Rabu, 17 September 2014   |   Khamis, 22 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 685
Hari ini : 3.240
Kemarin : 24.974
Minggu kemarin : 230.267
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.127.972
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Sastra Melayu

Rakkala: Alat Pengolah Tanah dalam Sistem Pertanian orang Bugis di Sulawesi Selatan

a:3:{s:3:

Petani Membajak Sawah dengan Menggunakan Tenaga Sapi

Rakkala adalah salah satu alat pengolah tanah tradisional dalam sistem pertanian orang Bugis di Sulawesi Selatan. Alat tradisional ini berfungsi untuk menggemburkan tanah sebelum dilakukan penaburan benih dan penanaman padi. Alat ini terdiri dari beberapa komponen yang terbuat dari kayu-kayu berkualitas tinggi dan sepotong besi yang berbentuk pipih. Pengoperasian rakkala biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki dengan dibantu oleh tenaga hewan.

1.        Asal-usul

Kemajuan teknologi pertanian yang semakin pesat dan serba canggih saat ini tidak serta-merta mempengaruhi para petani untuk beralih teknologi dari alat-alat pertanian tradisional ke alat-alat pertanian yang bertenaga mesin seperti traktor dalam mengolah tanah pertanian. Meski demikian, penggunaan bajak tradisional masih banyak dijumpai di beberapa daerah, khususnya di daerah-daerah pedalaman.

Sembagian petani di daerah Sulawesi Selatan masing menggunakan bajaka atau luku yang tergolong sederhana atau bersifat tradisional dalam mengolah sawah. Bajak tradisional dalam bahasa Bugis disebut dengan rakkala, yaitu sebuah alat pertanian tradisional yang terbuat dari kayu dan sepotong besi berbentuk pipih. Alat ini digunakan oleh para petani untuk membajak sawah, baik sawah irigasi maupun sawah tadah hujan, untuk menggemburkan tanah. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terbitan Balai Pustaka tahun 2005 juga mengartikan bajak sebagai perkakas pertanian yang terbuat dari kayu atau besi untuk menggemburkan dan membalikkan tanah (KBBI, 2005:91).

Tidak dapat dipastikan sejak kapan para petani di Sulawesi Selatan menggunakan rakkala sebagai alat pengolah tanah.[1] Namun, ada beberapa alasan sehingga alat pengolah tanah tradisional atau rakkala tetap bertahan hingga saat ini, yaitu pertama, masih terdapatnya areal pertanian yang sulit untuk dijangkau oleh traktor karena jaraknya jauh, atau karena areal pertanian tersebut berada di daerah perbukitan yang berbatu, kedua, masih banyaknya petani yang memelihara hewan-hewan penarik rakkala seperti sapi, kerbau, dan kuda bajak, ketiga, kepemilikan lahan oleh sebagian petani relatif tidak begitu luas sehingga penggunaan rakkala masih dianggap sangat efisien, dan keempat, kekurangmampuan petani untuk menyewa traktor karena biaya sewa relatif mahal (Darwias Rasyid Ms, et al., 1991:149). Hingga saat ini, biaya sewa traktor mencapai Rp 400.000,00 per hektar sawah.

Sebagian petani di Sulawesi Selatan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat memelihara hewan-hewan penarik rakkala seperti sapi, kerbau, atau kuda, karena alasan-alasan tersebut di atas. Dengan demikian, biaya operasional pengolahan tanah dapat ditekan seminimal mungkin. Selain itu, memelihara ternak juga memberi manfaat lain bagi para petani. Jika ada keperluan mendesak, hewan-hewan peliharaan tersebut dapat menjadi modal yang dapat dijual kapan saja.

Pembajakan sawah dilakukan oleh kaum laki-laki dan dibantu oleh tenaga hewan seperti sapi, kerbau, atau kuda. Membajak sawah dalam bahasa setempat disebut dengan maddakkala sedangkan para petani yang mengoperasikan alat tersebut dinamakan paddakala.

