Close
 
Rabu, 27 Agustus 2014   |   Khamis, 1 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 2.070
Hari ini : 14.590
Kemarin : 22.799
Minggu kemarin : 137.461
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.063.105
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

10 april 2010 05:35

Simbol Budaya Masih Mendominasi Budaya Banjar

Simbol Budaya Masih Mendominasi Budaya Banjar

Banjarmasin, Melayuonline.com/wisatamelayu.com - Dalam sesi tanya jawab di hari ke-2 Kongres Kebudayaan Banjar II yang berlangsung kemarin (07/10/2010), para pembicara mengamati bahwa budaya Banjar hingga saat ini masih terjebak dalam simbol-simbol.

Di satu sisi, simbol-simbol budaya tersebut dapat mengintegrasikan perasaan tentang Banjar bagi terutama bagi warga Banjar yang di perantauan. Namun, di sisi lain, simbol-simbol budaya tersebut membuat budaya Banjar sukar untuk menerima unsur identitas budaya lainnya. Simbol-simbol yang dimaksud tersebut antara lain adalah bahasa Banjar.

“Bahasa Banjar adalah bahasa pemersatu masyarakat Banjar. Dalam konteks ini, bahasa Banjar berperan sebagai bahasa komunikasi antarsuku, yaitu orang yang mendiami daerah sekitar Sungai Barito dan aliran Sungai Nagara dengan anak sungainya,” jelas Dr. Muhammad Rafiek, S.Pd., M.Pd.

Meskipun dijadikan sebagai salah satu simbol budaya, menurut Dr. Rafiek, bahasa Banjar saat ini mulai sukar digunakan, terutama karena penguasan atas kosakata bahasa Banjar.

“Pada masa sekarang ini, tidak sedikit anak Banjar sendiri yang tidak mengerti dengan bahasa Banjar baik dari segi kosa katanya maupun pelafalannya. Ada pula semacam anggapan bahwa jika bercakap dengan bahasa Banjar, maka muncul anggapan bahwa penutur tersebut adalah orang desa atau orang kampung,” jelas Dr. Rafiek, yang meraih gelar doktornya di Universitas Negeri Malang, Jawa Timur ini.

Di kota-kota besar di Kalimantan yang mayoritas menggunakan bahasa Banjar, kecenderungan untuk meninggalkan budaya Banjar secara utuh sebagai bahasa ibu terlihat secara jelas. Dampak negatif ini terjadi antara lain karena sentuhan teknologi informasi yang sukar untuk diblokade.

“Banyak orangtua yang terkadang kebingungan ketika anak-anaknya bertutur dengan bahasa Banjar yang dicampuradukkan dengan bahasa Indonesia. Tak jarang pula dengan bahasa Melayu dialek Betawi. Bahasa Banjar ditengarai mengalami kontaminasi yang disebabkan oleh intervensi bahasa Indonesia dan bahasa asing yang semakin gencar,” papar Dr. Rafiek.

Dosen Sastra dan Linguistik di Universitas Lambung Mangkurat ini menyebutkan bahwa munculnya gejala-gejala tersebut sangat dipengaruhi oleh pengaruh lingkungan. Selain faktor itu, Dr. Rafiek menemukan bahwa semakin berkurangnya penutur bahasa asli Banjar juga turut mempengaruhi munculnya gejala-gejala tersebut.

“Keadaan ini bertolak belakang dengan kondisi di negara tetangga kita seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Malaysia justru ingin lebih dalam mengkaji bahasa Banjar khususnya di kalangan terdidik,” imbuh Dr. Rafiek.

Distorsi Simbol Budaya

Sesi berikutnya diisi dengan analisis perkembangan bahasa Banjar dalam konteks kesusatraan dan kebudayaan yang disampaikan oleh Dr. H. Zulkifli Musaba dan Drs. Ahmad Fauzi, M. Msi. Kedua pembicara tersebut mengungkapkan bahwa nilai budaya Banjar yang ada dalam budaya Banjar dapat disebut sebagai cermin atau bagian dari identitas serta karakter bahasa Banjar.

“Jika nilai budaya tersebut dikaitkan dengan identitas urang banua Banjar, maka tampak bahwa sebagian besar akan bersesuaian dengan keberagaman masyarakat Banjar,” ungkap Dr. Zulkifli Masaba.

