Jumat, 18 April 2014   |   Sabtu, 17 Jum. Akhir 1435 H
Pengunjung Online : 1.091
Hari ini : 5.033
Kemarin : 23.836
Minggu kemarin : 148.067
Bulan kemarin : 2.006.207
Anda pengunjung ke 96.607.256
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Kesultanan Malaka

a:3:{s:3:

1. Sejarah

a. Pendiri

Kerajaan Malaka didirikan oleh Parameswara antara tahun 1380-1403 M. Parameswara berasal dari Sriwijaya, dan merupakan putra Raja Sam Agi. Saat itu, ia masih menganut agama Hindu. Ia melarikan diri ke Malaka karena kerajaannya di Sumatera runtuh akibat diserang Majapahit. Pada saat Malaka didirikan, di situ terdapat penduduk asli dari Suku Laut yang hidup sebagai nelayan. Mereka berjumlah lebih kurang tiga puluh keluarga. Raja dan pengikutnya adalah rombongan pendatang yang memiliki tingkat kebudayaan yang jauh lebih tinggi, karena itu, mereka berhasil mempengaruhi masyarakat asli. Kemudian, bersama penduduk asli tersebut, rombongan pendatang mengubah Malaka menjadi sebuah kota yang ramai. Selain menjadikan kota tersebut sebagai pusat perdagangan, rombongan pendatang juga mengajak penduduk asli menanam tanaman yang belum pernah mereka kenal sebelumnya, seperti tebu, pisang, dan rempah-rempah.

Rombongan pendatang juga telah menemukan biji-biji timah di daratan. Dalam perkembangannya, kemudian terjalin hubungan perdagangan yang ramai dengan daratan Sumatera. Salah satu komoditas penting yang diimpor Malaka dari Sumatera saat itu adalah beras. Malaka amat bergantung pada Sumatera dalam memenuhi kebutuhan beras ini, karena persawahan dan perladangan tidak dapat dikembangkan di Malaka. Hal ini kemungkinan disebabkan teknik bersawah yang belum mereka pahami, atau mungkin karena perhatian mereka lebih tercurah pada sektor perdagangan, dengan posisi geografis strategis yang mereka miliki.

Berkaitan dengan asal usul nama Malaka, bisa dirunut dari kisah berikut. Menurut Sejarah Melayu (Malay Annals) yang ditulis Tun Sri Lanang pada tahun 1565, Parameswara melarikan diri dari Tumasik, karena diserang oleh Siam. Dalam pelarian tersebut, ia sampai ke Muar, tetapi ia diganggu biawak yang tidak terkira banyaknya. Kemudian ia pindah ke Burok dan mencoba untuk bertahan disitu, tapi gagal. Kemudian Parameswara berpindah ke Sening Ujong hingga kemudian sampai di Sungai Bertam, sebuah tempat yang terletak di pesisir pantai. Orang-orang Seletar yang mendiami kawasan tersebut kemudian meminta Parameswara menjadi raja. Suatu ketika, ia pergi berburu. Tak disangka, dalam perburuan tersebut, ia melihat salah satu anjing buruannya ditendang oleh seekor pelanduk. Ia sangat terkesan dengan keberanian pelanduk tersebut. Saat itu, ia sedang berteduh di bawah pohon Malaka. Maka, kawasan tersebut kemudian ia namakan Malaka.

Dalam versi lain, dikatakan bahwa sebenarnya nama Malaka berasal dari bahasa Arab Malqa, artinya tempat bertemu. Disebut demikian, karena di tempat inilah para pedagang dari  berbagai negeri bertemu dan melakukan transaksi niaga. Demikianlah, entah versi mana yang benar, atau boleh jadi, ada versi lain yang berkembang di masyarakat.

b. Politik Negara

Dalam menjalankan dan menyelenggarakan politik negara, ternyata para sultan menganut paham politik hidup berdampingan secara damai (co-existence policy) yang dijalankan secara efektif. Politik hidup berdampingan secara damai dilakukan melalui hubungan diplomatik dan ikatan perkawinan. Politik ini dilakukan untuk menjaga keamanan internal dan eksternal Malaka. Dua kerajaan besar pada waktu itu yang harus diwaspadai adalah Cina dan Majapahit. Maka, Malaka kemudian menjalin hubungan damai dengan kedua kerajaan besar ini. Sebagai tindak lanjut dari politik negara tersebut, Parameswara kemudian menikah dengan salah seorang putri Majapahit.   