Petani di Sulawesi Selatan pada umumnya masih memanfaatkan sapi atau kerbau sebagai penarik rakkala. Khusus di Kabupaten Soppeng, kebanyakan petani sudah menggunakan tenaga kuda sebagai penarik bajak. Menurut petani di daerah itu, penggunaan tenaga kuda lebih efisien dan lebih praktis dibandingkan dengan tenaga kerbau atau sapi. Nilai efisiennya adalah kuda lebih kuat dan lebih cepat menarik rakkala daripada kerbau atau sapi sedangkan nilai praktisnya cukup menggunakan satu ekor kuda saja (Darwas Rasyid Ms, et al., 1991:111). Oleh karena itu, seorang petani yang menggunakan tenaga kerbau atau sapi juga harus menyiapkan babba, yaitu sebuah cambuk yang terbuat dari tangkai bambu atau rotan sebesar kelingking. Alat ini berfungsi sebagai pemicu agar hewan penarik rakkala tersebut dapat berjalan lebih cepat (Rasyid Ms, et al., 1991:38).

2. Komponen-komponen Rakkala

Rakkala merupakan suatu unit peralatan membajak sawah yang terdiri dari beberapa unsur atau komponen yang saling mendukung dan tidak dapat dipisahkan dari sebuah bajak. Jika salah satu komponen tersebut tidak terpenuhi, maka rakkala tidak dapat berfungsi sebagai suatu alat pengolah sawah. Adapun komponen-komponen rakkala tersebut adalah sebagai berikut.

a.        Tekko

Tekko merupakan bagian utama dari sebuah rakkala karena pada bagian ini merupakan tempat dirangkainya komponen-komponen rakkala lainnya, seperti watang rakkala (batang bajak), sui, gigi (mata bajak), dan perlengkapan rakkala lainnya. Selain itu, tekko juga merupakan sebagai tempat pegangan petani atau kemudi untuk mengontrol dan mengatur arah mata bajak pada tanah yang akan dibajak. Bahan utama yang digunakan untuk membuat alat ini adalah jenis kayu yang kuat, awet, dan tahan terhadap air, misalnya kayu bitti, sampi, cenrana, atau jati.

b. Watang rakkala atau batang bajak

Bentuk alat ini dibedakan berdasarkan jenis hewan yang digunakan sebagai penarik bajak. Jika hewan yang digunakan sebagai penarik bajak adalah sapi atau kerbau, maka yang digunakan adalah dua ekor atau sepasang. Sementara itu, jika hewan yang digunakan adalah kuda, maka yang dibutuhkan hanya satu ekor saja. Oleh karena itu, bentuk watang rakkala dan alat-alat yang dilekatkan pada hewan-hewan tersebut juga berbeda.

 



Bentuk watang rakkala yang digunakan pada sapi atau kerbau sebagai penarik bajak

 Keterangan gambar:

a = tekko rakkala
b = watang rakkala
c = sui
d = gigi
e = paccala tekko

Watang rakkala berbentuk pipih memanjang jika hewan yang digunakan untuk menariknya adalah sapi atau kerbau. Pangkal watang rakkala ini dipasang pada tekko dan ujungnya dikaitkan pada komponen atau alat rakkala yang disebut dengan ajoa. Sementara itu, jika hewan yang digunakan adalah kuda, maka bentuk watang rakkala menyerupai bentuk ketapel. Pangkalnya dipasang pada tekko dan kedua ujungnya diikatkan pada alat yang ada di punggung kuda yang disebut dengan adang. Bahan yang digunakan untuk watang rakkala adalah kayu berkualitas tinggi seperti kayu sapu, kayu hitam, kayu bayam, atau kayu jati.

Bentuk watang rakkala yang digunakan pada kuda sebagai penarik bajak

 Keterangan gambar:

a = tekko rakkala
b = watang rakkala
c = sui
d = gigi
e = paccala tekko

c. Sui

                                    

Sui adalah sepotong kayu yang berbentuk pipih dan bertangkai serta mempunyai ujung yang lancip dan runcing. Alat ini dipasang atau disambungkan dengan tekko rakkala dan berfungsi untuk membalikkan tanah. Bahan yang digunakan untuk membuat sui adalah kayu yang kuat, awet, dan tahan air seperti kayu bitti, kayu cenrana, atau kayu jati.

 

d. Gigi (mata bajak)

 

Gigi adalah sepotong besi yang berbentuk pipih dan tajam. Alat ini dipasang pada bagian bawah sui sebagai bantalan. Pamasangan alat ini dimaksudkan agar lebih mudah membelah dan membongkar tanah.

