ini diyakini sebagai kerajaan tertua di nusantara.

Berdasarkan hasil penelitian tentang pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di Amuntai menghasilkan angka kisaran tahun 242-226 SM, maka dapat disimpulkan bahwa usia Kerajaan Nan Sarunai sangat panjang karena kerajaan ini runtuh pada tahun 1362 M. Akan tetapi, perlu dicermati lagi bahwa kendati Kerajaan Nan Sarunai diperkirakan sudah ada sejak zaman Sebelum Masehi, namun yang dimaksud dengan kerajaan pada masa itu kemungkinan besar masih berbentuk sangat sederhana.

Pusat pemerintahan Kerajaan Nan Serunai diduga beberapa kali perpindahan di sekitar Kabupaten Hulu Sungai dan Kabupaten Tabalong saat ini, namun masih di seputaran Sungai Tabalong. Selain di Pulau Hujung Tanah, leluhur etnis Maanyan konon pernah bermukim di tempat yang bernama Margoni, yakni sebuah tempat yang selalu diliputi awan. Tempat yang dimaksud mungkin simbolisasi dari negeri khayangan atau setidak-tidaknya negeri di atas gunung (Sutopo Ukip, 2008). Dengan arti kiasan itu juga bisa dilihat kemungkinan bahwa yang dimaksud nenek moyang Suku Dayak Maanyan adalah dewa-dewa yang bersemayam di tempat yang selalu diliputi awan alias khayangan.

Dalam artikel berjudul “Pangeran Samudra dari Dayak Maanyan?” yang ditulis oleh Noorselly Ngabut atau yang lebih dikenal dengan nama Babe Kuden disebutkan, orang-orang Suku Dayak Manyaan sempat menetap di sebuah tempat yang bernama Pupur Purumatung (Babe Kuden, dalam Banjarmasin Post, 21 September 2005). Semua anggota kelompok etnis Suku Maanyan tinggal dan menjadi satu di tempat ini. Masih menurut Babe Kuden, pusat pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai pernah berlokasi di daerah yang bernama Lili Kumeah. Konon, Lili Kumeah didirikan oleh Datu Sialing dan Damung Gamiluk Langit yang  memimpin anggota masyarakat etnis Maanyan atau warga Kerajaan Nan Sarunai. (Babe Kuden, dalam Banjarmasin Post, 21 September 2005).

c. Keruntuhan Kerajaan Nan Sarunai

Dalam perjalanan sejarahnya yang sangat panjang, Kerajaan Nan Sarunai mengalami suatu masa penting di mana orang-orang Maanyan berinteraksi dengan orang-orang Melayu Palembang yang datang dari Kerajaan Sriwijaya. Peristiwa itu diperkirakan terjadi pada awal abad ke-11 di mana Sriwjaya mulai menuai keruntuhannya akibat serangan dari Kerajaan Cola (India). Menurut Paul Michel Munoz (2006), antara tahun 1079-1088 M, pusat Kerajaan Sriwijaya telah berrgeser dari Palembang ke Jambi. (Munoz, 2006:165-167). Ekspedisi Cola telah melemahkan Palembang, dan Jambi telah menggantikannya sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya meskipun kekuatan dan kebesarannya sudah jauh menurun. Pada masa-masa menjelang keruntuhan Kerajaan Sriwijaya itulah orang-orang Melayu Palembang beramai-ramai menyelamatkan diri. Mereka tercerai-berai ke berbagai tempat, salah satunya tiba di daerah di sekitar Sungai Tabalong tempat di mana orang-orang Maanyan menjalani kehidupan di bawah panji-panji Kerajaan Nan Serunai.

Orang-orang Melayu Palembang itu kemudian ikut menetap di dekat wilayah kekuasaan Kerajaan Nan Serunai, dan terjadilah pembauran di antara mereka. Kedatangan kaum imigran dari Sriwijaya ini ditegaskan oleh Alfani Daud (1997) yang menyebutkan bahwa penduduk asli sebagian wilayah Kalimantan Selatan diduga berintikan penduduk asal Sumatra, tepatnya Palembang, yang membangun tanah baru di kawasan ini dan banyak di antaranya yang kemudian bercampur dengan suku bangsa yang terlebih dulu datang, yang tidak lain adalah orang-orang Maanyan (Daud, 1997:44). Perpaduan inilah yang diduga menurunkan orang-orang Suku Banjar. Sejak zaman prasejarah, suku bangsa yang tinggal di Kalimantan memang sudah memiliki ciri-ciri yang menunjukkan identitas mereka sebagai suku bangsa ras Melayu atau Malayan Mongoloid (Dwi Putro Sulaksono, 2008:2).