Sultan-sultan yang memerintah setelah Prameswara (Muhammad Iskandar Syah)) tetap menjalankan politik bertetangga baik tersebut. Sebagai bukti, Sultan Mansyur Syah (1459—1477) yang memerintah pada masa awal puncak kejayaan Kerajaan Malaka juga menikahi seorang putri Majapahit sebagai permaisurinya. Di samping itu, hubungan baik dengan Cina tetap dijaga dengan saling mengirim utusan. Pada tahun 1405 seorang duta Cina Ceng Ho datang ke Malaka untuk mempertegas kembali persahabatan Cina dengan Malaka. Dengan demikian, kerajaan-kerajaan lain tidak berani menyerang Malaka.

Pada tahun 1411, Raja Malaka balas berkunjung ke Cina beserta istri, putra, dan menterinya. Seluruh rombongan tersebut berjumlah 540 orang. Sesampainya di Cina, Raja Malaka beserta rombongannya disambut secara besar-besaran. Ini merupakan pertanda bahwa, hubungan antara kedua negeri tersebut terjalin dengan baik. Saat akan kembali ke Malaka, Raja Muhammad Iskandar Syah mendapat hadiah dari Kaisar Cina, antara lain ikat pinggang bertatahkan mutu manikam, kuda beserta sadel-sadelnya, seratus ons emas dan perak, 400.000 kwan uang kertas, 2600 untai uang tembaga, 300 helai kain khasa sutra, 1000 helai sutra tulen, dan 2 helai sutra berbunga emas. Dari hadiah-hadiah tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa, dalam pandangan Cina, Malaka adalah kerajaan besar dan diperhitungkan.

Di masa Sultan Mansur Syah, juga terjadi perkawinan antara Hang Li Po, putri Maharaja Yung Lo dari dinasti Ming, dengan Sultan Mansur Shah. Dalam prosesi perkawinan ini, Sultan Mansur Shah mengirim Tun Perpateh Puteh dengan serombongan pengiring ke negeri China untuk menjemput dan membawa Hang Li Po ke Malaka. Rombonga ini tiba di Malaka pada tahun 1458 dengan 500 orang pengiring.

Demikianlah, Malaka terus berusaha menjalankan politik damai dengan kerajaan-kerajaan besar. Dalam melaksanakan politik bertetangga yang baik ini, peran Laksamana Malaka  Hang Tuah sangat besar. Laksamana yang kebesaran namanya dapat disamakan dengan Gajah Mada atau Adityawarman ini adalah tangan kanan Sultan Malaka, dan sering dikirim ke luar negeri mengemban tugas kerajaan. Ia menguasai bahasa Keling, Siam dan Cina.

c. Hang Tuah

Hang Tuah lahir di Sungai Duyung Singkep. Ayahnya bernama Hang Machmud dan ibunya bernama Dang Merdu. Kedua orang tuanya adalah rakyat biasa yang hidup sebagai petani dan penangkap ikan.

Keluarga Hang Tuah kemudian pindah ke Pulau Bintan. Di sinilah ia dibesarkan. Dia berguru di Bukit Lengkuas, Bintan Timur. Pada usia yang masih muda, Hang Tuah sudah menunjukkan kepahlawanannya di lautan. Bersama empat orang kawan seperguruannya, yaitu Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiyu, mereka berhasil menghancurkan perahu-perahu bajak laut di sekitar perairan dan selat-selat di Kepulauan Riau, sekalipun musuh mereka jauh lebih kuat.

Karena kepahlawanan Hang Tuah dan kawan-kawannya tersebut, maka Sultan Kerajaan Malaka mengangkat mereka sebagai prajurit kerajaan. Hang Tuah sendiri kemudian diangkat menjadi Laksamana Panglima Angkatan Laut Kerajaan Malaka. Sedangkan empat orang kawannya tersebut di atas, kelak menjadi prajurit Kerajaan Malaka yang tangguh.

Dalam pengabdiannya demi kebesaran Malaka, Laksamana Hang Tuah dikenal memiliki semboyan berikut.

