Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 807
Hari ini : 3.340
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.269.315
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sejarah Melayu

Kerajaan Pattani

a:3:{s:3:

1. Sejarah

Pattani adalah negeri Melayu yang terletak di tanah genting Kra, selatan Thailand. Saat ini, daerah yang dulu disebut Pattani ini telah terpecah menjadi 3 propinsi, yaitu Pattani, Yala dan Narathiwat. Istilah Pattani yang dipakai dalam tulisan ini merujuk pada Pattani di masa lalu, saat belum dipecah menjadi tiga propinsi. Di era kejayaan Sriwijaya, Pattani dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang terdapat di daerah Semenanjung Melayu dan Sumatera berada dalam kekuasaan Sriwijaya.  Dari abad ke-7 M hingga awal abad ke-13 M, Sriwijaya menguasai jalur pedagangan di Selat Malaka, dan menarik pajak dari para pedagang yang lewat dan berdagang d kawasan itu.

Pada abad ke-11 M, Islam sudah mulai tersebar luas di Pattani. Seiring perkembangan, kemudian Raja Pattani, Phya Tu Antara masuk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Ismail Syah Zhillullah fi al-Ardl. Pengislaman Raja Phya Tu Antara dilakukan oleh seorang ulama dari Pasai, Aceh, bernama Syaikh Said.

Pada abad ke-13 M, Pattani ditaklukkan oleh kerajaan Ayuthaya. Namun, kemenangan Ayuthaya menaklukkan Pattani ini hanya berlaku secara militer, secara sosial budaya, masyarakat Pattani tetap tidak terpengaruh dengan kebudayaan Budha Ayuthaya.

Pendudukan Ayuthaya atas Pattani tidak berlangsung lama. Pada abad ke-14 M, kerajaan Pattani telah independen dan berhasil mengembangkan diri menjadi kerajaan yang besar dan maju. Pada abad ke-15, hampir keseluruhan wilayah Pattani telah memeluk agama Islam. Dalam perkembangannya, kemudian banyak lahir ulama-ulama besar dari daerah ini, di antaranya adalah Syaikh Daud al-Fattani. Dengan tersebarnya Islam secara luas di Pattani, maka kemudian terbentuk dua wilayah kebudayaan di kawasan tanah genting Kra, yang dibedakan oleh dua agama: Islam dan Budha.

Pada tahun 1785 M, Pasukan Siam (Ayuthaya) di bawah pimpinan Phraya Chakri kembali menyerang Pattani. Menurut catatan sejarah rakyat Pattani, serangan pada tahun 1785 M ini merupakan serangan Ayuthaya yang kelima. Empat kali serangan sebelumnya selalu dipatahkan Pattani, sehingga Pattani berhasil mempertahankan wilayahnya. Perang yang kelima ini berlangsung dalam waktu lama, walaupun akhirnya Pattani mengalami kekalahan pada bulan November 1786 M. Kekalahan ini benar-benar menghancurkan harkat dan martabat rakyat dan kerajaan Pattani. Saat itu, berdasarkan cerita dalam Hikayat Kerajaan Melayu Pattani, digambarkan kebrutalan pasukan Siam terhadap rakyat Pattani. Tindakan pertama yang dilakukan oleh tentara Siam adalah menangkap dan membunuh orang-orang Pattani yang tidak bersenjata, termasuk perempuan dan anak-anak. Seluruh harta benda dan senjata mereka rampas, istana sultan mereka bakar hingga rata dengan tanah, dan sistem kesultanan mereka hapuskan. Selanjutnya, tentara Siam membuat sistem pemerintahan sendiri di Pattani dan menempatkan orang-orang mereka. Setelah semua ini terbentuk, pasukan Siam kembali ke Bangkok dengan membawa banyak tawanan dan senjata.

Seorang pejabat Inggris, Sir Francis Light yang baru tiba di Pulau Pinang, menulis surat bertarikh 12 September 1786 kepada jenderal Inggris Lord Cornwallis di India. Dalam surat itu, Light menceritakan mengenai kekejaman tentara Siam di Pattani. Laki-laki, perempuan dan anak-anak yang tidak berdosa diikat kaki dan tangan mereka, kemudian dihempaskan ke tanah dan diinjak-injak sampai mati dengan gajah.

