Close
 
Selasa, 21 Oktober 2014   |   Arbia', 26 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 787
Hari ini : 3.209
Kemarin : 20.089
Minggu kemarin : 174.811
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.250.021
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

01 juli 2008 04:18

Sejarah Budaya Dukung Pariwisata Sumatera Barat

Sejarah Budaya Dukung Pariwisata Sumatera Barat
Fort de Kock, benteng bersejarah di Bukittinggi.

Padang- Sumatera Barat (Sumbar) memiliki potensi besar sejarah budaya dan apabila semua itu dikelola secara profesional dapat diandalkan untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata, kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar James Hellyward di Padang, Senin.

Menurut James Hellyward, sebagai daerah yang memiliki sejarah budaya yang cukup tua, Sumbar banyak memiliki peninggalan sejarah dan pubakala dalam bentuk benda cagar budaya. 

Selain itu, Sumbar juga memiliki potensi seni permainan tradisional "peranak nagari" dan pertunjukan seni tradisi yang tersebar pada setiap kabupaten dan kota.

Menurut dia, ada juga peninggalan sejarah dan purbakala, seperti masa Hindu dan Budha yang terlihat dari peninggalan kerajaan masa lalu dan sistim masyarakat yang hidup di Minangkabau berupa prasasti dan candi.

Prasasti dapat ditemukan di daerah situs Ustano Rajo Alam dan kawasan prasasti Adityawarman di Desa Gudam Pagaruyung Kabupaten Tanah Datar.

Sedangkan candi di Sumbar antara lain candi Pulau Sawah, Padang Roco, dan Candi Pulau Sawah II di Kabupaten Sijunjung.

Pada masa kolonial ada tiga periode yakni masa penjajahan Portugis dengan peninggalan bangunan tua dan makam Mad Van Kempen di Pulau Cingkuak, Kabupaten Pesisir Selatan.

Selanjutnya, dari masa penjajahan Belanda banyak peninggalan sejarah seperti Benteng Fort de Kock di Bukittinggi, Benteng Fort van Der Capellen di Batusangkar, Ema Haven di Bungus Bukik Lampu dan Teluk Bayur, Kota Padang.

Selain itu peninggalan pembangkit listrik tenaga mikrohidro Salido Ketek di Pesisir Selatan dan kincir angin di Padang dan Bukittinggi.

Menurut James, masa penjajahan Jepang juga meninggalkan sejumlah bangunan sejarah seperti terowongan perlindungan bawah tanah yang terdapat di Kota Bukittinggi, Bungus, dan Muaro Padang.

Sementara itu, katanya, potensi peristiwa budaya serta pertunjukan seni tradisi juga banyak dimiliki Sumbar dengan filosofi yang khas karena adanya pengaruh agama Islam sehingga berbagai bentuk baik peristiwa budaya mapun kesenian tradisi yang ada merupakan sarana bagi penyebaran agama di Sumbar. ant/fif

Sumber : www.republika.co.id (01 Juli 2008)
Kredit foto : www.wisatamelayu.com


Dibaca : 7.137 kali.

Tuliskan komentar Anda !