  1. Esa hilang dua terbilang
  2. Tak Melayu hilang di bumi.
  3. Tuah sakti hamba negeri.

Hingga saat ini, orang Melayu masih mengagungkan Hang Tuah, dan keberadaanya hampir menjadi mitos. Namun demikian, Hang Tuah bukanlah seorang tokoh gaib. Dia meninggal di Malaka dan dimakamkan di tempat asalnya, Sungai Duyung di Singkep.

d. Malaka Sebagai Pusat Penyebaran Agama Islam

Sebelum muncul dan tersebarnya Islam di Semenanjung Arabia, para pedagang Arab telah lama mengadakan hubungan dagang di sepanjang jalan perdagangan antara Laut Merah dengan Negeri Cina. Berkembangnya agama Islam semakin memberikan dorongan pada perkembangan perniagaan Arab, sehingga jumlah kapal maupun kegiatan perdagangan mereka di kawasan timur semakin besar.

Pada abad VIII, para pedagang Arab sudah banyak dijumpai di pelabuhan Negeri Cina. Diceritakan, pada tahun 758 M, Kanton merupakan salah satu tempat tinggal para pedagang Arab. Pada abad IX, di setiap pelabuhan yang terdapat di sepanjang rute perdagangan ke Cina, hampir dapat dipastikan ditemukan sekelompok kecil pedagang Islam. Pada abad XI, mereka juga telah tinggal di Campa dan menikah dengan penduduk asli, sehingga jumlah pemeluk Islam di tempat itu semakin banyak. Namun, rupanya mereka belum aktif berasimilasi dengan kaum pribumi sehingga penyiaran agama Islam tidak mengalami kemajuan.

Sebagai salah satu bandar ramai di kawasan timur, Malaka juga ramai dikunjungi oleh para pedagang Islam. Lambat laun, agama ini mulai menyebar di Malaka. Dalam perkembangannya, raja pertama Malaka, yaitu Prameswara akhirnya masuk Islam pada tahun 1414 M. Dengan masuknya raja ke dalam agama Islam, maka Islam kemudian menjadi agama resmi di Kerajaan Malaka, sehingga banyak rakyatnya yang ikut masuk Islam.

Selanjutnya, Malaka berkembang menjadi pusat perkembangan agama Islam di Asia Tenggara, hingga mencapai puncak kejayaan di masa pemeritahan Sultan Mansyur Syah (1459—1477). Kebesaran Malaka ini berjalan seiring dengan perkembangan agama Islam. Negeri-negeri yang berada di bawah taklukan Malaka banyak yang memeluk agama Islam. Untuk mempercepat proses penyebaran Islam, maka dilakukan perkawinan antarkeluarga.

Malaka juga banyak memiliki tentara bayaran yang berasal dari Jawa. Selama tinggal di Malaka, para tentara ini akhirnya memeluk Islam. Ketika mereka kembali ke Jawa, secara tidak langsung, mereka telah membantu proses penyeberan Islam di tanah Jawa. Dari Malaka, Islam kemudian tersebar hingga Jawa, Kalimantan Barat, Brunei, Sulu dan Mindanau (Filipina Selatan).

Malaka runtuh akibat serangan Portugis pada 24 Agustus 1511, yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque. Sejak saat itu, para keluarga kerajaan menyingkir ke negeri lain.

2. Silsilah

Raja/Sultan yang memerintah di Malaka adalah sebagai berikut:
  1. Permaisura yang bergelar Muhammad Iskandar Syah (1380—1424)
  2. Sri Maharaja (1424—1444)
  3. Sri Prameswara Dewa Syah (1444—1445)
  4. Sultan Muzaffar Syah (1445—1459)
  5. Sultan Mansur Syah (1459—1477)
  6. Sultan Alauddin Riayat Syah (1477—1488)
  7. Sultan Mahmud Syah (1488—1551)

3. Periode Pemerintahan

Setelah Parameswara masuk Islam, ia mengubah namanya menjadi Muhammad Iskandar Syah pada tahun 1406, dan menjadi Sultan Malaka I. Kemudian, ia kawin dengan putri Sultan Zainal Abidin dari Pasai. Posisi Malaka yang sangat strategis menyebabkannya cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai. Akhir kesultanan Malaka terjadi ketika wilayah ini direbut oleh Portugis yang dipimpin oleh Alfonso d’albuquerque pada tahun 1511. Saat  itu, yang berkuasa di Malaka adalah Sultan Mahmud Syah.