Bukti-bukti kekejaman tersebut juga dicatat dalam sejarah Thai sendiri, di antaranya buku Phrarachphong sauwadarn Krung Rattanakosin Rama I, yang menceritakan titah Raja Muda Maha Surasinghnath agar para tawanan Melayu, harta benda dan senjata mereka dimasukkan ke dalam kapal perang. Kemudian, para tawanan tersebut dibagi-bagikan pada tiap-tiap negeri. Raja Muda juga melantik Phra Cana, seorang yang bertanggung jawab dalam perang Thai-Pattani, menjadi Chau Muang (gubernur) di Pattani. Selain itu, Raja Muda juga memerintahkan agar tentaranya merampas semua bahan makanan di Pattani untuk dibawa ke Bangkok, sehingga orang Pattani kehabisan bahan makanan dan terpaksa makan sagu.

Menurut Nureeyan Saleh, kekalahan Pattani dalam perang kelima ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

  1. Rahasia pertahanan Pattani dibocorkan oleh Nai Can Tong kepada panglima pasukan Thai. Nai Can Tong adalah pegawai istana Pattani keturunan Siam yang mendapat kepercayaan Sultan Pattani, Muhammad. Pengkhianatan Nai Can Thong telah membawa kehancuran total bagi rakyat Pattani.
  2. Mangkatnya Sultan Muhammad ketika perang sedang berlangsung, sehingga semangat orang-orang Pattani jadi menurun.
  3. Jumlah tentara Thai lebih banyak dengan persenjataan yang lebih lengkap.

Demikianlah, setelah sekian lama berperang, akhirnya Pattani dikalahkan oleh Siam. Pada tahun 1826 M, Inggris mengakui kekuasaan Siam atas Pattani. Pada tahun 1902 M, Siam melaksanakan kebijakan Thesaphiban yang menghapus seluruh sistem pemerintahan kesultanan Melayu di Pattani. Sejak penghapusan kesultanan Melayu tersebut, kerajaan Pattani semakin lemah dan tertekan. Konsul Inggris di Songkhla saat itu, W.A.R. Wood mengatakan bahwa, rakyat Pattani telah menjadi korban dari pemerintahan kerajaan yang salah atur (misgoverned).

Sebagai response atas kekacauan dan kemunduran yang terjadi selama dalam kekuasaan Siam, pada tahun 1923 M, Tengku Abdul Kadir Kamaruddin, mantan raja kerajaan Melayu Pattani memimpin rakyat melakukan perlawanan untuk membebaskan Pattani dari kekuasaan Siam. Suasana perlawanan yang berlangsung begitu lama menjadikan keadaan bertambah kacau.

Keadaan bertambah buruk ketika Phibul Songkram  naik tahta di kerajaan Siam (berkuasa dari tahun 1939 hingga1944 M). Ia menerapkan kebijakan yang rasialis: Thai Ratanium (negara Thailand hanya untuk rakyat Thailand). Dengan segala cara, Phibul gencar menghapus identitas kemelayuan rakyat Pattani. Saat itu, nama-nama Melayu dan Arab harus diganti dengan nama Thai, bahkan kaum muslim Pattani juga diwajibkan menyembah patung.

Ketika Perang Dunia II meletus, Siam berpihak pada Jepang. Saat itu, Tengku Mahmud Muhyiddin, salah seorang putera mantan raja Pattani, berdinas dalam ketentaraan Inggris dengan pangkay mayor. Ia kemudian membujuk penguasa Inggris di India agar mengambil alih Pattani dan menggabungkannya dengan Semenanjung Melayu. Pada 1 November 1945, sekumpulan tokoh Pattani dipimpin oleh Tengku Abdul Jalil menyampaikan petisi pada Inggris agar empat wilayah di daerah selatan Siam dibebaskan dari kekuasaan Siam dan digabungkan dengan Semenanjung Melayu. Dalam perkembangannya, ternyata Inggris tetap menjadikan kepentingan dirinya sendiri sebagai tolok ukur dalam mengambil keputusan. Dengan alasan tergantung pada pasokan beras dari Siam, maka kemudian Inggris memilih tetap mendukung pendudukan Siam atas Pattani. Pada tahun 1909 M, Inggris dan Siam menandatangani perjanjian yang berisi pengakuan Inggris terhadap kekuasaan Siam di Pattani. Dalam perjanjian itu, juga dijelaskan mengenai batas wilayah kerajaan Siam dan Semenanjung Melayu. Garis batas yang disepakati dalam perjanjian tersebut sekarang menjadi daerah batas Malaysia dan Thailand.