 

e. Tali-temali

 

Tali-temali yang dimaksudkan di sinilah adalah komponen-komponen rakkala yang terbuat dari tali seperti rotan, ijuk, kulit kayu, atau tali plastik. Tali-tali tersebut merupakan alat bantu yang digunakan oleh petani untuk mengikat komponen-komponen rakkala lainnya. Adapun komponen-komponen rakkala yang terbuat dari tali adalah sebagai berikut.

1). Pabbekkeng nyarang atau tali pinggang kuda, yaitu dua utas tali yang panjangnya kira-kira dapat melingkar pada perut kuda penarik rakkala. Kedua utas tali yang terbuat dari rotan atau ijuk ini berfungsi untuk mengencangkan posisi lapi di atas punggung kuda agar tidak lepas pada saat kuda menarik rakkala.

2). Kalong, yaitu seutas tali dari rotan atau ijuk yang dipasang melingkar atau disangkutkan pada leher kuda dan kedua ujungnya diikatkan pada lapi. Tali ini berfungsi untuk menahan lapi agar tidak tertarik ke belakang pada saat kuda menarik rakkala.

3). Parajo, yaitu seutas tali rotan yang telah dipilin dan dipasang persis di tengah-tengah ajoa, yang berfungsi untuk mengikat ujung watang rakkala. Ajoa adalah sebatang kayu yang panjangnya 1,5 meter, berbentuk pipih yang dipasang pada leher kedua sapi atau kerbau, dan berfungsi untuk merangkai sepasang hewan penarik rakkala tersebut. Tali parajo hanya digunakan jika hewan penarik rakkala tersebut adalah sapi atau kerbau.

4). Galang atau pelana, yaitu seutas tali yang panjangnya dua kali panjang watang rakkala yang berfungsi untuk menggiring hewan penarik rakkala (Rasyid Ms, et al., 35-37).

 



Ajoa berbentuk pipih yang dipasang pada leher sepasang sapi atau kerbau

 

 

3. Cara Pembuatan

 

Rakkala adalah salah satu alat pengolah tanah petani di Sulawesi Selatan yang cara pembuatannya cukup sederhana namun tetap memerlukan keterampilan khusus, terutama keahlian untuk membuat tekko. Berikut ini cara dan urutan pembuatan komponen-komponen rakkala tersebut.

 

a.      Pembuatan tekko rakkala 

 

Pembuatan suatu unit rakkala biasanya dimulai dari pembuatan tekko rakkala karena tingkat kesulitannya lebih tinggi dibandingkan dengan cara pembuatan komponen-komponen lainnya. Bahan yang digunakan untuk membuat alat ini adalah kayu yang agak bengkok. Kayu bengkok tersebut kemudian dibentuk melengkung menyerupai huruf “S” dalam abjad latin. Hal ini dimaksudkan agar gigi (mata bajak) dapat dengan mudah masuk ke dalam tanah.

Bahan tersebut dihaluskan dengan cara dikerik dengan menggunakan pecahan-pecahan kaca atau botol lalu diberi lubang berbentuk segiempat pada bagian-bagian tertentu sebagai tempat memasang komponen-komponen rakkala lainnya seperti watang rakkala, dan sui. Mengingat ukuran lubang pada tekko lebih besar daripada ukuran pangkal watang rakkala, maka harus diberi potongan-potongan kayu yang berukuran kecil dan berbentuk trapesium yang disebut dengan paccala. Alat ini berfungsi untuk mengencangkan posisi watang rakkala pada tekko sehingga tidak goyah dan terpasang dengan kokoh.

Petani yang tidak memiliki keterampilan membuat alat ini dapat membelinya langsung di pasar atau di toko-toko yang menjual alat-alat produksi pertanian. Hanya saja, tekko rakkala yang dijual di pasaran tidak disertai dengan alat pelengkap lainnya seperti sui dan gigi. Alat-alat pelengkap tersebut harus dibeli secara terpisah.

 

b. Pembuatan watang rakkala

 

Setelah pembuatan tekko selesai, maka proses selanjutnya adalah membuat watang rakkala. Disebutkan sebelumnya bahwa watang rakkala terdiri dari dua macam, maka cara pembuatan kedua watang rakkala tersebut juga berbeda. Adapun cara membuat kedua jenis watang rakkala tersebut adalah sebagai berikut.