Kerajaan Nan Sarunai ketika itu sudah menjadi negara yang makmur. Kebesaran Kerajaan Nan Sarunai disebabkan karena kegemilangan mereka dalam bidang perdagangan di mana Kerajaan Nan Sarunai telah menjalin hubungan perniagaan dengan negeri-negeri lain, termasuk Indragiri, Majapahit, Bugis, bahkan hingga Madagaskar. Lili Kumeah berkembang menjadi tempat permukiman yang ramai. Teluk Sarunai menjadi tempat persinggahan yang ramai bagi perahu dagang yang datang dari berbagai penjuru. Lili Kumeah semakin pesar perkembangannya hingga akhirnya menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai yang gilang-gemilang (Ganie, 2009).

Kejayaan yang diraih Kerajaan Nan Sarunai tersebut justru membuat Majapahit tergiur untuk menaklukannya. Tajuddin Noor Ganie (2009) menyebutkan bahwa pada tahun 1355 M, Raja Majapahit, Hayam Wuruk, memerintahkan Empu Jatmika memimpin armada perang untuk menyerbu Kerajaan Nan Sarunai. Pada tahun 1355 itu, pasukan Empu Jatmika berhasil menaklukan Kerajaan Nan Sarunai dan menjadikannya sebagai bagian dari Majapahit. Peristiwa ini diabadikan oleh para seniman lokal dalam tutur wadian atau puisi ratapan yang dilisankan dalam bahasa Maanyan. Para seniman lokal mengenang keruntuhan Kerajaan Nan Sabunai sebagai peristiwa “Usak Jawa” atau “Penyerangan oleh Kerajaan Jawa” (Ganie, 2009).Tentang runtuhnya Kerajaan Nan Sarunai, Fridolin Ukur menyebutnya sebagai sebuah kerajaan orang Dayak Maanyan yang rusak oleh Jawa (Ukur, 1977:46).

Setelah penyerangan oleh Kerajaan Majapahit itulah riwayat Kerajaan Nan Sarunai berakhir. Empu Jatmika sendiri kemudian mendirikan kerajaan baru di atas tanah Nan Sarunai, yaitu pemerintahan bercorak Hindu yang diberi nama Kerajaan Negara Dipa, meski Empu Jatmika tidak pernah menjadi Raja Negara Dipa secara resmi. Sementara itu, setelah Kerajaan Nan Sarunai runtuh, Suku Dayak Maanyan masih mempunyai tokoh panutan, yakni Putri Junjung Buih, anak sulung dari raja terakhir Kerajaan Nan Sarunai (Ganie, 2009). Pada akhirnya, Putri Junjung Buih menikah dengan Pangeran Suryanata, anak laki-laki Raja Hayam Wuruk yang kemudian bertahta sebagai penguasa Kerajaan Negara Dipa.

Di sisi lain, banyak warga Kerajaan Nan Sarunai yang terpaksa melarikan diri karena serangan Majapahit. Akibat eksodus massal tersebut, Suku Dayak Maanyan terpecah dan tersebar menjadi tujuh suku kecil, yaitu: (1) Maanyan Siung yang bermukim di Telang, Paju Epat, dan Buntok, (2) Maanyan Patai yang berdiam di aliran Sungai Patai, (3) Maanyan Paku yang berdomisili di wilayah Tampa, (4) Maanyan Paju X yang menetap di sepankang aliran sungai Karau dan Barito, (5) Maanyan Paju Epat yang menghuni aliran Sungai Dayu, dan (7) Maanyan yang tinggal di wilayah Bintang Karang, Tumpang Murung, Dusun Timur, Tamiang Layang, Belawa, Tupangan Daka, dan Barito (Hudson, dalam Indonesia, 4 Oktober 1967:26).

2. Silsilah Raja-raja

Sejarah Kerajaan Nan Sarunai yang sangat panjang ternyata tidak diimbangi dengan referensi data yang valid, termasuk informasi mengenai silsilah raja-rajanya. Dari berbagai sumber yang ditemukan, hanya sekelumit saja yang menyinggung nama orang-orang yang diperkirakan pernah menjadi kepala pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai. Noorselly Ngabut alias Babe Kuden hanya berhasil menemukan dua orang saja dari sekian banyak raja yang pernah memimpin Kerajaan Nan Sarunai.