2. Silsilah

Berikut ini beberapa orang Sultan yang pernah berkuasa di Pattani, di antaranya:

  1. Sultan Mudhaffar Syah (1540 M)
  2. Sultan Manzur Syah (1564-1572 M)
  3. Sultan patik Siam (1572 M)
  4. Sultan Bahdur (1573 M)
  5. Ratu Raja Ijau (1584 M)
  6. Ratu Raja Biru (1616 M)
  7. Ratu Raja Ungu (1624 M)
  8. Ratu Raja Kuning (1636 M)

3. Periode Pemerintahan

Di samping kemakmuran dan kedamaian, sejarah Pattani juga diwarnai konflik panjang, baik internal maupun eksternal. Berkaitan dengan tahta kerajaan, telah terjadi beberapa kali kekacauan akibat keluarga kerajaan berebut ingin menguasai tahta. Ketika Sultan Manzur Syah meninggal dunia tahun 1572 M, para pewaris kerajaan berebut ingin menguasai tahta, sehingga terjadi konflik berdarah. Dalam konflik tersebut, seluruh ahli waris tahta kerajaan yang laki-laki tewas terbunuh. Sebagai gantinya, maka kemudian naik raja perempuan (ratu). Ratu Ijau merupakan ratu pertama dalam sejarah Pattani, dan dengan sukses, ia berhasil mempersiapkan saudara perempuannya yang lain (Ratu Biru) menggantikannya, dan seterusnya Ratu Ungu dan Kuning.

Berkenaan dengan kekuasaa para ratu ini, seorang pengembara Perancis, Nicholas Gervaise menulis pandangan yang berbeda pada tahun  1860 M. menurutnya, kekuasaan para ratu Pattani tersebut hanya bersifat simbolik. Kekuasaan yang sebenarnya tetap berada di tangan pejabat istana yang laki-laki. Gervaise menulis, walaupun Ratu Ijau adalah penguasa tertinggi kerajaan, namun ia tetap tidak diizinkan oleh para menteri untuk masuk ke dalam ruang-ruang tertentu dalam istana. Ini menunjukkan bahwa, kekuasaan ratu sangat lemah. Jika benar ratu Ijau sangat lemah, pertanyaannya adalah: bagaimana ia bisa mempersiapkan ratu-ratu berikutnya yang menggantikannya? Logikanya, dengan tradisi konflik berebut tahta yang cukup panjang di Pattani, maka, besar kemungkinan para menteri akan berebut tahta ketika Ratu Ijau meninggal dunia. Namun realitanya, Ratu Ijau berhasil mempersiapkan Ratu Biru sebagai sebagai pengganti, dan selanjutnya Ratu Ungu. Realitas ini menunjukkan bahwa, sebenarnya para ratu tersebut memiliki kekuasaan yang besar.   

Selama pemerintahan Ratu Ungu, ia menerapkan kebijakan yang tidak bersahabat dengan Thailand. Pada masa pemerintahannya juga, Pattani berkembang pesat dan rakyatnya hidup aman sejahtera. Sepeninggal Ratu Ungu, anaknya, Ratu Kuning naik tahta menggantikannya. Di masa Ratu Kuning ini, Pattani bersahabat baik dengan Siam, dan Ratu Kuning sempat berkunjung ke Siam pada tahun 1641 M, sebagai simbol persahabatan. Saat itu, Ratu Kuning disambut oleh Raja Prasat Thong. Selama pemerintahan Ratu Kuning, Pattani mencapai zaman keemasannya. Digambarkan, saat itu, perdagangan internasional sangat ramai, sehingga setiap malam pelabuhan Pattani selalu diterangi cahaya lampu dari kapal-kapal pedagang .