 

1). Cara membuat watang rakkala jika sapi atau kerbau yang digunakan sebagai penarik rakkala. Sebatang kayu yang panjangnya sekitar 345 cm dibentuk segiempat pipih. Setelah itu, pangkal watang rakkala tersebut dipahat berbentuk segiempat yang disesuaikan dengan ukuran lubang yang terdapat pada tekko rakkala. Sementara itu, ujungnya diberi lubang sebesar jari kelingking sebagai tempat untuk mengaitkan tali parajo.

2). Cara membuat watang rakkala jika kuda yang digunakan sebagai penarik rakkala. Sebatang kayu yang panjangnya sekitar 1,5 meter dibentuk segiempat pipih. Pangkal watang rakkala tersebut juga dipahat berbentuk segiempa sesuai dengan ukuran lubang yang ada pada tekko rakkala sementara ujungnya disambungkan pada bagian watang rakkala yang berbentuk huruf “U” sehingga jika kedua komponen tersebut telah tersambung, maka watang rakkala akan berbentuk menyerupai bentuk ketapel. Kemudian, kedua ujung bagian watang rakkala yang berbentuk huruf “U’ tersebut diberi lubang sebesar jari kelingking untuk diikatkan pada alat yang disebut adang. Adang adalah sepasang kayu bercabang yang panjangnya sekitar 20 cm yang dipasang pada sisi kiri dan kanan lapi. Untuk mengikat kedua ujung watang rakkala dengan adang, digunakan tali rotan, ijuk, ataupun tali kulit kayu.

 

c. Pembuatan sui

 

Sui adalah komponen rakkala yang terbuat dari sepotong kayu bertangkai. Kayu tersebut dibentuk pipih dan ujungnya dibuat lancip dan runcing. Agar tidak cepat tumpul, maka ujung sui diberi sepotong besi yang disebut gigi yang berbentuk pipih dan tajam. Gigi ini biasanya diperoleh dengan cara dipesan khusus kepada pandai besi atau dapat diperoleh di toko-toko yang menyediakan alat-alat produksi pertanian.

 

d. Pembuatan tali-temali

 

Tali-temali yang digunakan oleh petani dapat diperoleh melalui dua cara, yaitu ada yang dibuat sendiri dan ada pula yang diperoleh dengan cara dibeli di pasar. Jenis tali yang dibuat sendiri oleh petani di antaranya adalah tali ijuk, tali rotan, dan tali kulit kayu. Ketiga jenis tali dibuat dengan cara dipilin agar menjadi lebih kuat. Sementara tali yang biasa dibeli di pasar adalah tali plastik.

 

4. Teknik Pengoperasian

 

Setelah seluruh komponen rakkala selesai dibuat, maka pembajakan sawah dapat dimulai. Langkah pertama yang dilakukan oleh petani adalah memasang komponen-komponen rakkala pada hewan penarik rakkala. Setelah itu, petani mulai menggiring sapi, kerbau, atau kuda untuk memulai pembajakan. Pada umumnya, pembajakan dimulai dari bagian pinggir petakan sawah hingga ke bagian tengah sawah. Posisi sui dan gigi (mata bajak) harus menghadap ke luar atau ke arah kanan si pembajak sehingga bagian-bagian tanah yang belum terbajak tidak tertutupi oleh gumpalan-gumpalan tanah yang sudah terbongkar.

 

Pembajakan sawah biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki sedangkan kaum perempuan bertugas untuk mengurus makanan. Pada saat pembajakan dilakukan, para petani terkadang bersenandung agar hewan penarik rakkala dapat berjalan lebih cepat dan sekaligus untuk menghibur diri dari terpaan sinar matahari atau air hujan. Jika hewan yang digunakan adalah sapi atau kerbau, biasanya petani melengkapi dirinya dengan cambuk dari tangkai bambu atau rotan sebesar jari kelingking untuk memacu kecepatan hewan-hewan tersebut. Namun, jika hewan yang digunakan adalah kuda, maka petani cukup menyentakkan tali pelana satu sampai dua kali sehingga kuda tersebut berjalan lebih cepat. Selain itu, petani juga harus menggunakan penutup kepala yang disebut dengan palo (caping atau capil) untuk berlindung dari terik sinar matahari atau air hujan (Rasyid Ms, et al., 38).