Dalam tulisannya, Babe Kuden menyebut nama Datu Sialing dan Datu Gamiluk Langit. Kedua orang ini diduga pernah berperan sebagai pemimpin Suku Dayak Manyaan sekaligus raja Kerajaan Nan Sarunai. Namun, belum diketahui apakah mereka berdua memerintah secara bersama-sama atau bergantian. Informasi yang paling jelas adalah bahwa Datu Sialing dan Datu Gamiluk Langit adalah dua orang yang memimpin sekelompok anggota masyarakat etnis Maanyan untuk mencari tempat pemukiman baru yang lebih menjanjikan sebagai tempat penghidupan (Babe Kuden, dalam Banjarmasin Post, 21 September 2005). Akhirnya, mereka mendirikan pusat pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai di sebuah tempat yang bernama Lili Kumeah.

Sementara itu, Sutopo Ukip dalam artikelnya yang diberi judul “Balai Adat Jadi Lambang Persaudaraan Orang Maanyan, Banjar, dan Madagaskar”, dituliskan bahwa pada tahun 1309 M, terdapat seorang raja yang memimpin Kerajaan Nan Serunai, bernama Raden Japutra Layar yang memerintah pada kurun 1309-1329 M. Gelar raden yang disandang sang raja berasal dari Kerajaan Majapahit, karena Japutra Layar sebelum menjadi Raja Nan Sarunai adalah seorang pedagang yang sering bergaul dengan para bangsawan dari Majapahit (Sutopo Ukip, 2008).

Ukip meyakini bahwa Raden Japutra Layar adalah raja pertama Kerajaan Nan Sarunai. Keyakinan Ukip ini mungkin didasarkan pada pola, sistem, dan struktur pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai yang sudah menjadi jauh lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya. Seperti diketahui, Kerajaan Nan Sarunai adalah pemerintahan yang dikelola oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan dan diduga sudah eksis pada kisaran waktu antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi sehingga diperkirakan sistem pemerintahannya, termasuk dalam hal kepemimpinan, belum terorganisir dengan baik. Masih menurut Ukip, penerus Raden Japutra Layar sebagai pemimpin Kerajaan Nan Sarunai adalah Raden Neno (1329-1349) dan kemudian Raden Anyan (1349-1355). Raden Anyan, bergelar Datu Tatuyan Wulau Miharaja Papangkat Amas, adalah raja terakhir Kerajaan Nan Sarunai sebelum riwayat kerajaan ini tamat akibat serangan dari Kerajaan Majapahit.

3. Sistem Pemerintahan

Sistem pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai pada masa purba belum diketahui dengan pasti. Namun, sebelum kerajaan ini berdiri, terlebih dulu terdapat beberapa komunitas dari Suku Dayak Maanyan yang memilikim pusat kekuasaan masing-masing. Pada suatu ketika, pusat-pusat kekuasaan itu berhasil dipersatukan dalam suatu pusat kekuasaan yang lebih luas (Alfani Daud, 1997:2). Ketika penataan organisasi dalam gabungan komunitas Suku Dayak Maanyan tersebut berhasil dioperasionalkan, meski dengan bentuk yang masih sangat sederhana, maka kemudian terbentuklah sebuah negara suku yang dikenal dengan nama Kerajaan atau Negara Nan Sarunai (Ideham, eds., 2003). Selain itu, pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai dikategorikan sebagai peradaban yang masih “primitif” (Ideham, eds., 2007:17). Negara atau kerajaan “primitif” tidak bersifat tirani bagi yang diperintahnya (Georges Balandier, 1986:192). Oleh karena itu, sebagai negara “primitif”, maka staf administrasi tidak ditemukan dalam struktur pemerintahan Kerajaan Nan Sarunai (Ideham, eds., 2007:16).

Orang-orang Maanyan di Kerajaan Nan Sarunai adalah masyarakat yang homogen (Ideham, eds., 2003). Mereka menata kehidupan komunitasnya dengan sangat harmonis sesuai dengan aturan adat yang berisi hukum tradisional, termasuk larangan-larangan dalam hukum adat. Hubungan fundamental di dalam lingkungan Kerajaan Nan Sarunai tercipta berdasarkan genealogis yang disebut ipulaksanai yang berarti “bersambung usus”. Dalam konteks sistem kekerabatan di lingkungan Kerajaan Nan Sarunai, ipulaksanai dapat dimaknai sebagai saudara atau kerabat. Dengan demikian, Kerajaan Nan Sarunai lebih cenderung berperan sebagai media untuk kepentingan rakyatnya. Hubungan antar personal di dalam lingkungan Kerajaan Nan Sarunai diikat oleh jalinan kekeluargaan berdasarkan satu keturunan (Ideham, eds., 2007:16).