Topik mengenai bahasa sebagai simbol budaya Banjar ini nampaknya mengalami distorsi pemaknaan. Sebab, di satu sisi, bahasa Banjar merupakan bahasa pemersatu bagi para penuturnya. Namun, di sisi yang lain, para pembicara dalam diskusi sesi pertama ini nampaknya masih sukar untuk mengakui bahwa penutur bahasa Banjar juga mengalami akulturasi budaya, terlebih bagi penutur yang berada di daerah perantauan. Sebaran diaspora orang Banjar tentu saja berpengaruh pada penggunaan bahasa Banjar sebagai bahasa ibu.

Inti dari topik mengenai bahasa ini adalah pemaknaan terhadap simbol budaya yang harus dimaknai secara integratif oleh para peserta maupun pembicara Kongres Kebudayaan Banjar II dalam arti apakah simbol-simbol budaya Banjar yang ingin direstorasi kembali harus berarti kebudayaan asli dalam bentuk bahasa asli, kesenian asli, maupun hasil budaya asli lainnya, ataukah restorasi tersebut juga memungkinkan untuk menampilkan adanya akulturasi budaya yang terjadi karena pengaruh diaspora urang banua?

Perspektif Simbol Budaya

Sudut pandang pertanyaan di atas berusaha dijelaskan dalam sesi diskusi kedua dan ketiga di hari ke-2 Kongres Budaya yang diisi oleh Prof. Dr. M. Salleh Lamy (Malaysia), Drs. H. Ramli Nawawi, Dzul Kamain Asmawi (Johor Bahru) serta Mahyudin Al Mudra, S.H. M.M. Para pembicara menggiring topik diskusi untuk menyamakan perspekstif tentang apa yang dimaksud dengan simbol budaya.



Dalam paparannya, Dzul Karnain Asmawi membenarkan apa yang disampaikan oleh Dr. Rafiek tentang giatnya pengkajian budaya Melayu (termasuk Banjar-red) serumpun di Malaysia, salah satunya dengan Yayasan Warisan Johor (YWJ). YWJ diberi kekuasaan untuk membuat kajian, pemeriksaan, dan penyelidikan atas peninggalan-peninggalan sejarah.

“YWJ diberi juga tugas untuk mengumpul, mengkaji, memelihara, dan memelihara bahan-bahan yang berkaitan dengan warisan sejarah,” terang Dzul Karnain.

Menurut Dzul, dari situlah YWJ dapat menentukan fenomena mana yang lebih tepat untuk disebut sebagai simbol budaya Banjar.

“Orang Banjar telah berhijrah ke luar Kalsel, termasuk Malaysia, dalam jumlah besar pada akhir abad ke-19. Tertarik dengan peluang ekonomi yang terbuka luas, khasnya peluang memiliki tanah, mereka menjadi perantau hilang yang memilih tidak kembali lagi ke Kalsel. Di Malaysia mereka membuka kampung Banjar, meneruskan serta melestarikan budaya Banjar yang mereka bawa dari Kalsel,” jelas Prof. Salleh Lamy.

Namun, lanjut Prof. Salleh Lamy, keturunan mereka atau cucu cicit sekarang sudah menjadi “bangsa Melayu” dan warga negara Malaysia yang telah mengalami pelbagai perubahan. Dengan demikian, ada beberapa unsur kebudyaan Banjar yang mereka tinggalkan. Salah satu yang paling merosot adalah penggunaan bahasa Banjar dan pemeliharaan kesenian Banjar.

“Walau bagaimana pun, identiti mereka sebagai orang Banjar masih boleh dikenali dan mereka pun masih mengaku sebagai orang Banjar. Dan dengan itu, memang perlu mereka melestarikan dan mempertahankan kebudayaan Banjar yang dibawa oleh datuk nenek mereka lebih dari 100 tahun yang lalu,” ujar Prof. Salleh Lamy yang pernah mengajar di Jurusan Antropologi dan Sosiologi, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) ini.