 

Pembajakan sawah seluas satu hektar biasanya membutuhkan waktu lebih kurang satu minggu. Agar pekerjaan membajak tersebut cepat selesai, maka pembajakan sawah biasanya dilakukan dengan cara bergotong-royong, yaitu dilakukan oleh dua sampai tiga orang pembajak. Hingga saat ini, kebanyakan petani yang memiliki lahan persawahan satu hektar atau lebih sudah menggunakan traktor, baik milik sendiri atau dengan cara menyewa. Proses pembajakan sawah seluas satu hektar hingga siap tanam dengan menggunakan alat ini hanya membutuhkan waktu sekitar 10-14 jam (Rasyid Ms, et al., 112). Keuntungan lain dari penggunaan traktor adalah dapat mengatasi kekurangan tenaga kerja karena tenaga yang diperlukan untuk mengoperasikan alat modern ini cukup satu orang dan mampu menyelesaikan pembajakan dalam waktu lebih cepat.

 

5. Kelebihan dan Kekurangan

 

Kelebihan rakkala antara lain:

  • alat dan bahan-bahannya mudah didapatkan karena banyak tersedia di alam sekitar hutan-hutan Sulawesi Selatan
  • tidak membutuhkan biaya banyak
  • cara pengoperasiannya cukup sederhana dan mudah
  • ramah lingkungan
  • cara pemeliharaannya relatif lebih mudah
  • dapat menjangkau areal persawahan yang letaknya terpencil
  • meningkatkan nilai-nilai kegotong-royongan dalam masyarakat petani

Kekurangan rakkala antara lain:

  • membutuhkan waktu yang relatif lama untuk membajak sawah seluas satu hektar
  • teknik pengoperasiannya relatif lebih rumit karena peralatannya yang terdiri dari beberapa komponen harus dirangkai sedemikian rupa

Kelebihan traktor antara lain:

  • memiliki kemampuan kerja yang relatif lebih tinggi
  • teknik pengoperasiannya lebih praktis
  • dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian dan mengatasi kekurangan tenaga kerja

Kekurangan traktor antara lain:

  • biaya operasionalnya relatif lebih mahal
  • tidak ramah lingkungan karena berbahan bakar minyak
  • tidak dapat menjangkau areal persewahan yang terletak di daerah-daerah terpencil
  • tidak dapat digunakan pada areal persawahan yang berbatu
  • mengurangi nilai-nilai kegotong-royongan bagi petani karena penggunaannya dilakukan dengan sistem sewa

 

6. Nilai-nilai

 

Rakkala tidak saja berfungsi sebagai alat pengolah sawah, tetapi juga memiliki nilai-nilai sosial-budaya yang cukup penting untuk dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari para petani. Nilai-nilai tersebut antara lain:

 

a.      Nilai Ekonomi. Nilai ini tampak jelas dari biaya pembuatannya yang relatif mudah. Bahan-bahan yang digunakan sebagian besar diperoleh para petani dari lingkungan sekitar. Meskipun terdapat beberapa komponen yang harus dibeli di pasar seperti sui, tali plastik, dan gigi, namun harganya relatif murah. Nilai ekonomi dari alat pengolah sawah tradisional ini juga dapat dilihat dari biaya operasionalnya karena tidak menggunakan bahan bakar, cukup dengan memberi makan hewan-hewan ternak tersebut dengan rumput yang banyak tersedia di pematang-pematang sawah.

b.      Nilai sosial. Pembajakan satu hektar sawah biasanya dilakukan secara bergotong-royong, yaitu biasanya dilakukan oleh satu sampai tiga orang petani. Sistem gotong-royong tersebut dilakukan secara bergantian oleh para petani. Tentu saja kegotong-royongan tersebut akan semakin mempererat rasa solidaritas dan kebersamaan antarsesama petani.