Raja tetap memiliki kekuasaan tertinggi sebagai kepala suku maupun kepala pemerintahan. Otoritas tradisional yang berlaku di lingkungan Kerajaan Nan Sarunai adalah patrikalisme yang pengawasannya berada di tangan seorang individu tertentu yang memiliki kewenangan warisan (Ideham, eds., 2007:16). Pemimpin Kerajaan Nan Sarunai mengendalikan pemerintahan dari sebuah rumah panjang bertipe rumah panggung yang dikenal sebagai Rumah Betang atau Rumah Lamin. Rumah Betang ini tidak lain merupakan istana bagi Raja Nan Sarunai. Rumah Betang mempunyai ciri khusus untuk membedakannya dari rumah-rumah biasa, yakni Rumah Betang tersebut berbentuk tanda plus (Ideham, eds., 2007:16).

Kehidupan orang-orang Suku Dayak Manyaan di Kerajaan Nan Serunai berlangsung hingga berabad-abad lamanya. Selama kurun waktu ribuan tahun itu, sistem pemerintahan yang berlaku di Kerajaan Nan Sarunai masih dijalankan secara sederhana. Baru pada tahun pada tahun 1309 M, Kerajaan Nan Sarunai dianggap sudah memiliki sistem pemerintahan yang lebih baik ketika dipimpin oleh seorang raja yang bernama Raden Japutra Layar (Sutopo Ukip, 2008). Pada masa ini, sistem pemerintahan, termasuk dalam hal pemberian gelar kehormatan, di dalam Kerajaan Nan Sarunai sudah terpengaruh tradisi dari Kerajaan Majapahit. Gelar raden diberikan secara khusus hanya untuk seorang raja, sedangkan para bangsawan lainnya memakai gelar patih, uria, damong, pating’i, datu, dan sebagainya (Ideham, eds., 2007:16).

4. Wilayah Kekuasaan

Daerah-daerah yang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Nan Sarunai adalah meliputi sebagian besar tempat yang sekarang termasuk dalam wilayah administratif Kabupaten Hulu Utara dan Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan. Diperkirakan, wilayah kekuasaan Kerajaan Nan Sarunai terbentang luas dari Tabalong hingga ke daerah Pasir (Licco Indrawan dalam http://indonesia-life.info). Orang-orang Suku Dayak Maanyan, juga ketika sudah mendirikan Kerajaan Nan Sarunai, sering berpindah-pindah tempat bermukim, namun masih berlokasi di sekitar Sungai Tabalong dan dekat dengan Pegunungan Meratus.

Beberapa tempat yang pernah menjadi wilayah permukiman orang-orang Suku Dayak Maanyan sekaligus sebagai wilayah kekuasaan Kerajaan Nan Sarunai antara lain: Pulau Hujung Tanah, Kuripan, Lili Kumeah, Margoni, Sinobala, Lalung Kawung, Lalung Nyawung, Sidamatung, Etuh Bariungan, dan Pupur Purumatung (Ganie, 2009). Selain itu, masih ada sejumlah tempat lain yang secara kronologis pernah digunakan sebagai tempat bermukim oleh orang-orang Suku Dayak Maanyan, antara lain Gunung Rumung, Katuping Balah, Wamman Sabuku, Patukangan, Labuhan Amas, Bakumpai Lawas, Abun Alas, Muara Binsu, Danau Salak Dangka Nangki, Kupang Sunung, Danaukien, Tuntang Alu, dan Baras Ruku (Ideham, eds., 2007:16).

(Iswara N. Raditya/Ker/15/03-2010)

Referensi:

  • A. Gazali Usman, 1989. Urang Banjar dalam sejarah. Banjarmasin: Lambung Mangkurat University Press.
  • Alfani Daud, 1997. Islam dan masyarakat Banjar: Deskripsi dan analisis kebudayaan Banjar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
  • “Asal-usul Suku Banjar”, tersedia di http://banjarcyber.tripod.com, data diunduh pada tanggal 24 Maret 2010.
  • Babe Kuden, “Pangeran Samudra dari Dayak Maanyan?”, dalam Banjarmasin Post, 21 September 2005.
  • Balandier, Georges, 1986. Antropologi politik. Jakarta: Rajawali.
  • Bani Noor Muchamad, et.al., 2006. “Melacak arsitektur Keraton Banjar”, dalam Dimensi Teknik Arsitektur, No. 34, No. 2, Desember 2006.
  • Dwi Putro Sulaksono, 2008. Determinisme dan perubahan kebudavaan: Studi antropologi Dayak desa hutan Kalimantan. Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Banjarbaru: Scripta Cendikia.
  • Harry Widianto & Handini, “Ekskavasi Situs Gua Babi Tahap V Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan”, dalam Laporan penelitian arkeologi Banjarmasin, 1999/2000.
  • Fridolin Ukur, 1977, Tanya Jawab tentang Suku Dayak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
  • Harry Widianto, et.al., “Ekskavasi Situs Gua Babi di Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan”, dalam Berita Penelitian Antropologi, No. 1, 1997, Balai Arkeologi Banjarmasin.
  • “Hikayat Banjar Nagara Dipa (Amuntai) dan Nagara Daha”, tersedia di www.semestaindonesia.com, data diunduh pada tanggal 24 Maret 2010.
  • Hudson, Alfred. “The Paju Epat Maanyan in historical perspective”, dalam Indonesia, 4 Oktober 1967. Cornell University-Ithaca, New York, hlm. 17.
  • Licco Indrawan, “Kesultanan Banjar”, tersedia di http://indonesia-life.info, data diunduh pada tanggal 25 Maret 2010.
  • M. Suriansyah Ideham, eds., 2003. Sejarah Banjar. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Daerah Propinsi Kalimantan Selatan.
  • M. Suriansyah Ideham, eds., 2007. Urang Banjar dan kebudayaannya. Banjarmasin: Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan dan Pustaka Banua.
  • Munoz, Paul Michel, 2006. Early kingdoms of the Indonesian archipelago and the Malay peninsula. Singapura: Edition Didier Millet.
  • MZ Arifin Anis, “Elite tandingan dan gerakan massa di Kalimantan tenggara bagian selatan pada abad XIX”, tersedia di http://fnonk.wordpress.com, data diunduh pada tanggal 24 Maret 2010.
  • MZ Arifin Anis, 1994, “Struktur birokrasi dan sirkulasi elite di Kerajaan Banjar pada abad XIX”, tesis Fakultas Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
  • Ras, Johannes Jacobus, 1968. Hikayat Bandjar: A study in Malay historiography. S’Gravenhage: N.V. De nederlandsche Boeken Steendrukkerij v/h H.L. Smits.
  • Sartono Kartodirdjo, 1993, “Historiografi tradisional, model, fungsi, dan strukturnya, dalam Makalah Simposium Internasional Ilmu Humaniora I, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
  • Sutopo Ukip, 2008, “Balai Adat jadi lambang persaudaraan Orang Maanyan, Banjar, dan Madagaskar”, dalam http://bahasamaanyan.blogspot.com, data diunduh pada tanggal 24 Maret 2010.
  • Tajuddin Noor Ganie, “Sejarah kehidupan di Tanah Banjar”, tersedia di http://tajudinnoorganie.blogspot.com, data diunduh pada tanggal 14 Maret 2010.
  • Vida Pervaya Rusianti Kusmartono & Harry Widianto, 1998. “Ekskavasi Situs Candi Agung Kabupaten North Upper Coarse, South Kalimantan”, dalam Berita Penelitian Arkeologi, 02/1998. Banjarmasin: Hall Arkeologi Banjarmasin.
  • Vida Pervaya Rusianti Kusmartono, “Pemerintahan early state Negara Dipa di Kalimantan Selatan. Makalah disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi IX dan Kongres IAAI 2002, Kediri, 23-27 Juli 2002.
  • Yusuf Hidayat, “Politik identitas: Dari identitas lokal menuju identitas nasional”, dalam Jurnal Sosiologi Universitas Airlangga, Volume 2, No 1, 2006.
Dibaca : 9.638 kali.

Komentar untuk "kerajaan nan sarunai"

23 Jul 2010. mudjahidin
masalah wilayah nan sarunai , tanjung puri, kerajaan kuripan/candi agung dan daha banyak versinya sampai sekarang masalah sejarah sersebut di atas masih diperdebatkan karena : antara Persepsi sejarah dengan Logical tidak selaras(mudjahidin S. Pemerhati sejarah Banjar, Dayak, dan melayu Kalimantan
23 Jul 2010. mudjahidin
sebagai bahan masukan/perbandingan klik google.com makalah : dari zaman megalitik-tanjung puri- candi laras sampai panglima batur (hasil penelitian mudjahidin th 67-68 di pedalaman kaltim, kalsel,kalteng.)
06 Jan 2013. Yulius Johannis
hasil pengujian terhadap sampel arang candi yang ditemukan di Amuntai tersebut menghasilkan kisaran angka tahun antara 242 hingga 226 Sebelum Masehi (Kusmartono & Widianto, 1998:19-20)
06 Jan 2013. Yulius Johannis
Jadi kerajaan purba ini berdiri jauh sebelum kerajaan-kerajaan hindu yang lain, termasuk juga Kutai

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password