Usia Malaka ternyata cukup pendek, hanya satu setengah abad. Sebenarnya, pada tahun 1512, Sultan Mahmud Syah yang dibantu Dipati Unus menyerang Malaka, namun gagal merebut kembali wilayah ini dari Portugis. Sejarah Melayu tidak berhenti sampai di sini. Sultan Melayu segera memindahkan pemerintahannya ke Muara, kemudian ke Pahang, Bintan Riau, Kampar, kemudian kembali ke Johor dan terakhir kembali ke Bintan. Begitulah, dari dahulu bangsa Melayu ini tidak dapat dipisahkan. Kolonialisme Baratlah yang memecah belah persatuan dan kesatuan Melayu.

4. Wilayah Kekuasaan.

Dalam masa kejayaannya, Malaka mempunyai kontrol atas daerah-daerah berikut:

  1. Semenanjung Tanah Melayu (Patani, Ligor, Kelantan, Trenggano, dan sebagainya).
  2. Daerah Kepulauan Riau.
  3. Pesisir Timur Sumatra bagian tengah.
  4. Brunai dan Serawak.
  5. Tanjungpura (Kalimantan Barat).

Sedangkan daerah yang diperoleh dari Majapahit secara diplomasi adalah sebagai berikut.

  1. Indragiri.
  2. Palembang.
  3. Pulau Jemaja, Tambelan, Siantan, dan Bunguran.

5. Struktur Pemerintahan

(Dalam proses pengumpulan data)

6. Kehidupan Sosial Budaya

(Dalam proses pengumpulan data)

Kredit foto : www.hikmatun.wordpress.com

________________

Informasi lain tentang Istana Kesultanan Malaka dapat dibaca di sini (WisataMelayu.com)

Dibaca : 45.643 kali.

Komentar untuk "kesultanan malaka"