Pada tahun 1651 M, Raja Sakti dari Kelantan memaksa Ratu Kuning turun tahta. Ratu Kuning kemudian mengungsi ke Johor, namun, belum sampai ke Johor, ia meninggal dunia di Kampung Pancor, Kelantan. Sepeninggal Ratu Kuning, kekacauan dan konflik kembali terjadi karena adanya perebutan kekuasaan. Keadaan ini meyebabkan Pattani tenggelam dalam kemunduran hingga ditaklukkan oleh Ayuthaya pada pertengahan abad ke-17 M. Sebagai simbol ketundukan tersebut, Pattani setiap tahun harus mengirim Bunga Mas ke Siam.

4. Wilayah Kekuasaan

Wilayah kekuasaan Kerajaan Pattani adalah wilayah Pattani, Yala dan Narathiwat. Dulu, wilayah ini dikenal dengan Pattani Raya.

5. Struktur Pemerintahan

Struktur pemerintahan di Pattani tidak berbeda dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Semenanjung Melayu. Penguasa tertinggi berada di tangan raja. Untuk menjalankan pemerintahan, raja dibantu oleh para menteri.

6. Kehidupan Sosial-Budaya

Sejarah panjang rakyat Pattani diwarnai perang dan damai; dua keadaan ini datang silih berganti. Namun, apapun kondisinya, ternyata rakyat Pattani tetap memiliki kehidupan sosial budaya yang tidak jauh berbeda dengan kawasan Melayu lainnya. Di Pattani, ternyata juga berkembang berbagai pertunjukan dan permainan rakyat, seperti Makyong, mengarak burung, congkak, wayang kulit Melayu dan seni musik nobat. Bahkan, permainan tradisional masyarakat Budha, yaitu menora, juga digemari oleh masyarakat muslim Pattani. Dalam permainan menora, terdapat unsur ritual, nyanyian, tarian dan lakon. Berkaitan dengan alat-alat musik, yang berkembang luas di masyarakat adalah serunai, nafiri dan rebab. Sebagai bangsa yang dikuasai oleh bangsa lain, di Pattani tetap muncul suatu perlawanan. Perlawanan tersebut terefleksi dalam nyanyian rakyat ketika menidurkan anak (lagu dodoi). Berikut contoh lirik lagu yang bernuansa perlawanan tersebut:

Buah perah buah berangan
Nak taruh dalam timba
Nak geruh batak bangan
Nak lepas gajah gila

Gajah gila bidu
Lupa tiga dian
Semalam ambo tak tidur
Pasai ambo tengok wayang

Wayang balik pintu
Topeng balik dinding
Zaman musuh Datu
Budak pukul lembing

Lembing buatan Siam
Tikam badak mati
Zaman musuh Siam
Kami tak ada lagi

Kredit foto : www.forum.cari.com.my
Dibaca : 23.729 kali.

Komentar untuk "kerajaan pattani"

15 Jan 2010. M Saifulman bin Kasan
Untuk pengetahuan, kerajaan Ayuthaya adalah kerajaan Islam Siam yang meliputi Thailand, Laos, Kemboja, sebahagian Burma, Pattani dan meliputi Tanah Melayu hingga ke Singapura. Kejatuhan kerajaan Pattani pada 1786 juga merupakan juga kejatuhan kerajaan Ayuthaya iaitu diserang kerajaan Thai Budhha (bukan kerajaan Ayuthaya).
12 Okt 2010. saltin
Kerajaan melayu patani yg dianeksasi oleh thailand pada thn 1902 tidak hanya meliputi 3 propinsi (pattani,yala dan narathiwat) akan tetapi meliputi 5 propinsi yaitu satun dan sebagian songkhla.
22 Aug 2013. Ahmad Hartono
Pembahasan kehidupan sosial budaya Pattani agar bisa lebih diperluas lagi.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password