c.       Nilai pelestarian budaya. Penggunaan bajak tradisional merupakan salah satu upaya untuk melestarikan budaya masa lalu. Alat tradisional tersebut merupakan salah satu alat pengolah tanah yang diwariskan nenek moyang secara turun-temurun. Dengan adanya pelestarian tersebut, maka alat pengolah tanah tradisional ini masih mampu bertahan hingga saat ini dan dapat ditemukan di pelosok-pelosok desa, terutama di daerah-daerah terpencil.

d.      Nilai pelestarian lingkungan. Rakkala merupakan alat bajak tradisional yang lebih ramah lingkungan daripada bajak modern (traktor). Penggunaan bahan-bahan dari kayu pada bajak tradisional tidak akan berpengaruh negatif terhadap tanah dan air sawah. Hal ini sangat berbeda jika menggunakan bajak modern karena sisa-sisa minyak pelumas atau bahan bakar yang telah bercampur dengan air sawah tentu akan menghambat proses pertumbuhan tanaman padi dan mempengaruhi kualitas beras.

e.      Nilai seni. Nilai seni pada alat pengolah tradisional orang Bugis ini terlihat dari bentuk dan cara pembuatannya. Untuk membuat komponen rakkala seperti tekko rakkala yang menyerupai bentuk “S” tersebut diperlukan suatu keahlian khusus. Demikian pula pada cara merangkai komponen rakkala yang satu dengan komponen rakkala yang lain menjadi suatu unit alat yang disebut rakkala sehingga dapat berfungsi sebagai alat pembajak sawah.

 

7. Penutup

Mengolah tanah dengan mengunakan bajak yang ditarik oleh tenaga hewan (rakkala) bagi petani di Sulawesi Selatan sudah merupakan suatu kepuasan tersendiri karena membutuhkan waktu lebih singkat daripada jika menggunakan cangkul. Di samping itu, penggunaan alat ini juga mampu menekan pembiayaan dibandingkan dengan menggunakan traktor, apalagi jika hewan yang digunakan sebagai penarik rakkala adalah milik sendiri. Namun, yang lebih penting dari nilai ekonomi dan fungsi praktis dari bajak tradisional ini adalah keberadaannya yang merupakan sebuah simbol penghormatan masyarakat setempat terhadap kreasi dan daya cipta para leluhur. (Samsuni/bdy/05/03-10)

Referensi

Buku:

Darwias Rasyid Ms., et al. 1991. Pelatan produksi tradisional dan perkembangannya daerah Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya.

Wolf, Eric R., 1983. Petani: suatu tinjauan antropologi. Jakarta: Rajawali Press.

Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Internet:
Febri Susanti. 2009. “Sejarah revolusi industri.” [Oline], tersedia di (http://www.scribd.com/doc/13262601/Sejarah-Revolusi-Industri), [diunduh pada tanggal 27 Maret 2010]

Sumber foto: http://www.antarafoto.com/spektrum/v1258445896/sapi-kurban


 

[1] Eric R. Wolf, dalam buku Petani: Suatu Tinjuan Antropologis mengatakan bahwa penggunaan tenaga kerja manusia dan hewan dalam sistem bercocok tanam atau pengolahan tanah sudah dimulai sekitar tahun 7000-6000 SM. Sistem pengalihan energi (ekotipe) tersebut dikenal dengan istilah paleoteknik atau biasa juga disebut sebagai Revolusi Pertanian Pertama (Eric R. Wolf, 1983:33). Fase paleoteknik ini berlangsung selama beribu-ribu abad hingga munculnya Revolusi Pertanian Kedua atau yang oleh Wolf disebut sebagai ekotipe neoteknik, yaitu sistem pengalihan energi yang ditandai dengan ketergantungan kepada energi yang berasal dari bahan bakar dan keahlian-keahlian yang diperoleh dari ilmu pengetahuan. Menurut Wolf, fase Revolusi Pertanian Kedua tersebut sejalan dengan perkembangan Revolusi Industri (Wolf, 1983:57). Istilah “Revolusi Industri” ini sendiri diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Augsute Blanqui pada pertengahan abad ke-19 M, walaupun pada hakikatnya revolusi ini sudah dimulai di Inggris pada awal abad ke-18, yaitu kira-kira tahun 1760 (http://www.scribd.com/doc/13262601/Sejarah-Revolusi-Industri).

 

 
Dibaca : 10.307 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password