15 Jan 2010. M Saifulman bin Kasan
Saya bersetuju dengan pendapat bahawa Melaka berasal dari perkataan Arab 'Malagha' iaitu pelabuhan. Sebenarnya versi sejarah yang menyatakan melaka berasal dari pokok adalah versi sejarah yang diputarbelit kerana pokok melaka ada nama lainnya yang khusus tapi saya lupa namanya. Setakat ni nama-nama pokok di Tanah Melayu hanya ada satu nama sahaja iaitu berpandukan pada buku lama Melayu. Mana mungkin satu pokok ada dua nama. Saya akan edit kemudian.
07 May 2010. Harris Ananto
Yang hendak saya tanyakan, apakah Hang Tuah Raja di Laut hidup semasa dengan Gajah Mada?
07 May 2010. Harris Ananto
Mohon infonya agar jelas dan Malaka serta Hang Tuahnya tidak dikata orang sebagai khayal,karena muyang saya menurut cerita dari tetua adat kami adalah bagian dari laskar Hang Tuah adakah naskah atau literatur asli mengenai penyerahan daerah Palembang dll secara diplomasi oleh majapahit.
25 Okt 2010. Sang Guna
Salam Harris Ananto, mengikut sejarah melayu karya Tun Sri lanang dan Hikayat Hang Tuah, Iya hang tuah hidup sezaman dgn patih Gajah mada. Melaka pada masa itu dizaman menuju kegemilangan manakala Majapahit sudah mula merosot. malah Patih Gaja Mada sering menghantar perajurit yg handal2 utk menguji kehebatan Hang Tuah sewaktu di jawa dan juga di melaka. sila baca Hikayat melayu dan juga hikayat hang tuah utk lebih info. hang tuah malah pernah berguru dijawa dan bermcm tempat, sebab itulah dia pendekar yg terbilang yg tahu berbagi2 permainan.
09 Aug 2011. Megat Mahmud bin Megat Othman
... tesk sejarah di Malaysia tahun 50an dan 60an ada menyatakan yg Parameswara memeluk Agama Islam dgn pemakaian nama Megat Iskandar Shah ada juga pendapat yg lain Megat Iskandar Shah adalah anak beliau ... minta penjelasan,mengapa sejarah di sini menidakan nama Megat,Kegat ni apakah masaalahnya ya ..........(Walau pun sejarah ini adalah Subjektif tetapi jng menyimpang jauh le )perlu ada kejujuran di sini.Kalau di Malaysia bisa dijajah oleh British sama juga di sana Belanda .... kita jng terikut2 rentak mereka.
17 Sep 2012. KPH. SP. Rheindra J. Wiroyudho
Mohon pencerahannya... Apakah hikayat Hang Tuah tersebut benar adanya dan ada studi pembuktian keabsahannya? Seperti peninggalan berupa tect ataupun yang lainnya?
13 Okt 2012. nuri che shiddiq
Ass. rakan-rakan pecinta, peminat, dan yang sangat ingin belajar sejarah melayu. sebelomnya saya ucapkan salam persaudaraan. untok mulanya seharusnya laman ini harus telah dapat mengkajin pangkal melayu yaitu MALAYU sehingga kerancuan sejarah yang terbata-bata tidak muncul, namun saya maklum karena peneliti di laman ini hanya segelintir saja yang berasal dari melayu asli yang berminat sejarah. jadi jika kita mampu mengulik sejarah melayu jauh lebih kebelakang, maka kita akan jumpa dengan yang disebut JAWAKA atau Orang Yang Mula-Mula Ada, begitu juga dengan arti MALA yaitu yang mula-mula ada. akibat perseteruan antara Raja Sambor dengan Sailaraja/Sailendra "Tuan Orang Gunung", yang membawa perpindahan orang-orang sailendra keselatan ya bisa palembang dan jawa (Bukti candi borobudur dibangun sailendra yang beragama budha). maka terpecahlah satu bangsa ini kini menjadi dua satu membawa nama atas nama JAWAKA dan satu membawa nama MALA yang notabenenya berarti sama. berlanjut berabat lamanya (saya potong saja cerita, ketika nama jawaka semakin kuat maka sebagai legitimasi bahwa kerajaan melayu yang bersinggahsana di singapura juga harus mengasaskan identiti jati dirinya maka mereka menyebutnya MALAKA. namun diantara kita terbata dengan yang ditanamkan penjajah bahwa MALAYU dan JAWA adalah musuh, padahal ANATARA MALAYU DAN JAWA adalah saudara seibu sekandung sedarah. seperti pantun ini RUNTUH KOTA MALAKA PAPAN DIJAWA DIBELAH-BELAH ini menunjukkan kesiapan saudara jawa membagi tanah untuk saudara MALAYU nya. segitu aje dulu ye.. ingat GUNUNG HIKMALAYA SEMENANJUNG MALAYA KEPULAUAN MALAYA TASIK MALAYA Kita semua adalah orang MALA...................
13 Okt 2012. nuri che shiddiq
ketika Kublaikhan ingin menyerang Singosari maka Kartawijaya memerintahkan PIMALAYU = Pergi Ke MALAYU untuk bagun pertahanan, maka di pancanglah SANGSAKA Merah putih di Gunung Bentan sebagai tanda Bukit Bendera, dan diseberangnya Tumasik maka disebutlah SINGA PURA "Gerbang Singa" sebagai gerbang masuk ke SINGOSARI. kublaikhan tak main-main dalam penyerangan kali ini dengan 25 Ribu kapalnya menyerang pertahanan pertama di GERBANG SINGA' maka luluh lantaklah bentan-lingga, Tun Mide yang membantu Raden Wijaya beserta rakyat melayu yang tersisa banyak yang ikut lari ketanah jawa, maka Tun Mide sebagai keturunan Panglima Agong Pantai Timur "MAHASENOPATI" dengan legitimasi bahwa sebuah ikan yang disebut GAJAH MINA dibawah kuasanya, maka kemudian hari MOJO PAHIT "Datang Kepahitan" terbentuk maka bergelarlah ia MAHASENOPATI GAJAH MADE.. dan sejak saat itu kerajaan Melayu tidak menggunakan gelaran MAHASENOPATIH untuk menyebut PANGLIMA AGUNG nya lalu berganti dengan sebutan LAKSMANA namun tetap dengan keturunan yang sama harus keturunan dari PANGLIMA AGUNG PANTAI TIMUR,...wallauaklam

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password