Mengakhiri sesi diskusi ini, Pemangku Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Mahyudin Al Mudra, memaparkan tentang warisan budaya dan makna pelestariannya. Bang MAM, begitu Mahyudin Al Mudra biasa disapa, menjelaskan bahwa proses pelestarian warisan budaya adalah sebuah upaya segala perilaku dan tindakan (usaha) untuk mempertahankan keadaan dan keberadaan sesuatu melalui proses inventarisasi, dokumentasi, dan revitalisasi.

“Upaya pelestarian ini diwujudkan dalam dua versi pelestarian, yakni aktif dan pasif. Pelestarian pasif adalah perangkat pengetahuan, nilai-nilai dan sebagainya yang berhasil disimpan dalam bentuk dokumentasi seperti buku, cd, kaset, film. Perangkat pengetahuan dan nilai-nilai tersebut saat ini tidak lagi digunakan sebagai pembimbing berperilaku dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Bang MAM yang sesekali menyelipkan bahasa Banjar dalam presentasinya.

Sedangkan, tambah Bang MAM, pelestarian aktif adalah apabila perangkat budaya masih diketahui, masih dapat diungkapkan, diceritakan, dan juga masih digunakan sebagai pembimbing dan pedoman oleh warga masyarakat tersebut untuk memahami, menanggapi, dan mewujudkan substansinya dalam kehidupan sehari-hari baik secara rutin maupun pada waktu tertentu.

Oleh karena itu, pelestarian budaya memiliki banyak wujud. Wujud pelestarian budaya tersebut bisa berarti lingkungan alam baik yang alami (Natural Environment) seperti  gunung dan laut, maupun buatan (Built Environment) seperti, kompleks kraton, persawahan, dan irigasi. Wujud yang lain adalah peralatan/teknologi, adat-istiadat yang meliputi pola perilaku, dan tindakan dan interaksi sosial yang diwujudkan oleh banyak orang dalam kehidupan sosial dan berulang pada waktu-waktu tertentu, serta nilai-nilai dan pengetahuan.

“Oleh karena itu, yang dimaksud dengan melestarikan budaya Banjar bukan hanya dengan memakai Sasirangan (batik khas Banjar) maupun makan soto Banjar. Sebab, budaya tidak hanya sekadar bermakna penggunaan simbol saja, melainkan juga upaya aktif maupun pasif dari warga budaya untuk melestarikan,” jelas Bang MAM yang menyelesaikan pendidikan sarjana dan masternya di Universitas Islam Indonesia ini.

Bang MAM mencermati bahwa kecenderungan pemaknaan simbol itulah yang saat ini masih massif dilakukan urang banua saat diminta untuk melestarikan budaya Banjar.

“Padahal budaya tidak sesempit itu,” tandas Bang Mam lagi.

Budaya, menurut Bang MAM, bisa menjadi potensi yang luar biasa sekaligus menghidupkan mata rantai kehidupan warga budaya tersebut.

“Sebagai contoh, saat beberapa waktu lalu saya makan soto Banjar, saya diberitahu bahwa pemilik restoran tersebut ternyata mampu mendapatkan keuntungan yang luar biasa, yakni lebih dari 50 juta per bulan. Artinya, dari soto Banjar yang merupakan hasil budaya Banjar, pemilik restoran tersebut bisa menikmati keuntungan secara ekonomi,” papar Bang MAM.

“Bisa dibayangkan jika hal serupa bisa dilakukan untuk hasil budaya maupun seni Banjar yang lain. Tentu akan luar biasa,” jelas Bang MAM yang disambut dengan tepuk tangan hadirin.

Bang MAM yang berdarah Banjar ini merasakan bahwa saat ini masyarakat Banjar lebih cenderung memprioritaskan pencapaian ekonomi dan tidak menghiraukan kebudayaan. Padahal, contoh soto Banjar di atas bisa menjadi bukti bahwa budaya pun bisa menghidupi ekonomi.

“Tanpa budaya, ekonomi akan menjadi tidak berperikemanusiaan,” tegas Bang MAM.

Diskusi pada hari ke-2 ini dituntaskan dengan diskusi sesi ketiga yang membahas tentang peran pemuda dan perempuan dalam pengembangan budaya Banjar. (ATP/brt/23/04-10)

__________

Sumber foto: Koleksi Melayuonline.com (Fotografer: Aam Ito Tistomo)


Dibaca : 3.799 kali.

Tuliskan komentar Anda !